Piye perasaanmu kalau kartun
yang menemanimu masa kecilmu disensor oleh KPI?
Baru-baru ini, belum lama lahh,
jagat pertelevisian dan perkartunan di indonesia digemparkan dengan disensornya
film dragonball di global tv karena mengandung unsur kekerasan, sebelumnya
Naruto juga kena cut, Tom and jerry apalagi, bahkan shandy si tupai di
spongebob juga disensor karena menggunakan bikini, lah apa-apaan ini? KPI
memang institusi penting yang mengatur apa saja yang boleh kita dengar dan
lihat di republik ini, tapi mbukyao Kalo KPI mau nglawak gak kini-gini amat,
jadi bagi kamu-kamu yang suka sama one piece, jangan ngimpi one piece bakal
tayang lagi di televisi. Penyebabnya adalah banyak cewek-cewek di kartun one
piece yang berbikini macam nico robin dan Nami, sungguh sangean emang KPI.
Biar bagaimanapun Dragonball
mengajarkan banyak hal positif terlepas dari unsur kekerasan yang menurutku
sangat subjektif. Kamu tahu scouter? Scouter adalah alat canggih dari planet
saiyan yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan seseorang ketika pengguna
alat itu berhadapan dengan orang lain, dengan kecanggihannya toh scouter juga
tidak dapat mengukur seberapa tingi kekuatan Son Goku, artinya kita tidak bisa
menilai seseorang hanya dari luarnya saja, seseorang yang terlihat lemah dari
penampilannya buakn berarti tidak memiliki kekuatan yang tersembunyi, begitu
pula dengan Bejita, siapa dulunya dalah seorang musuh bebuyutan Son Goku malah
menajdi salah satu pahlawan yang membela mati-matian Bumi, bahkan dia
mengorbankan nyawanya ketika berhadapan dengan Mejin Buu, artinya adalah setiap
orang memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri, ini yang gak
dilihat oleh KPI
Bak cacing didalam tanah, sesuatu yang menguntungkan malah dihilangkan. Minggu pagi jam 10 mau lihat tv nih pas nyalain bawaannya malah pengen banting tuh tv, Dulu jaman aku SD nontonku doraemon tapi sekarang acara musik abal-abal yang disuporteri banci bloon, mau ganti channel lain eh g ada yang bagus, ditungguin lhadalah acaranya 3 jam!. Then What? Malem mau lihat lagi eh udah berubah jadi kebun binatang jadi-jadian tuh tv. Apa-apa ini? Mending aku nonton radio!
Jaman aku sekolah,
pas istirahat kita mainnya di kantin biar bisa godain adek kelas barangkali
bisa jadian , lha anak sekarang kalo istirahat malah pada tiduran di kelas
sambil download foto siluman jadi-jadian. Pertamakali pegang HP, kalo gak salah
pas esempe, wallpaper di hpku isinya naruto, atau gak ya tamiya, lha anak smp
sekarang? Wallpaper Hpnya kalo cewek Aliando, kalo cowok ya Prilly latucosina, kalo
gak percaya cek aja hp adekmu, lha
apa-apaan ini? Bahkan sekarang kehidupan cinta-cintaan sudah masuk bangku
sekolah dasar! Dulu jaman aku sd, anak-anak sd tasnya
gambarnya kartun atau gak robot, ada juga yang tersanjung tapi gak banyak,
sekarang anak-anak sd gambar di tasnya cewek dan cowok cakep yang sering nongol
jadi siluman di tv, ada bagusnya sih, jadi para orang tua murid ini bisa hepy
pas lagi nganter anak –anak mereka, tapi kita sedang tidak membahas pubertas
kedua bapak ibuk mereka, kita sedang membahas tontonan generasi muda!
Kita
harus jujur melihat realita, sekarang
coba kita lihat, anak anak generasi 90an yang hidup di era "kartun tanpa
sensor" dulu apakah semua jadi penjahat brutal yang gila kekerasan? ga ada
sama sekali malahan. Kalo ada ya bukan karena kartun, tapi karena frustasi
dengan keadaan negeri yang cuma gini-gini, ya salahsatunya karena kamu-kamu
ini, yang kurang baca buku dan diskusi, bisanya cuma main path dan instagram
guna menaikkan eksistensi diri (sambil nunjuk kaca di kamar mandi). Sorry to
say, kalo aku lebih menyarankan supaya anak-anak nonton tom and jerry yg
"terlalu banyak unsur kekerasannya" daripada nonton sinetron yg bnyk
menampilkan kehidupan kelas atas dan cenderung tidak mendidik macam relassi
pertemanan remaja yang saling membeda-bedakan, dunia malam, sikan dendam, iri
hati dan sebagainya. Coba lihat
sekarang, snak-anak pada niruin joget alay, anak-anak praktekin adegan sinetron
sampah, anak-anak nyanyiin lagu cinta-cintaan, anak-anak meniru adegan bercinta
orang dewasa, anak-anak niruin joget gasenonoh, nahh itu maksutnya gimana
I,ka-pe-i? itu gimanaaaa?
Padahal kalo
kita mau jeli menilai dengan framming yang jelas dan cerdas, hampir semuanya
adegan kekerasan kartun itu justru mengajarkan anak-anak bisa membedakan hal
yang baik dan hal yang buruk, sebagai contoh cerita yang umum adalah kekerasan
antara pihak baik dan pihak jahat, yang ditampilkan di Dragonball atau
kartun-kartun lain misalnya, setiap perkelahian yang terjadi pasti memilili
asbabun nuzul, dengan mindset utama "kebaikan akan selalu menang, dan
kejahatan akan selalu kalah", anak-anak jadi punya mental dan sifat
"pahlawan" mereka jadi tau bahwa
sifat-sifat "penjahat" itu harus dijauhi. Mungkin orang-orang di KPI
masa kecilnya kurang nonton kartun gegara kebanyakan nonton tersanjung, siapa
tahu?
Masih
ingat dengan film street fighter versi 90an? Apa yang dilakukan Vega ketika
melakukan brainwash kepada blanka? Itu yang sedang terjadi terhadap pertelevisian
di republik ini.
Selamat
ya KPI, teruslah berkarya, teruslah mengabdi terhadap negeri dengan memilah
tontonan-tontonan di republik ini
Tapi
yang jelas, kalo keadaan pertelevisian masih tetap seperti ini, aku berjanji,
jika aku bertemu dan menikah dengan dara pujaanku nanti yang kemudian punya beby,
mungkin aku gak akan beli tv untuk anak-anakku nanti.
Selamat
datang generasi yang hari minggu paginya gak punya tontonan
Generasi
yang Cuma taunya cinta-cintaan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar