https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Senin, 05 Oktober 2015

Franky Sang Tionghoa dan Perbedaan



Aku punya teman kuliah, satu kelamin satu organisasi, bukan satu peranakan tapi, dan alhamdulillah bukan satu ranjang. Nama lengkapnya Franky, panggilannya Lee Peng, Karena teman dekat dan erat jadi aku gak sungkan-sungkan untuk menjadikannya objek pekok-pekokan dalam tulisan nggapleki-ku kali ini. Pria blesteran sepertiga Jawa sepertiga Cina dan sepertiganya lagi filsuf ini menduduki posisi sebagai sekum UPK Sakuntala Fisip Undip yang bergerak di bidang musik. Menjadikannya sebagai pria idaman para mahasis-waria lanjut usia. Beliau adalah teman yang ringan tangan yang sering ngasih utangan kepada kawan-kawan fakir miskin macam kalian (haha abaikan). Koh Lee Peng sudah berkomitmen sejak dalam kandungan sebagai warga Indonesia bersuku Jawa berwajah Tionghoa Beragama Budha.

Ya, etnis Tionghoa terkenal salah satunya adalah karena jelajah persebaran mereka yang luas dari ujung padang gersang yang panas hingga kepulauan dikepung lautan lepas yang ganas. Orang bilang, dimanapun sinar matahari menyambar, dimanapun desir air mengalir, dimanapun akumulasi energi terpatri, disana ada orang Tionghoa. Mereka tak hanya hidup di negeri besar Cina, tetapi meluber kemana-mana sampai ke pedalaman Asia Tenggara, sudut-sudut Asia, Eropa, Amerika, hingga ke tengah gurun Afrika dan kepulauan Karibia, seperti suku Jawa yang selalu ada di setiap pelosok nusantara.

Dulu mereka adalah bangsa pelarian, Tionghoa sendiri terdiri atas banyak suku di negerinya, Dungan misalnya yang melarikan diri dari kejaran kaisar, atau melarikan diri dari kejaran tentara negara yang mengakuisisi diri sebagai cahaya asia, atau melarikan diri dari kemiskinan di kampung halaman dan mendamba kehidupan yang lebih makmur di negeri-negeri seberang. Di zaman sekarang, dimana ada kesempatan mencari penghidupan, disitu pasti ada ras-nya Koh Lee Peng alias orang Tionghoa.

Perpindahan migrasi mengubah nasib dan takdir mereka, mengubah jati diri dan impian. Seperti misalnya lahir di Indonesia, besar hidup tumbuh bersenggama di Indonesia, belum pernah menginjakkan kaki ke negeri Cina, hingga nama Indonesia mengalir di setiap denyut nadi mereka. Namun meski begitu, bukanlah perkara mudah untuk dijalani warga tionghoa di Indonesia, hanya karena pendeknya diameter lingkar otak orang-orang generasi tua yang masih berkutat pada permasalahan ras dan candu ideologi. Tahun 1959 misalnya, pemerintah mengeluarkan PP No. 10 yang isinya kurang lebih tentang melarang orang asing untuk membuka lapak usaha di daerah pedalaman yang statusnya lebih rendah dari kabupaten. Kala itu, Indonesia masih janin yang baru lahir, dan orang-orang Tionghoa yang kebanyakan berstatus warga negara asing memutar roda perekonomian di banyak desa dan kota. Dengan keluarnya peraturan ini, mereka musti menghentikan usaha mereka. Hubungan dengan Republik Rakyat Cina memanas, radio Peking menghimbau para keturunan Tionghoa untuk pulang ke negeri sang naga. Ratusan ribu orang Tionghoa meninggalkan macan asia, terpukau oleh aura Mao Zedong dan ikut membantu perjuangan saudara sebangsa sebagai wujud bakti kepada negeri panda. Beberapa berencana bersekolah ke negeri Cina, tetapi kemudian tak pernah bisa kembali lagi ke Indonesia, hubungan dengan Cina dibekukan pada masa orde bau, iya, "bau" ini bukanlah typo atau salah pengetikan. 

Keluarga-keluarga yang dipisahkan sekat garis tak tertembus karena ras dan ideologi menjalani takdir masing-masing di dua negeri yang bersitegang. Kaum Tionghoa yang tetap tinggal di  Indonesia juga menjalani suratan nasib tragis mereka. Banyak penentang di penjarakan karena berdemonstrasi terhadap berbagai kebijakan, salah satunya adalah kebijakan Pemda Jatim pada tahun 1966/1967 yang melarang orang-orang Tionghoa WNA atau yang tidak berkewarganegaraan untuk berdagang di luar Surabaya. Mereka pun dilarang pindah domisili keluar dari Jatim. Wijkenstelsel dan passenstelsel kembali berlaku namun hanya berbeda pelaku, kenangan yang pilu dan pahit harus mereka terima. Kelamnya sel penjara, terenggutnya masa muda, penghinaan, penjarahan toko, pemerkosaan adalah lubang sejarah yang masih menganga, yang di masa terjadinya menuntut orang tionghoa untuk bangkit dan berteriak kepada penguasa. Mereka turun aksi bukan untuk menciptakan thethek-bengeknya klaim propaganda penggulingan pancasila, lhawong mereka berjuang hanya untuk membela tokonya, harta miliknya, dan hak-haknya sebagai manusia kok. Ada pula yang butuh waktu lebih dari dua puluh tahun untuk memperoleh kewarganegaraan, cuma gara-gara pernah menjadi kepala sekolah Tionghoa! Tragis betul nasib sesepuh-sesepuh Koh Lee Peng ini. Pun begitu  universitas negeri, kuota masuknya pun dibatasi untuk ras yang satu ini, padahal mereka lahir, bernapas, menelan beras, kencing, berak, bersenggama dan berotak sama seperti sampean-sampean, mereka tak berbeda dengan aku, mereka tak berbeda dengan Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Papua, bahkan Aborigin sekalipun, mereka manusia...

Mereka berada pada posisi dilematis, dua negeri bermusuhan, Indonesia menolak mereka sementara Cina juga tak mengakui mereka. Ego, kebanggaan, arogansi, superioritas, hanyalah simbolisme imajiner sampah tak berguna yang mengurung otak dan jiwa manusia untuk menggapai makrifatnya kemanusiaan! dampaknya kemanusiaan tergadaikan! Rezim orde bau yang pandai menutup-nutupi bangkai sejarah itu toh telah digulingkan, dan Gus Dur muncul bak seorang avatar yang menguasai 4 elemen dan mengontrol keseimbangan nusantara. meski kemudian digulingkan oleh elit-elit politik senayan yang bajingan, satu tahun kepemimpinannya toh mengubah segalanya, ras Tionghoa diangkat dan disetarakan derajatnya, hubungan bilateral diharmoniskan hingga sedia kala, waliyulloh yang hendak ngoyoworo mendidik setiap umat manusia generasi di bawahnya tentang bagaimana cara memandang manusia, memanusiakan manusia dan menuhankan Tuhan, manunggaling rerupo manungso.

Tuhan menciptakan berbagai etnis manusia melalui satu ovum dan satu sperma, meskipun lubang keluar dan lubang penerima bukan berasal dari pasangan yang sama yang jelas rupa-rupa bayi yang lahir pun tak menafikkannya menjadi bukan manusia, apa yang hebat dari aku? dari kamu? dari kita? toh kita sama-sama produk penis dan vagina, lantas kenapa kita mesti membeda-bedakan seseorang berdasar warna kulit, sipit tidaknya mata, ngatung tidaknya celana, panjang tidaknya jilbab, tebal tidaknya jenggot, untuk apa? manusia toh sejarahnya sama, kita berburu, bercocok tanam, melalang buana, merantau, menaklukkan alam, beranak-pinak. aku merah, kamu putih, dia hijau dan orang sebelah sana kuning, dan sebelah sananya lagi tak berkostum, Adanya perbedaan bukanlah untuk ditakuti namun untuk disyukuri, perbedaan diciptakan bukan untuk pertengkaran, tapi untuk persaudaraan, lantas kenapa kau jauhiku hanya karena aku berbeda, tak bisakah kita berdiskusi di meja yang sama?

alfatihah buat simbah Gus Dur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar