https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Jumat, 25 Desember 2015

Yesus Sang Revolusioner

Aku pernah ke ambarawa bareng teman2  KKN  pada September 2015 lalu, perjalanan aku tempuh dengan armada bumblebike alias motor kunimg kesayanganku, singkat cerita di Ambarawa, aku dipandu oleh 2 teman pribumi asli sana, Agnez dan Dian namanya. Salah satu tempat yang kami lihat-lihat adalah gereja Goa Maria Ambarawa.

Berdiri di halaman pelatarannya saja sudah membuat aku takjub. Arsitektur bangunannya unik, tumpukan-tumpukan batu alam, jauh dari aroma sentuhan bergaya eropa abad pertengahan. Untuk para pegiat selfier, sangat cocok sebagai obyek berselfie. Tapi khusus untuk mas Felix Siauw, aku sarankan jangan, karena selain selfie sendirian itu nggak baik (kecuali avatar twitter mas Felix), selfienya pun di gereja. MasyaAllah, apa nanti kata pengikutmu mas. Bisa-bisa mas Felix dikafir-kafirkan karena bersilaturrahmi dengan sang mantan. Oiya, selamat hari natal ya mas Felix, sudah akur dan baikan sama mantan belum? Jangan berantem mulu ya, udah gedhe gitu kok, jangan kayak remaja ababil.

Tidak banyak yang bisa aku serap saat ke tempat ini, selain sebagai tempat ibadah, disini juga menjadi salah satu lokasi wisata favorit para hijaber-hijaber nusantara dari dalam maupun luar kota. Suasana disana sejuk dan asri karena banyak taman dan pepohonan, bersinergi baik dengan lingkungan. Sungguh sebenarnya aku sedih jika melihat tempat ibadah yang suci namun halamannya malah di aspal rata, betapa durhakanya pada alam, betapa durhakanya pada tanah, betapa durhakanya pada kehidupan bawah tanah, karena akar dan bangsa cacing tak memperoleh resapan air hujan dari Tuhan. Jika pengelolanya adalah seorang yang arif dan berwawasan luas, aku yakin bukan aspal yang dipilihnya, namun paving. Kemudian dihiasi pula banyak tanaman untuk turut berdzikir di tengah lantunan ibadah para manusia. Itulah yang aku namakan sebagai salah satu harmoni perpaduan keromantisan semesta.
 *Aku kan cowok romantis

Pasca dari ambarawa, pulangnya aku jadi inget Gereja Pohsarang di Kediri, di Pohsarang, kau bakal menemui 3 destinasi utama lain yang tidak kalah menawan. Yaitu Goa Maria, beberapa Auditorium terbuka dengan cerita-cerita di dindingnya, dan perjalanan waktu bernama Jalan Salib. Untuk natal hari ini, aku ingin bercerita banyak tentang Jalan Salib, yang paling membuat aku tertarik.

Goa Maria berpenampakan seperti sebuah tebing besar, di bawahnya terdapat banyak nyala lilin, dengan tikar-tikar para jemaat yang berdoa mengharap selamat. Aku tidak tahu itu benar goa atau tidak, karena mulutnya ditutup pagar. Namun yang pasti panorama yang tersaji membuat aku jatuh hati.
Kemudian Auditorium terbuka, yang entah nama tepatnya apa. Ada banyak auditorium disana, masing-masing auditorium terdapat lukisan-lukisan cerita masing-masing bab. Jika disatukan akan menjadi seperti cerita sebelum Yesus tiada sampai Yesus telah dipanggil yang maha kuasa.
Kemudian ada rute perjalanan masa, Jalan Salib namanya. Ini mirip Auditorium tadi, namun di sepanjang perjalanan ada patung-patung bisu yang mendongengkan masing-masing peristiwa. Cerita mulai dari pra-Yesus lahir, hingga pasca yesus disalib dan berakhir. Aku nggak akan cerita bagaimana kisah-kisahnya, aku yakin pasti sedikit banyak kalian sudah pada paham ceritanya, aku sendiri gak paham-paham betul kok haha. Namun yang ingin aku tulis disini, adalah perenungan-perenungan apa saja yang masih aku ingat hingga kini, saat berfantasi ke Jalan Salib.

Yesus, menjadi pemuda dengan otak yang 10 langkah lebih maju dari jamannya, memang seringnya akan menemui banyak musuh dan rintangan nyawa. Sebagai seorang manusia yang sudah adil sejak dalam pikiran (seperti kata pramoedya: orang terdidik harus sudah adil sejak dalam pikirannya), tak mudah baginya untuk menyeberkan ideologi kasih sayang dan pembebasan para budak waktu itu, Yesus yang bukan siapa-siapa harus menghadapi mayoritas budaya di bawah feudalisme kekaisaran imperium romawi.
Tak cuma yesus, nabi Muhammad pun belum sukses dalam agenda penghapusan total yang bernama perbudakan di dunia. Namun yang namanya ideologi, tak akan pernah bisa dimatikan, sekalipun orang-orangnya diculik, diasingkan, kemudian dibunuh tanpa kabar. Ideologi dua manusia suci tersebut terus menyebar ke seluruh pelosok-pelosok dunia, hingga mempengaruhi sejarah panjang peradaban umat manusia. Salah satunya, mulai dari revolusi Perancis, kesetaraan gender, dan penghapusan perbudakan sebab setiap manusia yang lahir memiliki hak untuk hidup merdeka. Seandainya yesus dan nabi Muhammad kala itu berani dengan lantang menyerukan "Perbudakan adalah Bid'ah!", mungkin birahi-birahi revolusi yang terjadi di setiap belahan bumi, akan memuncak lebih dini hahaha maybee.

Tentu bukan perkara gampang untuk berteriak lantang, jaman dulu jika sembarangan berani berkata seperti demikian, bagaikan menantang hunusan pedang satu pleton kerajaan. Kaisar romawi bisa ciut nyali, tidurpun selalu gelisah hati bilamana dari sudut desa sana, Yesus mengajari murid dan pengikutnya tentang penentangan perbudakan.

Memangnya kaisar mana yang zona nyaman kedigdayaannya mau diusik oleh sekumpulan proletar-proletar dan budak yang terbuka pikirannya dan menjadi tercerdaskan? Penggulingan kekuasaan adalah hal yang tak bisa terhindarkan. Kaisar paham akan hal itu, maka sebelum itu terjadi, kerahkan seluruh army-army militer angkatan daratnya untuk memburu Yesus, menyalibnya di depan umum, untuk memberi shock-pressure kepada semua warganya. Namun sekali lagi, kaisar hanya mampu membunuh sang utusan, tapi tidak bisa untuk membunuh kebenaran ajaran kesadaran pemikiran.

Galileo pun juga menemui Jalan Salib. Ekstrim dan kontroversial memang  jika berani berkata lantang untuk penghapusan perbudakan di jaman romawi dan jaman jahiliah arab. Galileo saja yang iseng-isengan kurang kerjaan  mengutak atik kebenaran dogmatis teori geosentris dan menyangkalnya dengan teori heliosentris adalah doktrin gereja yang menjadi lawannya! Dan tentu bisa nyawa taruhannya! Tak cuma Galileo, Ibnu Sina pun juga mengahadapi Jalan Salib. Ya, cendekiawan muslim ber-IQ di atas rata-rata itu, yang di jaman sekarang menjadi bahan-bahan klaim sebagai ilmuan muslim, oleh kaumku para sunni. Sebenarnya ia dulu di masa hidupnya juga dikafir-kafirkan oleh kaumnya sendiri para muslim ber-IQ 69. Barangkali di jaman ini, tukang klaimer yang hobi mengkafir-kafirkan syiah dan filsafat tak tahu bahwa Ibnu Sina adalah seorang muslim Syiah yang juga ilmuwan beraliran Aristotelian. Banyak yang seperti Ibnu Sina, namun tak tulis kapan-kapan aja deh (kalo pengen), soalnya ini kan temanya hari natal hehehe.

Dan Jalan Salib Yesus, juga dialami oleh jaman Renaisans yang melepaskan diri dari abad kegelapan. Kelas menengah Renaisans memberontak dari para tuan tanah feudal dan kekuasaan gereja. Seperti filsafat Yunani yang melepaskan diri dari gambaran dunia mitologi yang terkait dengan kebudayaan petani dan nelayan. Renaisans menimbulkan pandangan baru tentang manusia, humanisme renaisans membawa kepercayaan baru pada manusia dan nilainya, yang sangat bertentangan dengan tekanan dari Abad Pertengahan yang penuh prasangka pada hakikat manusia yang penuh dosa. Misalnya seperti tokohnya yaitu Marsilio Picino yang berseru, "Kenalilah dirimu sendiri, wahai keturunan Ilahi dalam samaran sebagai manusia!", kalo disini ya seperti falsafah Manunggaling Kawulo Gusti nya Syeh Siti Jenar, hal yang akan dikafirkan-kafirkan oleh kecebong-kecebong syariah, karena kemampuan level perkutatannya menthok pada syariat, belum sanggup meraba tarikat hakikat dan makrifat, aku sendiri g pinter-pinter banget agama, tapi aku juga g gampang digoblok-gobloki ustads-ustads level sosmed yang patokan tafsir qurannya dari bonus quota internet, di Indonesia ini memang gampang jadi ustadz/ustadzah, tinggal repost akun2 islamiah macam dakwah islam di line atau felix siauw dan jonru di twitter tiap hari sudah nambah pangkatmu jadi ustadz sosmed, hehe maaf ya, mungkin aku bakal lebih takdzim kalo yang menyampaikan tafsirnya adalah ustadz yang memang sekolah dan ngajinya nggenah. Demikianlah perenungan-perenungan yang pernah bergentayangan di pikiran aku saat berkelana di alam semedi kamar mandiku. Dan untuk umat-umat nasrani yang bisa merayakan natal di gereja, aku ucapkan selamat dan puji syukur, bersukacitalah kawan, Mmmuuahhh :*

Tapi jangan lupakan Yesus, pahami dengan mendalam tentang beliau. Karena di millenium dimana kebebalan masih menjadi mayoritas, maafkanlah beberapa kaum seagamaku, yang membuat kondisi dimana pembangunan gereja tidaklah semudah mendirikan karaoke dan bank lintah darat. Tidak ada yang mudah memang, dalam melalui Jalan Salib. Andai jika aku diadzab menjadi ketua masjid, dan kalian tak punya gereja untuk beribadah natal, akan aku tawarkan untuk menggunakan masjid tersebut sebagai tempat beribadah kalian. Selamat hari natal, titip salam buat Yesus ya, dari aku pemuda akhir zaman yang insyaallah disayangi pacar dan mertua, namun baru ingat kalo aku belum punya keduanya
#KODEKERAS!!! HAGSHAGSHAGS ;)  )


Rabu, 25 November 2015

Indahnya Bersenggama, eh Beragama



Ini tentang hidup dalam mengindra alam, untuk memahami kenapa kita tak diturunkan oleh Tuhan di planet Namec yang hanya dihuni satu gender, satu ras, satu sorban, dan satu sekte. Menjumpai lepas pantai, memandang jauh ke depan menembus dimensi batas penglihatan, memandang orang di belahan ujung lain yang juga berdiri tersenyum menatap kita. Saling memahami bahwa kita tak hidup sendiri di bumi, saling memahami bahwa kita hidup untuk saling melindungi, saling memahami bahwa kita hidup untuk saling mengasihi. Di belahan bumi manapun, kuakui semua manusia memang memiliki bakat untuk berkepala bebal karena kurangnya pendidikan dan pemahaman. Berkecambahnya bibit ekstrimis dari sawah bebal ini hanya tinggal menunggu kondisi saja, apakah mereka berada pada situasi mayoritas atau situasi minoritas.

Di Kanada, orang-orang non-muslim berkepala terbuka justru dengan mudahnya menggalang dana untuk membangun kembali masjid yang dirusak oknum bebal ekstrimis disana, bahkan hingga menawarkan gereja untuk dipakai sholat menghadap kehadirat-Nya, rumangsamu malaikat Jibril ora nangis terharu termehek-mehek melihat kejadian itu? Itulah ajaran dari sang Yesus, saling kasih mengasihi kaum tertindas lagi minoritas. Muslim-muslim disana rupanya juga mampu memaafkan, tidak berniat menyerang balik. Karena mereka sadar jika bom harus dibalas dengan bom, habislah sudah manusia, dan itu namanya bukan hukuman, tapi ajang balas dendam. Bukan otak lagi yang dipakai, tapi sudah ke ranah nafsu. Pahami itu, renungi tiap kau beol jika perlu.

Di negeri ini, ijin membangun karaoke dan tempat pijet ples kelonan justru jauh lebih mudah daripada mendirikan gereja dan menjalankan ibadah. Apa yang kalian takutkan dengan dibangunnya gereja-gereja itu? Takut akidah kalian hancur ketika melihat gambar salib? Ayolah tolol itu memang hak tapi juga jangan keterluan begitu, akidah tidak sebercanda itu kali. Atau kalian memang orang ekstrimis lemah iman yang mengklaim sebagai ahli surga? Akui saja, jujur itu nikmat dan mukjizat.

Logika simpel gitu aja belum bisa nyampe kok sudah teriak khilafah-khilafahan, move on sana lho move on dari masa lalu, kalo memang belum belajar apa-apa tentang khilafah jangan sok tau khilafah itu bagaimana, nafsu kok dimanjalkan, kalo memanjakan pacar nah itu rapopo. Kasihan anak-anak kecil musti teracuni virus ketololan ekstrimis. Otokritik itu perlu, supaya kita tahu diri.

Semua manusia memiliki hak untuk beragama dan menjalankan ibadahnya. Tugas negara bukan mengetahui isi doa rakyatnya tapi memastikan bahwa rakyatnya bisa berdoa dengan bebas dan aman, entah bagaimanapun caranya. Yang hobi mencatut nama Tuhan untuk minta saham eh maksudnya menindas kaum minoritas, silahkan pikir, kamu pikir Tuhan suka namanya dibawa-bawa untuk pendzoliman? Iya Tuhan suka jika Tuhan adalah nafsu selangkanganmu sendiri, jadi yang perlu diingat adalah kita ini makhluk yang beragama yang punya akal dan nafsu bukan cuma makhluk yang bersenggama, maaf sante dan selow saja baca gaya tulisanku yang mbelgedes macam gini, jangan keburu emosi, kalau dikit-dikit reaksioner itu artinya lebih mendahulukan nafsu daripada akal, pasti orang-orang yang kayak gitu nafsunya gede dan gampang ereksi

Terakhir yang pengen tak singgung, banyak jalan menuju Roma, namun hanya ada satu jalan menuju hati mertua...

Samlekum...

Jumat, 06 November 2015

Negara Ideal Mahaguru Plato

Murid dari mahaguru Socrates dan guru dari mahaguru Aristoteles, mahaguru Plato namanya, pernah memberikan gambaran tentang "negara ideal". Negara utopis yang beliau percaya, diperintah oleh para filosof, penjelasan mendasarnya dikaitkan pada susunan tubuh manusia.

Singkat cerita. Menurut mbah Plato, tubuh manusia terdiri dari tiga bagian utama: kepala, dada, dan perut. Setiap bagiannya ada bagian jiwa yang terkait, akal bertahta di kepala, kehendak terletak di dada, dan nafsu bersarang di perut. Masing-masing dari bagiab jiwa ini juga memiliki cita-cita atau 'kebajikan'. Akal mencita-citakan kebijaksanaan, Kehendak mencita-citakan keberanian, dan Nafsu harus dikekang sehingga kesopanan dapat ditegakkan. Hanya jika ketiga bagian itu berfungsi bersama sebagai suatu kesatuan sajalah, kita dapat menjadi seorang individu yang selaras atau 'berbudi luhur'. Di sekolah akademica yang dibuat Plato dulu, seorang anak pertama-tama harus belajar untuk mengendalikan hawa nafsu mereka, lalu ia harus mengembangkan keberanian, dan akhirnya akal akan menuntunnya menuju kebijaksanaan.
Berbeda dengan kurikulum sekolah kalian ya? Haha.

Seperti setiap aspek dari filsafat Plato, filsafat politiknya ditandai dengan rasionalisme. Terciptanya negara yang baik bergantung pada apakah negara itu diperintah oleh akal. Sebagaimana kepala mengatur tubuh, maka para filosoflah yang harus mengatur masyarakat.

Dalam kasus negara ideal, pertama, aku mau sedikit out of topic dari apa yang beliau paparkan. Karena aku pernah iseng berfikir bahwa semustinya negara itu nggak ada, mungkin menurut sampean-sampean ini ekstrem, jadi nanti nasionalisme itu nggak ada, semua manusia semua ras semua bangsa harus bersatu dalam internasionalisme humanity. Tak ada lagi sekat pembatas regional, semua berada dalam satu pemerintahan, New World Government. (kayak dunia one piece). Untuk memastikan terwujudnya pembagian sumber daya alam secara merata, dibutuhkan  kepemimpinan yang adil dan bijaksana, menghapuskan perbudakan dan neokolonialisme, Afrika memperoleh pasokan kekayaan Indonesia. Papua nugini dapat pasokan minyak dari dubai, negara berkembang dapat teknologi dari Jepang misal.  Jadi semua warga dunia mendapat pendidikan dan memiliki akses segala fasilitas yang sama, bersatu dalam sumpah persatuan bangsa dunia. Bubar lah apa yang disebut Nation State alias negara bangsa, di Indonesia, sumpah pemuda diganti dengan sumpah bangsa dunia. Kami putra dan putri dunia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air dunia. Kami putra dan putri dunia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa dunia. Kami putra dan putri dunia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa dunia. Namun untuk mewujudkan hal ini, perlu alasan yang kuat, musuh yang sama misalnya. Seperti pemerintahan robotik di sebuah pulau berdaulat yang mengancam eksistensi peradaban umat manusia (hadeuh kebanyakan nonton Terminator, I-Robot, dan Naruto).

Naif ya aku? Lalu aku melakukan otokritik, jika persatuan bangsa dapat terjadi, maka barangkali kita sudah tidak hidup di dunia, namun hidup di surga, alam dimana manusia dapat mengevaluasi kembali segalanya. Karena itulah, supaya dapat terwujud tanpa menunggu kiamat, harus memiliki alasan yang kuat. Bukankah lego-lego nusantara dapat menjadi Indonesia karena memiliki musuh yang sama pula, namun apakah kita harus menetapkan musuh yang sama baru bisa terbentuk yang tadi kusebutkan? Bagaimana kalo yang dianggap musuh adalah sebuah negara besar yang menghegomoni sistem ekonomi dunia? Apakah perlu kita kobarkan perang senjata untuk menggenosida negeri dan bangsanya? Ini yang kusebut jancuklogi, ketika kita menetapkan A adalah musuh, dan C adalah kawan, maka kawan dari A akan memusuhi kita dan kawan dari C akan memusuhi kawan dari A dan A, NATO dan PAKTAWARSAWA adalah petaka untuk menciptakan perdamaian dunia. Intinya perdamaian dunia adalah utopis.

Seperti kata Gunawan Muhammad yang menyangkal adanya demokrasi di surga, sama halnya aku juga menyangkal keberadaan liberalis, kapitalis, sosialis, komunis, nation state atau internasinalisme dan faham apapun di surga, bilamana misal di surga ada komunisme atau kapitalisme dengan banyaknya kritik di faham itu, tidakkah surga akan menjadi tempat yang tidak lagi sempurna?


Lalu yang kedua, perlu mbah Plato ketahui. Kebrilianan pemikir-pemikir jaman Yunani kuno tidak bisa terlepas dari adanya perbudakan. Bagaimana mereka bisa begitu secemerlang hingga mencapai kebijaksanaan berfikir sedimikian tinggi? Pemikir-pemikir Athena tak perlu memikirkan besok musti makan apa dan tak perlu mengerjakan hal-hal remeh temeh seperti mencuci celana dalam kotor kena mimpi basah misalnya, karena ada budak 24 jam yang sudah diperintah, sehingga bangsa Yunani kuno memiliki banyak waktu luang untuk berpikir dan belajar banyak hal mengenai filsafat. Jadi seandainya simbah Plato sedang menyelesaikan skripsinya tentang negara ideal, dalam lembar ucapan terima kasih, aku sarankan untuk memasukkan sumbangsih nama-nama budak yang tak berharga namun sangat bersahaja khususnya dalam perkembangan filsafat kuno sebagai induk sains dunia hehe

Sayangnya Plato kariernya udah abis karena sering cedera di AC Milan, eh ini Plato yang mana? 


Kamis, 05 November 2015

Instal Ulang Driver Agamamu

Bukanlah pencapaian ilmu berupa meringankan tubuh melompat satu atap ke atap tetangga, atau ilmu menyeberangi sungai tanpa kebasahan ketika proses pembelajaran ku-enyam di,proses perkuliahan, ingat "proses" perkuliahan bukan hanya momen ketika duduk nyaman di ruangan ber AC yang anginnya sepoi-sepoi, salah satunya juga termasuk obrolan angkringan kopi pinggir jalan habis karaokean dan hal-hal lain yang menjadi kebiasaan, yang kudapat selama proses perkuliahan adalah sebuah pemahaman bahwa di belantara geologi bumi manapun, tiap agama hampir pasti ada kelompok-kelompok begundal radikal, entah itu baik dari islam sunni, syiah, wahabi, sekte ismaili, kristen, katholik, hindu, budha, konghucu, sikhisme, zoroaster, yudaisme, majusi, neo-pagan, shinto, thaoisme, bla bla bla sampai agama penyembah kancut Zeus sekalipun.
Mereka melalui sekelumit pengalaman rumit sedemikian rupa yang bisa dijelaskan terjemahan alurnya, hingga tanpa kesadaran perenungan merasa diri beriman, dimana perasaan keimanan itu dirasainya sedemikian tinggi hingga mengilhami untuk beringan tangan sanggup mencabut nyawa orang lain, bunuh diri, menghakimi hak tinggal dan beribadah insan lain, atau memprovokasi untuk terjadinya pertumpahan darah di atas tanah.
Ambil satu contoh dari kaum saya sendiri saja (karena otokritik itu penting, supaya otak nggak bebal dan tak alergi kritik kayak orang pekok). Jika mereka tak sengaja khilaf, mereka pun sadar atau barangkali berpura-pura lupa untuk menampik bahwa rosulullah pun dibesarkan oleh pamannya yang kafir. Atau jika sedang mengikuti kumpul-kumpul ngaji ringan membahas murkanya Allah pada hamba-Nya yang menyiksa hewan, mereka mungkin sedang lupa bahwa sekte lain yang sedang mereka nistakan bukanlah kategori binomenal nomenclature-nya hamba Allah menurut asas klasifikasi Carolus Linnaeus. Atau siapa sangka mereka sedang amnesia bahwa jika Allah berkehendak pun, tinggal 'kun fayakun kalian sepaham' maka semua peranakan intim Adam dan Hawa berada dalam satu sekte, namun sayangnya mungkin Allah sudah 'berkun fayakun pekoklah mereka!' sehingga begundal radikal tadipun terpaksa berakal dangkal secara non-artifisal tanpa sesal, dan dedemitpun terpingkal-pingkal menonton kebarbaran mereka yang begitu binal tak kenal asal.
Tak ada salahnya, atau barangkali justru mungkin berkewajiban bagi yang sadar untuk menertibkan koloninya yang dientup siluman kalajengking dari peranakan Ifrit dengan arthropoda delapan kaki peliharaan Gaia si dewi bumi. Ini bukan tentang klaim kebenaran, tapi sikap matang dan kebijaksanaan punakawan sudah jelas lebih universal dengan hati nurani yang tersirami cahaya ilahi daripada gothok-gothokan nyowo mung mergo menang jumlah bolo. Dan seyogianya, agama itu selaras madep mantep dengan nurani setiap insani yang diberkahi seni birahi tingkat tinggi, karena memang dia (agama) adalah perangkat ekstensi yang diciptakan oleh Allah sebagai ulah atas tanggung jawabnya karena telah menciptakan makhluk paling asyik di alam semesta.
Jadi, saya sering mewanti-wanti kaum islam radikal, bukan karena saya sunni, syiah atau saya antek ahlussunnah wal jama'ah. Jangankan menilai saya syiah, bisa menilai saya adalah orang islam aja karena KTP saya islam misalnya, wes jos kuwe dab!! Siapa tahu saya menulis agama islam di KTP hamya untuk dapat “perlindungan negara” paham nggak kamu? ibarate wes koyok Mikail sing ning mburiku iki lagi uthak-uthek ngalkulator bakal rapelan tunjangan gaji sing nyasar ning njero rekeningku. Akhir kata, rawatlah bhinneka tunggal ika dalam badasnya bhinneka tunggal metallica, paham? kalo masih nggak paham, balik lagi sana ke SMA ikutan ekstra pramuka dan paskibraka lalu tuma'ninahlah dalam kegiatan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) misalnya, ntar kok ternyata ambruk/pingsan jangan ngeyel dan rempong minta dirawat mbak-mbak PMR yang seagama! Kalo masih rempong, tak plester wulu sikilmu dyarr kuwe. Wis paham? Isih rung paham? mboh cah palingan isi sirahmu wes kasep kakean nggo mbokeb.


Senin, 26 Oktober 2015

Tentang Hari Santri, Sebuah Penghargaan dan Harapan untuk Ahmad Nafis Junalia S.IP

Aku teringat kalo tanggal 22 Oktober kemarin artinya hari santri, bukan inget sebetulnya, aku baru tahu ya karena konco kosanku yang bernama Syeikh Ahmad Nafis Junalia S.IP update di line kalo tanggal itu hari santri. Syeikh Nafis ini bisa dibilang santri trendy, hobinya ngopi dan udut rokok djarum sambil nyanyi-nyanyi pas lagi “semedi” di pagi hari. Beliau ini masku di GmnI, seorang mas yang ngayomi, ngayemi namun nggak ngayani sama sekali, maklumlah jangankan untuk ngayani adek-adek tingkatnya, makan aja kadang susah, ya samalaaah, biarpun susah beliau senang memberi namun ya lebih senang diberi, pas lagi dapet rokok gratisan naudzubilah girangnya kayak abis beol di surga. 

Matanya sipit kayak Franky alias Koh Lee Peng alias Jacky Chan alias Bathara Franky Kristus Gautama hahaha, entahlah mungkin mbah-mbah mereka dulu pernah ada di satu klan yang sama tapi semoga bukan di ranjang yang sama. Oh! mungkin dinasti yang sama malah? Entah itu dinasti Tang, Han, Yuan, Ming bahkan mungkin dinasti Qing, dinasti terakhir yang menerapkan monarki absolut di negeri panda sana yang karena ekspansi inggris menciptakan kaum-kaum diaspora, nah mungkin mbah-mbah mereka ini bagian dari komunitas diaspora yang nyasar ke Indonesia, tapi tak apalah, mereka toh tetep Indonesia, semoga tak adalagi dusta diantara anak sebangsa meskipun tak se sperma ini, aku berharap semoga santri di zaman kini, dapat diam-diam senyap merayap lalu merombak secara progresif ritme tatanan sosial agar tak didominasi oleh nak-nak muda marioteguhan yang galaunan, lemah, payah, tak tau arah untuk melangkah.

Konon, santri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sastri berarti melek huruf, ada juga yang berkata berasal dari bahasa Jawa yaitu cantrik yang berarti seseorang yang mengikuti kyai dimana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tersendiri.

Gampangnya, pendapat asal-muasal yang pertama aku ibaratkan sebagai kaum intelektual. Di jaman dulu, melek huruf atau bisa membaca menjadi ketrampilan dan fasilitas tersier nan mewah yang dimiliki oleh kelas-kelas tertentu (orang keraton dan priyayi misalnya), berbeda dengan zaman sekarang yang gelar manusia berintelektual didapatkan dari laku niti ijasah kuliah dan ngaku menjadi mahasiswa beneran (padahal sebelas dua belas sama sarjana abal-abal). Ya maklum, ancaman jaman kolonial yang paling berbahaya adalah apabila semua golongan sudra dan tani seperti Salim Kancil bisa membaca. Jika buku adalah jendela ilmu, maka membaca adalah jendela kecerdasan, bayangkan saja betapa akan repot dan runtuhnya kolonialisme bila kaum-kaum yang dijajah diberi hak belajar membaca, lalu cerdas, kemudian memberontak. Memang sudah sejak jaman nabi Ibrahim dan nabi Musa, orang cerdas cenderung memberontak. Seperti manusia-manusia yang hidup di jaman perjuangan, jika menjadi golongan cerdas, hanya ada dua kemungkinan, jika tidak menjadi pemberontak ya menjadi suruhan atau pembantu penjajah. Beruntunglah tokoh intelektual seperti KH Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan memilih jalan hidup sebagai pemberontak, mencerdaskan kehidupan manusia bagi mereka-meraeka yang mau menjadi santri-santrinya bahkan yang memusuhinya. Alfathihah untuk beliau-beliau.

Lalu pendapat asal-muasal yang kedua, aku ibaratkan sebagai siswa, murid, musafir. Membaca istilah cantrik saja aku sudah cukup merinding, betapa besar ketabahannya dalam menimba ilmu, seperti kelakuan para imam-imam dan waliyullah-waliyullah saja. Sepertinya memang sudah gawan bayen orang-orang tertentu saja yang sanggup menjalani lakon sufi tingkat tinggi kayak gini. Hingga para kyai mendirikan pondok pesantren sebagai tempat tinggal, makan, dan belajar para santri-santrinya, pokoke wes koyok sekolahan ikatan dinas beneran. Beruntunglah negeri ini memiliki jihader-jihader seperti mereka. Jika bukan karena lingkar otak mereka yang sudah mencapai kadar makrifat sebagai khalifah fil 'ardhi, mungkin hobi para kyai tersebut adalah safari dari kota ke kota mengadakan seminar dakwah satu dua jam tentang sholat khusuk, bukan dengan HTM 100rb tapi telah diupgrade bahasa marketingnya menjadi investasi 100ribu (mungkin beberapa bulan atau tahun lagi akan diupgrade namanya menjadi 'investasi kapling surga' supaya lebih laris, kalo begitu aku tak daftar jadi panitia kapling surganya saja minimal karang taruna surga wes rapopo), ancuk, ini yang disebut kapitalisasi ayat-ayat suci! Ya nggak jauh berbedalah sama motivator-motivator berperut lapar yang ngomong bisa punya banyak rumah tanpa uang, tapi mendelik kayak keong saat ada bencana alam atau penggusuran lahan oleh pemerintah.


Jadi, untuk mengenang kembali esensi dan eksistensi dari kaum-kaum santri di era globalisasi yang kalah seksi dengan sekolah RSBI atau SBI (sekarang udah gak ada sih) atau lembaga pendidikan pemasok kebutuhan industri. Semoga santri-santri masa kita yang diwakili Syeikh Ahmad Nafis Junalia dapat menjadi seperti daun jambu kluthuk, mengobati diare atau mencretnya produk pendidikan. Lah kok mencret? Iya mencret, tau mencret kan? Mencret itu kelainan dari output dalam mencerna makanan, yang semustinya keluar dalam wujud lonjoran-lonjoran arem-arem berbau mak senggg, malah yang muncul mak-cret-mak-cret berair pula pake acara ngeden nguras tenaga kayak ingusmu itu.

Minggu, 25 Oktober 2015

Pesan Singkat dari Mas di Palangkaraya

Masku di Palangkaraya mengirimkan pesan,
"Den! buka UU No. 32 tahun 2009 pasal 69, isinya seambigu angka pasalnya"
"Siap mas!", balasku singkat.

Setelah mengunduh, langsung aku scroll ke arah pasal pesanan di atas tadi, mata berhenti sejenak di bait ayat 1 huruf h, lalu melanjutkannya lagi ke ayat 2, 'memperhatikan kearifan lokal', untuk sementara aku masih stak pada bagian itu, untuk menerobos buntunya penasaran, segera aku balik halaman ke bagian penjelasan. Lha kok ladalahhh, aku cekikian sendiri membaca penjelasan mengenai kearifan lokal yang dimaksud, hingga ditimpali aa’ burjo sang juru kunci warung 3x3 meter persegi.
"Kuwe ngguyu opo tho a’? jaman saiki raono opo-opo ketawa sendiri"
"Rapopo a’, sekali-sekali cekikian ben koyok wong rodhok edan” Jawabku. Wkwk ncen gathel tenan sing nggawe undang-undang, jadi yang dimaksud 'kearifan lokal' dalam penjelasan ayat 2, kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektare per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.




Membakar lahan 20.000 meter persegi, ncen wedus tenan Undang-Undang pesenane bakul kelopo, rumangsane wes koyok Raden Wisanggeni po piye, dolanan geni sak penake udele dewe.

Lalu aku mengirim pesan ke masku,
"Kamu harus mempertanggungjawabkan minggu tenangku mas! Hahaha, selanjutnya kowe nang kana pie mas?"
Dan ngalor ngidulnya percakapan kemudian terjadi. Pesananpun datang menghampiri, Kusruput secangkir susu putih hangat, sepotong pisang goreng, dan seplastik gorengan kacang.

Beberapa tahun kemudian. Suatu era nanti ndes/cukk, bila engkau muncul tanda tanya-tanda tanya seusai membaca historia masa lampau tentang keisengan pembakaran hutan, tak banyak yang bisa kujelaskan padamu, tapi setidaknya baca saja opiniku.

Maybe ada pertanyaan, “Daripada membakarnya, kenapa perusahaan tidak menebang saja pohon-pohonnya? Kan bisa dijual, lebih menguntungkan.”

Pertama, pahamilah piciknya CEO jika engkau ingin menjadi CEO sukses super kaya raya di negara kita. Barangkali penebangan hutan bukanlah cara yang efisien, justru memperbesar beban biaya, lagi pula menjual hasil tebangan pohon tidaklah semudah mendistribusikan krupuk ke warung-warung makan pinggir jalan atau semudah mendistribusikan telor dan indomie ke warung burjo tempat kamu sering ngutang, nggak semudah itu kawan. Semakin lama tebangan terjual dalam ketidakjelasan dan ketidakpastian, maka semakin lama pula kembalinya kapital konstan (c) untuk proses produksi hingga waktu yang tidak dapat dipastikan, ini akan sangat mengganggu plan-plan neraca keuangan perusahaan, apalagi bila kolega-kolega penadah kayu menekan harga penawaran karena tahu kelemahan temporary perusahaan, rugi besar bisa jadi benar.

Akan lebih mudah, simpel, dan cepat guna bila membakarnya habis-habisan, tak perlu menyewa segala alat berat dan tenaga profesional perkayuan, ngirit kapital variabel (v), cukup mak nyoss cresss cresss cresss wungggg krethekkk krethekkk krethekkkk, ditinggal tidur, besok pagi bisa buat nanem kelapa, reaksi pembakaran abu karbonnya lumayan jadi humus, bagus untuk lahan prestisius. Namanya juga ngejar waktu panen, harga komoditas ekspor satu ini kan nggak tentu, dipengaruhi banyak tren juga dan konflik di timur tengah sana, jadi ya nggak usah pake lama dan ribet, semua sudah terjadwal dan diatur dalam komparasi plan dan proses bisnis. Bagaimana dengan raja-raja kecil disana? Bukankah mereka akan murka? Tidak! selama kau menyuapnya, ayolah ndes, memangnya perlu sebesar apa sih menyogok penghasilan orang-orang kere dari seperangkat jajaran pejabat disana beserta PNS Pemdanya? Ya kacung-kacung fungsionalnya dikasih 100 juta palingan senengnya sudah minta ampun, kalo yang tingkatan strukturalnya agak bigboss ya ditambah dikitlah. Jangan lupa juga, siapa tahu kan mereka dulu juga donatur pemenangan kampanye, ya balas budi dong dengan wujud perijinan spesial dan nggak berisik.

Ya benar ndes pepatah kuno, ada seribu jalan menuju Roma dan hanya satu jalan menuju hati mertua. Pembakaran adalah kejahatan pawang uang berlindung undang-undang. Business is business, ada waktunya menjadi nabi dalam seminar mahasisiwa-mahasiswi, ada pula waktunya menjadi setan dalam mengepul kekayaan. Dosa mah urusan belakang, tinggal bikin masjid yang bagus dan sangar, udahhh masalah kelar. Tenang aja, orang Indonesia umumnya tingkat analitikalnya masih cethek, masalah apapun, nanti yang diteriak-teriakin adalah pemerintah pusat, pokoknya semua salah Jokowi! Kabut asap  hutan salah Jokowi! Orang tolol dan bego juga salah jokowi! Celana dalam lengket abis mimpi basah juga salah Jokowi! Pokoknya salah Jokowi wi wi!!! Hahaha

Ya nggak jauh beda lah sama ndes-ndes meme, bikin meme amburadul dalam mengecam sinetron Indonesia. Seharusnya yang dikecam itu KPI, produser dan sutradaranya, bukan tokoh pemerannya, tokoh pemeran mah tau apa? Jangankan mikir pesan-pesan kearifan lokal, dapet honor dan masuk tivi aja udah leganya kayak beol di surga, kalo nentang sutradara sama produser, ntar gagal dong jadi selebriti. Nah kalo KPI jelas, udah ada tulisanku tentang kelucuan KPI dalam menata praktik pengarusutamaan penyiaran di Indonesia, monggo dibaca di sub tulisan terdahulu, sedikit kusinggung, pernah lihat Film Streer Fighter yang pemerannya Van Damme? Kau tahu cara Vega membrainwash Blanka? Nah! Itulah yang sedang terjadi dalam pertelevisian di republik ini, hal itu dilakukan pawang-pawang uang di Negara kita untuk menciptakan keruntuhan kebudayaan, runtuhnya budaya dan derasnya arus informasi dan gaya hidup nantinya secara gak sadar bakal bikin sampean-sampean mengalami apa yang disebut Herbert Marchuse sebagai Fals Need alias kebutuhan palsu, disinilah peran KPI sesungguhnya diuji.

Begitulah isi otakku (panjang ya ndes/cuk? Berarti kau kurang membaca buku), kini masa kita adalah menebus dosa-dosa generasi tua dan mendidik generasi muda, jangan pula kita jadi mahasiswa yang overdosis jargon suksas-sukses-suksas-sukses khas presentasi MLM dan terkontaminasi korupnya orde bau, hingga dzholim kepada sesamanya, dengan mulut suci berkata uang bukan segalanya, namun cermin hidupnya berporos pada fantasti jumlah rekening di bank.

Dulu di jaman masku atau bahkan bapakmu sekolah, ndes-ndes sekolah tuntutannya cuma nilai, nyari jurusan yang ngehek-ngehek khas kelas menengah ke atas, lalu dapet kerjaan dan mapan. Kalo generasi kita, tuntutan pendidikannya adalah menyelesaikan segala pelik permasalahan alam yang dipersebab oleh nggratilnya tangan-tangan biadab. Hihihihi.. Selamat belajar, bertanya dan berpendapat sepuasmu ndes, baik lisan ataupun tulisan. Tapi jangan ganggu kemesraanku dengan calon bidadariku, ra elok ndes, urusane cah gedhe, saru, tabu, durung umurmu, urusanmu ki dolanan penekan wit jambu, sinau karo mangan protein tahu.. ben ra kuru koyok asu ra tau nyusu. Hahaha ai loph u


Kamis, 22 Oktober 2015

Kabut



Normalnya daerah otonomi bisa ngurus kabut daerah sendiri, masyarakat dan pemerintah yang berdikari, namun yang jadi masalah karena 'penyakitnya' itu ya di lingkaran dalam pemda itu sendiri, mbok yo jadi manusia yang sadar jujur dan akui sajalah jika sejak jaman bahula, musuh dalam selimutnya rakyat itu ya pemimpinnya sendiri. Nggak percaya? Sudah dapat upeti berapa mereka? Ini bukan tentang kemanusiaan yang adi luhung, ini tentang uang, tentang bisnis, mana ada pemimpin mau diam jika lingkar behanya tak diselipi uang oleh korporasi yang petingkahan seenaknya sendiri di tanah kekuasaan dewan? Jika diterus-teruskan bisa bahaya lho, yang bikin ulah pihak daerah, yang diteriak-teriakin pemerintah pusat dengan kelambanan rantai komando birokrasi, ujung-ujungnya muncul ketidakpuasan dan memicu usaha pemisahan terhadap NKRI. Masalah kah? Iya, masalah bagi kaum nasionalis berdiameter otak lima senti, tapi bagi aku pribadi? Enggak

Manusia adalah manusia tak peduli apa warna darah kulit mereka, darimana mereka tinggal, seperti apa logat bahasanya dan jenis apa Tuhannya. Itu tanah mereka, mereka manusia merdeka dan berdaulat serta berhak memutuskan takdir mereka sendiri akan dibawa ke arah mana, jika mereka merasa terdzolimi oleh nggathelinya anak emas pembangunan Jawa sentris, why not? NKRI harga mati? Ya betul, itu dulu saat era Soekarno musuh warga Indonesia adalah pihak aseng-aseng, tapi kemudian di era Soeharto musuhnya adalah pihak dalem dan korporasi tak tahu diri, lalu di era reformasi? Musuhnya kolaborasi dari era Soekarno dan era Soeharto ditambah kamu-kamu ini yang bisanya ngabisin nasi impor doank, Bagaimana NKRI harga matinya jal? Membantai anggota sukarelawan kemanusiaan tanpa pamrih sekaliber Gerwani? Membiarkan ketimpangan ekonomi terjadi tanpa bisa terkendali? Udelmu kuwalek, NKRI harga mati gundulmu kui!

Pentingnya masyarakat bersatu dan mandiri adalah setidaknya mengurangi kadar jenuh kemencla-mencle'an pimpinan. Aku tidak sedang membahas cocoklogy ramalan rosulullah tentang akhir zaman yang dicirikan oleh pimpinan-pimpinan yang dzolim, toh sejak jaman dahulu kala sebelum nabi Muhammad lahir, sudah beranak-pinak pimpinan mbelgendes-mbelgendes kayak gitu, atau jangan-jangan jaman dahulu kala memang sudah dimaksudkan dalam kategori akhir zaman? Wallahualam.

Akhir kata, aku kurang tertarik dengan perselisihan pimpinannya muslim atau bukan, buat apa muslim tapi bosok? Katanya nggak boleh menilai seseorang dari hijab, model sarungnya, cingkrang tidaknya celana, panjang tidaknya jenggot, piye sih, mbok yo jangan standar ganda. Setidaknya jangan pilih pemimpin yang tidak mau berkata bersedia untuk dilengserkan. Siapa presiden di negeri ini yang bersedia dilengserkan? Barangkali Cuma Soekarno dan Gus Dur, berhati-hatilah terhadap manusia gila jabatan, ntah pake dalih sebagai aktualisasi diri (halah mbelgendhes), karena manusia gila jabatan mainannya adalah nyawa manusia, mbok yo ingat usia, politik itu jatahnya usia muda, yang sudah mau berbau tanah mbok ya ngalah, sadar diri, setidaknya lebih mendekatkan diri kepada sang ilahi, tirulah Semar dalam wayang kulit, tokoh sakti mandraguna, manusia setengah dewa, jelmaan dari kakaknya Bathara Guru sang pimpinan para dewa.