https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Kamis, 22 Oktober 2015

Kabut



Normalnya daerah otonomi bisa ngurus kabut daerah sendiri, masyarakat dan pemerintah yang berdikari, namun yang jadi masalah karena 'penyakitnya' itu ya di lingkaran dalam pemda itu sendiri, mbok yo jadi manusia yang sadar jujur dan akui sajalah jika sejak jaman bahula, musuh dalam selimutnya rakyat itu ya pemimpinnya sendiri. Nggak percaya? Sudah dapat upeti berapa mereka? Ini bukan tentang kemanusiaan yang adi luhung, ini tentang uang, tentang bisnis, mana ada pemimpin mau diam jika lingkar behanya tak diselipi uang oleh korporasi yang petingkahan seenaknya sendiri di tanah kekuasaan dewan? Jika diterus-teruskan bisa bahaya lho, yang bikin ulah pihak daerah, yang diteriak-teriakin pemerintah pusat dengan kelambanan rantai komando birokrasi, ujung-ujungnya muncul ketidakpuasan dan memicu usaha pemisahan terhadap NKRI. Masalah kah? Iya, masalah bagi kaum nasionalis berdiameter otak lima senti, tapi bagi aku pribadi? Enggak

Manusia adalah manusia tak peduli apa warna darah kulit mereka, darimana mereka tinggal, seperti apa logat bahasanya dan jenis apa Tuhannya. Itu tanah mereka, mereka manusia merdeka dan berdaulat serta berhak memutuskan takdir mereka sendiri akan dibawa ke arah mana, jika mereka merasa terdzolimi oleh nggathelinya anak emas pembangunan Jawa sentris, why not? NKRI harga mati? Ya betul, itu dulu saat era Soekarno musuh warga Indonesia adalah pihak aseng-aseng, tapi kemudian di era Soeharto musuhnya adalah pihak dalem dan korporasi tak tahu diri, lalu di era reformasi? Musuhnya kolaborasi dari era Soekarno dan era Soeharto ditambah kamu-kamu ini yang bisanya ngabisin nasi impor doank, Bagaimana NKRI harga matinya jal? Membantai anggota sukarelawan kemanusiaan tanpa pamrih sekaliber Gerwani? Membiarkan ketimpangan ekonomi terjadi tanpa bisa terkendali? Udelmu kuwalek, NKRI harga mati gundulmu kui!

Pentingnya masyarakat bersatu dan mandiri adalah setidaknya mengurangi kadar jenuh kemencla-mencle'an pimpinan. Aku tidak sedang membahas cocoklogy ramalan rosulullah tentang akhir zaman yang dicirikan oleh pimpinan-pimpinan yang dzolim, toh sejak jaman dahulu kala sebelum nabi Muhammad lahir, sudah beranak-pinak pimpinan mbelgendes-mbelgendes kayak gitu, atau jangan-jangan jaman dahulu kala memang sudah dimaksudkan dalam kategori akhir zaman? Wallahualam.

Akhir kata, aku kurang tertarik dengan perselisihan pimpinannya muslim atau bukan, buat apa muslim tapi bosok? Katanya nggak boleh menilai seseorang dari hijab, model sarungnya, cingkrang tidaknya celana, panjang tidaknya jenggot, piye sih, mbok yo jangan standar ganda. Setidaknya jangan pilih pemimpin yang tidak mau berkata bersedia untuk dilengserkan. Siapa presiden di negeri ini yang bersedia dilengserkan? Barangkali Cuma Soekarno dan Gus Dur, berhati-hatilah terhadap manusia gila jabatan, ntah pake dalih sebagai aktualisasi diri (halah mbelgendhes), karena manusia gila jabatan mainannya adalah nyawa manusia, mbok yo ingat usia, politik itu jatahnya usia muda, yang sudah mau berbau tanah mbok ya ngalah, sadar diri, setidaknya lebih mendekatkan diri kepada sang ilahi, tirulah Semar dalam wayang kulit, tokoh sakti mandraguna, manusia setengah dewa, jelmaan dari kakaknya Bathara Guru sang pimpinan para dewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar