https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Selasa, 29 September 2015

Sempalan Kisah Para Nabi



Malam di Kudus, kota kecil dimana kenangan itu terhampar liar, penuh artefak dan sesak. Nyatanya Kudus bukan terkenal sebagai penghasil kretek saja tapi juga penghasil kenanganku dengannya (apalah cakapku ni). Di kota kecil ini mood untuk menulis itu datang, bukan untuk sekedar mampir ngombe kopi tapi juga untuk mencari dan mengamati, apakah perjalanan ke kudus ini memberi kesan dan pemahaman baru yang bisa bermanfaat di hidupku bahkan mungkin di hidupmu nanti malah.

Jadi ceritanya malam tadi aku nongkrong di alun-alun kudus dan jajan di angkringan mas-mas, betapa luar biasanya mas-mas itu melayaniku, senyum dan suaranya manis semanis pop ice, pertahankan mas, aku suka senyummu itu.

Ngeri-ngeri sedapp kalo kata bung soetan batoegana, mas-mas ini ternyata seorang agamawan sejati, nggak keliatan mas dari prengesanmu. Rupamu mbladus koyok ratau adus tapi jebule djiwa sampean sungguh buagos, kita bersenggama tentang banyak hal. Eh sory maskutnya bercengkrama, karena ceritanya sangat banyak oke aku persingkat saja. Ngalor-ngidul kita bercengkrama, akhirnya kita sampai pada suatu tema pembicaraan, apa itu? NABI!

Once upon ago, jauh sebelum bangsa Yunani kuno kenal mainan uno, jauh sebelum Romawi punya tim sepak bola bernama Biskuit Roma, eh sory, AS Roma maksutnya, berdirilah kerajaan-kerajaan dan suku-suku yang dikuasai oleh beberapa orang yang tataran aikyu pemikirannya belum sampai kepada demokrasi, hak asasi, keadilan, kesetaraan, dan sebagainya. Hampir segala posisi-posisi penting diisi oleh insan-insan yang memiliki garis nasab dengan para kaisar, paderi, atau aristokrat, bahkan hingga era Socrates, Plato, dan Aristoteles semua dinisbatkan pada keningratan, entah melalui simboknya, atau bapaknya, atau keduanya malah. Ketimpangan sosial masyarakat begitu carut-marut, yang kuat menindas yang lemah, jangankan berbicara hukum runcing ke atas dan tumpul kebawah, apalagi ngomongin rechstaat atau hukum syariat, gak guna dan gak ada manfaat itu semua, yang ada saat itu yaitu keadilan adalah apa yang disabda pemangku tahta. Hingga telah tiba saatnya Tuhan memberikan kasih sayangNya.

Turunlah kemudian nabi-nabi ortodok layaknya Musa, Isa, dan Muhammad yang berasal dari masyarakat bawah yang tak dapat jatah kartu-kartu sakti apalagi beasiswa bidikmisi, mereka lahir dalam keadaan yang papa, berjuang karena iman dan nurani yang mereka yakini. Diantara mereka, muncul dari dunia pergembalaan, pekerja, seniman, dan pembuat patung yang dalam masyarakat primer waktu itu belum kenal yang namanya path dan instagram guna menaikkan eksistensi dan pamor diri, ya kayak kamu-kamu ini. Mereka berasal dari kelompok miskin dan tertindas oleh sistem kapitalistik kuno dan kekuasaan yang despotis pada jamannya masing-masing. Kemudian utusan-utusan tuhan itu tumbuh dan berkembang menentang para tirani pembawa kedzaliman.

Nabi Muhammad sendiri bukan lahir dari golongan penguasa, tetapi dari kalangan penggembala jelata, kelas kaum yang termarjinalkan. Begitu pula nabi Musa, adalah manusia penggembala yang sebagian besar waktunya dihabiskan bersama ternak-ternak di padang rumput, lalu Nabi Nuh adalah tukang kayu, Nabi Syu’aib dan Hud adalah guru miskin, dan Nabi Ibrahim hanyalah seorang filsuf anak seorang tukang batu. Para tokoh revolusi dari kalangan miskin tersebut hadir dalam konteks sosial, politik, dan kebudayaan masyarakat yang beragam, ia hadir dalam formasi sosial seperti pastoral, kesukuan, nomadik, pra-feudal, dan feudal. Meski begitu, mereka memiliki visi misi yang sama, menyuarakan kebenaran, membangun keadilan sosial, serta perjuangan melawan kebodohan, penindasan, dan kesewenang-wenangan terhadap kaum miskin yang menjadi korban. Nabi Adam memberantas kebatilan dan kedunguan, sebagai manusia pertama, ia berjuang melawan kerasnya kekuatan alam dan kontradiksi-kontradiksi sosial yang muncul dalam generasi awal. Nabi Nuh memimpin kaumnya yang lemah untuk menentang para perampas dan penindas. Nabi Hud bersama pengikutnya berjuang melawan penguasa otokratik. Nabi Saleh memimpin umatnya untuk menegakkan egalitarianisme sosial. Nabi Ibrahim berjuang melawan penguasa yang kejam sekaligus penyebar pengingkaran terhadap Tuhan. Nabi Yusuf adalah cerminan kaum terpinggirkan dan terdiskriminasi, bahkan oleh bangsa darah dagingnya sendiri. Nabi Syu’aib berjuang melawan ketimpangan ekonomi. Nabi Musa adalah pembebas para budak, seperti Fisher Tiger tokoh anime One Piece yang mengacaukan Mariejois istana para Tenryubito. Nabi Isa memimpin kaum Yahudi mustad’afin. Serta Muhammad adalah Nabi progresif- revolusioner kita yang terakhir.

Saat tadi ngopi, banyak yang kuceritakan tentang the last hero ini, sang pengubah masyarakat- pencipta peradaban! Hadir di jazirah arab yang dikelilingi oleh kejahiliyahan tingkat dewa. Ia hadir dalam konteks sosio-kultural yang relatif primitif yang terbagi dalam suku-suku yang sangat terbelakang akan budaya dan pendidikan. Nabi Muhammad berhasil meletakkan suatu landasan besar yang kemudian lahir di dunia. Dengan mukjizat kepribadian yang langsung dibentuk oleh Tuhan.

Bayangkan kondisinya, ia luput dari ibu dan ayahnya, dimensi lahiriyah yang mendidiknya (sekolah), masyarakat dan lingkungan, serta dunia global yang sedang berkembang, masa kecilnya sungguh papa. Pria ini lahir dalam keadaan yatim, sejak lahir ia dipisahkan dari bapaknya dan dalam umur masih sangat belia harus rela dengan kematian ibunya. Ia buta huruf sehingga tak bisa belajar infiltrasi produk pemikiran peradaban besar yang mengelilingi jazirah arab. Singkatnya, ayahnya diambil agar dimensi-dimensi sang ayah jangan sampai membekas pada jiwa rosulnya, lalu ibunya dijauhkan agar kelembutan kasih sayang keibuannya jangan sampai meninabobokkan jiwa yang harus tegas dan perkasa. Lebih dari itu, beliau dilahirkan di suatu tanah gersang, jauh dari kebudayaan universal, supaya jiwa beliau jangan sampai tersentuh pengaruh edukatif suatu kebudayaan, peradaban, atau agama. Karena jiwa yang ditakdirkan untuk memikul tugas luar biasa tidak bisa dibentuk dengan cetakan biasa. Oke jangan nangis ya para pembaca..

Muhammad mampu meruntuhkan keyakinan para budak yang merasa bahwa takdir telah menentukan mereka untuk ditindas. Ia diutus untuk menyempurnakan gerakan menentang tipu-daya, kepalsuan, syirik, kemunafikan, aristokrasi dan pertentangan kelas. Ia telah mendeklarasikan persamaan manusia, melawan rezim ekonomi kuat (kaum Quraisy) untuk menegakkan keadilan sosial, menciptakan peradaban arab yang disegani dan ditakuti peradaban-peradaban besar sekitarnya. Tokoh yang melambungkan derajat wanita, dari mulanya sebagai aib yang harus dikubur hidup-hidup karena tak bisa untuk berperang dan tak lebih digunakan sebagai rampasan perang. Melahirkan sistem sosial masyarakat yang madani di tengah tandus dan gersangnya akhlak manusia kala itu.

Sebuah pembicaraan yang luar biasa dengan mas-mas angkringan, sayang aku di kudus cuma sementara mas, kalo lebih sering aku kesini mungkin tidak lama lagi aku jadi sufi, tapi gapapa, aku sudah biasa dengan kesementaraan, entah kesementaraan yang menyenangkan ataupun menyakitkan, apapun itu toh semua yang ada adalah pinjaman, aku hanya pinjam raga ini untuk sementara hidup, mungkin aku juga pinjam raga ini untuk numpang mati nanti

Terimakasih, mohon undur diri…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar