Perbatasan...
Aku sangat tertarik dengan yang namanya perbatasan, fantasi
yang belum pernah kulalui sepanjang menjadi seorang musafir kere di semarang.
Ya perbatasan, bukan perbatasan antara apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan
ketika bareng gebetan atau ndilalah ketemu mantan pas lagi reunian. Bukan perbatasan
antar desa, kecamatan atau antar kabupaten
dan provinsi maupun perbatasan kost kamar cowok berkolor terang dan cewek
bertangtop dengan lafal “boleh dilihat gak boleh dipegang”, yang kumaksut
disini adalah perbatasan negara, perwujudan garis tebal-tebal bercetak hitam di
atas atlas. Ini negara A dengan warna ini, di belakang garis adalah negara B
dengan warna itu, yang sudah dijelaskan dalam seperangkat penunjuk dan legenda
di atas suhuf-suhuf peta. Barangkali di atas dunia yang sebenarnya, wujudnya
adalah pagar-pagar berduri bergerigi besi, patok kayu yang menyendiri menjaga
hati seperti jomblowan-jombl owati kayak kamu-kamu ini, kemudian ada
kawat-kawat bermuatan listrik yang menyengat. Aku tidak persis tahu, hanya
mengimajinasika n dan membayangkan jauh ke depan dari beberapa cerita hidup
yang mereka ceritakan di televisi. Berapa ratus atau mungkin ribu kilometer
jumlah total perbatasan di Indonesia-Malay sia? Belum Timor-Timur, juga
Papua Nugini. Berapa juta ton kayu yang dihabiskan untuk menancapkan
tonggak-tonggak yang berjajar rapi diselimuti lumut dan tanaman berduri?
Berapa banyak listrik untuk menghidupkan perbatasan-perb atasan Indo-Malay?
Berapa kilowatt untuk menyetrum kelamin setiap para pelintas ilegal tak berduit
yang birokrasi perijinannya njelimet khas negara berkembang? Berapa juta
tentara untuk mengawasi belantara hutan, tanah terjal, dan bukit-bukit sepi?
Berapa ribu pegawai bea cukai yang stay di masing-masing posnya? Berapa butir
amunisi disiapkan untuk mempersenjatai diri? Semua ini hanya untuk melindungi
zona-zona aman manusia.
Ya zona aman, mungkin itulah yang membuat dadaku pagi ini
bergejolak. Berada dalam kamar kost dengan luas 3,5x3,5 meter, masih ribuan
kilometer jauhnya dari garis batas baik utara selatan maupun timur barat. Sifat
dasar kebanyakan manusia, sepertinya memang untuk menjauhi garis batas.
Meninggalkan zona aman seperti panji-panji khas sabda suci motivator yang
mencari makan di televisi yang diamini ribuan umat galau yang mencari jati
diri, meninggalkan zona aman seperti balita yang merangkak sendirian
meninggalkan pagar rumahnya untuk melihat hingar-bingar dunia yang pekat bak
Angelica Tommy Chuckie Phil Lil dalam Rugrats. Meninggalkan zona aman seperti
lelaki atau perempuan yang sendirian meninggalkan kampung halaman mengembara di
laut lepas dan kejamnya lembah bukit hingga daratan bak Nico Robin di dunia One
Piece. Zona aman itu adalah rumah, homebase, halaman, kampung, negara.
Perbatasan memang mengurung zona nyaman manusia, tetapi berada di dekatnya,
pasti degup kecemasan yang akan menyelimuti. Karena lewat garis itu, zona aman
sudah menguap. Tak ada lagi perlindungan, manusia berdiri di alam liar, seliar
sorotan janda muda beranak satu ketika menatapku yang kebetulan satu meja dalam
sebuah cafetaria, sesungguhnya hamba sahaya berlindung di bawah nama sang Maha
Kuasa dari lirikan mama muda yang memaksa (WAHAHAHA)
Seperti apakah tanah melayu di seberang sana? Adakah
manusia-manusia berbeda bentuk? Berbicara bahasa berbeda? Menganut ideologi
berbeda? Menjunjung budaya nilai hidup yang berlainan? Dilengkapi persenjataan
lengkap dan tak bersahabat? Di luar batas zona aman itu adalah ketidakamanan,
hukum dan peraturan baru, negara baru, sistem baru, mata uang baru. Semua serba
asing. Yang dibalik pagar itu adalah mantan negara murid yang sekarang
menggurui, ukurannya tak seberapa di banding negara kita, namun peradabannya
bisa saja setara atau mungkin sudah di atas bayang-bayangku, entahlah aku tidak
tahu, aku belum berkesempatan dapat menclok kesana. Membayangkannya saja
sudah merangsang otak beranjak untuk mengajak kaki menginjak setiap petak,
kemudian menuliskan berlembar sajak-sajak dari berbagai bidang ilmu kajian dan
analisa ke dalam blog pribadi untuk diwariskan lalu dipelajari, diperbaharui
dan dikritisi oleh kawan-kawanku, bahkan anak-anakku nanti.
Aku adalah orang yang mengalami masa remaja ababil dan terjebak
pada era selfie, meski begitu aku suka fotografi sejak seorang dara melakukan
adegan jepret-menjepre t dan mengambil gambar suatu keadaan, dia juga begitu
pandai melantunkan jari dan pensil dalam olah gagasan di atas kertas, menjadi
motivasiku untuk sekedar mengimbangi, bahkan melampaui, tapi yang jelas ini bukan
persaingan, aku hanya ingin sedikit berbenah dan memperbaiki keadaan. Tentu ini
hal yang sangat menunjang bagi laki-laki yang tidak bisa merdu melantunkan lagu
sepertiku, apalagi menggoreskan tinta diatas kanvas, aku hanya bisa melukis
nuansa lewat tulisan. Masa dimana ribuan tahun atau setiap zaman, minimal setiap
era bisa terpatri lewat huruf-huruf yang tertoreh, sementara beberapa windu
usia penulisnya telah sirna, terkubur tanah, menyatu bersama molekul bumi.
Tulisan tertinggal, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, menginspirasi anak,
cucu, buyut... Lalu, lahirlah petualang-petua lang muda, yang menggenggam
tulisan warisan kuno laksana nubuat, melakukan napak tilas dan melihat kembali
bagaimana zaman berlayar. Demikian generasi demi generasi musafir penembus zona
aman terbentuk, merekam perjalanan peradaban dan kebudayaan yang suatu saat
nanti mungkin akan tenggelam dan terkubur oleh bencana, propaganda maupun
konspirasi dari keserakahan manusia yang berlomba menggunungkan harta dan laba.
Manusia memang fana, tetapi guratan sperma, pena, dan pemikirannya boleh jadi
abadi, melintasi setiap elegi zaman yang saling beresonansi.
Mataku kupejamkan, meraba jauh ke depan, membayangkan seorang
diri berdiri dengan segenap keangkuhan di tengah belantara hutan, dikelilingi
hewan-hewan eksotis nan erotis yang saling buru memburu dan saling berpenetrasi
untuk menjaga kelangsungan eksistensi. Bulu kudukku mulai berdiri, barisan
pagar membisu masif memancarkan aura agresif, tak ada makhluk lain kecuali
hewan-hewan di atas tadi. Setidaknya batas-batas yang tergurat dalam benak
manusia berbeda dengan batas dalam alam pikiran hewan. Bukannya mereka tak
memiliki batas, hewan-hewan pun tahu perbatasan, mana tanah, mana rawa, mana
laut, mana sungai, mana padang gersang, mana dataran tinggi, mana musim
kemarau, mana musim penghujan, mana batas musim gugur, mana musim dingin, mana
kandang penggembala yang menawarkan keamanan pangan sandang, mana hutan yang
dihuni pemburu buas nan beringas seperti kekasihmu di atas matras yang tak
menyisakan balut kain meski hanya benang seutas. Mata segera kubuka, alam
pikiran membawaku pada rabaan zona yang salah, menjadi musafir ilegal penembus
batas. Seharusnya ia membawaku ke meja-meja birokrasi imigrasi lalu ke
pintu-pintu perbatasan. Tapi tak apalah, aku maafkan, namanya juga otak usil.
Sejenak menghirup udara untuk kembali ke realita dunia yang fana, membuka
dompet, huft... memang apa yang bisa ku lakukan dengan isi dompet berisi tujuh
puluh tujuh ribu rupiah yang bersarang? Apa bisa aku ke perbatasan hanya modal
ini saja?
Bukan patok kayu termakan zaman atau estafetnya tentara
bersenapan di perbatasan, namun batas zona aman yang menghambatku adalah perkara
keuangan, yang mengingatkanku kepada rendaman seperangkat pakaian dan sempak yang musti kucuci pagi ini supaya tidak ke loundry atau melacurkan diri
untuk mendapatkan materi.
Selasa pagi yokk mari kita mencuci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar