Aku
teringat kalo tanggal 22 Oktober kemarin artinya hari santri, bukan inget
sebetulnya, aku baru tahu ya karena konco kosanku yang bernama Syeikh Ahmad
Nafis Junalia S.IP update di line kalo tanggal itu hari santri. Syeikh Nafis
ini bisa dibilang santri trendy, hobinya ngopi dan udut rokok djarum sambil nyanyi-nyanyi
pas lagi “semedi” di pagi hari. Beliau ini masku di GmnI, seorang mas yang
ngayomi, ngayemi namun nggak ngayani sama sekali, maklumlah jangankan untuk
ngayani adek-adek tingkatnya, makan aja kadang susah, ya samalaaah, biarpun
susah beliau senang memberi namun ya lebih senang diberi, pas lagi dapet rokok gratisan
naudzubilah girangnya kayak abis beol di surga.
Matanya sipit kayak Franky alias Koh Lee Peng
alias Jacky Chan alias Bathara Franky Kristus Gautama hahaha, entahlah mungkin mbah-mbah
mereka dulu pernah ada di satu klan yang sama tapi semoga bukan di ranjang yang
sama. Oh! mungkin dinasti yang sama malah? Entah itu dinasti Tang, Han, Yuan,
Ming bahkan mungkin dinasti Qing, dinasti terakhir yang menerapkan monarki absolut
di negeri panda sana yang karena ekspansi inggris menciptakan kaum-kaum
diaspora, nah mungkin mbah-mbah mereka ini bagian dari komunitas diaspora yang
nyasar ke Indonesia, tapi tak apalah, mereka toh tetep Indonesia, semoga tak
adalagi dusta diantara anak sebangsa meskipun tak se sperma ini, aku berharap semoga
santri di zaman kini, dapat diam-diam senyap merayap lalu merombak secara
progresif ritme tatanan sosial agar tak didominasi oleh nak-nak muda
marioteguhan yang galaunan, lemah, payah, tak tau arah untuk melangkah.
Konon,
santri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sastri berarti melek huruf, ada
juga yang berkata berasal dari bahasa Jawa yaitu cantrik yang berarti seseorang
yang mengikuti kyai dimana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu
keahlian tersendiri.
Gampangnya,
pendapat asal-muasal yang pertama aku ibaratkan sebagai kaum intelektual. Di
jaman dulu, melek huruf atau bisa membaca menjadi ketrampilan dan fasilitas
tersier nan mewah yang dimiliki oleh kelas-kelas tertentu (orang keraton dan
priyayi misalnya), berbeda dengan zaman sekarang yang gelar manusia
berintelektual didapatkan dari laku niti ijasah kuliah dan ngaku menjadi
mahasiswa beneran (padahal sebelas dua belas sama sarjana abal-abal). Ya
maklum, ancaman jaman kolonial yang paling berbahaya adalah apabila semua
golongan sudra dan tani seperti Salim Kancil bisa membaca. Jika buku adalah
jendela ilmu, maka membaca adalah jendela kecerdasan, bayangkan saja betapa
akan repot dan runtuhnya kolonialisme bila kaum-kaum yang dijajah diberi hak
belajar membaca, lalu cerdas, kemudian memberontak. Memang sudah sejak jaman
nabi Ibrahim dan nabi Musa, orang cerdas cenderung memberontak. Seperti
manusia-manusia yang hidup di jaman perjuangan, jika menjadi golongan cerdas,
hanya ada dua kemungkinan, jika tidak menjadi pemberontak ya menjadi suruhan
atau pembantu penjajah. Beruntunglah tokoh intelektual seperti KH Hasyim
Asy'ari dan Ahmad Dahlan memilih jalan hidup sebagai pemberontak, mencerdaskan
kehidupan manusia bagi mereka-meraeka yang mau menjadi santri-santrinya bahkan
yang memusuhinya. Alfathihah untuk beliau-beliau.
Lalu
pendapat asal-muasal yang kedua, aku ibaratkan sebagai siswa, murid, musafir.
Membaca istilah cantrik saja aku sudah cukup merinding, betapa besar
ketabahannya dalam menimba ilmu, seperti kelakuan para imam-imam dan
waliyullah-waliyullah saja. Sepertinya memang sudah gawan bayen orang-orang
tertentu saja yang sanggup menjalani lakon sufi tingkat tinggi kayak gini.
Hingga para kyai mendirikan pondok pesantren sebagai tempat tinggal, makan, dan
belajar para santri-santrinya, pokoke wes koyok sekolahan ikatan dinas beneran.
Beruntunglah negeri ini memiliki jihader-jihader seperti mereka. Jika bukan
karena lingkar otak mereka yang sudah mencapai kadar makrifat sebagai khalifah
fil 'ardhi, mungkin hobi para kyai tersebut adalah safari dari kota ke kota mengadakan
seminar dakwah satu dua jam tentang sholat khusuk, bukan dengan HTM 100rb tapi
telah diupgrade bahasa marketingnya menjadi investasi 100ribu (mungkin beberapa
bulan atau tahun lagi akan diupgrade namanya menjadi 'investasi kapling surga'
supaya lebih laris, kalo begitu aku tak daftar jadi panitia kapling surganya
saja minimal karang taruna surga wes rapopo), ancuk, ini yang disebut kapitalisasi
ayat-ayat suci! Ya nggak jauh berbedalah sama motivator-motivator berperut
lapar yang ngomong bisa punya banyak rumah tanpa uang, tapi mendelik kayak
keong saat ada bencana alam atau penggusuran lahan oleh pemerintah.
Jadi, untuk mengenang kembali esensi dan
eksistensi dari kaum-kaum santri di era globalisasi yang kalah seksi dengan
sekolah RSBI atau SBI (sekarang udah gak ada sih) atau lembaga pendidikan
pemasok kebutuhan industri. Semoga santri-santri masa kita yang diwakili Syeikh
Ahmad Nafis Junalia dapat menjadi seperti daun jambu kluthuk, mengobati diare
atau mencretnya produk pendidikan. Lah kok mencret? Iya mencret, tau mencret
kan? Mencret itu kelainan dari output dalam mencerna makanan, yang semustinya
keluar dalam wujud lonjoran-lonjoran arem-arem berbau mak senggg, malah yang
muncul mak-cret-mak-cret berair pula pake acara ngeden nguras tenaga kayak
ingusmu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar