Bukanlah pencapaian ilmu
berupa meringankan tubuh melompat satu atap ke atap tetangga, atau ilmu
menyeberangi sungai tanpa kebasahan ketika proses pembelajaran ku-enyam di,proses perkuliahan, ingat "proses" perkuliahan bukan hanya momen ketika duduk nyaman di ruangan ber AC yang anginnya sepoi-sepoi, salah satunya juga termasuk obrolan angkringan kopi pinggir jalan habis karaokean dan hal-hal lain yang menjadi kebiasaan, yang kudapat selama proses perkuliahan adalah sebuah pemahaman bahwa di belantara
geologi bumi manapun, tiap agama hampir pasti ada kelompok-kelompok begundal radikal,
entah itu baik dari islam sunni, syiah, wahabi, sekte ismaili, kristen,
katholik, hindu, budha, konghucu, sikhisme, zoroaster, yudaisme, majusi,
neo-pagan, shinto, thaoisme, bla bla bla sampai agama penyembah kancut Zeus
sekalipun.
Mereka melalui sekelumit
pengalaman rumit sedemikian rupa yang bisa dijelaskan terjemahan alurnya,
hingga tanpa kesadaran perenungan merasa diri beriman, dimana perasaan keimanan
itu dirasainya sedemikian tinggi hingga mengilhami untuk beringan tangan sanggup
mencabut nyawa orang lain, bunuh diri, menghakimi hak tinggal dan beribadah
insan lain, atau memprovokasi untuk terjadinya pertumpahan darah di atas tanah.
Ambil satu contoh dari
kaum saya sendiri saja (karena otokritik itu penting, supaya otak nggak bebal
dan tak alergi kritik kayak orang pekok). Jika mereka tak sengaja khilaf,
mereka pun sadar atau barangkali berpura-pura lupa untuk menampik bahwa
rosulullah pun dibesarkan oleh pamannya yang kafir. Atau jika sedang mengikuti
kumpul-kumpul ngaji ringan membahas murkanya Allah pada hamba-Nya yang menyiksa
hewan, mereka mungkin sedang lupa bahwa sekte lain yang sedang mereka nistakan
bukanlah kategori binomenal nomenclature-nya hamba Allah menurut asas
klasifikasi Carolus Linnaeus. Atau siapa sangka mereka sedang amnesia bahwa
jika Allah berkehendak pun, tinggal 'kun fayakun kalian sepaham' maka semua
peranakan intim Adam dan Hawa berada dalam satu sekte, namun sayangnya mungkin
Allah sudah 'berkun fayakun pekoklah mereka!' sehingga begundal radikal tadipun
terpaksa berakal dangkal secara non-artifisal tanpa sesal, dan dedemitpun
terpingkal-pingkal menonton kebarbaran mereka yang begitu binal tak kenal asal.
Tak ada salahnya, atau
barangkali justru mungkin berkewajiban bagi yang sadar untuk menertibkan koloninya
yang dientup siluman kalajengking dari peranakan Ifrit dengan arthropoda
delapan kaki peliharaan Gaia si dewi bumi. Ini bukan tentang klaim kebenaran,
tapi sikap matang dan kebijaksanaan punakawan sudah jelas lebih universal
dengan hati nurani yang tersirami cahaya ilahi daripada gothok-gothokan nyowo
mung mergo menang jumlah bolo. Dan seyogianya, agama itu selaras madep mantep
dengan nurani setiap insani yang diberkahi seni birahi tingkat tinggi, karena
memang dia (agama) adalah perangkat ekstensi yang diciptakan oleh Allah sebagai
ulah atas tanggung jawabnya karena telah menciptakan makhluk paling asyik di
alam semesta.
Jadi,
saya sering mewanti-wanti kaum islam radikal, bukan karena saya sunni, syiah
atau saya antek ahlussunnah wal jama'ah. Jangankan menilai saya syiah, bisa
menilai saya adalah orang islam aja karena KTP saya islam misalnya, wes jos
kuwe dab!! Siapa tahu saya menulis agama islam di KTP hamya untuk dapat “perlindungan
negara” paham nggak kamu? ibarate wes koyok Mikail sing ning mburiku iki lagi
uthak-uthek ngalkulator bakal rapelan tunjangan gaji sing nyasar ning njero
rekeningku. Akhir kata, rawatlah bhinneka tunggal ika dalam badasnya bhinneka
tunggal metallica, paham? kalo masih nggak paham, balik lagi sana ke SMA ikutan
ekstra pramuka dan paskibraka lalu tuma'ninahlah dalam kegiatan Peraturan
Baris-Berbaris (PBB) misalnya, ntar kok ternyata ambruk/pingsan jangan ngeyel
dan rempong minta dirawat mbak-mbak PMR yang seagama! Kalo masih rempong, tak
plester wulu sikilmu dyarr kuwe. Wis paham? Isih rung paham? mboh cah palingan
isi sirahmu wes kasep kakean nggo mbokeb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar