https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Senin, 14 September 2015

Sinonim Embun Pagi

Di suatu sujud dimana matahari masih sembunyi
Aku memilih menurutimu untuk tidak berbangga diri
Mengkonstruksi drama yang mungkin hanya kabetulan
Dimana dua orang asing dipertemukan dan diam-diam saling memperhatikan
Pelan-pelan sisa embun pagi menjadi sinonim dari sebuah ketidakjelasan

Engkau nyaman disana nampaknya
Dalam pengandaianmu tentang kebebasan yang mungkin akan kurenggut
Yang mana aku tidak seperti itu
Rinduku kau singkap, namun ia nakal
Ia menyelinap dan kemudian terperangkap

Masih diatas kain persegi merah ini
Aku ingin kau syukuri, entah sebagai sebuah pagi
Entah sebagai aroma kopi
Atau sekedar bunga sedap malam yang wanginya meninabobokkan
Hmm tak tau diri aku memang…

Bibir ini diam bukan berarti tak ada yang ingin disampaikan
Kau pasang pagar didepan rumah
Aku bisa saja mendobrak, namun aku mengahargai keasyikan baru yang ingin kau rasakan
Disana, di pelipir kesendirianmu
Aku tak boleh memaksakan, aku mengalah
Rinduku enggan berkata, mungkin bait-bait ini dapat mewakili
Malam selalu disambut pagi
Begitupula sabarku suatu saat pasti terganti

Aku ingin mengukir senyummu
Memotretnya dan memajang di dinding biru kamar kosku
Lalu mengirimkannya lewat surat kecil beramplop biru
Akan kutunjukkan padamu betapa senyummu sangat meneduhkan
Meski tak ada garansi senyum itu tercipta memang untukku
Tapi aku ingin membeli lisensi itu
Lewat setiap sel, molekul dan anatomi tubuhku
Lalu ditambah pelicin berupa mantra yang kurapal di tiap sujudku
Tenang saja, bukan mantra pellet yang akan kubaca
Hanya doa biasa yang sederhana

Suaramu yang melagu membangunkanku itu membekas
Bukan salahmu, itu bukan kesalahan siapapun, tapi itu menjadi urusanku
Dimana aku yang merasakan  pagi itu adalah pagi yang sempurna
Suara hangat yang istemewa yang tak tahu harus kubayar dengan apa
Surga kecil di pagi itu menjadi kenang dalam pagiku yang mulai menghilang
Aku kebingungan...

Entah jam tanganku atau sinar surya yang terlalu bergegas
Yang jelas dini hari mulai menyiang
Terekam samar-samar mulai buyar rona hitam
Dan takdirku denganmu masih sibuk berkemas
Entah kemana, kita tidak tahu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar