https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Kamis, 08 Oktober 2015

Berita dari Harvard

Tombol mungil di  leptop kutekan, sambil browsing di rebo pagi itu, mataku tertarik dengan postingan berita seperti link di bawah ini. Aku sejujurnya gak begitu paham isinya apaan karena bahasa inggrisku masih level sok-sokan, aku tidak akan membahas tentang kemenangan debat dari tim napi yang mengalahkan tim debat Harvard karena aku memang gak ngerti. Berita macam ini mudah heboh dengan judul yang ngehek-ngehek seperti misalnya judul “Presiden Ketahuan Mengajari Rakyat Melestarikan Dolanan Dakon” (yang padahal saat dibuka cuma waktu luang yang diisi untuk duel dakon dengan cucunya). Memangnya anak sosmed dari negara dunia kedua dan negara dunia ketiga mana yang tidak tahu universitas Harvard? Itu lho, waktu lulus SMA dulu, aku sempat pernah mendaftar kesana via jalur undangan tapi sayang nggak lolos, yasudah akhirnya aku ikut ujian chunin tertulis di Undip dan alhamdulilah aku diterima.

Keluar dari bahasan bagaimana cara membentuk kerangka berpikir yang bagus kepada narapidana hingga mampu bersaing dengan tim debat Harvard. Justru aku  lebih tertarik dengan muatan pendidikan dalam tahanan, meski hak halan-halan ditahan dan hak nongki-nongki dikebiri, namun bui satu ini cukup manusiawi dengan masih memberi hak pendidikan bagi pelanggar konstitusi dan penikmat prostitusi. Konon, kebijaksanaan ada karena isi otak pejabat sana tak hampa, begitu pula sebaliknya, mungkin mitos ini yang mereka imani hingga berani mengukir asa bahwa para napi masih bisa meraih taubatan nasuha untuk kembali ke jalan benar yang rahmatan lil 'alamin. Amin Allahumma amin!

Ini agak-agak mirip dengan terobosan ke-antimainstream-an elit politik negeri ini yang subhanallah tingkat kecerdasannya naudzubillah, hingga bergagasan bahwa koruptor semestinya diberikan pengampunan. Beneran ini, seandainya saja aku adalah orang yang berwenang memberikan penghargaan nobel, elit-elit politik itulah yang ingin kuundang ke kancah panggung dunia dengan penuh linangan air mata karena tak kuasa menahan gelak tawa ketika memberikan penghargaan nobel tentang budi pekerti, betapa luar biasanya budi pekerti para politisi di negeri ini, disaat para aktivis, para ndes-ndes rohis dan para agamawan-agamawan ngartis menolak adanya pengampunan terhadap koruptor, para politisi toh berhusnudzon alias bepositif thinking, mereka tidak ingin meracuni pikiran sehat mereka dengan asumsi bahwa orang yang jahat akan selamanya jahat, benar-benar karakter yang adiluhung, lebih suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan dibanding kalangan-kalangan yang katanya suci tadi. .

Kembali ke lapas binaan di Amerika itu tadi, menarik bukan? Selain diberi bekal menjahit, sol sepatu, masang paving, dan seperangkat modal keterampilan untuk bekal masa depan hingga mapan dan meraih kesuksesan. Aku malah punya gagasan, bagaimana  kalau lapas Indonesia dibekali pendidikan dan ilmu pengetahuan sampai lulusan sarjana dan S2 sekalian? sehingga ketika mereka menjadi alumni napi, mereka akan lebih terasah di segala lini potensi, setidaknya mereka tak akan ciut nyali saat bribiki calon bini. Biarlah hidup menyepi di balik jeruji besi, setidaknya mereka sedikit-banyak belajar, dan tahu tentang dunia luar. Bisa pula dimodifikasi, karena kita adalah masyarakat agamis dan penuh toleransi, boleh juga diberi bimbingan spiritual keagamaan, siapa tahu keluar-keluar dari sel, yang mulanya tukang sabung nyawa bisa menjadi manusia alim ahli  surga. Ada manfaat lain lagi dari penerapan hal semacam itu tadi, yang konon oknum penjaga lapas beserta jajarannya yang tak bergaji tinggi gampang disuap uang oleh para birokrat yang mendekam karena korupsi, setidaknya ada pihak kedua yang ikut andil dalam fungsi pengawasan untuk memperkecil lakon-lakon tai yang tidak terpuji seperti barusan tadi. Piye? enak tho? Madani tho? Usulanku Konkrit tho? Nyawamu ono regane tho?

Ngomong tok gampang Den! Lha koe iki sopo?

http://www.theguardian.com/education/2015/oct/07/harvards-prestigious-debate-team-loses-to-new-york-prison-inmates 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar