https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Senin, 28 September 2015

Para Bajingan Tambang di Lumajang



Lihat yang dialami para aktivis, mereka bukan pejabat berkantung tebal yang punya pangkat dan kuasa, yang tidurnya lelap sambil mangap penuh kesan warga beradab. Mereka kadang bermatras koran menemani warga yang tengah berjuang. Mereka yakin realita bukan apa yang mereka lihat dan baca di koran, di tivi, apalagi di instagram dan path, mereka sadar bahwa realita adalah apa yang mereka lihat di pasar, desa, pinggiran kota, di gubuk-gubuk, di mata ibu-ibu...

Aktifis punya apa? Mereka kere, udah kere nggak punya apa-apa lagi, nyawa mereka aja kadang lebih murah daripada tusuk gigi. Para pejuang ini mau minta perlindungan kemana? Polisi? Laporan adannya pengancaman sesungguhnya sudah disampaikan namun kemudian nihil tanggapan. Hey lihat ini tanggal berapa? Jelas ini tanggal tua dan upeti nggak bisa mereka beri, mereka gak mungkin  mampu untuk menyogok aparat bangsat demi perlindungan yang seharusnya  mereka dapatkan. Sialan!

Tanggal 24 September kemarin kita menyaksikan pembantaian massal kambing alias wedus, pasca momentum penjagalan wedus,  para bajingan tengik ini nampaknya belum puas bantai – membantai. Kurban wedus aja diperlakukan secara manusiawi, dibantai dengan didahului fasilitas yang mumpuni, sebelum dibantai wedus-wedus itu diberi kesempatan untuk memenuhi hasrat birahi dan diberi makan sepuas hati. Sebelum dieksekusi, sang penjagal menajamkan mata pisau, dibacakan basmalah sambil nyebut-nyebut asma Allah biar lebih syar’i.

Kemudian wedus ini ama-sama dijagal di depan umum...

Oke, itu wedus, lihat realita yang ada terlepas framming dan keberpihakan media ke arahmana. Ini manusia! Tidakkah bisa kemudian orang berharga ini diperlakukan lebih manusiawi lagi sebelum kau beri mati wahai para bajingan tambang!?

Baca ini https://www.kontrassurabaya.org/siaran-pers/pasir-berdarah-di-tanah-lumajang/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar