Wahai
triper-triper level pringsilan, akan aku ajari ajian yang bisa dipake buat
gaman, biar dirimu tambah sakti lan migunani, bagi fisik-fisik yang tak gentar
menelanjangi panas dan jiwa-jiwa yang tak ciut menantang batas, berikut akan aku bahas supaya perjalananmu makin berkelasss!!! ( hasseekk :D )
Sekali-kali aku pengen nulis dengan bahasa yang agak kaku, biar kayak esay mahasiswa yang gagal menang karena bahasanya sok intelektual tapi miskin gagasan, Ini gaya tulisanku yang paling kaku loh betewe hehe
Meskipun
aku jarang halan-halan karena emang kondisi dompet pas-pasan, sekalinya aku
dapat kesempatan sebisa mungkin aku selalu menggunakan hati pikiran dalam menganalis perjalanan. Dalam perjalanan
darat lintas batas menyeberang dari satu daerah ke daerah lain, kita bisa
mengamati refleksi bagaimana kota-desa bekerja, bagaimana roda-rodanya
berputar, bagaimana pemikiran manusia-manusianya. korup atau tertib, efisien
atau klolar-klolor, taat hukum atau slebor. tiap masuk daerah pasti melewati
perbatasan, perbatasan adalah jendela kita untuk ngintip sebuah daerah, titik
kecil yang memberi ilustrasi gambar besar di belakangnya, menegaskan dugaan
atau justru menciptakan prasangka baru.
Bagi
beberapa orang mungkin cuma hal sepele, tapi bagi aku ada dimensi yang
berlapis-lapis, ada sejarah, ada kesimpangsiuran, ada kesalahpahaman, ada pula
pembantaian sisi gelap yang jarang diceritakan jika kita ber-backpacking tanpa membaca
dan merenungkan arti perjalanan, atau menjadikan perjalanan backpacking
semata-mata seperti piknik liburan dan mengambil gambar untuk program DP
pekanan.
Dari
yang sudah lama aku amati, menjadi triper atau backpacker adalah identitas
yang ingin ditempelkan ke semua pelaku perjalanan. tapi untuk beberapa orang triping adalah proses pembelajaran, bukan sekadar mengunjungi tempat
demi mengatakan, "I have been there. I have done it. I love you." #Langsungpasanghesteg (ya pa nggak
hayo ngaku?)
Hanya
sedikit atau mungkin relasiku yang kurang luas, ada triper yang mampu melihat
perjalanan sebagai sebuah pengalaman batin yang menguji mental, fisik,
kepercayaan diri, bahkan menantang harga diri. backpacking tidak hanya dilihat
sebagai kisah pejalan kere berbekal ransel lusuh dengan rute semrawut. namun
harus membekali diri dengan keingintahuan yang besar, independensi, dan
keberanian untuk mempertanggungjawabkan pilihannya, termasuk keputusan untuk
mengunjungi tempat-tempat yang tidak biasa, berbahaya, atau pun berpotensi
konflik. syukur-syukur cicipan ilmu sekolah/kuliahnya bisa bermanfaat dan nggak
nganggur untuk pendekatan humanis, pemahaman kultur, agama, latar belakang
demografis, bukan hanya eksplorer katrok tapi juga observer moderat, memperkaya
diri sebagai pejalan yang makin arif dan kaya akan pengalaman batin, niscaya pabila sampean-sampean bisa atau minimal mau berfikir sedikit syukur-syukur banyak ketika melakukan perjalanan insyaallah perjalanan sampean bakal lebih membawa manfaat bagi lingkungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar