https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Rabu, 07 Oktober 2015

Zona Perbatasan



Perbatasan...

Aku sangat tertarik dengan yang namanya perbatasan, fantasi yang belum pernah kulalui sepanjang menjadi seorang musafir kere di semarang. Ya perbatasan, bukan perbatasan antara apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika bareng gebetan atau ndilalah ketemu mantan pas lagi reunian. Bukan perbatasan antar  desa, kecamatan atau antar kabupaten dan provinsi maupun perbatasan kost kamar cowok berkolor terang dan cewek bertangtop dengan lafal “boleh dilihat gak boleh dipegang”, yang kumaksut disini adalah perbatasan negara, perwujudan garis tebal-tebal bercetak hitam di atas atlas. Ini negara A dengan warna ini, di belakang garis adalah negara B dengan warna itu, yang sudah dijelaskan dalam seperangkat penunjuk dan legenda di atas suhuf-suhuf peta. Barangkali di atas dunia yang sebenarnya, wujudnya adalah pagar-pagar berduri bergerigi besi, patok kayu yang menyendiri menjaga hati seperti jomblowan-jomblowati kayak kamu-kamu ini, kemudian ada kawat-kawat bermuatan listrik yang menyengat. Aku tidak persis tahu, hanya mengimajinasikan dan membayangkan jauh ke depan dari beberapa cerita hidup yang mereka ceritakan di televisi. Berapa ratus atau mungkin ribu kilometer jumlah total perbatasan di Indonesia-Malaysia? Belum Timor-Timur, juga Papua Nugini. Berapa juta ton kayu yang dihabiskan untuk menancapkan tonggak-tonggak yang berjajar rapi diselimuti lumut dan tanaman berduri? Berapa banyak listrik untuk menghidupkan perbatasan-perbatasan Indo-Malay? Berapa kilowatt untuk menyetrum kelamin setiap para pelintas ilegal tak berduit yang birokrasi perijinannya njelimet khas negara berkembang? Berapa juta tentara untuk mengawasi belantara hutan, tanah terjal, dan bukit-bukit sepi? Berapa ribu pegawai bea cukai yang stay di masing-masing posnya? Berapa butir amunisi disiapkan untuk mempersenjatai diri? Semua ini hanya untuk melindungi zona-zona aman manusia.

Ya zona aman, mungkin itulah yang membuat dadaku pagi ini bergejolak. Berada dalam kamar kost dengan luas 3,5x3,5 meter, masih ribuan kilometer jauhnya dari garis batas baik utara selatan maupun timur barat. Sifat dasar kebanyakan manusia, sepertinya memang untuk menjauhi garis batas. Meninggalkan zona aman seperti panji-panji khas sabda suci motivator yang mencari makan di televisi yang diamini ribuan umat galau yang mencari jati diri, meninggalkan zona aman seperti balita yang merangkak sendirian meninggalkan pagar rumahnya untuk melihat hingar-bingar dunia yang pekat bak Angelica Tommy Chuckie Phil Lil dalam Rugrats. Meninggalkan zona aman seperti lelaki atau perempuan yang sendirian meninggalkan kampung halaman mengembara di laut lepas dan kejamnya lembah bukit hingga daratan bak Nico Robin di dunia One Piece. Zona aman itu adalah rumah, homebase, halaman, kampung, negara. Perbatasan memang mengurung zona nyaman manusia, tetapi berada di dekatnya, pasti degup kecemasan yang akan menyelimuti. Karena lewat garis itu, zona aman sudah menguap. Tak ada lagi perlindungan, manusia berdiri di alam liar, seliar sorotan janda muda beranak satu ketika menatapku yang kebetulan satu meja dalam sebuah cafetaria, sesungguhnya hamba sahaya berlindung di bawah nama sang Maha Kuasa dari lirikan mama muda yang memaksa (WAHAHAHA)

Seperti apakah tanah melayu di seberang sana? Adakah manusia-manusia berbeda bentuk? Berbicara bahasa berbeda? Menganut ideologi berbeda? Menjunjung budaya nilai hidup yang berlainan? Dilengkapi persenjataan lengkap dan tak bersahabat? Di luar batas zona aman itu adalah ketidakamanan, hukum dan peraturan baru, negara baru, sistem baru, mata uang baru. Semua serba asing. Yang dibalik pagar itu adalah mantan negara murid yang sekarang menggurui, ukurannya tak seberapa di banding negara kita, namun peradabannya bisa saja setara atau mungkin sudah di atas bayang-bayangku, entahlah aku tidak tahu, aku belum berkesempatan dapat menclok kesana. Membayangkannya saja sudah merangsang otak beranjak untuk mengajak kaki menginjak setiap petak, kemudian menuliskan berlembar sajak-sajak dari berbagai bidang ilmu kajian dan analisa ke dalam blog pribadi untuk diwariskan lalu dipelajari, diperbaharui dan dikritisi oleh kawan-kawanku, bahkan anak-anakku nanti.

Aku adalah orang yang mengalami masa remaja ababil dan terjebak pada era selfie, meski begitu aku suka fotografi sejak seorang dara melakukan adegan jepret-menjepret dan mengambil gambar suatu keadaan, dia juga begitu pandai melantunkan jari dan pensil dalam olah gagasan di atas kertas, menjadi motivasiku untuk sekedar mengimbangi, bahkan melampaui, tapi yang jelas ini bukan persaingan, aku hanya ingin sedikit berbenah dan memperbaiki keadaan. Tentu ini hal yang sangat menunjang bagi laki-laki yang tidak bisa merdu melantunkan lagu sepertiku, apalagi menggoreskan tinta diatas kanvas, aku hanya bisa melukis nuansa lewat tulisan. Masa dimana ribuan tahun atau setiap zaman, minimal setiap era bisa terpatri lewat huruf-huruf yang tertoreh, sementara beberapa windu usia penulisnya telah sirna, terkubur tanah, menyatu bersama molekul bumi. Tulisan tertinggal, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, menginspirasi anak, cucu, buyut... Lalu, lahirlah petualang-petualang muda, yang menggenggam tulisan warisan kuno laksana nubuat, melakukan napak tilas dan melihat kembali bagaimana zaman berlayar. Demikian generasi demi generasi musafir penembus zona aman terbentuk, merekam perjalanan peradaban dan kebudayaan yang suatu saat nanti mungkin akan tenggelam dan terkubur oleh bencana, propaganda maupun konspirasi dari keserakahan manusia yang berlomba menggunungkan harta dan laba. Manusia memang fana, tetapi guratan sperma, pena, dan pemikirannya boleh jadi abadi, melintasi setiap elegi zaman yang saling beresonansi.

Mataku kupejamkan, meraba jauh ke depan, membayangkan seorang diri berdiri dengan segenap keangkuhan di tengah belantara hutan, dikelilingi hewan-hewan eksotis nan erotis yang saling buru memburu dan saling berpenetrasi untuk menjaga kelangsungan eksistensi. Bulu kudukku mulai berdiri, barisan pagar membisu masif memancarkan aura agresif, tak ada makhluk lain kecuali hewan-hewan di atas tadi. Setidaknya batas-batas yang tergurat dalam benak manusia berbeda dengan batas dalam alam pikiran hewan. Bukannya mereka tak memiliki batas, hewan-hewan pun tahu perbatasan, mana tanah, mana rawa, mana laut, mana sungai, mana padang gersang, mana dataran tinggi, mana musim kemarau, mana musim penghujan, mana batas musim gugur, mana musim dingin, mana kandang penggembala yang menawarkan keamanan pangan sandang, mana hutan yang dihuni pemburu buas nan beringas seperti kekasihmu di atas matras yang tak menyisakan balut kain meski hanya benang seutas. Mata segera kubuka, alam pikiran membawaku pada rabaan zona yang salah, menjadi musafir ilegal penembus batas. Seharusnya ia membawaku ke meja-meja birokrasi imigrasi lalu ke pintu-pintu perbatasan. Tapi tak apalah, aku maafkan, namanya juga otak usil. Sejenak menghirup udara untuk kembali ke realita dunia yang fana, membuka dompet, huft... memang apa yang bisa ku lakukan dengan isi dompet berisi tujuh puluh tujuh ribu rupiah yang bersarang? Apa bisa aku ke perbatasan hanya modal ini saja?
Bukan patok kayu termakan zaman atau estafetnya tentara bersenapan di perbatasan, namun batas zona aman yang menghambatku adalah perkara keuangan, yang mengingatkanku kepada rendaman seperangkat pakaian dan sempak  yang musti kucuci pagi ini supaya tidak ke loundry atau melacurkan diri untuk mendapatkan materi.

Selasa pagi yokk mari kita mencuci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar