Malam di Kudus, kota kecil dimana kenangan itu terhampar liar, penuh artefak
dan sesak. Nyatanya Kudus bukan terkenal sebagai penghasil kretek saja tapi
juga penghasil kenanganku dengannya (apalah cakapku ni). Di kota kecil ini mood
untuk menulis itu datang, bukan untuk sekedar mampir ngombe kopi tapi juga untuk
mencari dan mengamati, apakah perjalanan ke kudus ini memberi kesan dan
pemahaman baru yang bisa bermanfaat di hidupku bahkan mungkin di hidupmu nanti
malah.
Jadi ceritanya malam
tadi aku nongkrong di alun-alun kudus dan jajan di angkringan mas-mas, betapa
luar biasanya mas-mas itu melayaniku, senyum dan suaranya manis semanis pop
ice, pertahankan mas, aku suka senyummu itu.
Ngeri-ngeri sedapp kalo
kata bung soetan batoegana, mas-mas ini ternyata seorang agamawan sejati, nggak
keliatan mas dari prengesanmu. Rupamu mbladus koyok ratau adus tapi jebule
djiwa sampean sungguh buagos, kita bersenggama tentang banyak hal. Eh sory
maskutnya bercengkrama, karena ceritanya sangat banyak oke aku persingkat saja.
Ngalor-ngidul kita bercengkrama, akhirnya kita sampai pada suatu tema
pembicaraan, apa itu? NABI!
Once upon ago, jauh
sebelum bangsa Yunani kuno kenal mainan uno, jauh sebelum Romawi punya tim
sepak bola bernama Biskuit Roma, eh sory, AS Roma maksutnya, berdirilah
kerajaan-kerajaan dan suku-suku yang dikuasai oleh beberapa orang yang tataran
aikyu pemikirannya belum sampai kepada demokrasi, hak asasi, keadilan,
kesetaraan, dan sebagainya. Hampir segala posisi-posisi penting diisi oleh
insan-insan yang memiliki garis nasab dengan para kaisar, paderi, atau
aristokrat, bahkan hingga era Socrates, Plato, dan Aristoteles semua
dinisbatkan pada keningratan, entah melalui simboknya, atau bapaknya, atau
keduanya malah. Ketimpangan sosial masyarakat begitu carut-marut, yang kuat
menindas yang lemah, jangankan berbicara hukum runcing ke atas dan tumpul
kebawah, apalagi ngomongin rechstaat atau hukum syariat, gak guna dan gak
ada manfaat itu semua, yang ada saat itu yaitu keadilan adalah apa yang disabda
pemangku tahta. Hingga telah tiba saatnya Tuhan memberikan kasih sayangNya.
Turunlah kemudian
nabi-nabi ortodok layaknya Musa, Isa, dan Muhammad yang berasal dari masyarakat
bawah yang tak dapat jatah kartu-kartu sakti apalagi beasiswa bidikmisi, mereka
lahir dalam keadaan yang papa, berjuang karena iman dan nurani yang mereka
yakini. Diantara mereka, muncul dari dunia pergembalaan, pekerja, seniman, dan
pembuat patung yang dalam masyarakat primer waktu itu belum kenal yang namanya
path dan instagram guna menaikkan eksistensi dan pamor diri, ya kayak kamu-kamu
ini. Mereka berasal dari kelompok miskin dan tertindas oleh sistem kapitalistik
kuno dan kekuasaan yang despotis pada jamannya masing-masing. Kemudian
utusan-utusan tuhan itu tumbuh dan berkembang menentang para tirani pembawa
kedzaliman.
Nabi Muhammad sendiri
bukan lahir dari golongan penguasa, tetapi dari kalangan penggembala jelata,
kelas kaum yang termarjinalkan. Begitu pula nabi Musa, adalah manusia
penggembala yang sebagian besar waktunya dihabiskan bersama ternak-ternak di
padang rumput, lalu Nabi Nuh adalah tukang kayu, Nabi Syu’aib dan Hud adalah
guru miskin, dan Nabi Ibrahim hanyalah seorang filsuf anak seorang tukang batu.
Para tokoh revolusi dari kalangan miskin tersebut hadir dalam konteks sosial,
politik, dan kebudayaan masyarakat yang beragam, ia hadir dalam formasi sosial
seperti pastoral, kesukuan, nomadik, pra-feudal, dan feudal. Meski begitu,
mereka memiliki visi misi yang sama, menyuarakan kebenaran, membangun keadilan
sosial, serta perjuangan melawan kebodohan, penindasan, dan kesewenang-wenangan
terhadap kaum miskin yang menjadi korban. Nabi Adam memberantas kebatilan dan
kedunguan, sebagai manusia pertama, ia berjuang melawan kerasnya kekuatan alam
dan kontradiksi-kontradiksi sosial yang muncul dalam generasi awal. Nabi Nuh
memimpin kaumnya yang lemah untuk menentang para perampas dan penindas. Nabi
Hud bersama pengikutnya berjuang melawan penguasa otokratik. Nabi Saleh
memimpin umatnya untuk menegakkan egalitarianisme sosial. Nabi Ibrahim berjuang
melawan penguasa yang kejam sekaligus penyebar pengingkaran terhadap Tuhan.
Nabi Yusuf adalah cerminan kaum terpinggirkan dan terdiskriminasi, bahkan oleh
bangsa darah dagingnya sendiri. Nabi Syu’aib berjuang melawan ketimpangan
ekonomi. Nabi Musa adalah pembebas para budak, seperti Fisher Tiger tokoh anime
One Piece yang mengacaukan Mariejois istana para Tenryubito. Nabi Isa memimpin
kaum Yahudi mustad’afin. Serta Muhammad adalah Nabi progresif- revolusioner
kita yang terakhir.
Saat tadi ngopi, banyak
yang kuceritakan tentang the last hero ini, sang pengubah masyarakat- pencipta
peradaban! Hadir di jazirah arab yang dikelilingi oleh kejahiliyahan tingkat
dewa. Ia hadir dalam konteks sosio-kultural yang relatif primitif yang terbagi
dalam suku-suku yang sangat terbelakang akan budaya dan pendidikan. Nabi
Muhammad berhasil meletakkan suatu landasan besar yang kemudian lahir di dunia.
Dengan mukjizat kepribadian yang langsung dibentuk oleh Tuhan.
Bayangkan kondisinya,
ia luput dari ibu dan ayahnya, dimensi lahiriyah yang mendidiknya (sekolah),
masyarakat dan lingkungan, serta dunia global yang sedang berkembang, masa
kecilnya sungguh papa. Pria ini lahir dalam keadaan yatim, sejak lahir ia
dipisahkan dari bapaknya dan dalam umur masih sangat belia harus rela dengan
kematian ibunya. Ia buta huruf sehingga tak bisa belajar infiltrasi produk
pemikiran peradaban besar yang mengelilingi jazirah arab. Singkatnya, ayahnya
diambil agar dimensi-dimensi sang ayah jangan sampai membekas pada jiwa
rosulnya, lalu ibunya dijauhkan agar kelembutan kasih sayang keibuannya jangan
sampai meninabobokkan jiwa yang harus tegas dan perkasa. Lebih dari itu, beliau
dilahirkan di suatu tanah gersang, jauh dari kebudayaan universal, supaya jiwa
beliau jangan sampai tersentuh pengaruh edukatif suatu kebudayaan, peradaban,
atau agama. Karena jiwa yang ditakdirkan untuk memikul tugas luar biasa tidak
bisa dibentuk dengan cetakan biasa. Oke jangan nangis ya para pembaca..
Muhammad mampu
meruntuhkan keyakinan para budak yang merasa bahwa takdir telah menentukan
mereka untuk ditindas. Ia diutus untuk menyempurnakan gerakan menentang
tipu-daya, kepalsuan, syirik, kemunafikan, aristokrasi dan pertentangan kelas.
Ia telah mendeklarasikan persamaan manusia, melawan rezim ekonomi kuat (kaum
Quraisy) untuk menegakkan keadilan sosial, menciptakan peradaban arab yang
disegani dan ditakuti peradaban-peradaban besar sekitarnya. Tokoh yang
melambungkan derajat wanita, dari mulanya sebagai aib yang harus dikubur
hidup-hidup karena tak bisa untuk berperang dan tak lebih digunakan sebagai
rampasan perang. Melahirkan sistem sosial masyarakat yang madani di tengah
tandus dan gersangnya akhlak manusia kala itu.
Sebuah pembicaraan yang
luar biasa dengan mas-mas angkringan, sayang aku di kudus cuma sementara mas,
kalo lebih sering aku kesini mungkin tidak lama lagi aku jadi sufi, tapi
gapapa, aku sudah biasa dengan kesementaraan, entah kesementaraan yang
menyenangkan ataupun menyakitkan, apapun itu toh semua yang ada adalah
pinjaman, aku hanya pinjam raga ini untuk sementara hidup, mungkin aku juga pinjam
raga ini untuk numpang mati nanti
Terimakasih, mohon
undur diri…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar