https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Rabu, 30 September 2015

Pandangan Terhadap PKI, Dulu dan Kini


Aku bukan simpatisan PKI, bukan simpatisan NU, aku bukan Deny, aku bukan siapa-siapa, aku adalah orang yang Me-deny alias menjadi Deny, aku Deny yang terus berproses dan tidak berhenti di satu titik, pohon banyak yang gugur di musim kemarau kali ini dan akan berganti dengan tunas tunas yang baru nanti. Kehidupan terus bergerak dan akupun meyakini harus begitu. Aku nggak terlahir di era kemerdekaan, juga gak terlahir di era enam puluhan, aku adalah anak generasi sembilan puluhan yang masa kecilnya masih seneng main gasingan. Sebenarnya sejak kecil aku gak tahu PKI itu seperti apa, selain dari cerita guru dan buku sejarah di bangku sekolah dan juga dari cuplikan film yang selalu diulang-ulang setiap akhir bulan september hingga bikin mendem. 

Masih teringat dengan jelas dalam ingatan mengenai cara pandangku waktu kecil ketika menjumpai hal-hal berbau komunis atau PKI. Dari film yang selalu diputar-putar dengan adegan menggedor-gedor pintu lalu menembak mati para jenderal di tempat, ada pula adegan yang dibawa hidup-hidup kemudian disiksa seperti dipukuli, dibacok atau disilet-silet wajahnya hingga mati lantas dibuang ke sebuah lubang. Film yang seolah-olah hendak mendoktrin anak-anak bahwa komunis itu amoral, bejat, tidak berperikemanusiaan, pembantai, atheis, musuh theis, pokoknya ideologi haram dan najis mugholadoh lah!  Ideologinya harus hangus diberangus, penganutnya harus dibunuh minimal diasingkan ke pulau terpencil, keturunan dan keluarganya harus diwaspadai jika perlu hak-hak kemanusiaannya dikebiri.

Menjadi mahasiswa dan usia semakin bertambah dewasa, pikiran semakin matang dan tajam, sekat-sekat kotak batas mulai terpangkas, doktrin-doktrin tanpa asbabun nuzul mulai luntur, buku-buku berat mulai ku buru, saksi-saksi mata mulai berani angkat bicara karena rezim orde bau sudah tak berkuasa, dan kebenaran mulai menyeruak seperti gelembung-gelembung kecil dalam bak mandi.

Sejarah memang sudah dimutilasi dan jauh dari seperti yang aku mengerti saat masih usia dini. Ini bukan masalah sesimpel berebut kuasa dan tampuk kepemimpinan, tapi masalah kompleks internasional yang berurusan dengan perang dingin atau perang ideologi antara dua negara, tanpa menyebut merek sebut saja negara ASU dan RUSIASU di kala itu, blok barat melawan blok timur, liberalis versus komunis. Yang padahal dua negara adidaya tersebut berebut pengaruh dan wilayah jajahan. Ya, negara superpower memang tak bisa hidup tanpa jajahan, dan kala itu negara-negara Asia Afrika adalah lahan basah untuk diperebutkan, termasuk Indonesia yang sangat kaya dan baru merdeka sehingga masih mencari jati diri ideologi. Memang dari dulu Indonesia memiliki daya tarik bagi setiap bangsa dari seluruh sudut dunia untuk mengeksploitasinya. Sayangnya waktu itu ada Soekarno sebagai presiden dengan panji-panji Trisakti dan anti kompromi untuk menjual aset negara meski negara dan rakyat berada dalam kondisi krisis dan luluh lantah. Tentu negara ASU tidak menyukainya, namun Soekarno yang tak tergiur harta dan anti sewa/jual aset itu tak bisa ditumbangkan dengan senjata, diciptakanlah skenario propaganda pelengseran posisinya dengan memanfaatkan ketidakstabilan dalam negeri, perpecahan internal PKI, dan ambisi seorang pimpinan tentara yang dapat diperalat untuk pengerukan sumber daya Indonesia.

Meletus G30S yang diklaim PKI sebagai dalangnya, dengan penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal terbaik dalam negeri. Kemudian setelah itu tanpa pandang bulu semua simpatisan PKI diburu, dipenjara, dan dibantai tanpa proses peradilan, dipendam dalam kuburan yang tidak jelas dengan jumlah 800.000 orang, ada pula sumber lain yang mengatakan 2.000.000, ini memang bukan genosida tapi tetap saja pembantaian massal tak berasal. Gerwanipun sebagai ormas yang memberdayakan wanita serta memberikan pendidikan kepada kelas bawah juga ikut terkena getah. Gerwani adalah ormas yang memerangi prostitusi, anti poligami, penentang kawin paksa dan KDRT, dan menggelorakan wanita harus produktif dan bermartabat, pun juga terimbas menderita pemerkosaan sebelum prosesi pembantaian, sedang yang lain ditahan dan menjadi budak seks. Gerwani bukanlah bentukan PKI, hanya ormas yang memperjuangkan rakyat kelas bawah terutama wanita sehingga banyak kesamaan ideologi dengan PKI.

Hasil visum jenasah para jenderal tak ditemukan tanda bekas penyiksan seperti yang dipampangkan dalam film-film tahunan. Sang pembungkam kebenaran sudah tumbang, orde bau sudah tiada, yang tersisa hanya bangkai-bangkai sejarah yang coba mereka tutup-tutupi tapi toh tetap saja tercium. Sedikit demi sedikit kebenaran mulai muncul di permukaan, saksi-sakai hidup mulai mengeluarkan suaranya. Sungguh sebuah kejahatan ketika membelokkan sejarah dan pemberangusan hak-hak keluarga korban dan tersangka hanya untuk kepentingan kelanggengan penguasa. Pembunuhan para jenderal adalah kejahatan, pembantaian besar-besaran orang PKI dan orang-orang yang berhubungan tanpa melalui peradilan juga adalah kejahatan. Tapi apakah semua itu dipahami para mahasiswa yang diameter lingkar otaknya masih lima senti? yang masih terjebak pada utopia sistem politik yang steril terhadap perbedaan golongan, ya kalau sperti itu gunakan saja khilafah, penyeragaman tulen itu! mari tidak terjebak pada sekat-sekat golongan, dewasalah bahwa ada hal yang akan lebih baik jika dibiarkan untuk berbeda, Indonesia contohnya, dan dalam kamus Yanuar Deny tidak ada hal yang tabu apalagi haram untuk didiskusikan...

Mari sama-sama berburu dan membaca buku supaya kita banyak tahu, pikiran tidak kelu, dan hati tidak keju, siapa tahu kau dapat bertemu aku di indah mimpimu...

Selasa, 29 September 2015

Sempalan Kisah Para Nabi



Malam di Kudus, kota kecil dimana kenangan itu terhampar liar, penuh artefak dan sesak. Nyatanya Kudus bukan terkenal sebagai penghasil kretek saja tapi juga penghasil kenanganku dengannya (apalah cakapku ni). Di kota kecil ini mood untuk menulis itu datang, bukan untuk sekedar mampir ngombe kopi tapi juga untuk mencari dan mengamati, apakah perjalanan ke kudus ini memberi kesan dan pemahaman baru yang bisa bermanfaat di hidupku bahkan mungkin di hidupmu nanti malah.

Jadi ceritanya malam tadi aku nongkrong di alun-alun kudus dan jajan di angkringan mas-mas, betapa luar biasanya mas-mas itu melayaniku, senyum dan suaranya manis semanis pop ice, pertahankan mas, aku suka senyummu itu.

Ngeri-ngeri sedapp kalo kata bung soetan batoegana, mas-mas ini ternyata seorang agamawan sejati, nggak keliatan mas dari prengesanmu. Rupamu mbladus koyok ratau adus tapi jebule djiwa sampean sungguh buagos, kita bersenggama tentang banyak hal. Eh sory maskutnya bercengkrama, karena ceritanya sangat banyak oke aku persingkat saja. Ngalor-ngidul kita bercengkrama, akhirnya kita sampai pada suatu tema pembicaraan, apa itu? NABI!

Once upon ago, jauh sebelum bangsa Yunani kuno kenal mainan uno, jauh sebelum Romawi punya tim sepak bola bernama Biskuit Roma, eh sory, AS Roma maksutnya, berdirilah kerajaan-kerajaan dan suku-suku yang dikuasai oleh beberapa orang yang tataran aikyu pemikirannya belum sampai kepada demokrasi, hak asasi, keadilan, kesetaraan, dan sebagainya. Hampir segala posisi-posisi penting diisi oleh insan-insan yang memiliki garis nasab dengan para kaisar, paderi, atau aristokrat, bahkan hingga era Socrates, Plato, dan Aristoteles semua dinisbatkan pada keningratan, entah melalui simboknya, atau bapaknya, atau keduanya malah. Ketimpangan sosial masyarakat begitu carut-marut, yang kuat menindas yang lemah, jangankan berbicara hukum runcing ke atas dan tumpul kebawah, apalagi ngomongin rechstaat atau hukum syariat, gak guna dan gak ada manfaat itu semua, yang ada saat itu yaitu keadilan adalah apa yang disabda pemangku tahta. Hingga telah tiba saatnya Tuhan memberikan kasih sayangNya.

Turunlah kemudian nabi-nabi ortodok layaknya Musa, Isa, dan Muhammad yang berasal dari masyarakat bawah yang tak dapat jatah kartu-kartu sakti apalagi beasiswa bidikmisi, mereka lahir dalam keadaan yang papa, berjuang karena iman dan nurani yang mereka yakini. Diantara mereka, muncul dari dunia pergembalaan, pekerja, seniman, dan pembuat patung yang dalam masyarakat primer waktu itu belum kenal yang namanya path dan instagram guna menaikkan eksistensi dan pamor diri, ya kayak kamu-kamu ini. Mereka berasal dari kelompok miskin dan tertindas oleh sistem kapitalistik kuno dan kekuasaan yang despotis pada jamannya masing-masing. Kemudian utusan-utusan tuhan itu tumbuh dan berkembang menentang para tirani pembawa kedzaliman.

Nabi Muhammad sendiri bukan lahir dari golongan penguasa, tetapi dari kalangan penggembala jelata, kelas kaum yang termarjinalkan. Begitu pula nabi Musa, adalah manusia penggembala yang sebagian besar waktunya dihabiskan bersama ternak-ternak di padang rumput, lalu Nabi Nuh adalah tukang kayu, Nabi Syu’aib dan Hud adalah guru miskin, dan Nabi Ibrahim hanyalah seorang filsuf anak seorang tukang batu. Para tokoh revolusi dari kalangan miskin tersebut hadir dalam konteks sosial, politik, dan kebudayaan masyarakat yang beragam, ia hadir dalam formasi sosial seperti pastoral, kesukuan, nomadik, pra-feudal, dan feudal. Meski begitu, mereka memiliki visi misi yang sama, menyuarakan kebenaran, membangun keadilan sosial, serta perjuangan melawan kebodohan, penindasan, dan kesewenang-wenangan terhadap kaum miskin yang menjadi korban. Nabi Adam memberantas kebatilan dan kedunguan, sebagai manusia pertama, ia berjuang melawan kerasnya kekuatan alam dan kontradiksi-kontradiksi sosial yang muncul dalam generasi awal. Nabi Nuh memimpin kaumnya yang lemah untuk menentang para perampas dan penindas. Nabi Hud bersama pengikutnya berjuang melawan penguasa otokratik. Nabi Saleh memimpin umatnya untuk menegakkan egalitarianisme sosial. Nabi Ibrahim berjuang melawan penguasa yang kejam sekaligus penyebar pengingkaran terhadap Tuhan. Nabi Yusuf adalah cerminan kaum terpinggirkan dan terdiskriminasi, bahkan oleh bangsa darah dagingnya sendiri. Nabi Syu’aib berjuang melawan ketimpangan ekonomi. Nabi Musa adalah pembebas para budak, seperti Fisher Tiger tokoh anime One Piece yang mengacaukan Mariejois istana para Tenryubito. Nabi Isa memimpin kaum Yahudi mustad’afin. Serta Muhammad adalah Nabi progresif- revolusioner kita yang terakhir.

Saat tadi ngopi, banyak yang kuceritakan tentang the last hero ini, sang pengubah masyarakat- pencipta peradaban! Hadir di jazirah arab yang dikelilingi oleh kejahiliyahan tingkat dewa. Ia hadir dalam konteks sosio-kultural yang relatif primitif yang terbagi dalam suku-suku yang sangat terbelakang akan budaya dan pendidikan. Nabi Muhammad berhasil meletakkan suatu landasan besar yang kemudian lahir di dunia. Dengan mukjizat kepribadian yang langsung dibentuk oleh Tuhan.

Bayangkan kondisinya, ia luput dari ibu dan ayahnya, dimensi lahiriyah yang mendidiknya (sekolah), masyarakat dan lingkungan, serta dunia global yang sedang berkembang, masa kecilnya sungguh papa. Pria ini lahir dalam keadaan yatim, sejak lahir ia dipisahkan dari bapaknya dan dalam umur masih sangat belia harus rela dengan kematian ibunya. Ia buta huruf sehingga tak bisa belajar infiltrasi produk pemikiran peradaban besar yang mengelilingi jazirah arab. Singkatnya, ayahnya diambil agar dimensi-dimensi sang ayah jangan sampai membekas pada jiwa rosulnya, lalu ibunya dijauhkan agar kelembutan kasih sayang keibuannya jangan sampai meninabobokkan jiwa yang harus tegas dan perkasa. Lebih dari itu, beliau dilahirkan di suatu tanah gersang, jauh dari kebudayaan universal, supaya jiwa beliau jangan sampai tersentuh pengaruh edukatif suatu kebudayaan, peradaban, atau agama. Karena jiwa yang ditakdirkan untuk memikul tugas luar biasa tidak bisa dibentuk dengan cetakan biasa. Oke jangan nangis ya para pembaca..

Muhammad mampu meruntuhkan keyakinan para budak yang merasa bahwa takdir telah menentukan mereka untuk ditindas. Ia diutus untuk menyempurnakan gerakan menentang tipu-daya, kepalsuan, syirik, kemunafikan, aristokrasi dan pertentangan kelas. Ia telah mendeklarasikan persamaan manusia, melawan rezim ekonomi kuat (kaum Quraisy) untuk menegakkan keadilan sosial, menciptakan peradaban arab yang disegani dan ditakuti peradaban-peradaban besar sekitarnya. Tokoh yang melambungkan derajat wanita, dari mulanya sebagai aib yang harus dikubur hidup-hidup karena tak bisa untuk berperang dan tak lebih digunakan sebagai rampasan perang. Melahirkan sistem sosial masyarakat yang madani di tengah tandus dan gersangnya akhlak manusia kala itu.

Sebuah pembicaraan yang luar biasa dengan mas-mas angkringan, sayang aku di kudus cuma sementara mas, kalo lebih sering aku kesini mungkin tidak lama lagi aku jadi sufi, tapi gapapa, aku sudah biasa dengan kesementaraan, entah kesementaraan yang menyenangkan ataupun menyakitkan, apapun itu toh semua yang ada adalah pinjaman, aku hanya pinjam raga ini untuk sementara hidup, mungkin aku juga pinjam raga ini untuk numpang mati nanti

Terimakasih, mohon undur diri…


Senin, 28 September 2015

Para Bajingan Tambang di Lumajang



Lihat yang dialami para aktivis, mereka bukan pejabat berkantung tebal yang punya pangkat dan kuasa, yang tidurnya lelap sambil mangap penuh kesan warga beradab. Mereka kadang bermatras koran menemani warga yang tengah berjuang. Mereka yakin realita bukan apa yang mereka lihat dan baca di koran, di tivi, apalagi di instagram dan path, mereka sadar bahwa realita adalah apa yang mereka lihat di pasar, desa, pinggiran kota, di gubuk-gubuk, di mata ibu-ibu...

Aktifis punya apa? Mereka kere, udah kere nggak punya apa-apa lagi, nyawa mereka aja kadang lebih murah daripada tusuk gigi. Para pejuang ini mau minta perlindungan kemana? Polisi? Laporan adannya pengancaman sesungguhnya sudah disampaikan namun kemudian nihil tanggapan. Hey lihat ini tanggal berapa? Jelas ini tanggal tua dan upeti nggak bisa mereka beri, mereka gak mungkin  mampu untuk menyogok aparat bangsat demi perlindungan yang seharusnya  mereka dapatkan. Sialan!

Tanggal 24 September kemarin kita menyaksikan pembantaian massal kambing alias wedus, pasca momentum penjagalan wedus,  para bajingan tengik ini nampaknya belum puas bantai – membantai. Kurban wedus aja diperlakukan secara manusiawi, dibantai dengan didahului fasilitas yang mumpuni, sebelum dibantai wedus-wedus itu diberi kesempatan untuk memenuhi hasrat birahi dan diberi makan sepuas hati. Sebelum dieksekusi, sang penjagal menajamkan mata pisau, dibacakan basmalah sambil nyebut-nyebut asma Allah biar lebih syar’i.

Kemudian wedus ini ama-sama dijagal di depan umum...

Oke, itu wedus, lihat realita yang ada terlepas framming dan keberpihakan media ke arahmana. Ini manusia! Tidakkah bisa kemudian orang berharga ini diperlakukan lebih manusiawi lagi sebelum kau beri mati wahai para bajingan tambang!?

Baca ini https://www.kontrassurabaya.org/siaran-pers/pasir-berdarah-di-tanah-lumajang/

Sabtu, 26 September 2015

KPI dan Nasib Kartun di Indonesia

Piye perasaanmu kalau kartun yang menemanimu masa kecilmu disensor oleh KPI?

Baru-baru ini, belum lama lahh, jagat pertelevisian dan perkartunan di indonesia digemparkan dengan disensornya film dragonball di global tv karena mengandung unsur kekerasan, sebelumnya Naruto juga kena cut, Tom and jerry apalagi, bahkan shandy si tupai di spongebob juga disensor karena menggunakan bikini, lah apa-apaan ini? KPI memang institusi penting yang mengatur apa saja yang boleh kita dengar dan lihat di republik ini, tapi mbukyao Kalo KPI mau nglawak gak kini-gini amat, jadi bagi kamu-kamu yang suka sama one piece, jangan ngimpi one piece bakal tayang lagi di televisi. Penyebabnya adalah banyak cewek-cewek di kartun one piece yang berbikini macam nico robin dan Nami, sungguh sangean emang KPI.

Biar bagaimanapun Dragonball mengajarkan banyak hal positif terlepas dari unsur kekerasan yang menurutku sangat subjektif. Kamu tahu scouter? Scouter adalah alat canggih dari planet saiyan yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan seseorang ketika pengguna alat itu berhadapan dengan orang lain, dengan kecanggihannya toh scouter juga tidak dapat mengukur seberapa tingi kekuatan Son Goku, artinya kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja, seseorang yang terlihat lemah dari penampilannya buakn berarti tidak memiliki kekuatan yang tersembunyi, begitu pula dengan Bejita, siapa dulunya dalah seorang musuh bebuyutan Son Goku malah menajdi salah satu pahlawan yang membela mati-matian Bumi, bahkan dia mengorbankan nyawanya ketika berhadapan dengan Mejin Buu, artinya adalah setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri, ini yang gak dilihat oleh KPI

Bak cacing didalam tanah, sesuatu yang menguntungkan malah dihilangkan. Minggu pagi jam 10 mau lihat tv nih pas nyalain bawaannya malah pengen banting tuh tv,
Dulu jaman aku SD nontonku doraemon tapi sekarang acara musik abal-abal yang disuporteri banci bloon, mau ganti channel lain eh g ada yang bagus, ditungguin lhadalah acaranya 3 jam!. Then What? Malem mau lihat lagi eh udah berubah jadi kebun binatang jadi-jadian tuh tv. Apa-apa ini? Mending aku nonton radio!

Jaman aku sekolah, pas istirahat kita mainnya di kantin biar bisa godain adek kelas barangkali bisa jadian , lha anak sekarang kalo istirahat malah pada tiduran di kelas sambil download foto siluman jadi-jadian. Pertamakali pegang HP, kalo gak salah pas esempe, wallpaper di hpku isinya naruto, atau gak ya tamiya, lha anak smp sekarang? Wallpaper Hpnya kalo cewek Aliando, kalo cowok ya Prilly latucosina, kalo gak percaya cek  aja hp adekmu, lha apa-apaan ini? Bahkan sekarang kehidupan cinta-cintaan sudah masuk bangku sekolah dasar! Dulu jaman aku sd, anak-anak sd tasnya gambarnya kartun atau gak robot, ada juga yang tersanjung tapi gak banyak, sekarang anak-anak sd gambar di tasnya cewek dan cowok cakep yang sering nongol jadi siluman di tv, ada bagusnya sih, jadi para orang tua murid ini bisa hepy pas lagi nganter anak –anak mereka, tapi kita sedang tidak membahas pubertas kedua bapak ibuk mereka, kita sedang membahas tontonan generasi muda!

Kita harus jujur melihat realita,  sekarang coba kita lihat, anak anak generasi 90an yang hidup di era "kartun tanpa sensor" dulu apakah semua jadi penjahat brutal yang gila kekerasan? ga ada sama sekali malahan. Kalo ada ya bukan karena kartun, tapi karena frustasi dengan keadaan negeri yang cuma gini-gini, ya salahsatunya karena kamu-kamu ini, yang kurang baca buku dan diskusi, bisanya cuma main path dan instagram guna menaikkan eksistensi diri (sambil nunjuk kaca di kamar mandi). Sorry to say, kalo aku lebih menyarankan supaya anak-anak nonton tom and jerry yg "terlalu banyak unsur kekerasannya" daripada nonton sinetron yg bnyk menampilkan kehidupan kelas atas dan cenderung tidak mendidik macam relassi pertemanan remaja yang saling membeda-bedakan, dunia malam, sikan dendam, iri hati dan sebagainya.  Coba lihat sekarang, snak-anak pada niruin joget alay, anak-anak praktekin adegan sinetron sampah, anak-anak nyanyiin lagu cinta-cintaan, anak-anak meniru adegan bercinta orang dewasa, anak-anak niruin joget gasenonoh, nahh itu maksutnya gimana I,ka-pe-i? itu gimanaaaa?

Padahal kalo kita mau jeli menilai dengan framming yang jelas dan cerdas, hampir semuanya adegan kekerasan kartun itu justru mengajarkan anak-anak bisa membedakan hal yang baik dan hal yang buruk, sebagai contoh cerita yang umum adalah kekerasan antara pihak baik dan pihak jahat, yang ditampilkan di Dragonball atau kartun-kartun lain misalnya, setiap perkelahian yang terjadi pasti memilili asbabun nuzul, dengan mindset utama "kebaikan akan selalu menang, dan kejahatan akan selalu kalah", anak-anak jadi punya mental dan sifat "pahlawan"  mereka jadi tau bahwa sifat-sifat "penjahat" itu harus dijauhi. Mungkin orang-orang di KPI masa kecilnya kurang nonton kartun gegara kebanyakan nonton tersanjung, siapa tahu?

Masih ingat dengan film street fighter versi 90an? Apa yang dilakukan Vega ketika melakukan brainwash kepada blanka? Itu yang sedang terjadi terhadap pertelevisian di republik ini.
Selamat ya KPI, teruslah berkarya, teruslah mengabdi terhadap negeri dengan memilah tontonan-tontonan di republik ini

Tapi yang jelas, kalo keadaan pertelevisian masih tetap seperti ini, aku berjanji, jika aku bertemu dan menikah dengan dara pujaanku nanti yang kemudian punya beby, mungkin aku gak akan beli tv untuk anak-anakku nanti.

Selamat datang generasi yang hari minggu paginya gak punya tontonan

Generasi yang  Cuma taunya cinta-cintaan...

Selasa, 22 September 2015

Pekerjaan VS Kebahagiaan, Mana yang Lebih Susah Didapatkan?


Untuk yang sering bertanya-tanya di sela-sela boker paginya; Mana yang lebih susah, mencari pekerjaan atau mencari kebahagiaan? Untuk mahasiswa ndableg macam aku mungkin bakal beranggapan bahwa mencari pekerjaan lebih susah dibanding nyari kebahagiaan, lha wong nyatanya emang benar kok. Tapi ndableg-ndableg gini aku udah punya pekerjaan loh; pekerjaanku adalah mencari pekerjaan. Ok, jangan menghina dan jangan diteruskan, bisa-bisa sempak melayang.

Mencari pekerjaan itu suatu perjuangan, kadang kamu ditolak begitu saja ketika kamu masukun berkas, tanggapannya beraneka ragam, bisa karena nilai wawancaramu kurang, bisa karena kamu nggak memenuhi kriteria yang dibutuhkan, atau bahkan yang paling tragis karena mukamu kurang meyakinkan. Apalagi di era MEA sekarang, sainganmu bukan tumino, tumini, atau tumijah lagi, tapi si elino, elini dan Elijah (Wejiannn). Otomatis kamu juga harus menguasai bahasa mereka supaya kalo toh bisa bekerja di “panggung” yang sama bisa saling memahami satu sama lainnya.

Tapi harusnya ada asimilasi yang baik disini, dimana kita sebagai sebuah bangsa gak hanya mempelajari apa-apa saja yang bisa dipelajari dari mereka, tapi mereka juga belajar dari kita, salah satunya tentang bahasa. Nah disini ada yang agak anu menurutku, kok ya bisa-bisanya Jokowi menghapus kewajiban berbahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia, lha kok enak tenan mereka, jujur aku gak rela, dalihnya sih dia bilang supaya arus modal yang masuk ke Indonenesia bisa lebih lancar, tapi apagunanya investasi lancar kalo harga diri bangsa ambyar? Gimana gak ambyar? lhawong mereka bakalan kerja di Indonesia, tinggal di tanah Indonesia, bernaung dibawah langit Indonesia, makan dari buminya orang Indonesia, minum dari airnya orang Indonesia, lha kok sekonyong-konyong dimudahkan dengan gak perlu pake bahasa Indonesia, sumpah ini nggapleki, Ini bakal melemahkan daya saing kita sendiri.

Nah, karena lapangan pekerjaan untuk kaum-kaum inlander udah agak susah, mending kamu-kamu ini balik kampung trus nyawah, heh jangan salah! Kita sebagai mahasiswa yang katanya peduli terhadap ketahanan pangan mbukyao jangan muluk-muluk, kalo bahasa jawanya ndakik-ndakik sok-sokan swasembada. Coba sesekali main ke Purwodadi atau Pati, disana anak muda yang nyangkul dan nandur padi bisa dihitung dengan jari. Bayangin kalo belasan tahun lagi petani-petani tua itu sudah dibebas tugaskan sama gusti allah di bumi, mau makan apa kita? Batu akik? Karepmu kalo kamu mau, harusnya kamu masuk jurusan pertanian, malah masuk jurusan pemerintahaan dan hoby facebokan, dasar orangutan! (ngomong sama kaca)

Aku ada ide sih sebetulnya supaya kita masih bisa tetep swasembada pangan dan tetap menjaga harga diri bangsa. Mengingat anak-anak muda kita sudah sedikit yang  bisa nyangkul dan nanem padi, bisanya nanem di hay day doank, ditambah dengan derasnya arus tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia berkat adanya MEA, kenapa gak kita tempatkan pekerja-pekerja asing ini jadi pak tani dan bu tani di seantero negeri? Tapi sistemnya bukan sewa lahan lohya, lumayan kan? Jadi kita gak hanya ngimpor beras Vietnam aja, tapi ini ngimpor yang nanem berasnya langsung! Harusnya Negara ini lebih kreatif dalam urusan impor mengimpor hehe

Udah paham kan betapa ruwetnya kita sekarang kalo mau nyari pekerjaan? Nah, kalo untuk urusan mencari kebahagiaan itu sebenarnya enggak susah, modal dua ribu rupiah udah yoi banget, dua ribu itu bisa buat beli es nutrisari rasa anggur di burjo, kita bisa ngobrol rono-rene sama aak-aak burjo dan bagiku hal itu udah lumayan untuk menghilangkan kegelisahan.

Suatu ketika, pernah aku bertanya,

“Kira-kira kalo aku masakin makanan buat cewek yang aku suka bolah gak ak?”

Dia jawab,

“Bagus itu! Gapapa dimasakin yang gak boleh dimasukin”

“Kamprettt!!!”

“Iya itu maksutnya, nggak boleh kalo sampe dimasukin kampret ke masakanmu Den”. Ok aku gak usah nerusin lanjutan percakapan mbelgedes macam itu haha

Yang jelas aak burjo ini kadang lebih pengertian dari kamu, iya kamu!
Dosbingku…
Dia selalu ada disaat aku membutuhkan…

Sabtu, 19 September 2015

Tentang Kilafah

Ada apa memang dengan kilafah? 
Kenapa tiba-tiba serius, Den?

Gak.. aku gak bakal nulis secara serius tentang apa dan bagaimana sistem kilafah itu sekarang didamba-dambakan oleh beberapa umat dan mahasiswa di kampusku kok. Atau mungkin di kampusmu malah? Gini, anggep saja aku lagi bangun tidur siang dan bingung nulis apaan, trus keluar kosan ngecek jemuran eh ternyata sempak cucian belum kering, kesal plus emosi yaudah akhirnya nulis tentang kilafah.
Pertanyaannya adalah kenapa harus nunggu pengalaman sial mendapati sempak cucian belum kering baru cespleng nulis ginian? Gatau, mungkin sempak adalah salah satu sumber inspirasiku (abaikan)

Kilafah adalah frase yang akhir-akhir ini laris manis bak leker paimo, disana sini dan dimana-mana para mahasiswa asyik diskusi tentang sistem negara purba itu. Entah mengapa frase ini semacam ngena banget ke mahasiswa, pro kontra yang ada terkait sistem ini justru menjadi sarana marketing yang ciamik. Sasarannya tau? Tentu ndes-ndes rohis kemarin sore, biasanya ndes-ndes rohis yang levelnya level sosmed. Mereka rata-rata penggemar fahri hamzah dan ustad jonru.

Kalau aku sih mandangnya gini, utopia akan sistem masa lalu itu diawali dari rasa pesimis melihat sistem demokrasi yang tak kinjung membawa perbaikan hajat hidup orang banyak,  lalu mereka kangen sama kerennya masa kulafaur rosyidin, kangen dengan masa kejayaan islam, masa khalifah yang kata mereka serba oke, sempurna, dan tak ada sempal-sempalnya, hingga ada pula yang ngoceh kalau sistem khalifah adalah sitem tunggal yang diridloi Allah Swt di muka bumi, pertanyaannya adalah kenapa kalau sistem kilafah diridloi lantas kemudian turki ottoman runtuh? Bahkan untuk orang-orang yang tidak mempercayai khilafah dianggap kafir dan melawan islam, adapula yang melarang untuk hormat kepada bendera merah putih karena dianggap thogut, walahhhh, kok jadi ribett gini yak?

Sistem kilafah semakin populer karena memang juga diwacanakan oleh ustad-ustad dadakan. Iya kubilang ustads dadakan, di negara ini memang mudah untuk menjadi ustad, tak perlu ngoyo dan ribet  jadi santri trus takdzim ngabdi sama kyai mengkaji berbagai kitab suci hingga kitab kuning yang rusak sekali karena sudah dibaca berkali kali. Semua itu tak perlu! Kalau kamu sering ikut seminar pake peci, rajin retwet dalil-dalil agama entah siang, sore, malam atau pagi, kamu bakal dapet gelar ustads oleh teman kampusmu. Gampang to? Enak to? Mantep to? Sinih tak gendong trus tak cemplungin kali biar kamu waras.

Aku pernah diskusi  tentang apa itu khilafah kepada ndes-ndes rohis yang berlebihan mengagung-agungkan khilafah, benar dugaanku, jawabannya ngalor-ngidul, ngono-ngene- ngah-ngeh-ngoh. Iya aku sudah menebak sejak awal, karena yakin pasti mereka belum belajar apa-apa tentang khilafah, antropologi masyarakat pada saat itu, geografi, ekonomi, konflik suku, asbabun nuzul, pembagian kekuasaan, hingga dinasti-dinasti feodal islam beserta revolusinya, palingan belajarnya hanya taklid kepada akun ustad-ustad sosmed, cukup beli kuota internet dua giga juga langsung merasa pinter mereka. Sembruwet apa jawabannya? Sembruwet esay dan karya ilmiah mahasiswa yang apes belum menang karena bahasa dan konteksnya basa-basi dan gak mengakar, yang rencananya jadi pelurus suatu kebijakan, tapi nalar dan potitioningnya kering dan tandus, tapi gak papa,mereka jauh lebih keren pernah ikut lomba meskipun kalah, suatu saat kudoakan kalian yang jadi juaranya, syarat dan ketentuan berlaku tapi; jangan suka pake sempak terbalik!

Lanjut yak, jawaban mereka tentang khilafah, Pasti larinya ke hal-hal pragmatis, jika masih gagal, pasti mereka pake logika argumentem cocodtem sekarepem, logika itu menjelaskan kalau aku gak sepakat dengan sistem kilafah ya itu artinya aku tidak percaya pada islam dan bukan bagian dari mereka, yasudah kalo gitu aku juga bisa pake logikaku sendiri yaitu logikakus logikakus logikamus logikamus sekarepmus, loh namanya masih panjang dan kerenan aku kan hahaha. Kalau sudah mulai terdesakmereka malah share link blogspot. Lha kok enak tenan…

Sekarang gini. Secara logika yang aku sumberkan dari sejarah, landasan yang gampang nampak dari khilafah itu menggunakan syariat islam untuk melindungi semuanya tanpa sekat-sekat agama, geografis, dan ras. Tau kan maksudnya tanpa sekat agama tanpa sekat geografis tanpa sekat ras? Tapi, kalo mereka masih ngotot mendirikan khilafah dengan membid’ahkan pancasila, mengkafir-kafirkan demokrasi, mengharamkan semua barat menghalalkan semua timur, bacotan sektarian, dan memeranginya ‘cuma karena’ nggak ada legalitas formalitas tulisan syariat islam, ya logikanya enggak jalan, kalo masih alergian dengan berbagai aliran dan perbaikan produk pikiran berarti mereka tuh kayak orang Korea Utara yang baru tinggal di Indonesia. Manusia itu dinamis dan sistem harus selalu berkembang serta memperbaiki dirinya, berhubungan dan berkesinambungan, saling mencampuri untuk mencapai level yang lebih hakiki. Jangankan mau dikasih syariat islam, mereka diliberalkanpun, melindungi yang cuma minoritas saja nggak becus kok mau sok-sokan pake penyeragaman. Khilafah ada karena masyarakat memperbaiki dirinya, bukan khilafah harus ada untuk memperbaiki masyarakatnya. Kalo kebalik, nanti peradaban mundur lagi jadi feudal sehingga kalian justru akan dipermainkan oleh figur khilafah jadi-jadian. Paham?


Sudah dulu yak, aku gak nyangka kalo inspirasi dari sempak bisa bikin tulisan kayak gini, kau memang multifungsi fakk, i love u…


Jumat, 18 September 2015

Jenggot, Celana Cingkrang dan Atheis

 Kamis pagi itu aku lagi kangen sama kampus, biasanya kalo ada mahasiswa baru, banyak berkeliaran tuh isu-isu yang agak lucu terkait mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam kelompok tertentu, yang biasanya tersampaikan dengan hipotesis dangkal, takhayul bahkan gak masuk akal. Sumpah aku lagi pengen denger bisik tetangga yang biasanya rame bersliweran di kupingku yang lancip ini. Aku waktu itu pake topi, jaket parka dan kacamata, persis seperti maling motor yang ketangkep di depan kampus arsitek minggu kemarin, tapi aku berani jamin bahwa aku gak punya hubungan darah dengan tuh maling, yakin! Yang jelas di pagi itu orang gak akan sangka kalau yang bertopi, berparka dan berkacamata ini adalah maling, eh aku! Sengaja memang, itu trik untuk menutupi aura arogansiku yang kata mahasiswa fisip yang belum kenal sama aku mukaku keliatan tengil dan intimidatif, serah mereka lahh haha

Mahasiswa angkatan dua ribu tua kayak aku gini udah jelas pasti gabut sebetulnya masuk kampus, gak ada kuliah lagi pula, yasudahlah nongkrong-nongkrong depan gedung d aja barangkali ada kicau-kicau merdu. Duduk di depan gedung d eh neuron-neuron otakku mendadak berkontraksi, dahiku mengernyit tatkala kudengar ada kelakar seorang mahasiswa  yang angkatan dua tahun dibawahku ngobrol sama adek kelasnya, aku emang gak populer di kampus tapi aku tahu dia, dan dia gak tau kalo manusia disamping orang yang dia ajak bicara adalah aku, jarak kami memang agak jauh waktu itu, kalo tidak salah dua jengkal hehe. Topik pembicaraan mereka menyentil akal sehatku, adek kelas dua tahun dibawahku itu menyampaikan wawasannya kepada mahasiswa baru, dia sampaikan bahwa pria di depan gedung C yang pake celana cingkrang dan jenggot itu adalah bagian dari kelompok islam garis keras di kampus, calon teroris katanya, sang maba manggut-manggut aja, kemudian sang maba bertanya tentang kelompok-kelompok apa saja yang ada di kampus, sang adek kelas yang dua tahun dibawahku menambahkan lagi bahwa adalagi kekuatan dominan yang ada di kampus, yaitu kelompok yang berideologi kiri dan rata-rata berkelakuan kurang baik bahkan atheis, dia menganjurkan supaya sang maba jangan dekat dekat dengan kelompok-kelompok dominan ini kalo pengen kehidupan perkuliahannya tenang. Woooww  sakti ni orang pikirku, dia bisa melihat bibit-bibit teroris hanya dari tebal tidaknya jenggot dan cingkrang tidaknya celana orang, dia juga bisa mengetahui kedalaman hati orang dan melihat ada tidaknya tuhan di dalam sana. (mungkin dia juga bisa melihat warna sempakku apa, tanpa sadar tiba-tiba aku langsung nutup slangkanganku) LUAR BIASA! mungkin adek kelas yang dua tahun dibawahku ini suatu saat bakal masuk ke SEMPRUL (Serikat Mahasiswa Paranormal Unyu dan Lucu) sebuah lembaga non struktural/LNS bentukan dia sendiri. Aku heran, sejak kapan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas diponegoro menerima paranormal?

Aku memilih waras dengan tidak ikut berbincang dengan dua adek-adekku yang lucu itu, aku gak mau ikut-ikutan jadi paranormal, khawatir sukses aku, apalagi ki joko bodho udah pensiun dari dunia perlelembutan itu, ah enggaklahh, aku masih pengen jadi kyai haha. Aku hanya bisa nulis di blog.

Gini loh dekk, kalo toh adek memandang jenggot mas-mas mahasiswa disebelah sana bukanlah jenggot yang ramah lingkungan, ya monggo diingatkan, tapi mbukyao jangan kemudian sampe dipasang tulisan silahkan buang sampah di atas jenggot ini, itu bukan ramah lingkungan lagi namanya tapi sontoloyo! Meskipun adek gak sampe hati atau belum melakukan itu, yang jelas jangan sampe sekreatif itu bersikap dek. Toh mas-mas sebelah sana nebelin jenggotnya juga gak minta duit ke adek buat beli minyak firdaus kan?  Terus kalo celananya cingkrang kemudian dianggep sebagai islam garis keras juga menurutku agak anu, bisa jadi celananya kegedean trus gampang mlorot, makanya dikencengin sampe ke udel pake gesper, kenapa gak mikir sampe sana? Yah memang kampus ini membebaskan nalar mahasiswanya sih, aku gak boleh menyalahkan imajinasimu dek, dengan kesaktian luar biasa sampai bisa melihat ada tidaknya tuhan di hati orang kupikir adekku yang satu itu jauh lebih hebat di banding raden kian santang bahkan nabi ibrahin A.S, Saranku dek, kalo mau pintar tapi malas belajar, ya tu kepala slulupin aja ke ember yang isinya tolak angin. Dan satu lagi, aku  gak paham dunia perjenggotan, tapi ada temanku yang paham dunia perjenggotan dan juga paham betul dengan urusan dunia perjembitan. Jenggotnya cukup tebal tapi aku gak tahu dan gak mau tahu jembitnya tebal atau tidak, yang jelas dia bukan teroris, aku sering konsultasi masalah perjembitan ke dia, satu yang kupahami adalah rawat itu jembitmu jangan biarkan njrawut-njrawut dan  memanjang hingga lebih dari 40 hari, penting itu, siapa tahu bakal tambah cerdas! 


Senin, 14 September 2015

Nyanyian Sumbang

Kau tahu suaraku sumbang, meledakkan kuping

Tapi kau sedia menyanyi bersama
Kita berbagi tugas, suara sumbangku hanya keluar sesekali

Mendapat jatah sebagai pengiring
Lalu ternyata kita membuat bising sekeliling


Sekarang nada do saja enggan kau ucap
Tentu saja mendadak hening

Keengganan yang kau tampilkan adalah petaka
Membuat lagu ini kehilangan warna


Kau ingin jeda sejenak

Pita suaramu sudah bernyanyi terlalu lama
Lelah engkau bernyanyi
Dan aku tak boleh memaksa, karna aku tahu diri

Jika aku bernyanyi sendiri, orang akan mendadak mual
Semenit kemudian berduyun-duyun memuntahkan isi perut

Aku benar-benar tidak berbakat
Tanpa kau yang menyanyi di sebelahku
Nyanyian ini semakin sumbang

Sinonim Embun Pagi

Di suatu sujud dimana matahari masih sembunyi
Aku memilih menurutimu untuk tidak berbangga diri
Mengkonstruksi drama yang mungkin hanya kabetulan
Dimana dua orang asing dipertemukan dan diam-diam saling memperhatikan
Pelan-pelan sisa embun pagi menjadi sinonim dari sebuah ketidakjelasan

Engkau nyaman disana nampaknya
Dalam pengandaianmu tentang kebebasan yang mungkin akan kurenggut
Yang mana aku tidak seperti itu
Rinduku kau singkap, namun ia nakal
Ia menyelinap dan kemudian terperangkap

Masih diatas kain persegi merah ini
Aku ingin kau syukuri, entah sebagai sebuah pagi
Entah sebagai aroma kopi
Atau sekedar bunga sedap malam yang wanginya meninabobokkan
Hmm tak tau diri aku memang…

Bibir ini diam bukan berarti tak ada yang ingin disampaikan
Kau pasang pagar didepan rumah
Aku bisa saja mendobrak, namun aku mengahargai keasyikan baru yang ingin kau rasakan
Disana, di pelipir kesendirianmu
Aku tak boleh memaksakan, aku mengalah
Rinduku enggan berkata, mungkin bait-bait ini dapat mewakili
Malam selalu disambut pagi
Begitupula sabarku suatu saat pasti terganti

Aku ingin mengukir senyummu
Memotretnya dan memajang di dinding biru kamar kosku
Lalu mengirimkannya lewat surat kecil beramplop biru
Akan kutunjukkan padamu betapa senyummu sangat meneduhkan
Meski tak ada garansi senyum itu tercipta memang untukku
Tapi aku ingin membeli lisensi itu
Lewat setiap sel, molekul dan anatomi tubuhku
Lalu ditambah pelicin berupa mantra yang kurapal di tiap sujudku
Tenang saja, bukan mantra pellet yang akan kubaca
Hanya doa biasa yang sederhana

Suaramu yang melagu membangunkanku itu membekas
Bukan salahmu, itu bukan kesalahan siapapun, tapi itu menjadi urusanku
Dimana aku yang merasakan  pagi itu adalah pagi yang sempurna
Suara hangat yang istemewa yang tak tahu harus kubayar dengan apa
Surga kecil di pagi itu menjadi kenang dalam pagiku yang mulai menghilang
Aku kebingungan...

Entah jam tanganku atau sinar surya yang terlalu bergegas
Yang jelas dini hari mulai menyiang
Terekam samar-samar mulai buyar rona hitam
Dan takdirku denganmu masih sibuk berkemas
Entah kemana, kita tidak tahu...

Sabtu, 12 September 2015

Goa Serigala Tua



Pernah dulu di masa mudanya…

Di suatu sore yang matahari terlihat ingin sembunyi, sekelompok serigala muda tengah asyik mengoyak daging buruannya. Seekor babi hutan yang malang menemui ajalnya lewat cakar dan taring serigala-serigala muda itu, dengan beringas serigala-serigala muda merobek perut mangsanya, mereka berebut untuk menyantap daging dan jeroan babi kecil itu sampai hanya menyisakan tulang. Namun ada seekor serigala yang nestapa karena tak mendapat jatah layak dari jerih payah kolektif mereka. Serigala itu hanya makan daging sisa, badannya kurus kering, kalah body memang…

Dia tersisih…

Suatu hari ia berburu rusa, rusa itu gendut namun lincah, ia mengendap penuh kehati-hatian, ia intai rusa itu perlahan, sejurus kemudian secepat kilat ia melesat mengejar rusa lincah itu. Ah! Serigala muda memang perkasa, otot-otot yang menempel pada daging dan tulang kakinya menambah speed berlari, taring dan cakarnya runcing, sangat ganas dan trengginas untuk mencabik-cabik mangsanya. Dia dapatkan rusa itu sendirian, menyantap perlahan mulai dari leher, leher tinggal tulang ia beralih ke perut dan merobek-robeknya, sayangnya rusa itu terlalu gempal untuk dia habiskan dalam satu waktu, serigala itu kekenyangan, ia seret tubuh tak berdaya itu ke goa peristirahatannya, ia tertidur pulas, paginya ia dapati bangkai rusa buruannya sudah hilang, mungkin dicuri hyna pikirnya, mungkin juga dimakan serigala lainnya, yang jelas ia kecewa hasil buruannya hilang dicuri hewan lain…

Serigala muda itu berkelana meninggalkan goa, telah banyak kekecewaan yang ia alami di tempat peristirahatannya itu, mulai dari pengalaman tak mendapat jatah yang layak dari usaha memburu babi sampai kehilangan rusa buruan. Tempat itu sudah tidak aman untuk meneruskan hidup, dia hijrah…

Serigala muda berkelana jauh, dia semakin mahir berburu, tubuhnya tambah perkasa karena terlatih memburu rusa, jerapah, dan zebra, terkadang bison besar malah. Dia terbiasa melakukan semuanya seorang diri, dia telah menjadi serigala yang tangguh. Dia berkelana ke seluruh penjuru hutan,tidur dari satu goa ke goa yang lain. Pengalaman telah memberinya pelajaran untuk memilih goa mana yang aman ditinggali, hingga suatu masa di musim hujan, goa yang ia tinggali roboh tak kuat menahan beban air yang menghujani tiap harinya, ditambah longsor yang tiba-tiba terjadi semakin menandakan bahwa alam telah mengusir serigala itu untuk pergi mencari goa-goa yang lain.

Lihatlah serigala itu sekarang…

Dia masih berkelana jauh, tubuhnya belum gontai meski usianya mulai menua, dia terus berlari, berburu dan tetap berpindah-pindah dari satu goa ke goa yang lain, hingga suatu ketika ia temukan sebuah goa yang sangat indah di pelipir sebuah tebing. Tebing itu terjal dan curam, sangat berbahaya untuk seekor serigala tua tinggal disana, namun serigala tua itu  terlanjur terpesona, ia buang seluruh ketakutannya untuk terus menuju goa indah itu, ia tidak menyerah dan berhasil masuk ke goa itu. Goa itu lengang tak ada siapa-siapa, namun terlihat bekas kehidupan yang pernah lama menghuninya. Bau darah yang masih terasa dan tulang belulang yang berserakan semakin menguatkan hipotesis serigala tua bahwa pernah ada karnivora tangguh yang belum lama ini tinggal disana, kalau tidak tangguh mana mungkin karnivora itu berhasil menyeret buruannya sampai ke dalam goa yang jalannya terjal dan curam, bahkan belum sampai goa juga pasti hasil buruannya sudah direbut karnivora-karnivora lain yang lebih perkasa diluar sana, kalau tidak tinggal dalam waktu yang lama juga tidak mungkin sebanyak ini tulang belulang yang berserakan. Dasar karnivora sialan!!! Kata serigala itu.

Dengan sabar serigala tua memungut satu persatu tulang belulang itu dengan mulutnya ke luar goa, sungguh sabar serigala tua itu membersihkan sampah yang ada di dalam goa,kerja kerasnya membuat goa pelipir tebing indah kembali. Serigala tua telah lelah berkelana dan sudah semakin menua, ia telah memantapkan hati untuk hidup di goa indah pelipir tebing sampai dia mati.

Musim berganti, sekarang kemarau panjang…

Kemarau panjang telah membuat hewan-hewan lain pergi dari hutan di sekitar serigala tua tinggal, kuda-kuda berlari pergi mencari rumput segar, zebra, jerapah dan hewan herbivora lain juga telah menghilang karena persediaan rumput ilalang mulai tiris. Sejalan dengan siklus rantai makanan, para karnivora juga ikut hijrah mengikuti hewan buruannya, burung tak lagi bernanyi, jadilah hutan yang dulu penuh hiruk pikuk itu menjadi sunyi, lalu kemana serigala tua?

Ternyata serigala tua masih melolong dibawah kolong malam diatas wismanya, memberi pesan kepada kawan bahwa ia masih hidup dan bertahan meskipun alam rimba semakin menyeramkan, tanpa air, tanpa makanan, seperti tanpa harapan…

Peluh di bulunya tak terlihat mengalir meski ia berkali-kali melolong, udara waktu itu memang agak dingin, tak mengizinkan kelenjar keringat menerobos dinding epidermis kulitnya. Dia berjalan menyusuri malam dan masuk ke sebuah pematang, dia dapati bunga-bunga telah layu bahkan sebagian banyak mati, hanya beberapa yang beruntung mendapat cadangan makanan, salah satunya bunga matahari, dia kagum pada keperkasaan bunga itu, ketika bunga lain tak berdaya dibakar mentari dia justru bertahan dengan gagahnya, warna kuning cerahnya adalah keindahan tersendiri yang akan terlihat sangat perkasa di siang hari, dia ingin menjadi bunga matahari itu pikirnya, dia menelusur lebih dalam lagi ke pedalaman hutan, dia jumpai semak belukar telah mati kekurangan nutrisi, belukar yang dulunya hijau dan rimbun sekarang kuning mengering, disentuh sedikit langsung sempal, mudah saja belukar itu diterobos oleh sang serigala. Dia mengintai apa yang bisa ia intai, usahanya sia-sia, semua hewan telah pergi meninggalkan hutan itu mulai setengah tahun yang lalu, bahkan ternyata babi-babi tua pun ikut hijrah mencari penghidupan yang lebih layak di pedalaman hutan lain, dia sempat berfikir kenapa dulu tidak pergi saja dari goa dan hutan itu ketika musim kemarau tiba? Meskinya ia pergi bersama hewan yang lain untuk menantang terik dan dan panas sang surya demi penghidupan yang lebih baik, bukan malah setia di dalam goa dan hutan yang jelas-jelas miskin harapan. Mungkin dia bakal mati sendirian di dalam goa, dalam keadaan sepi dan sendiri. Dia melamun dan berfikir keras.


Lama dalam lamunannya, sebuah partikel nakal menghinggapi pelupuk matanya, terlihat ada guratan kebahagian dalam wajah serigala tua, lama-lama partikel nakal itu menyerbu serigala dan sekelilingnya semakin banyak, serigala tidak terlihat takut dengan serbuan partikel itu, dia justru membaui partikel-partikel itu dan terlihat tersenyum, dia rasa musim hujan telah datang…

Serigala tua itu masih saja merasai pesan yang dibawa hujan, dia beristiqomah dalam hati bahwa ternyata semesta masih butuh kehadirannya, dia melolong kembali untuk bersyukur kepada alam yang masih memberinya waktu. Hujan yang turun membasahi hutan itu telah secara tak langsung ikut membasahi semangat dan harapan sang serigala tua, semangat dan harapan yang hampir mati itu kini bersemi kembali. Derasnya hujan telah memberinya keyakinan bahwa akan ada perubahan radikal di dalam hutan. Dia bungkam penyesalannya yang semenit lalu muncul, dia tidak menyesali pilihannya untuk memantapkan hati tinggal di goa indah pelipir tebing.
Dia pulang ke goa pelipir tebing, kakinya kotor karena becek, badannya basah menggigil dan kedinginan, dia tertidur di dalam goa pelipir tebing, dengan senyum dan secerca harapan…

Bersambung…