Murid dari mahaguru
Socrates dan guru dari mahaguru Aristoteles, mahaguru Plato namanya, pernah
memberikan gambaran tentang "negara ideal". Negara utopis yang beliau
percaya, diperintah oleh para filosof, penjelasan mendasarnya dikaitkan pada
susunan tubuh manusia.
Singkat cerita. Menurut
mbah Plato, tubuh manusia terdiri dari tiga bagian utama: kepala, dada, dan
perut. Setiap bagiannya ada bagian jiwa yang terkait, akal bertahta di kepala,
kehendak terletak di dada, dan nafsu bersarang di perut. Masing-masing dari bagiab
jiwa ini juga memiliki cita-cita atau 'kebajikan'. Akal mencita-citakan
kebijaksanaan, Kehendak mencita-citakan keberanian, dan Nafsu harus dikekang
sehingga kesopanan dapat ditegakkan. Hanya jika ketiga bagian itu berfungsi
bersama sebagai suatu kesatuan sajalah, kita dapat menjadi seorang individu
yang selaras atau 'berbudi luhur'. Di sekolah akademica yang dibuat Plato dulu,
seorang anak pertama-tama harus belajar untuk mengendalikan hawa nafsu mereka,
lalu ia harus mengembangkan keberanian, dan akhirnya akal akan menuntunnya
menuju kebijaksanaan.
Berbeda dengan kurikulum sekolah kalian ya? Haha.
Berbeda dengan kurikulum sekolah kalian ya? Haha.
Seperti setiap aspek dari
filsafat Plato, filsafat politiknya ditandai dengan rasionalisme. Terciptanya
negara yang baik bergantung pada apakah negara itu diperintah oleh akal.
Sebagaimana kepala mengatur tubuh, maka para filosoflah yang harus mengatur
masyarakat.
Dalam kasus negara ideal,
pertama, aku mau sedikit out of topic dari apa yang beliau paparkan. Karena aku
pernah iseng berfikir bahwa semustinya negara itu nggak ada, mungkin menurut
sampean-sampean ini ekstrem, jadi nanti nasionalisme itu nggak ada, semua
manusia semua ras semua bangsa harus bersatu dalam internasionalisme humanity.
Tak ada lagi sekat pembatas regional, semua berada dalam satu pemerintahan, New
World Government. (kayak dunia one piece). Untuk memastikan terwujudnya
pembagian sumber daya alam secara merata, dibutuhkan kepemimpinan yang adil dan bijaksana,
menghapuskan perbudakan dan neokolonialisme, Afrika memperoleh pasokan kekayaan
Indonesia. Papua nugini dapat pasokan minyak dari dubai, negara berkembang
dapat teknologi dari Jepang misal. Jadi
semua warga dunia mendapat pendidikan dan memiliki akses segala fasilitas yang
sama, bersatu dalam sumpah persatuan bangsa dunia. Bubar lah apa yang disebut Nation
State alias negara bangsa, di Indonesia, sumpah pemuda diganti dengan sumpah
bangsa dunia. Kami putra dan putri dunia, mengaku bertumpah darah yang satu,
tanah air dunia. Kami putra dan putri dunia, mengaku berbangsa yang satu,
bangsa dunia. Kami putra dan putri dunia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa
dunia. Namun untuk mewujudkan hal ini, perlu alasan yang kuat, musuh yang sama
misalnya. Seperti pemerintahan robotik di sebuah pulau berdaulat yang mengancam
eksistensi peradaban umat manusia (hadeuh kebanyakan nonton Terminator,
I-Robot, dan Naruto).
Naif ya aku? Lalu aku
melakukan otokritik, jika persatuan bangsa dapat terjadi, maka barangkali kita
sudah tidak hidup di dunia, namun hidup di surga, alam dimana manusia dapat
mengevaluasi kembali segalanya. Karena itulah, supaya dapat terwujud tanpa
menunggu kiamat, harus memiliki alasan yang kuat. Bukankah lego-lego nusantara
dapat menjadi Indonesia karena memiliki musuh yang sama pula, namun apakah kita
harus menetapkan musuh yang sama baru bisa terbentuk yang tadi kusebutkan? Bagaimana
kalo yang dianggap musuh adalah sebuah negara besar yang menghegomoni sistem
ekonomi dunia? Apakah perlu kita kobarkan perang senjata untuk menggenosida
negeri dan bangsanya? Ini yang kusebut jancuklogi, ketika kita menetapkan A
adalah musuh, dan C adalah kawan, maka kawan dari A akan memusuhi kita dan
kawan dari C akan memusuhi kawan dari A dan A, NATO dan PAKTAWARSAWA adalah
petaka untuk menciptakan perdamaian dunia. Intinya perdamaian dunia adalah
utopis.
Seperti kata Gunawan
Muhammad yang menyangkal adanya demokrasi di surga, sama halnya aku juga
menyangkal keberadaan liberalis, kapitalis, sosialis, komunis, nation state
atau internasinalisme dan faham apapun di surga, bilamana misal di surga ada komunisme
atau kapitalisme dengan banyaknya kritik di faham itu, tidakkah surga akan
menjadi tempat yang tidak lagi sempurna?
Lalu
yang kedua, perlu mbah Plato ketahui. Kebrilianan pemikir-pemikir jaman Yunani
kuno tidak bisa terlepas dari adanya perbudakan. Bagaimana mereka bisa begitu
secemerlang hingga mencapai kebijaksanaan berfikir sedimikian tinggi?
Pemikir-pemikir Athena tak perlu memikirkan besok musti makan apa dan tak perlu
mengerjakan hal-hal remeh temeh seperti mencuci celana dalam kotor kena mimpi
basah misalnya, karena ada budak 24 jam yang sudah diperintah, sehingga bangsa
Yunani kuno memiliki banyak waktu luang untuk berpikir dan belajar banyak hal
mengenai filsafat. Jadi seandainya simbah Plato sedang menyelesaikan skripsinya
tentang negara ideal, dalam lembar ucapan terima kasih, aku sarankan untuk
memasukkan sumbangsih nama-nama budak yang tak berharga namun sangat bersahaja
khususnya dalam perkembangan filsafat kuno sebagai induk sains dunia hehe
Sayangnya Plato kariernya udah abis karena sering cedera di AC Milan, eh ini Plato yang mana?
Sayangnya Plato kariernya udah abis karena sering cedera di AC Milan, eh ini Plato yang mana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar