Siang bolong begini, aku terbius
kenangan masa kanak-kanak. Zaman ketika aku nggak tahu apa-apa tentang dunia
apalagi tentang pimpinan demokrasi gila hormat dan alergi kritik yang pro
terhadap pasal penghinaan presiden, zaman ketika islam yang kungerti cuma satu
dan belum mengenal Jonru ataupun felix siauw, zaman ketika aku mulai belajar
awal tentang garis batas.
Teringat, ketika usia sedini itu
pikiranku sudah bisa terangsang berpikir kritis meskipun nalar belum logis,
semua bermula ketika pertengkaran dua orang dewasa berebut pohon mangga. Mereka
adalah orang tua dari dua teman baik masa kecilku, yang satu adalah bapak dari
si T dan satunya adalah ibu dari si A, rumah mereka bersebelahan serta
menghadap ke selatan. Pertengkaran mereka butuh waktu lama untuk padam dan
tentunya juga menyulut percikan-percik an dendam. Pohon mangga, kala itu bagiku
tak ada harganya selain untuk ajang panjat-memanjat dengan teman-teman
sesahwat eh maksudku sejawat. Hebat memang si iblis, tak ada buah khuldi, buah
manggapun jadi. Mereka berebut sebuah pohon mangga hanya karena tumbuh di
perbatasan masing-masing tanah karasan, batas dua kepemilikan tanah yang tidak
tergaris, entah pohon itu bertuah atau panennya mampu mensejahterakan umat
sekampung, aku juga tidak mau tahu perkara mbelgendhes semacam itu.
Beruntung pertikaian dua orang
dewasa tersebut tidak mencederai persahabatan masing-masing anaknya, membuatku
sangat gembira. Coba bayangkan, jika sampai berimbas kepada masing-masing buah
hatinya, aku sendiri yang pasti sangat kerepotan (ngewoh-ngewohi silit
dikukur), akan terjadi geng-gengan hingga perang dingin dikalangan anak-anak
ingusan, pilihan yang sangat sulit untuk memilih perpecahan dua kelompok
bermain yang masih lugu dan belom ngerti film biru, anak-anak yang sejatinya
masih polos dan ditololkan karena permasalahan yang tidak ada hubungannya
dengan kami (jika ini ibarat sistem pemilu dwi partai dan benar-benar terjadi
dua partai bermain, mungkin dulu aku golput dan memilih jalan Punokawan),
ibarat seperti pilpres kemarin yang terpecah menjadi dua kubu pendukung yang
saling pamer nalar kegoblokan hingga gontok-gontokka n, dan lebih lucu dan
pekoknya lagi sampai bulan Oktober 2015 ini manusia-manusia gagal move on
tersebut masih ada saja bergentayangan di istana sosmed untuk mempercepat
kiamat. Hih! Dasar IQ dua digit, bikin gemes, susah diajari pinter, pengen
banget isi kepalanya tak kasih baking powder.
Lalu aku teringat pada garis
tetenger, bagaikan degup cinta dan
asmara hubungan kalian yang tiba-tiba saja jadian dan membuatku menelan
kekecewaan, garis tetenger ini adalah garis batas yang tidak terlihat, namun
setiap pijakan langkah dan hembusan desah kita dipengaruhi olehnya. Pola pikir
kita, kemampuan dan cash flow dana, berkibarnya kain sang saka, kebanggaan yang
membutakan hati dan jiwa, sejarah yang tersenyum dan berlinang air mata,
saudara-saudari yang kita sebut sebagai sebangsa meski tak se-sperma, KTP,
almamater, kelas, ideologi, nasionalisme, kesepakatan, perang, keruntuhan,
pembantaian suku dan etnis, separatis, diskriminasi ras, semuanya adalah produk
dari garis tetenger, produk dari garis batas.
Ada garis batas fisik, ada garis
batas mental. Ada yang sementara, ada yang abadi. Ada kamu, ada Aku, ada Dia,
aisshh. Garis batas geografis, sosial, biologis, status, gender, privasi,
mental, spiritual, agama, kejombloan… Semua memisahkan manusia dalam kotak
masing-masing. Garis batas mengurung, memasung, melindungi, mentakfiri dan
mengukuhkan sebuah zona aman tempat para spesies human merasakan kelegaan dan
kenyamanan.
Bangsa-bangsa punya zona aman
masing-masing, dilindungi oleh garis batas negeri, itulah fungsi negara, hanya
sebagai alat untuk melindungi semua yang ada di dalamnya. Sangat tidak jarang,
ceceram derai darah tak bisa dihindarkan hanya demi guratan garis-garis di atas
suhuf-suhuf atlas. Benarkah bahwa seringnya, hidup memang sebercanda menggosok
batu akik? Inilah perjalanan kisah-kasih hidup manusia. Sejak melewati dua paha
ibunya, mereka tumbuh, berjuang, bekerja dan memuja kemapanan, berselisih dan
berebut, hingga datangnya malaikat maut. Awal perkembangan peradaban manusia,
mulai dari kehidupan primitif di goa, para penakluk alam dan hewan di hutan,
suku-suku nomaden di relung-relung daratan, tahta ngingrat-ningra t
berdarah biru, kastil yang dikungkung benteng dan tembok raksasa, hingga peradaban
manusia gadget minded, zona aman semakin kokoh dan berstruktur. Bangsa-bangsa
mengayunkan pedang, bernegosiasi, berdiplomasi, bersatu, bersekutu, saling
berburu, berseteru, berperang lagi, hingga akhirnya hancur lebur, semua terkait
urusan zona aman, melindungi batas-batas dan kebanggaan mereka. Memperebutkan
sebuah pohon mangga yang menjomblo dan tidak bersalah juga tidak sengaja
peloknya (bijinya) dulu terjatuh dan terpendam yang kemudian dirawat Tuhan di antara
pemisah dua tanah. Mengenai guratan garis batas dan zona aman, terkadang aku
juga memang gagal paham dengan apa yang diseminarkan para motivator bertarif
dengan gaya bicara dan bahasa yang ndakik-ndakik serta berjas necis disana,
serba mbulet dan kata-katanya saling paradok.
Seperti harapanku terhadap Muktamar
NU kemarin, sebagai organisasi sesepuh dan terbesar serta pengayom bangsa yang jukenal
sejak era Gus-Dur, Gus-Mus, hingga aku mengenal Gus-Nafis (Ahmad Nafis Junalia)
semoga tak ada peristiwa pohon khuldi zamannya nabi Adam, pohon beringin
zamannya ARB, dan pohon mangga zaman Deny masih kanak-kanak yang bisa berakibat
‘rebutan pengikut komunitas bermain’. Aamiin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar