Ada apa memang dengan kilafah?
Kenapa tiba-tiba serius,
Den?
Gak.. aku gak bakal
nulis secara serius tentang apa dan bagaimana sistem kilafah itu sekarang
didamba-dambakan oleh beberapa umat dan mahasiswa di kampusku kok. Atau mungkin
di kampusmu malah? Gini, anggep saja aku lagi bangun tidur siang dan bingung
nulis apaan, trus keluar kosan ngecek jemuran eh ternyata sempak cucian belum
kering, kesal plus emosi yaudah akhirnya nulis tentang kilafah.
Pertanyaannya adalah
kenapa harus nunggu pengalaman sial mendapati sempak cucian belum kering baru
cespleng nulis ginian? Gatau, mungkin sempak adalah salah satu sumber
inspirasiku (abaikan)
Kilafah
adalah frase yang akhir-akhir ini laris manis bak leker paimo, disana sini dan
dimana-mana para mahasiswa asyik diskusi tentang sistem negara purba itu. Entah
mengapa frase ini semacam ngena banget ke mahasiswa, pro kontra yang ada
terkait sistem ini justru menjadi sarana marketing yang ciamik. Sasarannya tau? Tentu ndes-ndes rohis kemarin sore, biasanya ndes-ndes rohis yang
levelnya level sosmed. Mereka rata-rata penggemar fahri
hamzah dan ustad jonru.
Kalau
aku sih mandangnya gini, utopia akan sistem masa lalu itu diawali dari rasa pesimis melihat sistem demokrasi
yang tak kinjung membawa perbaikan hajat hidup orang banyak, lalu
mereka kangen sama kerennya masa kulafaur
rosyidin, kangen dengan masa
kejayaan islam, masa khalifah yang kata
mereka serba oke, sempurna, dan tak ada sempal-sempalnya, hingga ada pula yang ngoceh kalau sistem
khalifah adalah sitem tunggal yang diridloi Allah Swt di muka bumi,
pertanyaannya adalah kenapa kalau sistem kilafah diridloi lantas kemudian turki
ottoman runtuh? Bahkan untuk orang-orang yang tidak mempercayai khilafah
dianggap kafir dan melawan islam, adapula yang melarang untuk hormat kepada
bendera merah putih karena dianggap thogut, walahhhh, kok jadi ribett gini yak?
Sistem kilafah semakin populer
karena memang juga diwacanakan oleh ustad-ustad dadakan.
Iya kubilang ustads dadakan, di negara ini memang mudah untuk menjadi ustad, tak perlu
ngoyo dan ribet jadi santri trus takdzim ngabdi sama kyai
mengkaji berbagai kitab suci hingga kitab kuning yang rusak sekali karena sudah dibaca berkali kali.
Semua itu tak perlu! Kalau
kamu sering ikut seminar pake peci, rajin retwet dalil-dalil agama entah siang,
sore, malam atau pagi, kamu bakal dapet gelar ustads oleh teman kampusmu. Gampang to? Enak to? Mantep to? Sinih tak gendong trus tak
cemplungin kali biar kamu waras.
Aku pernah diskusi tentang
apa itu khilafah kepada ndes-ndes rohis yang berlebihan mengagung-agungkan khilafah, benar
dugaanku, jawabannya ngalor-ngidul,
ngono-ngene- ngah-ngeh-ngoh. Iya aku sudah
menebak sejak awal, karena yakin pasti mereka belum belajar apa-apa tentang
khilafah, antropologi masyarakat pada saat itu, geografi, ekonomi, konflik
suku, asbabun nuzul, pembagian kekuasaan, hingga dinasti-dinasti feodal islam
beserta revolusinya, palingan belajarnya hanya taklid kepada akun ustad-ustad
sosmed, cukup beli kuota internet dua giga juga langsung merasa pinter mereka.
Sembruwet apa jawabannya? Sembruwet esay dan karya ilmiah mahasiswa yang apes
belum menang karena bahasa dan konteksnya basa-basi dan gak mengakar, yang
rencananya jadi pelurus suatu kebijakan, tapi nalar dan potitioningnya kering
dan tandus, tapi gak papa,mereka jauh lebih keren pernah ikut lomba meskipun
kalah, suatu saat kudoakan kalian yang jadi juaranya, syarat dan ketentuan
berlaku tapi; jangan suka pake sempak terbalik!
Lanjut yak, jawaban mereka
tentang khilafah, Pasti larinya ke hal-hal pragmatis, jika masih gagal, pasti
mereka pake logika argumentem cocodtem sekarepem, logika itu menjelaskan kalau
aku gak sepakat dengan sistem kilafah ya itu artinya aku tidak percaya pada islam
dan bukan bagian dari mereka, yasudah kalo gitu aku juga bisa pake logikaku
sendiri yaitu logikakus logikakus logikamus logikamus sekarepmus, loh namanya
masih panjang dan kerenan aku kan hahaha. Kalau sudah mulai terdesakmereka
malah share link blogspot. Lha kok enak tenan…
Sekarang gini. Secara logika yang
aku sumberkan dari sejarah, landasan yang gampang nampak dari khilafah itu
menggunakan syariat islam untuk melindungi semuanya tanpa sekat-sekat agama,
geografis, dan ras. Tau kan maksudnya tanpa sekat agama tanpa sekat geografis
tanpa sekat ras? Tapi, kalo mereka masih ngotot mendirikan khilafah dengan
membid’ahkan pancasila, mengkafir-kafirkan demokrasi, mengharamkan semua barat
menghalalkan semua timur, bacotan sektarian, dan memeranginya ‘cuma karena’
nggak ada legalitas formalitas tulisan syariat islam, ya logikanya enggak
jalan, kalo masih alergian dengan berbagai aliran dan perbaikan produk pikiran
berarti mereka tuh kayak orang Korea Utara yang baru tinggal di Indonesia.
Manusia itu dinamis dan sistem harus selalu berkembang serta memperbaiki
dirinya, berhubungan dan berkesinambungan, saling mencampuri untuk mencapai
level yang lebih hakiki. Jangankan mau dikasih syariat islam, mereka
diliberalkanpun, melindungi yang cuma minoritas saja nggak becus kok mau
sok-sokan pake penyeragaman. Khilafah ada karena masyarakat memperbaiki
dirinya, bukan khilafah harus ada untuk memperbaiki masyarakatnya. Kalo
kebalik, nanti peradaban mundur lagi jadi feudal sehingga kalian justru akan
dipermainkan oleh figur khilafah jadi-jadian. Paham?
Sudah dulu yak, aku gak nyangka kalo inspirasi dari sempak
bisa bikin tulisan kayak gini, kau memang multifungsi fakk, i love u…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar