https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Minggu, 25 Oktober 2015

Pesan Singkat dari Mas di Palangkaraya

Masku di Palangkaraya mengirimkan pesan,
"Den! buka UU No. 32 tahun 2009 pasal 69, isinya seambigu angka pasalnya"
"Siap mas!", balasku singkat.

Setelah mengunduh, langsung aku scroll ke arah pasal pesanan di atas tadi, mata berhenti sejenak di bait ayat 1 huruf h, lalu melanjutkannya lagi ke ayat 2, 'memperhatikan kearifan lokal', untuk sementara aku masih stak pada bagian itu, untuk menerobos buntunya penasaran, segera aku balik halaman ke bagian penjelasan. Lha kok ladalahhh, aku cekikian sendiri membaca penjelasan mengenai kearifan lokal yang dimaksud, hingga ditimpali aa’ burjo sang juru kunci warung 3x3 meter persegi.
"Kuwe ngguyu opo tho a’? jaman saiki raono opo-opo ketawa sendiri"
"Rapopo a’, sekali-sekali cekikian ben koyok wong rodhok edan” Jawabku. Wkwk ncen gathel tenan sing nggawe undang-undang, jadi yang dimaksud 'kearifan lokal' dalam penjelasan ayat 2, kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektare per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.




Membakar lahan 20.000 meter persegi, ncen wedus tenan Undang-Undang pesenane bakul kelopo, rumangsane wes koyok Raden Wisanggeni po piye, dolanan geni sak penake udele dewe.

Lalu aku mengirim pesan ke masku,
"Kamu harus mempertanggungjawabkan minggu tenangku mas! Hahaha, selanjutnya kowe nang kana pie mas?"
Dan ngalor ngidulnya percakapan kemudian terjadi. Pesananpun datang menghampiri, Kusruput secangkir susu putih hangat, sepotong pisang goreng, dan seplastik gorengan kacang.

Beberapa tahun kemudian. Suatu era nanti ndes/cukk, bila engkau muncul tanda tanya-tanda tanya seusai membaca historia masa lampau tentang keisengan pembakaran hutan, tak banyak yang bisa kujelaskan padamu, tapi setidaknya baca saja opiniku.

Maybe ada pertanyaan, “Daripada membakarnya, kenapa perusahaan tidak menebang saja pohon-pohonnya? Kan bisa dijual, lebih menguntungkan.”

Pertama, pahamilah piciknya CEO jika engkau ingin menjadi CEO sukses super kaya raya di negara kita. Barangkali penebangan hutan bukanlah cara yang efisien, justru memperbesar beban biaya, lagi pula menjual hasil tebangan pohon tidaklah semudah mendistribusikan krupuk ke warung-warung makan pinggir jalan atau semudah mendistribusikan telor dan indomie ke warung burjo tempat kamu sering ngutang, nggak semudah itu kawan. Semakin lama tebangan terjual dalam ketidakjelasan dan ketidakpastian, maka semakin lama pula kembalinya kapital konstan (c) untuk proses produksi hingga waktu yang tidak dapat dipastikan, ini akan sangat mengganggu plan-plan neraca keuangan perusahaan, apalagi bila kolega-kolega penadah kayu menekan harga penawaran karena tahu kelemahan temporary perusahaan, rugi besar bisa jadi benar.

Akan lebih mudah, simpel, dan cepat guna bila membakarnya habis-habisan, tak perlu menyewa segala alat berat dan tenaga profesional perkayuan, ngirit kapital variabel (v), cukup mak nyoss cresss cresss cresss wungggg krethekkk krethekkk krethekkkk, ditinggal tidur, besok pagi bisa buat nanem kelapa, reaksi pembakaran abu karbonnya lumayan jadi humus, bagus untuk lahan prestisius. Namanya juga ngejar waktu panen, harga komoditas ekspor satu ini kan nggak tentu, dipengaruhi banyak tren juga dan konflik di timur tengah sana, jadi ya nggak usah pake lama dan ribet, semua sudah terjadwal dan diatur dalam komparasi plan dan proses bisnis. Bagaimana dengan raja-raja kecil disana? Bukankah mereka akan murka? Tidak! selama kau menyuapnya, ayolah ndes, memangnya perlu sebesar apa sih menyogok penghasilan orang-orang kere dari seperangkat jajaran pejabat disana beserta PNS Pemdanya? Ya kacung-kacung fungsionalnya dikasih 100 juta palingan senengnya sudah minta ampun, kalo yang tingkatan strukturalnya agak bigboss ya ditambah dikitlah. Jangan lupa juga, siapa tahu kan mereka dulu juga donatur pemenangan kampanye, ya balas budi dong dengan wujud perijinan spesial dan nggak berisik.

Ya benar ndes pepatah kuno, ada seribu jalan menuju Roma dan hanya satu jalan menuju hati mertua. Pembakaran adalah kejahatan pawang uang berlindung undang-undang. Business is business, ada waktunya menjadi nabi dalam seminar mahasisiwa-mahasiswi, ada pula waktunya menjadi setan dalam mengepul kekayaan. Dosa mah urusan belakang, tinggal bikin masjid yang bagus dan sangar, udahhh masalah kelar. Tenang aja, orang Indonesia umumnya tingkat analitikalnya masih cethek, masalah apapun, nanti yang diteriak-teriakin adalah pemerintah pusat, pokoknya semua salah Jokowi! Kabut asap  hutan salah Jokowi! Orang tolol dan bego juga salah jokowi! Celana dalam lengket abis mimpi basah juga salah Jokowi! Pokoknya salah Jokowi wi wi!!! Hahaha

Ya nggak jauh beda lah sama ndes-ndes meme, bikin meme amburadul dalam mengecam sinetron Indonesia. Seharusnya yang dikecam itu KPI, produser dan sutradaranya, bukan tokoh pemerannya, tokoh pemeran mah tau apa? Jangankan mikir pesan-pesan kearifan lokal, dapet honor dan masuk tivi aja udah leganya kayak beol di surga, kalo nentang sutradara sama produser, ntar gagal dong jadi selebriti. Nah kalo KPI jelas, udah ada tulisanku tentang kelucuan KPI dalam menata praktik pengarusutamaan penyiaran di Indonesia, monggo dibaca di sub tulisan terdahulu, sedikit kusinggung, pernah lihat Film Streer Fighter yang pemerannya Van Damme? Kau tahu cara Vega membrainwash Blanka? Nah! Itulah yang sedang terjadi dalam pertelevisian di republik ini, hal itu dilakukan pawang-pawang uang di Negara kita untuk menciptakan keruntuhan kebudayaan, runtuhnya budaya dan derasnya arus informasi dan gaya hidup nantinya secara gak sadar bakal bikin sampean-sampean mengalami apa yang disebut Herbert Marchuse sebagai Fals Need alias kebutuhan palsu, disinilah peran KPI sesungguhnya diuji.

Begitulah isi otakku (panjang ya ndes/cuk? Berarti kau kurang membaca buku), kini masa kita adalah menebus dosa-dosa generasi tua dan mendidik generasi muda, jangan pula kita jadi mahasiswa yang overdosis jargon suksas-sukses-suksas-sukses khas presentasi MLM dan terkontaminasi korupnya orde bau, hingga dzholim kepada sesamanya, dengan mulut suci berkata uang bukan segalanya, namun cermin hidupnya berporos pada fantasti jumlah rekening di bank.

Dulu di jaman masku atau bahkan bapakmu sekolah, ndes-ndes sekolah tuntutannya cuma nilai, nyari jurusan yang ngehek-ngehek khas kelas menengah ke atas, lalu dapet kerjaan dan mapan. Kalo generasi kita, tuntutan pendidikannya adalah menyelesaikan segala pelik permasalahan alam yang dipersebab oleh nggratilnya tangan-tangan biadab. Hihihihi.. Selamat belajar, bertanya dan berpendapat sepuasmu ndes, baik lisan ataupun tulisan. Tapi jangan ganggu kemesraanku dengan calon bidadariku, ra elok ndes, urusane cah gedhe, saru, tabu, durung umurmu, urusanmu ki dolanan penekan wit jambu, sinau karo mangan protein tahu.. ben ra kuru koyok asu ra tau nyusu. Hahaha ai loph u


Tidak ada komentar:

Posting Komentar