https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Sabtu, 26 September 2015

KPI dan Nasib Kartun di Indonesia

Piye perasaanmu kalau kartun yang menemanimu masa kecilmu disensor oleh KPI?

Baru-baru ini, belum lama lahh, jagat pertelevisian dan perkartunan di indonesia digemparkan dengan disensornya film dragonball di global tv karena mengandung unsur kekerasan, sebelumnya Naruto juga kena cut, Tom and jerry apalagi, bahkan shandy si tupai di spongebob juga disensor karena menggunakan bikini, lah apa-apaan ini? KPI memang institusi penting yang mengatur apa saja yang boleh kita dengar dan lihat di republik ini, tapi mbukyao Kalo KPI mau nglawak gak kini-gini amat, jadi bagi kamu-kamu yang suka sama one piece, jangan ngimpi one piece bakal tayang lagi di televisi. Penyebabnya adalah banyak cewek-cewek di kartun one piece yang berbikini macam nico robin dan Nami, sungguh sangean emang KPI.

Biar bagaimanapun Dragonball mengajarkan banyak hal positif terlepas dari unsur kekerasan yang menurutku sangat subjektif. Kamu tahu scouter? Scouter adalah alat canggih dari planet saiyan yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan seseorang ketika pengguna alat itu berhadapan dengan orang lain, dengan kecanggihannya toh scouter juga tidak dapat mengukur seberapa tingi kekuatan Son Goku, artinya kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja, seseorang yang terlihat lemah dari penampilannya buakn berarti tidak memiliki kekuatan yang tersembunyi, begitu pula dengan Bejita, siapa dulunya dalah seorang musuh bebuyutan Son Goku malah menajdi salah satu pahlawan yang membela mati-matian Bumi, bahkan dia mengorbankan nyawanya ketika berhadapan dengan Mejin Buu, artinya adalah setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri, ini yang gak dilihat oleh KPI

Bak cacing didalam tanah, sesuatu yang menguntungkan malah dihilangkan. Minggu pagi jam 10 mau lihat tv nih pas nyalain bawaannya malah pengen banting tuh tv,
Dulu jaman aku SD nontonku doraemon tapi sekarang acara musik abal-abal yang disuporteri banci bloon, mau ganti channel lain eh g ada yang bagus, ditungguin lhadalah acaranya 3 jam!. Then What? Malem mau lihat lagi eh udah berubah jadi kebun binatang jadi-jadian tuh tv. Apa-apa ini? Mending aku nonton radio!

Jaman aku sekolah, pas istirahat kita mainnya di kantin biar bisa godain adek kelas barangkali bisa jadian , lha anak sekarang kalo istirahat malah pada tiduran di kelas sambil download foto siluman jadi-jadian. Pertamakali pegang HP, kalo gak salah pas esempe, wallpaper di hpku isinya naruto, atau gak ya tamiya, lha anak smp sekarang? Wallpaper Hpnya kalo cewek Aliando, kalo cowok ya Prilly latucosina, kalo gak percaya cek  aja hp adekmu, lha apa-apaan ini? Bahkan sekarang kehidupan cinta-cintaan sudah masuk bangku sekolah dasar! Dulu jaman aku sd, anak-anak sd tasnya gambarnya kartun atau gak robot, ada juga yang tersanjung tapi gak banyak, sekarang anak-anak sd gambar di tasnya cewek dan cowok cakep yang sering nongol jadi siluman di tv, ada bagusnya sih, jadi para orang tua murid ini bisa hepy pas lagi nganter anak –anak mereka, tapi kita sedang tidak membahas pubertas kedua bapak ibuk mereka, kita sedang membahas tontonan generasi muda!

Kita harus jujur melihat realita,  sekarang coba kita lihat, anak anak generasi 90an yang hidup di era "kartun tanpa sensor" dulu apakah semua jadi penjahat brutal yang gila kekerasan? ga ada sama sekali malahan. Kalo ada ya bukan karena kartun, tapi karena frustasi dengan keadaan negeri yang cuma gini-gini, ya salahsatunya karena kamu-kamu ini, yang kurang baca buku dan diskusi, bisanya cuma main path dan instagram guna menaikkan eksistensi diri (sambil nunjuk kaca di kamar mandi). Sorry to say, kalo aku lebih menyarankan supaya anak-anak nonton tom and jerry yg "terlalu banyak unsur kekerasannya" daripada nonton sinetron yg bnyk menampilkan kehidupan kelas atas dan cenderung tidak mendidik macam relassi pertemanan remaja yang saling membeda-bedakan, dunia malam, sikan dendam, iri hati dan sebagainya.  Coba lihat sekarang, snak-anak pada niruin joget alay, anak-anak praktekin adegan sinetron sampah, anak-anak nyanyiin lagu cinta-cintaan, anak-anak meniru adegan bercinta orang dewasa, anak-anak niruin joget gasenonoh, nahh itu maksutnya gimana I,ka-pe-i? itu gimanaaaa?

Padahal kalo kita mau jeli menilai dengan framming yang jelas dan cerdas, hampir semuanya adegan kekerasan kartun itu justru mengajarkan anak-anak bisa membedakan hal yang baik dan hal yang buruk, sebagai contoh cerita yang umum adalah kekerasan antara pihak baik dan pihak jahat, yang ditampilkan di Dragonball atau kartun-kartun lain misalnya, setiap perkelahian yang terjadi pasti memilili asbabun nuzul, dengan mindset utama "kebaikan akan selalu menang, dan kejahatan akan selalu kalah", anak-anak jadi punya mental dan sifat "pahlawan"  mereka jadi tau bahwa sifat-sifat "penjahat" itu harus dijauhi. Mungkin orang-orang di KPI masa kecilnya kurang nonton kartun gegara kebanyakan nonton tersanjung, siapa tahu?

Masih ingat dengan film street fighter versi 90an? Apa yang dilakukan Vega ketika melakukan brainwash kepada blanka? Itu yang sedang terjadi terhadap pertelevisian di republik ini.
Selamat ya KPI, teruslah berkarya, teruslah mengabdi terhadap negeri dengan memilah tontonan-tontonan di republik ini

Tapi yang jelas, kalo keadaan pertelevisian masih tetap seperti ini, aku berjanji, jika aku bertemu dan menikah dengan dara pujaanku nanti yang kemudian punya beby, mungkin aku gak akan beli tv untuk anak-anakku nanti.

Selamat datang generasi yang hari minggu paginya gak punya tontonan

Generasi yang  Cuma taunya cinta-cintaan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar