https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Selasa, 22 September 2015

Pekerjaan VS Kebahagiaan, Mana yang Lebih Susah Didapatkan?


Untuk yang sering bertanya-tanya di sela-sela boker paginya; Mana yang lebih susah, mencari pekerjaan atau mencari kebahagiaan? Untuk mahasiswa ndableg macam aku mungkin bakal beranggapan bahwa mencari pekerjaan lebih susah dibanding nyari kebahagiaan, lha wong nyatanya emang benar kok. Tapi ndableg-ndableg gini aku udah punya pekerjaan loh; pekerjaanku adalah mencari pekerjaan. Ok, jangan menghina dan jangan diteruskan, bisa-bisa sempak melayang.

Mencari pekerjaan itu suatu perjuangan, kadang kamu ditolak begitu saja ketika kamu masukun berkas, tanggapannya beraneka ragam, bisa karena nilai wawancaramu kurang, bisa karena kamu nggak memenuhi kriteria yang dibutuhkan, atau bahkan yang paling tragis karena mukamu kurang meyakinkan. Apalagi di era MEA sekarang, sainganmu bukan tumino, tumini, atau tumijah lagi, tapi si elino, elini dan Elijah (Wejiannn). Otomatis kamu juga harus menguasai bahasa mereka supaya kalo toh bisa bekerja di “panggung” yang sama bisa saling memahami satu sama lainnya.

Tapi harusnya ada asimilasi yang baik disini, dimana kita sebagai sebuah bangsa gak hanya mempelajari apa-apa saja yang bisa dipelajari dari mereka, tapi mereka juga belajar dari kita, salah satunya tentang bahasa. Nah disini ada yang agak anu menurutku, kok ya bisa-bisanya Jokowi menghapus kewajiban berbahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia, lha kok enak tenan mereka, jujur aku gak rela, dalihnya sih dia bilang supaya arus modal yang masuk ke Indonenesia bisa lebih lancar, tapi apagunanya investasi lancar kalo harga diri bangsa ambyar? Gimana gak ambyar? lhawong mereka bakalan kerja di Indonesia, tinggal di tanah Indonesia, bernaung dibawah langit Indonesia, makan dari buminya orang Indonesia, minum dari airnya orang Indonesia, lha kok sekonyong-konyong dimudahkan dengan gak perlu pake bahasa Indonesia, sumpah ini nggapleki, Ini bakal melemahkan daya saing kita sendiri.

Nah, karena lapangan pekerjaan untuk kaum-kaum inlander udah agak susah, mending kamu-kamu ini balik kampung trus nyawah, heh jangan salah! Kita sebagai mahasiswa yang katanya peduli terhadap ketahanan pangan mbukyao jangan muluk-muluk, kalo bahasa jawanya ndakik-ndakik sok-sokan swasembada. Coba sesekali main ke Purwodadi atau Pati, disana anak muda yang nyangkul dan nandur padi bisa dihitung dengan jari. Bayangin kalo belasan tahun lagi petani-petani tua itu sudah dibebas tugaskan sama gusti allah di bumi, mau makan apa kita? Batu akik? Karepmu kalo kamu mau, harusnya kamu masuk jurusan pertanian, malah masuk jurusan pemerintahaan dan hoby facebokan, dasar orangutan! (ngomong sama kaca)

Aku ada ide sih sebetulnya supaya kita masih bisa tetep swasembada pangan dan tetap menjaga harga diri bangsa. Mengingat anak-anak muda kita sudah sedikit yang  bisa nyangkul dan nanem padi, bisanya nanem di hay day doank, ditambah dengan derasnya arus tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia berkat adanya MEA, kenapa gak kita tempatkan pekerja-pekerja asing ini jadi pak tani dan bu tani di seantero negeri? Tapi sistemnya bukan sewa lahan lohya, lumayan kan? Jadi kita gak hanya ngimpor beras Vietnam aja, tapi ini ngimpor yang nanem berasnya langsung! Harusnya Negara ini lebih kreatif dalam urusan impor mengimpor hehe

Udah paham kan betapa ruwetnya kita sekarang kalo mau nyari pekerjaan? Nah, kalo untuk urusan mencari kebahagiaan itu sebenarnya enggak susah, modal dua ribu rupiah udah yoi banget, dua ribu itu bisa buat beli es nutrisari rasa anggur di burjo, kita bisa ngobrol rono-rene sama aak-aak burjo dan bagiku hal itu udah lumayan untuk menghilangkan kegelisahan.

Suatu ketika, pernah aku bertanya,

“Kira-kira kalo aku masakin makanan buat cewek yang aku suka bolah gak ak?”

Dia jawab,

“Bagus itu! Gapapa dimasakin yang gak boleh dimasukin”

“Kamprettt!!!”

“Iya itu maksutnya, nggak boleh kalo sampe dimasukin kampret ke masakanmu Den”. Ok aku gak usah nerusin lanjutan percakapan mbelgedes macam itu haha

Yang jelas aak burjo ini kadang lebih pengertian dari kamu, iya kamu!
Dosbingku…
Dia selalu ada disaat aku membutuhkan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar