https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Sabtu, 12 September 2015

Goa Serigala Tua



Pernah dulu di masa mudanya…

Di suatu sore yang matahari terlihat ingin sembunyi, sekelompok serigala muda tengah asyik mengoyak daging buruannya. Seekor babi hutan yang malang menemui ajalnya lewat cakar dan taring serigala-serigala muda itu, dengan beringas serigala-serigala muda merobek perut mangsanya, mereka berebut untuk menyantap daging dan jeroan babi kecil itu sampai hanya menyisakan tulang. Namun ada seekor serigala yang nestapa karena tak mendapat jatah layak dari jerih payah kolektif mereka. Serigala itu hanya makan daging sisa, badannya kurus kering, kalah body memang…

Dia tersisih…

Suatu hari ia berburu rusa, rusa itu gendut namun lincah, ia mengendap penuh kehati-hatian, ia intai rusa itu perlahan, sejurus kemudian secepat kilat ia melesat mengejar rusa lincah itu. Ah! Serigala muda memang perkasa, otot-otot yang menempel pada daging dan tulang kakinya menambah speed berlari, taring dan cakarnya runcing, sangat ganas dan trengginas untuk mencabik-cabik mangsanya. Dia dapatkan rusa itu sendirian, menyantap perlahan mulai dari leher, leher tinggal tulang ia beralih ke perut dan merobek-robeknya, sayangnya rusa itu terlalu gempal untuk dia habiskan dalam satu waktu, serigala itu kekenyangan, ia seret tubuh tak berdaya itu ke goa peristirahatannya, ia tertidur pulas, paginya ia dapati bangkai rusa buruannya sudah hilang, mungkin dicuri hyna pikirnya, mungkin juga dimakan serigala lainnya, yang jelas ia kecewa hasil buruannya hilang dicuri hewan lain…

Serigala muda itu berkelana meninggalkan goa, telah banyak kekecewaan yang ia alami di tempat peristirahatannya itu, mulai dari pengalaman tak mendapat jatah yang layak dari usaha memburu babi sampai kehilangan rusa buruan. Tempat itu sudah tidak aman untuk meneruskan hidup, dia hijrah…

Serigala muda berkelana jauh, dia semakin mahir berburu, tubuhnya tambah perkasa karena terlatih memburu rusa, jerapah, dan zebra, terkadang bison besar malah. Dia terbiasa melakukan semuanya seorang diri, dia telah menjadi serigala yang tangguh. Dia berkelana ke seluruh penjuru hutan,tidur dari satu goa ke goa yang lain. Pengalaman telah memberinya pelajaran untuk memilih goa mana yang aman ditinggali, hingga suatu masa di musim hujan, goa yang ia tinggali roboh tak kuat menahan beban air yang menghujani tiap harinya, ditambah longsor yang tiba-tiba terjadi semakin menandakan bahwa alam telah mengusir serigala itu untuk pergi mencari goa-goa yang lain.

Lihatlah serigala itu sekarang…

Dia masih berkelana jauh, tubuhnya belum gontai meski usianya mulai menua, dia terus berlari, berburu dan tetap berpindah-pindah dari satu goa ke goa yang lain, hingga suatu ketika ia temukan sebuah goa yang sangat indah di pelipir sebuah tebing. Tebing itu terjal dan curam, sangat berbahaya untuk seekor serigala tua tinggal disana, namun serigala tua itu  terlanjur terpesona, ia buang seluruh ketakutannya untuk terus menuju goa indah itu, ia tidak menyerah dan berhasil masuk ke goa itu. Goa itu lengang tak ada siapa-siapa, namun terlihat bekas kehidupan yang pernah lama menghuninya. Bau darah yang masih terasa dan tulang belulang yang berserakan semakin menguatkan hipotesis serigala tua bahwa pernah ada karnivora tangguh yang belum lama ini tinggal disana, kalau tidak tangguh mana mungkin karnivora itu berhasil menyeret buruannya sampai ke dalam goa yang jalannya terjal dan curam, bahkan belum sampai goa juga pasti hasil buruannya sudah direbut karnivora-karnivora lain yang lebih perkasa diluar sana, kalau tidak tinggal dalam waktu yang lama juga tidak mungkin sebanyak ini tulang belulang yang berserakan. Dasar karnivora sialan!!! Kata serigala itu.

Dengan sabar serigala tua memungut satu persatu tulang belulang itu dengan mulutnya ke luar goa, sungguh sabar serigala tua itu membersihkan sampah yang ada di dalam goa,kerja kerasnya membuat goa pelipir tebing indah kembali. Serigala tua telah lelah berkelana dan sudah semakin menua, ia telah memantapkan hati untuk hidup di goa indah pelipir tebing sampai dia mati.

Musim berganti, sekarang kemarau panjang…

Kemarau panjang telah membuat hewan-hewan lain pergi dari hutan di sekitar serigala tua tinggal, kuda-kuda berlari pergi mencari rumput segar, zebra, jerapah dan hewan herbivora lain juga telah menghilang karena persediaan rumput ilalang mulai tiris. Sejalan dengan siklus rantai makanan, para karnivora juga ikut hijrah mengikuti hewan buruannya, burung tak lagi bernanyi, jadilah hutan yang dulu penuh hiruk pikuk itu menjadi sunyi, lalu kemana serigala tua?

Ternyata serigala tua masih melolong dibawah kolong malam diatas wismanya, memberi pesan kepada kawan bahwa ia masih hidup dan bertahan meskipun alam rimba semakin menyeramkan, tanpa air, tanpa makanan, seperti tanpa harapan…

Peluh di bulunya tak terlihat mengalir meski ia berkali-kali melolong, udara waktu itu memang agak dingin, tak mengizinkan kelenjar keringat menerobos dinding epidermis kulitnya. Dia berjalan menyusuri malam dan masuk ke sebuah pematang, dia dapati bunga-bunga telah layu bahkan sebagian banyak mati, hanya beberapa yang beruntung mendapat cadangan makanan, salah satunya bunga matahari, dia kagum pada keperkasaan bunga itu, ketika bunga lain tak berdaya dibakar mentari dia justru bertahan dengan gagahnya, warna kuning cerahnya adalah keindahan tersendiri yang akan terlihat sangat perkasa di siang hari, dia ingin menjadi bunga matahari itu pikirnya, dia menelusur lebih dalam lagi ke pedalaman hutan, dia jumpai semak belukar telah mati kekurangan nutrisi, belukar yang dulunya hijau dan rimbun sekarang kuning mengering, disentuh sedikit langsung sempal, mudah saja belukar itu diterobos oleh sang serigala. Dia mengintai apa yang bisa ia intai, usahanya sia-sia, semua hewan telah pergi meninggalkan hutan itu mulai setengah tahun yang lalu, bahkan ternyata babi-babi tua pun ikut hijrah mencari penghidupan yang lebih layak di pedalaman hutan lain, dia sempat berfikir kenapa dulu tidak pergi saja dari goa dan hutan itu ketika musim kemarau tiba? Meskinya ia pergi bersama hewan yang lain untuk menantang terik dan dan panas sang surya demi penghidupan yang lebih baik, bukan malah setia di dalam goa dan hutan yang jelas-jelas miskin harapan. Mungkin dia bakal mati sendirian di dalam goa, dalam keadaan sepi dan sendiri. Dia melamun dan berfikir keras.


Lama dalam lamunannya, sebuah partikel nakal menghinggapi pelupuk matanya, terlihat ada guratan kebahagian dalam wajah serigala tua, lama-lama partikel nakal itu menyerbu serigala dan sekelilingnya semakin banyak, serigala tidak terlihat takut dengan serbuan partikel itu, dia justru membaui partikel-partikel itu dan terlihat tersenyum, dia rasa musim hujan telah datang…

Serigala tua itu masih saja merasai pesan yang dibawa hujan, dia beristiqomah dalam hati bahwa ternyata semesta masih butuh kehadirannya, dia melolong kembali untuk bersyukur kepada alam yang masih memberinya waktu. Hujan yang turun membasahi hutan itu telah secara tak langsung ikut membasahi semangat dan harapan sang serigala tua, semangat dan harapan yang hampir mati itu kini bersemi kembali. Derasnya hujan telah memberinya keyakinan bahwa akan ada perubahan radikal di dalam hutan. Dia bungkam penyesalannya yang semenit lalu muncul, dia tidak menyesali pilihannya untuk memantapkan hati tinggal di goa indah pelipir tebing.
Dia pulang ke goa pelipir tebing, kakinya kotor karena becek, badannya basah menggigil dan kedinginan, dia tertidur di dalam goa pelipir tebing, dengan senyum dan secerca harapan…

Bersambung…

2 komentar: