Pernah dulu di masa
mudanya…
Di suatu sore yang
matahari terlihat ingin sembunyi, sekelompok serigala muda tengah asyik
mengoyak daging buruannya. Seekor babi hutan yang malang menemui ajalnya lewat
cakar dan taring serigala-serigala muda itu, dengan beringas serigala-serigala
muda merobek perut mangsanya, mereka berebut untuk menyantap daging dan jeroan
babi kecil itu sampai hanya menyisakan tulang. Namun ada seekor serigala yang
nestapa karena tak mendapat jatah layak dari jerih payah kolektif mereka.
Serigala itu hanya makan daging sisa, badannya kurus kering, kalah body memang…
Dia tersisih…
Suatu hari ia berburu
rusa, rusa itu gendut namun lincah, ia mengendap penuh kehati-hatian, ia intai
rusa itu perlahan, sejurus kemudian secepat kilat ia melesat mengejar rusa
lincah itu. Ah! Serigala muda memang perkasa, otot-otot yang menempel pada
daging dan tulang kakinya menambah speed berlari, taring dan cakarnya runcing,
sangat ganas dan trengginas untuk mencabik-cabik mangsanya. Dia dapatkan rusa
itu sendirian, menyantap perlahan mulai dari leher, leher tinggal tulang ia
beralih ke perut dan merobek-robeknya, sayangnya rusa itu terlalu gempal untuk
dia habiskan dalam satu waktu, serigala itu kekenyangan, ia seret tubuh tak
berdaya itu ke goa peristirahatannya, ia tertidur pulas, paginya ia dapati bangkai rusa buruannya
sudah hilang, mungkin dicuri hyna pikirnya, mungkin juga dimakan serigala
lainnya, yang jelas ia kecewa hasil buruannya hilang dicuri hewan lain…
Serigala muda itu
berkelana meninggalkan goa, telah banyak kekecewaan yang ia alami di tempat
peristirahatannya itu, mulai dari pengalaman tak mendapat jatah yang layak dari
usaha memburu babi sampai kehilangan rusa buruan. Tempat itu sudah tidak aman
untuk meneruskan hidup, dia hijrah…
Serigala muda berkelana
jauh, dia semakin mahir berburu, tubuhnya tambah perkasa karena terlatih
memburu rusa, jerapah, dan zebra, terkadang bison besar malah. Dia terbiasa
melakukan semuanya seorang diri, dia telah menjadi serigala yang tangguh. Dia
berkelana ke seluruh penjuru hutan,tidur dari satu goa ke goa yang lain.
Pengalaman telah memberinya pelajaran untuk memilih goa mana yang aman ditinggali,
hingga suatu masa di musim hujan, goa yang ia tinggali roboh tak kuat menahan
beban air yang menghujani tiap harinya, ditambah longsor yang tiba-tiba terjadi
semakin menandakan bahwa alam telah mengusir serigala itu untuk pergi mencari
goa-goa yang lain.
Lihatlah serigala itu
sekarang…
Dia masih berkelana
jauh, tubuhnya belum gontai meski usianya mulai menua, dia terus berlari,
berburu dan tetap berpindah-pindah dari satu goa ke goa yang lain, hingga suatu
ketika ia temukan sebuah goa yang sangat indah di pelipir sebuah tebing. Tebing
itu terjal dan curam, sangat berbahaya untuk seekor serigala tua tinggal
disana, namun serigala tua itu terlanjur
terpesona, ia buang seluruh ketakutannya untuk terus menuju goa indah itu, ia
tidak menyerah dan berhasil masuk ke goa itu. Goa itu lengang tak ada
siapa-siapa, namun terlihat bekas kehidupan yang pernah lama menghuninya. Bau
darah yang masih terasa dan tulang belulang yang berserakan semakin menguatkan
hipotesis serigala tua bahwa pernah ada karnivora tangguh yang belum lama ini
tinggal disana, kalau tidak tangguh mana mungkin karnivora itu berhasil
menyeret buruannya sampai ke dalam goa yang jalannya terjal dan curam, bahkan
belum sampai goa juga pasti hasil buruannya sudah direbut karnivora-karnivora lain
yang lebih perkasa diluar sana, kalau tidak tinggal dalam waktu yang lama juga tidak
mungkin sebanyak ini tulang belulang yang berserakan. Dasar karnivora sialan!!!
Kata serigala itu.
Dengan sabar serigala
tua memungut satu persatu tulang belulang itu dengan mulutnya ke luar goa,
sungguh sabar serigala tua itu membersihkan sampah yang ada di dalam goa,kerja
kerasnya membuat goa pelipir tebing indah kembali. Serigala tua telah lelah
berkelana dan sudah semakin menua, ia telah memantapkan hati untuk hidup di goa
indah pelipir tebing sampai dia mati.
Musim berganti,
sekarang kemarau panjang…
Kemarau panjang telah
membuat hewan-hewan lain pergi dari hutan di sekitar serigala tua tinggal,
kuda-kuda berlari pergi mencari rumput segar, zebra, jerapah dan hewan herbivora
lain juga telah menghilang karena persediaan rumput ilalang mulai tiris.
Sejalan dengan siklus rantai makanan, para karnivora juga ikut hijrah mengikuti
hewan buruannya, burung tak lagi bernanyi, jadilah hutan yang dulu penuh hiruk
pikuk itu menjadi sunyi, lalu kemana serigala tua?
Ternyata serigala tua
masih melolong dibawah kolong malam diatas wismanya, memberi pesan kepada kawan
bahwa ia masih hidup dan bertahan meskipun alam rimba semakin menyeramkan,
tanpa air, tanpa makanan, seperti
tanpa
harapan…
Peluh di bulunya tak
terlihat mengalir meski ia berkali-kali melolong, udara waktu itu memang agak
dingin, tak mengizinkan kelenjar keringat menerobos dinding epidermis kulitnya. Dia berjalan menyusuri malam dan
masuk ke sebuah pematang, dia dapati bunga-bunga telah layu bahkan sebagian
banyak mati, hanya beberapa yang beruntung mendapat cadangan makanan, salah
satunya bunga matahari, dia kagum pada keperkasaan bunga itu, ketika bunga lain
tak berdaya dibakar mentari dia justru bertahan dengan gagahnya, warna kuning
cerahnya adalah keindahan tersendiri yang akan terlihat sangat perkasa di siang
hari, dia ingin menjadi bunga matahari itu pikirnya, dia menelusur lebih dalam
lagi ke pedalaman hutan, dia jumpai semak belukar telah mati kekurangan
nutrisi, belukar yang dulunya hijau dan rimbun sekarang kuning mengering, disentuh sedikit langsung
sempal, mudah saja belukar itu diterobos oleh sang serigala. Dia mengintai
apa yang bisa ia intai, usahanya sia-sia, semua hewan telah pergi meninggalkan
hutan itu mulai setengah tahun yang lalu, bahkan ternyata babi-babi tua pun
ikut hijrah mencari penghidupan yang lebih layak di pedalaman hutan lain, dia
sempat berfikir kenapa dulu tidak pergi saja dari goa dan hutan itu ketika
musim kemarau tiba? Meskinya ia pergi bersama hewan yang lain untuk menantang
terik dan dan panas sang surya demi penghidupan yang lebih baik, bukan malah
setia di dalam goa dan hutan yang jelas-jelas miskin harapan. Mungkin dia bakal
mati sendirian di dalam goa, dalam keadaan sepi dan sendiri. Dia melamun dan berfikir keras.
Lama dalam lamunannya,
sebuah partikel nakal menghinggapi pelupuk matanya, terlihat ada guratan
kebahagian dalam wajah serigala tua, lama-lama partikel nakal itu menyerbu
serigala dan sekelilingnya semakin banyak, serigala tidak terlihat takut dengan
serbuan partikel itu, dia justru membaui partikel-partikel itu dan terlihat
tersenyum, dia rasa musim hujan telah datang…
Serigala tua itu masih
saja merasai pesan yang dibawa hujan, dia beristiqomah dalam hati bahwa
ternyata semesta masih butuh kehadirannya, dia melolong kembali untuk bersyukur
kepada alam yang masih memberinya waktu. Hujan yang turun membasahi hutan itu
telah secara tak langsung ikut membasahi semangat dan harapan sang serigala
tua, semangat dan harapan yang hampir mati itu kini bersemi kembali. Derasnya
hujan telah memberinya keyakinan bahwa akan ada perubahan radikal di dalam
hutan. Dia bungkam penyesalannya yang semenit lalu muncul, dia tidak menyesali
pilihannya untuk memantapkan hati tinggal di goa indah pelipir tebing.
Dia pulang ke goa
pelipir tebing, kakinya kotor karena becek, badannya basah menggigil dan
kedinginan, dia tertidur di dalam goa pelipir tebing, dengan senyum dan secerca harapan…
Bersambung…

boleh juga
BalasHapusthanks
BalasHapus