Masku di Palangkaraya mengirimkan pesan,
"Den! buka UU No. 32 tahun 2009 pasal
69, isinya seambigu angka pasalnya"
"Siap mas!", balasku singkat.
Setelah mengunduh, langsung aku scroll ke
arah pasal pesanan di atas tadi, mata berhenti sejenak di bait ayat 1 huruf h,
lalu melanjutkannya lagi ke ayat 2, 'memperhatikan kearifan lokal', untuk
sementara aku masih stak pada bagian itu, untuk menerobos buntunya penasaran,
segera aku balik halaman ke bagian penjelasan. Lha kok ladalahhh, aku cekikian
sendiri membaca penjelasan mengenai kearifan lokal yang dimaksud, hingga
ditimpali aa’ burjo sang juru kunci warung 3x3 meter persegi.
"Kuwe ngguyu opo tho a’? jaman saiki
raono opo-opo ketawa sendiri"
"Rapopo a’, sekali-sekali cekikian ben
koyok wong rodhok edan” Jawabku. Wkwk ncen gathel tenan sing nggawe
undang-undang, jadi yang dimaksud 'kearifan lokal' dalam penjelasan ayat 2,
kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran
lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektare per kepala keluarga untuk ditanami
tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah
penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.
Membakar lahan 20.000 meter persegi, ncen
wedus tenan Undang-Undang pesenane bakul kelopo, rumangsane wes koyok Raden
Wisanggeni po piye, dolanan geni sak penake udele dewe.
Lalu aku mengirim pesan ke masku,
"Kamu harus mempertanggungjawabkan
minggu tenangku mas! Hahaha, selanjutnya kowe nang kana pie mas?"
Dan ngalor ngidulnya percakapan kemudian
terjadi. Pesananpun datang menghampiri, Kusruput secangkir susu putih hangat,
sepotong pisang goreng, dan seplastik gorengan kacang.
Beberapa tahun kemudian. Suatu era nanti ndes/cukk,
bila engkau muncul tanda tanya-tanda tanya seusai membaca historia masa lampau tentang
keisengan pembakaran hutan, tak banyak yang bisa kujelaskan padamu, tapi
setidaknya baca saja opiniku.
Maybe ada pertanyaan, “Daripada
membakarnya, kenapa perusahaan tidak menebang saja pohon-pohonnya? Kan bisa
dijual, lebih menguntungkan.”
Pertama, pahamilah piciknya CEO jika engkau
ingin menjadi CEO sukses super kaya raya di negara kita. Barangkali penebangan
hutan bukanlah cara yang efisien, justru memperbesar beban biaya, lagi pula
menjual hasil tebangan pohon tidaklah semudah mendistribusikan krupuk ke warung-warung
makan pinggir jalan atau semudah mendistribusikan telor dan indomie ke warung
burjo tempat kamu sering ngutang, nggak semudah itu kawan. Semakin lama
tebangan terjual dalam ketidakjelasan dan ketidakpastian, maka semakin lama
pula kembalinya kapital konstan (c) untuk proses produksi hingga waktu yang
tidak dapat dipastikan, ini akan sangat mengganggu plan-plan neraca keuangan
perusahaan, apalagi bila kolega-kolega penadah kayu menekan harga penawaran
karena tahu kelemahan temporary perusahaan, rugi besar bisa jadi benar.
Akan lebih mudah, simpel, dan cepat guna
bila membakarnya habis-habisan, tak perlu menyewa segala alat berat dan tenaga
profesional perkayuan, ngirit kapital variabel (v), cukup mak nyoss cresss
cresss cresss wungggg krethekkk krethekkk krethekkkk, ditinggal tidur, besok pagi
bisa buat nanem kelapa, reaksi pembakaran abu karbonnya lumayan jadi humus,
bagus untuk lahan prestisius. Namanya juga ngejar waktu panen, harga komoditas
ekspor satu ini kan nggak tentu, dipengaruhi banyak tren juga dan konflik di
timur tengah sana, jadi ya nggak usah pake lama dan ribet, semua sudah
terjadwal dan diatur dalam komparasi plan dan proses bisnis. Bagaimana dengan
raja-raja kecil disana? Bukankah mereka akan murka? Tidak! selama kau menyuapnya, ayolah ndes, memangnya perlu sebesar apa sih
menyogok penghasilan orang-orang kere dari seperangkat jajaran pejabat disana
beserta PNS Pemdanya? Ya kacung-kacung fungsionalnya dikasih 100 juta palingan
senengnya sudah minta ampun, kalo yang tingkatan strukturalnya agak bigboss ya
ditambah dikitlah. Jangan lupa juga, siapa tahu kan mereka dulu juga donatur
pemenangan kampanye, ya balas budi dong dengan wujud perijinan spesial dan
nggak berisik.
Ya benar ndes pepatah kuno, ada seribu
jalan menuju Roma dan hanya satu jalan menuju hati mertua. Pembakaran adalah
kejahatan pawang uang berlindung undang-undang. Business is business, ada
waktunya menjadi nabi dalam seminar mahasisiwa-mahasiswi, ada pula waktunya
menjadi setan dalam mengepul kekayaan. Dosa mah urusan belakang, tinggal bikin
masjid yang bagus dan sangar, udahhh masalah kelar. Tenang aja, orang Indonesia
umumnya tingkat analitikalnya masih cethek, masalah apapun, nanti yang
diteriak-teriakin adalah pemerintah pusat, pokoknya semua salah Jokowi! Kabut
asap hutan salah Jokowi! Orang tolol dan
bego juga salah jokowi! Celana dalam lengket abis mimpi basah juga salah
Jokowi! Pokoknya salah Jokowi wi wi!!! Hahaha
Ya nggak jauh beda lah sama ndes-ndes meme,
bikin meme amburadul dalam mengecam sinetron Indonesia. Seharusnya yang dikecam
itu KPI, produser dan sutradaranya, bukan tokoh pemerannya, tokoh pemeran mah
tau apa? Jangankan mikir pesan-pesan kearifan lokal, dapet honor dan masuk tivi
aja udah leganya kayak beol di surga, kalo nentang sutradara sama produser,
ntar gagal dong jadi selebriti. Nah kalo KPI jelas, udah ada tulisanku tentang
kelucuan KPI dalam menata praktik pengarusutamaan penyiaran di Indonesia, monggo dibaca di sub
tulisan terdahulu, sedikit kusinggung,
pernah lihat Film Streer Fighter yang pemerannya Van Damme? Kau tahu cara Vega
membrainwash Blanka? Nah! Itulah yang sedang terjadi dalam pertelevisian di republik ini, hal
itu dilakukan pawang-pawang uang di Negara kita
untuk menciptakan keruntuhan kebudayaan, runtuhnya budaya dan derasnya arus
informasi dan gaya hidup nantinya secara gak sadar bakal bikin sampean-sampean
mengalami apa yang disebut Herbert Marchuse sebagai Fals Need alias kebutuhan
palsu, disinilah peran KPI sesungguhnya diuji.
Begitulah
isi otakku (panjang ya ndes/cuk? Berarti kau kurang
membaca buku), kini masa kita adalah menebus dosa-dosa generasi tua dan mendidik
generasi muda, jangan pula kita jadi
mahasiswa yang overdosis jargon
suksas-sukses-suksas-sukses khas presentasi MLM dan terkontaminasi korupnya orde bau, hingga dzholim kepada sesamanya, dengan mulut suci berkata uang bukan segalanya, namun cermin hidupnya berporos pada fantasti jumlah
rekening di bank.
Dulu di jaman masku atau bahkan bapakmu sekolah, ndes-ndes sekolah tuntutannya cuma nilai, nyari jurusan yang ngehek-ngehek khas
kelas menengah ke atas, lalu dapet kerjaan dan mapan. Kalo generasi kita, tuntutan pendidikannya adalah menyelesaikan segala pelik permasalahan
alam yang dipersebab oleh nggratilnya tangan-tangan
biadab. Hihihihi.. Selamat belajar, bertanya dan berpendapat sepuasmu ndes, baik lisan ataupun tulisan.
Tapi jangan ganggu kemesraanku dengan calon bidadariku,
ra elok ndes, urusane cah gedhe, saru, tabu, durung umurmu, urusanmu ki dolanan
penekan wit jambu, sinau karo mangan protein tahu.. ben ra kuru koyok asu ra
tau nyusu. Hahaha ai loph u


Tidak ada komentar:
Posting Komentar