https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Minggu, 11 Oktober 2015

Tak Ada Buah Khuldi Buah Mangga pun Jadi



Siang bolong begini, aku terbius kenangan masa kanak-kanak. Zaman ketika aku nggak tahu apa-apa tentang dunia apalagi tentang pimpinan demokrasi gila hormat dan alergi kritik yang pro terhadap pasal penghinaan presiden, zaman ketika islam yang kungerti cuma satu dan belum mengenal Jonru ataupun felix siauw, zaman ketika aku mulai belajar awal tentang garis batas.

Teringat, ketika usia sedini itu pikiranku sudah bisa terangsang berpikir kritis meskipun nalar belum logis, semua bermula ketika pertengkaran dua orang dewasa berebut pohon mangga. Mereka adalah orang tua dari dua teman baik masa kecilku, yang satu adalah bapak dari si T dan satunya adalah ibu dari si A, rumah mereka bersebelahan serta menghadap ke selatan. Pertengkaran mereka butuh waktu lama untuk padam dan tentunya juga menyulut percikan-percikan dendam. Pohon mangga, kala itu bagiku tak ada harganya selain untuk ajang panjat-memanjat dengan teman-teman sesahwat eh maksudku sejawat. Hebat memang si iblis, tak ada buah khuldi, buah manggapun jadi. Mereka berebut sebuah pohon mangga hanya karena tumbuh di perbatasan masing-masing tanah karasan, batas dua kepemilikan tanah yang tidak tergaris, entah pohon itu bertuah atau panennya mampu mensejahterakan umat sekampung, aku juga tidak mau tahu perkara mbelgendhes semacam itu.

Beruntung pertikaian dua orang dewasa tersebut tidak mencederai persahabatan masing-masing anaknya, membuatku sangat gembira. Coba bayangkan, jika sampai berimbas kepada masing-masing buah hatinya, aku sendiri yang pasti sangat kerepotan (ngewoh-ngewohi silit dikukur), akan terjadi geng-gengan hingga perang dingin dikalangan anak-anak ingusan, pilihan yang sangat sulit untuk memilih perpecahan dua kelompok bermain yang masih lugu dan belom ngerti film biru, anak-anak yang sejatinya masih polos dan ditololkan karena permasalahan yang tidak ada hubungannya dengan kami (jika ini ibarat sistem pemilu dwi partai dan benar-benar terjadi dua partai bermain, mungkin dulu aku golput dan memilih jalan Punokawan), ibarat seperti pilpres kemarin yang terpecah menjadi dua kubu pendukung yang saling pamer nalar kegoblokan hingga gontok-gontokkan, dan lebih lucu dan pekoknya lagi sampai bulan Oktober 2015 ini manusia-manusia gagal move on tersebut masih ada saja bergentayangan di istana sosmed untuk mempercepat kiamat. Hih! Dasar IQ dua digit, bikin gemes, susah diajari pinter, pengen banget isi kepalanya tak kasih baking powder.

Lalu aku teringat pada garis tetenger,  bagaikan degup cinta dan asmara hubungan kalian yang tiba-tiba saja jadian dan membuatku menelan kekecewaan, garis tetenger ini adalah garis batas yang tidak terlihat, namun setiap pijakan langkah dan hembusan desah kita dipengaruhi olehnya. Pola pikir kita, kemampuan dan cash flow dana, berkibarnya kain sang saka, kebanggaan yang membutakan hati dan jiwa, sejarah yang tersenyum dan berlinang air mata, saudara-saudari yang kita sebut sebagai sebangsa meski tak se-sperma, KTP, almamater, kelas, ideologi, nasionalisme, kesepakatan, perang, keruntuhan, pembantaian suku dan etnis, separatis, diskriminasi ras, semuanya adalah produk dari garis tetenger, produk dari garis batas.

Ada garis batas fisik, ada garis batas mental. Ada yang sementara, ada yang abadi. Ada kamu, ada Aku, ada Dia, aisshh. Garis batas geografis, sosial, biologis, status, gender, privasi, mental, spiritual, agama, kejombloan… Semua memisahkan manusia dalam kotak masing-masing. Garis batas mengurung, memasung, melindungi, mentakfiri dan mengukuhkan sebuah zona aman tempat para spesies human merasakan kelegaan dan kenyamanan.

Bangsa-bangsa punya zona aman masing-masing, dilindungi oleh garis batas negeri, itulah fungsi negara, hanya sebagai alat untuk melindungi semua yang ada di dalamnya. Sangat tidak jarang, ceceram derai darah tak bisa dihindarkan hanya demi guratan garis-garis di atas suhuf-suhuf atlas. Benarkah bahwa seringnya, hidup memang sebercanda menggosok batu akik? Inilah perjalanan kisah-kasih hidup manusia. Sejak melewati dua paha ibunya, mereka tumbuh, berjuang, bekerja dan memuja kemapanan, berselisih dan berebut, hingga datangnya malaikat maut. Awal perkembangan peradaban manusia, mulai dari kehidupan primitif di goa, para penakluk alam dan hewan di hutan, suku-suku nomaden di relung-relung daratan, tahta ngingrat-ningrat berdarah biru, kastil yang dikungkung benteng dan tembok raksasa, hingga peradaban manusia gadget minded, zona aman semakin kokoh dan berstruktur. Bangsa-bangsa mengayunkan pedang, bernegosiasi, berdiplomasi, bersatu, bersekutu, saling berburu, berseteru, berperang lagi, hingga akhirnya hancur lebur, semua terkait urusan zona aman, melindungi batas-batas dan kebanggaan mereka. Memperebutkan sebuah pohon mangga yang menjomblo dan tidak bersalah juga tidak sengaja peloknya (bijinya) dulu terjatuh dan terpendam yang kemudian dirawat Tuhan di antara pemisah dua tanah. Mengenai guratan garis batas dan zona aman, terkadang aku juga memang gagal paham dengan apa yang diseminarkan para motivator bertarif dengan gaya bicara dan bahasa yang ndakik-ndakik serta berjas necis disana, serba mbulet dan kata-katanya saling paradok.

Seperti harapanku terhadap Muktamar NU kemarin, sebagai organisasi sesepuh dan terbesar serta pengayom bangsa yang jukenal sejak era Gus-Dur, Gus-Mus, hingga aku mengenal Gus-Nafis (Ahmad Nafis Junalia) semoga tak ada peristiwa pohon khuldi zamannya nabi Adam, pohon beringin zamannya ARB, dan pohon mangga zaman Deny masih kanak-kanak yang bisa berakibat ‘rebutan pengikut komunitas bermain’. Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar