Lihat yang dialami para aktivis,
mereka bukan pejabat berkantung tebal yang punya pangkat dan kuasa, yang
tidurnya lelap sambil mangap penuh kesan warga beradab. Mereka kadang bermatras
koran menemani warga yang tengah berjuang. Mereka yakin realita bukan apa yang
mereka lihat dan baca di koran, di tivi, apalagi di instagram dan path, mereka
sadar bahwa realita adalah apa yang mereka lihat di pasar, desa, pinggiran kota, di
gubuk-gubuk, di mata ibu-ibu...
Aktifis punya apa? Mereka kere,
udah kere nggak punya apa-apa lagi, nyawa mereka aja
kadang lebih murah daripada tusuk gigi. Para pejuang ini mau minta perlindungan
kemana? Polisi? Laporan adannya pengancaman sesungguhnya sudah disampaikan
namun kemudian nihil tanggapan. Hey lihat ini tanggal berapa? Jelas ini tanggal
tua dan upeti nggak bisa mereka beri, mereka gak mungkin mampu untuk menyogok aparat bangsat demi
perlindungan yang seharusnya mereka
dapatkan. Sialan!
Tanggal
24 September kemarin kita menyaksikan pembantaian massal kambing alias wedus, pasca
momentum penjagalan wedus, para bajingan
tengik ini nampaknya belum puas bantai – membantai. Kurban wedus aja
diperlakukan secara manusiawi, dibantai dengan didahului fasilitas yang mumpuni,
sebelum dibantai wedus-wedus itu diberi kesempatan untuk memenuhi hasrat birahi
dan diberi makan sepuas hati. Sebelum dieksekusi, sang penjagal menajamkan mata
pisau, dibacakan basmalah sambil nyebut-nyebut asma Allah biar lebih syar’i.
Kemudian
wedus ini ama-sama dijagal di depan umum...
Oke,
itu wedus, lihat realita yang ada terlepas framming dan keberpihakan media ke
arahmana. Ini manusia! Tidakkah bisa kemudian orang berharga ini diperlakukan
lebih manusiawi lagi sebelum kau beri mati wahai para bajingan tambang!?
Baca ini https://www.kontrassurabaya.org/siaran-pers/pasir-berdarah-di-tanah-lumajang/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar