Sebuah
butiran debu, partikel itu kau
Debu yang
disuapkan sebagian ke mulut ayahmu sebagian ke bibir ibumu
Debu dalam
rahim ibumu, debu dalam kandung mani ayahmu, mereka menikah atau ntah mungkin
belum yang pasti tentunya bersenggama
Debu-debu
itu menyatu, menjelma dirimu dalam rahim ibu
Seperti
telur dalam rahim ayam
Lunak dan
hangat dalam cangkang ketuban
Darahnya
beredar menjalar di setiap sudut endapan sperma ayahmu yang terselip
Kau
terwujud, tercangkok dalam eraman sembilan bulan
Dalam
erangan perih linunya
Kau retakkan
dinding telur, merongrong lorong gelap
Menyembul
dari pintu selangkangan
Jatuh dalam
buaian
Matamu
pejam, telingamu tak mendengar, kakimu lemah, tanganmu menggigil, pikiranmu
tidak bekerja
Kau tidak
memahami apapun
Kau tidak
mengenal siapapun
Kau hanya
tahu empat hal
Menangis,
mengompol, berak, dan menyusu
Belasan
tahun kemudian banyak hal kau tahu
Dunia,
logika, pria, wanita, mulia, terhina, binasa, elegi, dan mulai percaya yang tak
kau tahu
Surga,
neraka, dan Maha Kuasa.
Puluhan
tahun kemudian matamu tak dapat melihat
Telingamu
tuli
Kakimu
lumpuh
Pikiranmu
mati suri
Kau tidak
dapat memahami apapun
Kau tidak
mengenal siapapun, kau tergolek layu
Kau hanya
tahu satu hal...
Ajal
Tiba-tiba kau mati
Tenggelam
dalam sunyinya bumi
Sekali lagi
Kau menjelma
debu
Tiada apapun
tersisa darimu sekalipun harga dirimu
Kecuali
bahwa kau tetap meracau dan bercumbu denganku di pertapaan malamku
Itupun kalau aku tidak mendahuluimu
Manusia
beredar seperti poros bumi
Lintasan
hari, ramahnya musim semi, seperti setiap tetesan embun, bunga dandelion,
pohon, surya, tata surya, galaksi, semesta, yang berputar dan meledak.
Kau bukan
apa-apa
Kau hanya
debu
Apa yang
tertinggal darimu?
Konon yang
kau bawa hanyalah tinggal urusanmu dengan yang kau imani
Sedang yang
tertinggal hanyalah setiap kebaikan dan kejahatan yang kau kerjakan pada hangat
dan lembutnya debu-debu lain yang berserakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar