Aku bukan simpatisan PKI, bukan simpatisan NU, aku bukan Deny, aku bukan siapa-siapa, aku adalah orang yang Me-deny alias menjadi Deny, aku Deny yang terus berproses dan tidak berhenti di satu titik, pohon banyak yang gugur di musim kemarau kali ini dan akan berganti dengan tunas tunas yang baru nanti. Kehidupan terus bergerak dan akupun meyakini harus begitu. Aku nggak terlahir di era
kemerdekaan, juga gak terlahir di era enam puluhan, aku adalah anak generasi
sembilan puluhan yang masa kecilnya masih seneng main gasingan. Sebenarnya
sejak kecil aku gak tahu PKI itu seperti apa, selain dari cerita guru
dan buku sejarah di bangku sekolah dan juga dari cuplikan film yang selalu
diulang-ulang setiap akhir bulan september hingga bikin mendem.
Masih teringat dengan jelas
dalam ingatan mengenai cara pandangku waktu kecil ketika menjumpai hal-hal
berbau komunis atau PKI. Dari film yang selalu diputar-putar dengan adegan
menggedor-gedor pintu lalu menembak mati para jenderal di tempat, ada pula
adegan yang dibawa hidup-hidup kemudian disiksa seperti dipukuli, dibacok atau
disilet-silet wajahnya hingga mati lantas dibuang ke sebuah lubang. Film yang
seolah-olah hendak mendoktrin anak-anak bahwa komunis itu amoral, bejat, tidak
berperikemanusi aan, pembantai, atheis, musuh theis, pokoknya ideologi
haram dan najis mugholadoh lah! Ideologinya harus hangus diberangus, penganutnya harus dibunuh
minimal diasingkan ke pulau terpencil, keturunan dan keluarganya harus
diwaspadai jika perlu hak-hak kemanusiaannya dikebiri.
Menjadi mahasiswa dan usia semakin bertambah dewasa,
pikiran semakin matang dan tajam, sekat-sekat kotak batas mulai terpangkas,
doktrin-doktrin tanpa asbabun nuzul mulai luntur, buku-buku berat mulai ku
buru, saksi-saksi mata mulai berani angkat bicara karena rezim orde bau
sudah tak berkuasa, dan kebenaran mulai menyeruak seperti gelembung-gelem bung
kecil dalam bak mandi.
Sejarah memang sudah dimutilasi
dan jauh dari seperti yang aku mengerti saat masih usia dini. Ini bukan masalah
sesimpel berebut kuasa dan tampuk kepemimpinan, tapi masalah kompleks
internasional yang berurusan dengan perang dingin atau perang ideologi antara dua negara, tanpa menyebut merek sebut saja negara ASU dan RUSIASU di kala itu, blok barat melawan blok timur, liberalis versus
komunis. Yang padahal dua negara adidaya tersebut berebut pengaruh dan wilayah
jajahan. Ya, negara superpower memang tak bisa hidup tanpa jajahan, dan kala
itu negara-negara Asia Afrika adalah lahan basah untuk diperebutkan, termasuk
Indonesia yang sangat kaya dan baru merdeka sehingga masih mencari jati diri
ideologi. Memang dari dulu Indonesia memiliki daya tarik bagi setiap
bangsa dari seluruh sudut dunia untuk mengeksploitasi nya. Sayangnya waktu
itu ada Soekarno sebagai presiden dengan panji-panji Trisakti dan anti kompromi untuk menjual aset negara meski negara dan rakyat berada
dalam kondisi krisis dan luluh lantah. Tentu negara ASU tidak menyukainya, namun
Soekarno yang tak tergiur harta dan anti sewa/jual aset itu tak bisa
ditumbangkan dengan senjata, diciptakanlah skenario propaganda pelengseran posisinya
dengan memanfaatkan ketidakstabilan dalam negeri, perpecahan internal PKI,
dan ambisi seorang pimpinan tentara yang dapat diperalat untuk pengerukan sumber daya
Indonesia.
Meletus G30S yang diklaim PKI
sebagai dalangnya, dengan penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal terbaik
dalam negeri. Kemudian setelah itu tanpa pandang bulu semua simpatisan PKI
diburu, dipenjara, dan dibantai tanpa proses peradilan, dipendam dalam kuburan
yang tidak jelas dengan jumlah 800.000 orang, ada pula sumber lain yang
mengatakan 2.000.000, ini memang bukan genosida tapi tetap saja pembantaian
massal tak berasal. Gerwanipun sebagai ormas yang memberdayakan wanita serta
memberikan pendidikan kepada kelas bawah juga ikut terkena getah. Gerwani
adalah ormas yang memerangi prostitusi, anti poligami, penentang kawin paksa
dan KDRT, dan menggelorakan wanita harus produktif dan bermartabat, pun juga
terimbas menderita pemerkosaan sebelum prosesi pembantaian, sedang yang lain
ditahan dan menjadi budak seks. Gerwani bukanlah bentukan PKI, hanya ormas yang
memperjuangkan rakyat kelas bawah terutama wanita sehingga banyak kesamaan
ideologi dengan PKI.
Hasil
visum jenasah para jenderal tak ditemukan tanda bekas penyiksan seperti yang
dipampangkan dalam film-film tahunan. Sang pembungkam kebenaran sudah tumbang, orde bau sudah tiada, yang tersisa hanya bangkai-bangkai sejarah yang coba mereka tutup-tutupi tapi toh tetap saja tercium. Sedikit demi sedikit kebenaran mulai muncul di permukaan, saksi-sakai hidup
mulai mengeluarkan suaranya. Sungguh sebuah kejahatan ketika membelokkan sejarah dan pemberangusan hak-hak keluarga korban dan tersangka
hanya untuk kepentingan kelanggengan penguasa. Pembunuhan para jenderal adalah
kejahatan, pembantaian besar-besaran orang PKI dan orang-orang yang berhubungan
tanpa melalui peradilan juga adalah kejahatan. Tapi apakah semua itu dipahami para mahasiswa yang diameter lingkar otaknya masih lima senti? yang masih terjebak pada utopia sistem politik yang steril terhadap perbedaan golongan, ya kalau sperti itu gunakan saja khilafah, penyeragaman tulen itu! mari tidak terjebak pada sekat-sekat golongan, dewasalah bahwa ada hal yang akan lebih baik jika dibiarkan untuk berbeda, Indonesia contohnya, dan dalam kamus Yanuar Deny tidak ada hal yang tabu apalagi haram untuk didiskusikan...
Mari sama-sama berburu dan membaca buku supaya kita banyak tahu, pikiran tidak kelu, dan hati tidak keju, siapa tahu kau dapat bertemu aku di indah mimpimu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar