https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Senin, 26 Oktober 2015

Tentang Hari Santri, Sebuah Penghargaan dan Harapan untuk Ahmad Nafis Junalia S.IP

Aku teringat kalo tanggal 22 Oktober kemarin artinya hari santri, bukan inget sebetulnya, aku baru tahu ya karena konco kosanku yang bernama Syeikh Ahmad Nafis Junalia S.IP update di line kalo tanggal itu hari santri. Syeikh Nafis ini bisa dibilang santri trendy, hobinya ngopi dan udut rokok djarum sambil nyanyi-nyanyi pas lagi “semedi” di pagi hari. Beliau ini masku di GmnI, seorang mas yang ngayomi, ngayemi namun nggak ngayani sama sekali, maklumlah jangankan untuk ngayani adek-adek tingkatnya, makan aja kadang susah, ya samalaaah, biarpun susah beliau senang memberi namun ya lebih senang diberi, pas lagi dapet rokok gratisan naudzubilah girangnya kayak abis beol di surga. 

Matanya sipit kayak Franky alias Koh Lee Peng alias Jacky Chan alias Bathara Franky Kristus Gautama hahaha, entahlah mungkin mbah-mbah mereka dulu pernah ada di satu klan yang sama tapi semoga bukan di ranjang yang sama. Oh! mungkin dinasti yang sama malah? Entah itu dinasti Tang, Han, Yuan, Ming bahkan mungkin dinasti Qing, dinasti terakhir yang menerapkan monarki absolut di negeri panda sana yang karena ekspansi inggris menciptakan kaum-kaum diaspora, nah mungkin mbah-mbah mereka ini bagian dari komunitas diaspora yang nyasar ke Indonesia, tapi tak apalah, mereka toh tetep Indonesia, semoga tak adalagi dusta diantara anak sebangsa meskipun tak se sperma ini, aku berharap semoga santri di zaman kini, dapat diam-diam senyap merayap lalu merombak secara progresif ritme tatanan sosial agar tak didominasi oleh nak-nak muda marioteguhan yang galaunan, lemah, payah, tak tau arah untuk melangkah.

Konon, santri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sastri berarti melek huruf, ada juga yang berkata berasal dari bahasa Jawa yaitu cantrik yang berarti seseorang yang mengikuti kyai dimana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tersendiri.

Gampangnya, pendapat asal-muasal yang pertama aku ibaratkan sebagai kaum intelektual. Di jaman dulu, melek huruf atau bisa membaca menjadi ketrampilan dan fasilitas tersier nan mewah yang dimiliki oleh kelas-kelas tertentu (orang keraton dan priyayi misalnya), berbeda dengan zaman sekarang yang gelar manusia berintelektual didapatkan dari laku niti ijasah kuliah dan ngaku menjadi mahasiswa beneran (padahal sebelas dua belas sama sarjana abal-abal). Ya maklum, ancaman jaman kolonial yang paling berbahaya adalah apabila semua golongan sudra dan tani seperti Salim Kancil bisa membaca. Jika buku adalah jendela ilmu, maka membaca adalah jendela kecerdasan, bayangkan saja betapa akan repot dan runtuhnya kolonialisme bila kaum-kaum yang dijajah diberi hak belajar membaca, lalu cerdas, kemudian memberontak. Memang sudah sejak jaman nabi Ibrahim dan nabi Musa, orang cerdas cenderung memberontak. Seperti manusia-manusia yang hidup di jaman perjuangan, jika menjadi golongan cerdas, hanya ada dua kemungkinan, jika tidak menjadi pemberontak ya menjadi suruhan atau pembantu penjajah. Beruntunglah tokoh intelektual seperti KH Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan memilih jalan hidup sebagai pemberontak, mencerdaskan kehidupan manusia bagi mereka-meraeka yang mau menjadi santri-santrinya bahkan yang memusuhinya. Alfathihah untuk beliau-beliau.

Lalu pendapat asal-muasal yang kedua, aku ibaratkan sebagai siswa, murid, musafir. Membaca istilah cantrik saja aku sudah cukup merinding, betapa besar ketabahannya dalam menimba ilmu, seperti kelakuan para imam-imam dan waliyullah-waliyullah saja. Sepertinya memang sudah gawan bayen orang-orang tertentu saja yang sanggup menjalani lakon sufi tingkat tinggi kayak gini. Hingga para kyai mendirikan pondok pesantren sebagai tempat tinggal, makan, dan belajar para santri-santrinya, pokoke wes koyok sekolahan ikatan dinas beneran. Beruntunglah negeri ini memiliki jihader-jihader seperti mereka. Jika bukan karena lingkar otak mereka yang sudah mencapai kadar makrifat sebagai khalifah fil 'ardhi, mungkin hobi para kyai tersebut adalah safari dari kota ke kota mengadakan seminar dakwah satu dua jam tentang sholat khusuk, bukan dengan HTM 100rb tapi telah diupgrade bahasa marketingnya menjadi investasi 100ribu (mungkin beberapa bulan atau tahun lagi akan diupgrade namanya menjadi 'investasi kapling surga' supaya lebih laris, kalo begitu aku tak daftar jadi panitia kapling surganya saja minimal karang taruna surga wes rapopo), ancuk, ini yang disebut kapitalisasi ayat-ayat suci! Ya nggak jauh berbedalah sama motivator-motivator berperut lapar yang ngomong bisa punya banyak rumah tanpa uang, tapi mendelik kayak keong saat ada bencana alam atau penggusuran lahan oleh pemerintah.


Jadi, untuk mengenang kembali esensi dan eksistensi dari kaum-kaum santri di era globalisasi yang kalah seksi dengan sekolah RSBI atau SBI (sekarang udah gak ada sih) atau lembaga pendidikan pemasok kebutuhan industri. Semoga santri-santri masa kita yang diwakili Syeikh Ahmad Nafis Junalia dapat menjadi seperti daun jambu kluthuk, mengobati diare atau mencretnya produk pendidikan. Lah kok mencret? Iya mencret, tau mencret kan? Mencret itu kelainan dari output dalam mencerna makanan, yang semustinya keluar dalam wujud lonjoran-lonjoran arem-arem berbau mak senggg, malah yang muncul mak-cret-mak-cret berair pula pake acara ngeden nguras tenaga kayak ingusmu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar