https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Sabtu, 19 September 2015

Tentang Kilafah

Ada apa memang dengan kilafah? 
Kenapa tiba-tiba serius, Den?

Gak.. aku gak bakal nulis secara serius tentang apa dan bagaimana sistem kilafah itu sekarang didamba-dambakan oleh beberapa umat dan mahasiswa di kampusku kok. Atau mungkin di kampusmu malah? Gini, anggep saja aku lagi bangun tidur siang dan bingung nulis apaan, trus keluar kosan ngecek jemuran eh ternyata sempak cucian belum kering, kesal plus emosi yaudah akhirnya nulis tentang kilafah.
Pertanyaannya adalah kenapa harus nunggu pengalaman sial mendapati sempak cucian belum kering baru cespleng nulis ginian? Gatau, mungkin sempak adalah salah satu sumber inspirasiku (abaikan)

Kilafah adalah frase yang akhir-akhir ini laris manis bak leker paimo, disana sini dan dimana-mana para mahasiswa asyik diskusi tentang sistem negara purba itu. Entah mengapa frase ini semacam ngena banget ke mahasiswa, pro kontra yang ada terkait sistem ini justru menjadi sarana marketing yang ciamik. Sasarannya tau? Tentu ndes-ndes rohis kemarin sore, biasanya ndes-ndes rohis yang levelnya level sosmed. Mereka rata-rata penggemar fahri hamzah dan ustad jonru.

Kalau aku sih mandangnya gini, utopia akan sistem masa lalu itu diawali dari rasa pesimis melihat sistem demokrasi yang tak kinjung membawa perbaikan hajat hidup orang banyak,  lalu mereka kangen sama kerennya masa kulafaur rosyidin, kangen dengan masa kejayaan islam, masa khalifah yang kata mereka serba oke, sempurna, dan tak ada sempal-sempalnya, hingga ada pula yang ngoceh kalau sistem khalifah adalah sitem tunggal yang diridloi Allah Swt di muka bumi, pertanyaannya adalah kenapa kalau sistem kilafah diridloi lantas kemudian turki ottoman runtuh? Bahkan untuk orang-orang yang tidak mempercayai khilafah dianggap kafir dan melawan islam, adapula yang melarang untuk hormat kepada bendera merah putih karena dianggap thogut, walahhhh, kok jadi ribett gini yak?

Sistem kilafah semakin populer karena memang juga diwacanakan oleh ustad-ustad dadakan. Iya kubilang ustads dadakan, di negara ini memang mudah untuk menjadi ustad, tak perlu ngoyo dan ribet  jadi santri trus takdzim ngabdi sama kyai mengkaji berbagai kitab suci hingga kitab kuning yang rusak sekali karena sudah dibaca berkali kali. Semua itu tak perlu! Kalau kamu sering ikut seminar pake peci, rajin retwet dalil-dalil agama entah siang, sore, malam atau pagi, kamu bakal dapet gelar ustads oleh teman kampusmu. Gampang to? Enak to? Mantep to? Sinih tak gendong trus tak cemplungin kali biar kamu waras.

Aku pernah diskusi  tentang apa itu khilafah kepada ndes-ndes rohis yang berlebihan mengagung-agungkan khilafah, benar dugaanku, jawabannya ngalor-ngidul, ngono-ngene- ngah-ngeh-ngoh. Iya aku sudah menebak sejak awal, karena yakin pasti mereka belum belajar apa-apa tentang khilafah, antropologi masyarakat pada saat itu, geografi, ekonomi, konflik suku, asbabun nuzul, pembagian kekuasaan, hingga dinasti-dinasti feodal islam beserta revolusinya, palingan belajarnya hanya taklid kepada akun ustad-ustad sosmed, cukup beli kuota internet dua giga juga langsung merasa pinter mereka. Sembruwet apa jawabannya? Sembruwet esay dan karya ilmiah mahasiswa yang apes belum menang karena bahasa dan konteksnya basa-basi dan gak mengakar, yang rencananya jadi pelurus suatu kebijakan, tapi nalar dan potitioningnya kering dan tandus, tapi gak papa,mereka jauh lebih keren pernah ikut lomba meskipun kalah, suatu saat kudoakan kalian yang jadi juaranya, syarat dan ketentuan berlaku tapi; jangan suka pake sempak terbalik!

Lanjut yak, jawaban mereka tentang khilafah, Pasti larinya ke hal-hal pragmatis, jika masih gagal, pasti mereka pake logika argumentem cocodtem sekarepem, logika itu menjelaskan kalau aku gak sepakat dengan sistem kilafah ya itu artinya aku tidak percaya pada islam dan bukan bagian dari mereka, yasudah kalo gitu aku juga bisa pake logikaku sendiri yaitu logikakus logikakus logikamus logikamus sekarepmus, loh namanya masih panjang dan kerenan aku kan hahaha. Kalau sudah mulai terdesakmereka malah share link blogspot. Lha kok enak tenan…

Sekarang gini. Secara logika yang aku sumberkan dari sejarah, landasan yang gampang nampak dari khilafah itu menggunakan syariat islam untuk melindungi semuanya tanpa sekat-sekat agama, geografis, dan ras. Tau kan maksudnya tanpa sekat agama tanpa sekat geografis tanpa sekat ras? Tapi, kalo mereka masih ngotot mendirikan khilafah dengan membid’ahkan pancasila, mengkafir-kafirkan demokrasi, mengharamkan semua barat menghalalkan semua timur, bacotan sektarian, dan memeranginya ‘cuma karena’ nggak ada legalitas formalitas tulisan syariat islam, ya logikanya enggak jalan, kalo masih alergian dengan berbagai aliran dan perbaikan produk pikiran berarti mereka tuh kayak orang Korea Utara yang baru tinggal di Indonesia. Manusia itu dinamis dan sistem harus selalu berkembang serta memperbaiki dirinya, berhubungan dan berkesinambungan, saling mencampuri untuk mencapai level yang lebih hakiki. Jangankan mau dikasih syariat islam, mereka diliberalkanpun, melindungi yang cuma minoritas saja nggak becus kok mau sok-sokan pake penyeragaman. Khilafah ada karena masyarakat memperbaiki dirinya, bukan khilafah harus ada untuk memperbaiki masyarakatnya. Kalo kebalik, nanti peradaban mundur lagi jadi feudal sehingga kalian justru akan dipermainkan oleh figur khilafah jadi-jadian. Paham?


Sudah dulu yak, aku gak nyangka kalo inspirasi dari sempak bisa bikin tulisan kayak gini, kau memang multifungsi fakk, i love u…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar