https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Jumat, 25 Desember 2015

Yesus Sang Revolusioner

Aku pernah ke ambarawa bareng teman2  KKN  pada September 2015 lalu, perjalanan aku tempuh dengan armada bumblebike alias motor kunimg kesayanganku, singkat cerita di Ambarawa, aku dipandu oleh 2 teman pribumi asli sana, Agnez dan Dian namanya. Salah satu tempat yang kami lihat-lihat adalah gereja Goa Maria Ambarawa.

Berdiri di halaman pelatarannya saja sudah membuat aku takjub. Arsitektur bangunannya unik, tumpukan-tumpukan batu alam, jauh dari aroma sentuhan bergaya eropa abad pertengahan. Untuk para pegiat selfier, sangat cocok sebagai obyek berselfie. Tapi khusus untuk mas Felix Siauw, aku sarankan jangan, karena selain selfie sendirian itu nggak baik (kecuali avatar twitter mas Felix), selfienya pun di gereja. MasyaAllah, apa nanti kata pengikutmu mas. Bisa-bisa mas Felix dikafir-kafirkan karena bersilaturrahmi dengan sang mantan. Oiya, selamat hari natal ya mas Felix, sudah akur dan baikan sama mantan belum? Jangan berantem mulu ya, udah gedhe gitu kok, jangan kayak remaja ababil.

Tidak banyak yang bisa aku serap saat ke tempat ini, selain sebagai tempat ibadah, disini juga menjadi salah satu lokasi wisata favorit para hijaber-hijaber nusantara dari dalam maupun luar kota. Suasana disana sejuk dan asri karena banyak taman dan pepohonan, bersinergi baik dengan lingkungan. Sungguh sebenarnya aku sedih jika melihat tempat ibadah yang suci namun halamannya malah di aspal rata, betapa durhakanya pada alam, betapa durhakanya pada tanah, betapa durhakanya pada kehidupan bawah tanah, karena akar dan bangsa cacing tak memperoleh resapan air hujan dari Tuhan. Jika pengelolanya adalah seorang yang arif dan berwawasan luas, aku yakin bukan aspal yang dipilihnya, namun paving. Kemudian dihiasi pula banyak tanaman untuk turut berdzikir di tengah lantunan ibadah para manusia. Itulah yang aku namakan sebagai salah satu harmoni perpaduan keromantisan semesta.
 *Aku kan cowok romantis

Pasca dari ambarawa, pulangnya aku jadi inget Gereja Pohsarang di Kediri, di Pohsarang, kau bakal menemui 3 destinasi utama lain yang tidak kalah menawan. Yaitu Goa Maria, beberapa Auditorium terbuka dengan cerita-cerita di dindingnya, dan perjalanan waktu bernama Jalan Salib. Untuk natal hari ini, aku ingin bercerita banyak tentang Jalan Salib, yang paling membuat aku tertarik.

Goa Maria berpenampakan seperti sebuah tebing besar, di bawahnya terdapat banyak nyala lilin, dengan tikar-tikar para jemaat yang berdoa mengharap selamat. Aku tidak tahu itu benar goa atau tidak, karena mulutnya ditutup pagar. Namun yang pasti panorama yang tersaji membuat aku jatuh hati.
Kemudian Auditorium terbuka, yang entah nama tepatnya apa. Ada banyak auditorium disana, masing-masing auditorium terdapat lukisan-lukisan cerita masing-masing bab. Jika disatukan akan menjadi seperti cerita sebelum Yesus tiada sampai Yesus telah dipanggil yang maha kuasa.
Kemudian ada rute perjalanan masa, Jalan Salib namanya. Ini mirip Auditorium tadi, namun di sepanjang perjalanan ada patung-patung bisu yang mendongengkan masing-masing peristiwa. Cerita mulai dari pra-Yesus lahir, hingga pasca yesus disalib dan berakhir. Aku nggak akan cerita bagaimana kisah-kisahnya, aku yakin pasti sedikit banyak kalian sudah pada paham ceritanya, aku sendiri gak paham-paham betul kok haha. Namun yang ingin aku tulis disini, adalah perenungan-perenungan apa saja yang masih aku ingat hingga kini, saat berfantasi ke Jalan Salib.

Yesus, menjadi pemuda dengan otak yang 10 langkah lebih maju dari jamannya, memang seringnya akan menemui banyak musuh dan rintangan nyawa. Sebagai seorang manusia yang sudah adil sejak dalam pikiran (seperti kata pramoedya: orang terdidik harus sudah adil sejak dalam pikirannya), tak mudah baginya untuk menyeberkan ideologi kasih sayang dan pembebasan para budak waktu itu, Yesus yang bukan siapa-siapa harus menghadapi mayoritas budaya di bawah feudalisme kekaisaran imperium romawi.
Tak cuma yesus, nabi Muhammad pun belum sukses dalam agenda penghapusan total yang bernama perbudakan di dunia. Namun yang namanya ideologi, tak akan pernah bisa dimatikan, sekalipun orang-orangnya diculik, diasingkan, kemudian dibunuh tanpa kabar. Ideologi dua manusia suci tersebut terus menyebar ke seluruh pelosok-pelosok dunia, hingga mempengaruhi sejarah panjang peradaban umat manusia. Salah satunya, mulai dari revolusi Perancis, kesetaraan gender, dan penghapusan perbudakan sebab setiap manusia yang lahir memiliki hak untuk hidup merdeka. Seandainya yesus dan nabi Muhammad kala itu berani dengan lantang menyerukan "Perbudakan adalah Bid'ah!", mungkin birahi-birahi revolusi yang terjadi di setiap belahan bumi, akan memuncak lebih dini hahaha maybee.

Tentu bukan perkara gampang untuk berteriak lantang, jaman dulu jika sembarangan berani berkata seperti demikian, bagaikan menantang hunusan pedang satu pleton kerajaan. Kaisar romawi bisa ciut nyali, tidurpun selalu gelisah hati bilamana dari sudut desa sana, Yesus mengajari murid dan pengikutnya tentang penentangan perbudakan.

Memangnya kaisar mana yang zona nyaman kedigdayaannya mau diusik oleh sekumpulan proletar-proletar dan budak yang terbuka pikirannya dan menjadi tercerdaskan? Penggulingan kekuasaan adalah hal yang tak bisa terhindarkan. Kaisar paham akan hal itu, maka sebelum itu terjadi, kerahkan seluruh army-army militer angkatan daratnya untuk memburu Yesus, menyalibnya di depan umum, untuk memberi shock-pressure kepada semua warganya. Namun sekali lagi, kaisar hanya mampu membunuh sang utusan, tapi tidak bisa untuk membunuh kebenaran ajaran kesadaran pemikiran.

Galileo pun juga menemui Jalan Salib. Ekstrim dan kontroversial memang  jika berani berkata lantang untuk penghapusan perbudakan di jaman romawi dan jaman jahiliah arab. Galileo saja yang iseng-isengan kurang kerjaan  mengutak atik kebenaran dogmatis teori geosentris dan menyangkalnya dengan teori heliosentris adalah doktrin gereja yang menjadi lawannya! Dan tentu bisa nyawa taruhannya! Tak cuma Galileo, Ibnu Sina pun juga mengahadapi Jalan Salib. Ya, cendekiawan muslim ber-IQ di atas rata-rata itu, yang di jaman sekarang menjadi bahan-bahan klaim sebagai ilmuan muslim, oleh kaumku para sunni. Sebenarnya ia dulu di masa hidupnya juga dikafir-kafirkan oleh kaumnya sendiri para muslim ber-IQ 69. Barangkali di jaman ini, tukang klaimer yang hobi mengkafir-kafirkan syiah dan filsafat tak tahu bahwa Ibnu Sina adalah seorang muslim Syiah yang juga ilmuwan beraliran Aristotelian. Banyak yang seperti Ibnu Sina, namun tak tulis kapan-kapan aja deh (kalo pengen), soalnya ini kan temanya hari natal hehehe.

Dan Jalan Salib Yesus, juga dialami oleh jaman Renaisans yang melepaskan diri dari abad kegelapan. Kelas menengah Renaisans memberontak dari para tuan tanah feudal dan kekuasaan gereja. Seperti filsafat Yunani yang melepaskan diri dari gambaran dunia mitologi yang terkait dengan kebudayaan petani dan nelayan. Renaisans menimbulkan pandangan baru tentang manusia, humanisme renaisans membawa kepercayaan baru pada manusia dan nilainya, yang sangat bertentangan dengan tekanan dari Abad Pertengahan yang penuh prasangka pada hakikat manusia yang penuh dosa. Misalnya seperti tokohnya yaitu Marsilio Picino yang berseru, "Kenalilah dirimu sendiri, wahai keturunan Ilahi dalam samaran sebagai manusia!", kalo disini ya seperti falsafah Manunggaling Kawulo Gusti nya Syeh Siti Jenar, hal yang akan dikafirkan-kafirkan oleh kecebong-kecebong syariah, karena kemampuan level perkutatannya menthok pada syariat, belum sanggup meraba tarikat hakikat dan makrifat, aku sendiri g pinter-pinter banget agama, tapi aku juga g gampang digoblok-gobloki ustads-ustads level sosmed yang patokan tafsir qurannya dari bonus quota internet, di Indonesia ini memang gampang jadi ustadz/ustadzah, tinggal repost akun2 islamiah macam dakwah islam di line atau felix siauw dan jonru di twitter tiap hari sudah nambah pangkatmu jadi ustadz sosmed, hehe maaf ya, mungkin aku bakal lebih takdzim kalo yang menyampaikan tafsirnya adalah ustadz yang memang sekolah dan ngajinya nggenah. Demikianlah perenungan-perenungan yang pernah bergentayangan di pikiran aku saat berkelana di alam semedi kamar mandiku. Dan untuk umat-umat nasrani yang bisa merayakan natal di gereja, aku ucapkan selamat dan puji syukur, bersukacitalah kawan, Mmmuuahhh :*

Tapi jangan lupakan Yesus, pahami dengan mendalam tentang beliau. Karena di millenium dimana kebebalan masih menjadi mayoritas, maafkanlah beberapa kaum seagamaku, yang membuat kondisi dimana pembangunan gereja tidaklah semudah mendirikan karaoke dan bank lintah darat. Tidak ada yang mudah memang, dalam melalui Jalan Salib. Andai jika aku diadzab menjadi ketua masjid, dan kalian tak punya gereja untuk beribadah natal, akan aku tawarkan untuk menggunakan masjid tersebut sebagai tempat beribadah kalian. Selamat hari natal, titip salam buat Yesus ya, dari aku pemuda akhir zaman yang insyaallah disayangi pacar dan mertua, namun baru ingat kalo aku belum punya keduanya
#KODEKERAS!!! HAGSHAGSHAGS ;)  )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar