Normalnya daerah otonomi bisa
ngurus kabut daerah sendiri, masyarakat dan pemerintah yang berdikari, namun
yang jadi masalah karena 'penyakitnya' itu ya di lingkaran dalam pemda itu
sendiri, mbok yo jadi manusia yang sadar jujur dan akui sajalah jika sejak
jaman bahula, musuh dalam selimutnya rakyat itu ya pemimpinnya sendiri. Nggak
percaya? Sudah dapat upeti berapa mereka? Ini bukan tentang kemanusiaan yang
adi luhung, ini tentang uang, tentang bisnis, mana ada pemimpin mau diam jika
lingkar behanya tak diselipi uang oleh korporasi yang petingkahan seenaknya
sendiri di tanah kekuasaan dewan? Jika diterus-teruska n bisa bahaya lho,
yang bikin ulah pihak daerah, yang diteriak-teriak in pemerintah pusat
dengan kelambanan rantai komando birokrasi, ujung-ujungnya muncul ketidakpuasan
dan memicu usaha pemisahan terhadap NKRI. Masalah kah? Iya, masalah bagi kaum
nasionalis berdiameter otak lima senti, tapi bagi aku pribadi? Enggak
Manusia adalah manusia tak
peduli apa warna darah kulit mereka, darimana mereka tinggal, seperti apa logat
bahasanya dan jenis apa Tuhannya. Itu tanah mereka, mereka manusia merdeka dan
berdaulat serta berhak memutuskan takdir mereka sendiri akan dibawa ke arah
mana, jika mereka merasa terdzolimi oleh nggathelinya anak emas pembangunan
Jawa sentris, why not? NKRI harga mati? Ya betul, itu dulu saat era Soekarno
musuh warga Indonesia adalah pihak aseng-aseng, tapi kemudian di era Soeharto
musuhnya adalah pihak dalem dan korporasi tak tahu diri, lalu di era reformasi?
Musuhnya kolaborasi dari era Soekarno dan era Soeharto ditambah kamu-kamu ini
yang bisanya ngabisin nasi impor doank, Bagaimana NKRI harga matinya jal?
Membantai anggota sukarelawan kem anusiaan tanpa pamrih sekaliber Gerwani? Membiarkan
ketimpangan ekonomi terjadi tanpa bisa terkendali? Udelmu kuwalek, NKRI harga
mati gundulmu kui!
Pentingnya masyarakat bersatu
dan mandiri adalah setidaknya mengurangi kadar jenuh kemencla-mencle 'an
pimpinan. Aku tidak sedang membahas cocoklogy ramalan rosulullah tentang akhir
zaman yang dicirikan oleh pimpinan-pimpin an yang dzolim, toh sejak jaman
dahulu kala sebelum nabi Muhammad lahir, sudah beranak-pinak pimpinan mbelgendes-mbelgendes
kayak gitu, atau jangan-jangan jaman dahulu kala memang sudah dimaksudkan dalam
kategori akhir zaman? Wallahualam.
Akhir kata, aku kurang tertarik dengan perselisihan pimpinannya muslim atau bukan, buat apa muslim tapi bosok? Katanya nggak boleh menilai seseorang dari hijab, model sarungnya, cingkrang tidaknya celana, panjang tidaknya jenggot, piye sih, mbok yo jangan standar ganda. Setidaknya jangan pilih pemimpin yang tidak mau berkata bersedia untuk dilengserkan. Siapa presiden di negeri ini yang bersedia dilengserkan? Barangkali Cuma Soekarno dan Gus Dur, berhati-hatilah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar