Tombol mungil di leptop kutekan, sambil browsing
di rebo pagi itu, mataku tertarik dengan postingan berita seperti link di bawah
ini. Aku sejujurnya gak begitu paham isinya apaan karena bahasa inggrisku masih
level sok-sokan, aku tidak akan membahas tentang kemenangan debat dari tim napi
yang mengalahkan tim debat Harvard karena aku memang gak ngerti. Berita macam
ini mudah heboh dengan judul yang ngehek-ngehek seperti misalnya judul “Presiden
Ketahuan Mengajari Rakyat Melestarikan Dolanan Dakon” (yang padahal saat dibuka
cuma waktu luang yang diisi untuk duel dakon dengan cucunya). Memangnya anak
sosmed dari negara dunia kedua dan negara dunia ketiga mana yang tidak tahu
universitas Harvard? Itu lho, waktu lulus SMA dulu, aku sempat pernah mendaftar
kesana via jalur undangan tapi sayang nggak lolos, yasudah akhirnya aku ikut
ujian chunin tertulis di Undip dan alhamdulilah aku diterima.
Keluar dari bahasan bagaimana cara membentuk kerangka berpikir
yang bagus kepada narapidana hingga mampu bersaing dengan tim debat Harvard. Justru
aku lebih tertarik dengan muatan pendidikan dalam tahanan, meski hak
halan-halan ditahan dan hak nongki-nongki dikebiri, namun bui satu ini cukup
manusiawi dengan masih memberi hak pendidikan bagi pelanggar konstitusi dan
penikmat prostitusi. Konon, kebijaksanaan ada karena isi otak pejabat sana tak
hampa, begitu pula sebaliknya, mungkin mitos ini yang mereka imani hingga
berani mengukir asa bahwa para napi masih bisa meraih taubatan nasuha untuk
kembali ke jalan benar yang rahmatan lil 'alamin. Amin Allahumma amin!
Ini agak-agak mirip dengan terobosan
ke-antimainstream-an elit politik negeri ini yang subhanallah tingkat
kecerdasannya naudzubillah, hingga bergagasan bahwa koruptor semestinya
diberikan pengampunan. Beneran ini, seandainya saja aku adalah orang yang
berwenang memberikan penghargaan nobel, elit-elit politik itulah yang ingin
kuundang ke kancah panggung dunia dengan penuh linangan air mata karena tak
kuasa menahan gelak tawa ketika memberikan penghargaan nobel tentang budi
pekerti, betapa luar biasanya budi pekerti para politisi di negeri ini, disaat
para aktivis, para ndes-ndes rohis dan para agamawan-agamawan ngartis menolak
adanya pengampunan terhadap koruptor, para politisi toh berhusnudzon alias
bepositif thinking, mereka tidak ingin meracuni pikiran sehat mereka dengan
asumsi bahwa orang yang jahat akan selamanya jahat, benar-benar karakter yang
adiluhung, lebih suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan dibanding
kalangan-kalangan yang katanya suci tadi. .
Kembali ke lapas binaan di Amerika itu tadi, menarik
bukan? Selain diberi bekal menjahit, sol sepatu, masang paving, dan seperangkat
modal keterampilan untuk bekal masa depan hingga mapan dan meraih kesuksesan.
Aku malah punya gagasan, bagaimana kalau lapas Indonesia dibekali
pendidikan dan ilmu pengetahuan sampai lulusan sarjana dan S2 sekalian?
sehingga ketika mereka menjadi alumni napi, mereka akan lebih terasah di segala
lini potensi, setidaknya mereka tak akan ciut nyali saat bribiki calon bini.
Biarlah hidup menyepi di balik jeruji besi, setidaknya mereka sedikit-banyak
belajar, dan tahu tentang dunia luar. Bisa pula dimodifikasi, karena kita
adalah masyarakat agamis dan penuh toleransi, boleh juga diberi bimbingan
spiritual keagamaan, siapa tahu keluar-keluar dari sel, yang mulanya tukang
sabung nyawa bisa menjadi manusia alim ahli surga. Ada manfaat lain lagi
dari penerapan hal semacam itu tadi, yang konon oknum penjaga lapas beserta
jajarannya yang tak bergaji tinggi gampang disuap uang oleh para birokrat yang
mendekam karena korupsi, setidaknya ada pihak kedua yang ikut andil dalam
fungsi pengawasan untuk memperkecil lakon-lakon tai yang tidak terpuji seperti
barusan tadi. Piye? enak tho? Madani tho? Usulanku Konkrit tho? Nyawamu ono
regane tho?
Ngomong tok gampang Den! Lha koe iki sopo?
http://www.theguardian.com/education/2015/oct/07/harvards-prestigious-debate-team-loses-to-new-york-prison-inmates
Tidak ada komentar:
Posting Komentar