https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Jumat, 06 November 2015

Negara Ideal Mahaguru Plato

Murid dari mahaguru Socrates dan guru dari mahaguru Aristoteles, mahaguru Plato namanya, pernah memberikan gambaran tentang "negara ideal". Negara utopis yang beliau percaya, diperintah oleh para filosof, penjelasan mendasarnya dikaitkan pada susunan tubuh manusia.

Singkat cerita. Menurut mbah Plato, tubuh manusia terdiri dari tiga bagian utama: kepala, dada, dan perut. Setiap bagiannya ada bagian jiwa yang terkait, akal bertahta di kepala, kehendak terletak di dada, dan nafsu bersarang di perut. Masing-masing dari bagiab jiwa ini juga memiliki cita-cita atau 'kebajikan'. Akal mencita-citakan kebijaksanaan, Kehendak mencita-citakan keberanian, dan Nafsu harus dikekang sehingga kesopanan dapat ditegakkan. Hanya jika ketiga bagian itu berfungsi bersama sebagai suatu kesatuan sajalah, kita dapat menjadi seorang individu yang selaras atau 'berbudi luhur'. Di sekolah akademica yang dibuat Plato dulu, seorang anak pertama-tama harus belajar untuk mengendalikan hawa nafsu mereka, lalu ia harus mengembangkan keberanian, dan akhirnya akal akan menuntunnya menuju kebijaksanaan.
Berbeda dengan kurikulum sekolah kalian ya? Haha.

Seperti setiap aspek dari filsafat Plato, filsafat politiknya ditandai dengan rasionalisme. Terciptanya negara yang baik bergantung pada apakah negara itu diperintah oleh akal. Sebagaimana kepala mengatur tubuh, maka para filosoflah yang harus mengatur masyarakat.

Dalam kasus negara ideal, pertama, aku mau sedikit out of topic dari apa yang beliau paparkan. Karena aku pernah iseng berfikir bahwa semustinya negara itu nggak ada, mungkin menurut sampean-sampean ini ekstrem, jadi nanti nasionalisme itu nggak ada, semua manusia semua ras semua bangsa harus bersatu dalam internasionalisme humanity. Tak ada lagi sekat pembatas regional, semua berada dalam satu pemerintahan, New World Government. (kayak dunia one piece). Untuk memastikan terwujudnya pembagian sumber daya alam secara merata, dibutuhkan  kepemimpinan yang adil dan bijaksana, menghapuskan perbudakan dan neokolonialisme, Afrika memperoleh pasokan kekayaan Indonesia. Papua nugini dapat pasokan minyak dari dubai, negara berkembang dapat teknologi dari Jepang misal.  Jadi semua warga dunia mendapat pendidikan dan memiliki akses segala fasilitas yang sama, bersatu dalam sumpah persatuan bangsa dunia. Bubar lah apa yang disebut Nation State alias negara bangsa, di Indonesia, sumpah pemuda diganti dengan sumpah bangsa dunia. Kami putra dan putri dunia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air dunia. Kami putra dan putri dunia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa dunia. Kami putra dan putri dunia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa dunia. Namun untuk mewujudkan hal ini, perlu alasan yang kuat, musuh yang sama misalnya. Seperti pemerintahan robotik di sebuah pulau berdaulat yang mengancam eksistensi peradaban umat manusia (hadeuh kebanyakan nonton Terminator, I-Robot, dan Naruto).

Naif ya aku? Lalu aku melakukan otokritik, jika persatuan bangsa dapat terjadi, maka barangkali kita sudah tidak hidup di dunia, namun hidup di surga, alam dimana manusia dapat mengevaluasi kembali segalanya. Karena itulah, supaya dapat terwujud tanpa menunggu kiamat, harus memiliki alasan yang kuat. Bukankah lego-lego nusantara dapat menjadi Indonesia karena memiliki musuh yang sama pula, namun apakah kita harus menetapkan musuh yang sama baru bisa terbentuk yang tadi kusebutkan? Bagaimana kalo yang dianggap musuh adalah sebuah negara besar yang menghegomoni sistem ekonomi dunia? Apakah perlu kita kobarkan perang senjata untuk menggenosida negeri dan bangsanya? Ini yang kusebut jancuklogi, ketika kita menetapkan A adalah musuh, dan C adalah kawan, maka kawan dari A akan memusuhi kita dan kawan dari C akan memusuhi kawan dari A dan A, NATO dan PAKTAWARSAWA adalah petaka untuk menciptakan perdamaian dunia. Intinya perdamaian dunia adalah utopis.

Seperti kata Gunawan Muhammad yang menyangkal adanya demokrasi di surga, sama halnya aku juga menyangkal keberadaan liberalis, kapitalis, sosialis, komunis, nation state atau internasinalisme dan faham apapun di surga, bilamana misal di surga ada komunisme atau kapitalisme dengan banyaknya kritik di faham itu, tidakkah surga akan menjadi tempat yang tidak lagi sempurna?


Lalu yang kedua, perlu mbah Plato ketahui. Kebrilianan pemikir-pemikir jaman Yunani kuno tidak bisa terlepas dari adanya perbudakan. Bagaimana mereka bisa begitu secemerlang hingga mencapai kebijaksanaan berfikir sedimikian tinggi? Pemikir-pemikir Athena tak perlu memikirkan besok musti makan apa dan tak perlu mengerjakan hal-hal remeh temeh seperti mencuci celana dalam kotor kena mimpi basah misalnya, karena ada budak 24 jam yang sudah diperintah, sehingga bangsa Yunani kuno memiliki banyak waktu luang untuk berpikir dan belajar banyak hal mengenai filsafat. Jadi seandainya simbah Plato sedang menyelesaikan skripsinya tentang negara ideal, dalam lembar ucapan terima kasih, aku sarankan untuk memasukkan sumbangsih nama-nama budak yang tak berharga namun sangat bersahaja khususnya dalam perkembangan filsafat kuno sebagai induk sains dunia hehe

Sayangnya Plato kariernya udah abis karena sering cedera di AC Milan, eh ini Plato yang mana? 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar