https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Jumat, 06 Mei 2016

Untuk Pokemon-Pokemon Widya Puraya

Dalam krisis, kita harus punya sentuhan dramatikal"
Petuah tsb mengalir dr Martin Luther King, kpd para kompradornya yg mulai gentar oleh tekanan kaum kulit putih. Ia memang membutuhkan sentuhan teatrikal untuk membangkitkan nyali yg ciut oleh krisis diskriminasi. Lautan manusia ditumpahkan ke jalan-jalan, menghitamkan wajah kota Birmingham yg biasanya terasa gurih dgn warna eropa.

Krisis memang membutuhkan sebuah drama. Tdk hanya untuk menghibur dan melupakan sejenak keputusasaan, namun jg untuk membersitkan setetes harapan. Dan King sadar, ia jg membutuhkan drama bagi panggung yg telah digelarnya. Terbukti, dgn sense of drama, King mnjd magnet dan melejit bak meteor.

Namun, apakah krisis hanya membutuhkan drama untuk membiusnya? Jawabnya tak pasti. Yang kita tahu bahwa krisis itu sendiri adlh sebuah drama. Ia menyita konsentrasi serta melahirkan kasak-kusuk. Dan menyeret kita dlm suatu tanda tanya akan ending dr sirkuit kemelut yang belum paripurna.
Fenomena sejenis jg tengah melanda dunia pendidikan tinggi kita. Belakangan ini, isu yg merebak dan mnjd magnet pemberitaan adalah seputar wajah dunia pendidikan yang semakin menjerat dan tak lagi bersahabat. Telah sekian lama negara kita berpusar dlm persoalan tsb dan menjadikannya sbg krisis yg berkepanjangan. Berbagai upaya formal telah dilakukan untuk melepaskan negeri ini dari belitan para pencoleng dunia pendidikan. Tengok saja, dalam sepenggal perjalanan sejarah reformasi ini telah beragam produk hukum serta kebijakan yg diterbitkan. Berbagai UU, peraturan pemerintah, peraturan menteri yang telah ditandatangani. Namun, wajah pendidikan nyatanya masih jauh dari yang diharapkan. Pendidikan semakin mahal dan binal tak kenal filsafat asal.
Kita mengenal salah satu filsuf terbesar pendidikan Paulo Freire namanya, Freire dalam bukunya The pedagogy of Oppresed (pendidikan kaum tertindas) selalu mengkritik tentang pendidikan yang tidak mendidik, pendidikan yang hanya teory belaka. Ia sangat tegas menyikapi realitas sosial yang tidak berperikemanusiaan. Ia melakukannya tidak hanya dengan teory-teory yang sophisticated. Tapi dengan bahasa dan aplikasi sehari-hari yang sederhana. Freire kala itu mengkritik tata kelola pendidikan negara-negara dunia ketiga seperti Brazil dan Chile yang hanya menjadi panggung bagi pentas drama ideologi penguasa yang menghegemoni struktural kekuasaannya. Mereka ditundukkan, dibikin patuh oleh pembodohan-pembodohan yang sengaja dilakukan secara sentralistis. Tidak adanya penghargaan pada anak didik sebagai manusia yang memiliki potensi dan eksistensi diri semakin meberi lampu hijau bagi penguasa untuk melanggengkan hegemoni dan dominasi. Dan ini adalah kata-kata pedas dari Freire “Pendidikan adalah proses dehumanisasi oleh penguasa demi kekuasaannya!

Ketika peraturan saja dianggap tak cukup mampu menggertak, mahasiswapun keluar dari ruangan ber-Acnya, ruang AC telah membuat otak mengkerut bagai anu yang kurang urut, mereka sadar bahwa sudah saatnya merebut apa yang telah pimpinan kampus renggut. Mahasiswa  bergegas mencetak task force khusus. Semacam tekab, alias tim khusus antibandit, namun lebih fokus pada bandit anggaran dengan membentuk satgas dalam kelola BEM Universitas demi transparansi yang tak pernah tuntas. Memang belum dpt menyematkan harapan. Namun satu dua orang telah meroket. Tidak hanya memebersitkan segurat harapan, tetapi juga semacam kecemasan. Kata-kata mutiara sang ketua lembaga yang sering disampaikan dalam akun-akun sosmednya bisa menjadi sebuah jeratan jika tidak sesuai kajian yeng telah diamanatan. Hanya saja jalan ceritanya kemudian bergerak lamban dan menjemukan. Kamera memang masih fokus pd panggung yang diatur sang ketua lembaga, namun mahasiswa dan calon-calon mahasiswa mulai jengah menyaksikan para pokemon universitas yg tertawa di widya puraya sana. Mereka mengharapkan adanya suspense gerakan yang makin matang agar para pokemon berani turun dari gelanggang!
Kelambanan ini akhirnya hanya memicu kasak-kusuk. BEM ditengarai tengah mementaskan sebuah drama yg menghibur kepenatan kita akan krisis, BEM ditengarai hanya bermain di zona nyaman oleh para demonstran. Insinuasi mahasiswa umum ini tidaklah berlebihan melihat janji langkah lanjutan yang tak kunjung dilaksanakan. Padahal, berbagai pernyataan telah begitu transparan terurai dan menjalar hingga kaki kaki kekuasaan. Apakah justru rambatan inilah yg dicurigai membelenggu langkah? Apakah konsolidasi ke kaki-kaki kekuasaan justru menjadi langkah yang salah? Apakah ada batas-batas yang tak kunjung mengalah? Semua tahu bahwa BEM telah terlalu lama dipegang oleh satu rezim yang sama dan dari dulu memang sangat sulit untuk diajak bersama mengupas isu secara dewasa, entahlah mungkin BEM tidak salah tapi memang mahasiswa pada umumnya yang keras kepala. jika memang benar itu alasannya maka sudah saatnya mereka sadar diri dan kemudian turun tahta. Isu lain pun mulai beredar. Jika nyali BEM ciut, maka tim lain yg akan mengambil alih. Tapi ingat semua tim memang perlu berlomba membuktikan diri, namun hal itu juga dpt menimbulkan ancaman yg kontraproduktif. Aku justru kawatir jika ego yang dipelihara, para pokemon widya puraya sana justru akan semakin seenaknya memecah belah kita.
Tuhan menciptakan berbagai etnis manusia melalui satu ovum dan satu sperma, meskipun lubang keluar dan lubang penerima bukan berasal dari pasangan yang sama yang jelas rupa-rupa bayi yang lahir pun tak menafikkannya menjadi bukan manusia, apa yang hebat dari aku? dari kamu? dari kita? toh kita sama-sama produk penis dan vagina, lantas kenapa kita mesti membeda-bedakan seseorang berdasar warna kulit, sipit tidaknya mata, ngatung tidaknya celana, botol apa yang tersimpan di kosnya, panjang tidaknya jilbab, tebal tidaknya jenggot, untuk apa? manusia toh sejarahnya sama, kita berburu, bercocok tanam, melalang buana, merantau, menaklukkan alam, beranak-pinak. aku merah, kamu putih, dia hijau dan orang sebelah sana kuning, dan sebelah sananya lagi tak berkostum, Adanya perbedaan bukanlah untuk ditakuti namun untuk disyukuri, perbedaan diciptakan bukan untuk pertengkaran, tapi untuk persaudaraan, lantas kenapa kau jauhiku hanya karena aku berbeda, tak bisakah kita berdiskusi di meja yang sama?

Lalu aku teringat pada garis tetenger,  bagaikan degup cinta dan asmara hubungan kalian yang tiba-tiba saja jadian dan membuatku menelan kekecewaan, garis tetenger ini adalah garis batas yang tidak terlihat, namun setiap pijakan langkah dan hembusan desah kita dipengaruhi olehnya. Pola pikir kita, kemampuan dan cash flow dana, berkibarnya kain sang saka, kebanggaan yang membutakan hati dan jiwa, sejarah yang tersenyum dan berlinang air mata, saudara-saudari yang kita sebut sebagai sebangsa meski tak se-sperma, KTP, almamater, kelas, ideologi, nasionalisme, kesepakatan, perang, keruntuhan, pembantaian suku dan etnis, separatis, diskriminasi ras, semuanya adalah produk dari garis tetenger, produk dari garis batas suatu negara.

Ada garis batas fisik, ada garis batas mental. Ada yang sementara, ada yang abadi. Ada kamu, ada Aku, ada Dia, aisshh. Garis batas geografis, sosial, biologis, status, gender, privasi, mental, spiritual, agama, kejombloan… Semua memisahkan manusia dalam kotak masing-masing. Garis batas mengurung, memasung, melindungi, mentakfiri dan mengukuhkan sebuah zona aman tempat para spesies human merasakan kelegaan dan kenyamanan.

Bangsa-bangsa punya zona aman masing-masing, dilindungi oleh garis batas negeri, itulah fungsi negara, hanya sebagai alat untuk melindungi semua yang ada di dalamnya. Sangat tidak jarang, ceceram derai darah tak bisa dihindarkan hanya demi guratan garis-garis di atas suhuf-suhuf atlas. Benarkah bahwa seringnya, hidup memang sebercanda menggosok batu akik? Inilah perjalanan kisah-kasih hidup manusia. Sejak melewati dua paha ibunya, mereka tumbuh, berjuang, bekerja dan memuja kemapanan, berselisih dan berebut, hingga datangnya malaikat maut. Awal mereka berburu dan meramu, bercocok tanam lalu beroper ke jaman delivery order. Dalam perkembangan peradaban manusia dulu, mulai dari kehidupan primitif di goa, para penakluk alam dan hewan di hutan, suku-suku nomaden di relung-relung daratan, tahta ngingrat-ningrat berdarah biru, kastil yang dikungkung benteng dan tembok raksasa, hingga peradaban manusia gadget minded, zona aman semakin kokoh dan berstruktur. Bangsa-bangsa mengayunkan pedang, bernegosiasi, berdiplomasi, bersatu, bersekutu, saling berburu, berseteru, berperang lagi, hingga akhirnya hancur lebur, semua terkait urusan zona aman, melindungi batas-batas dan kebanggaan mereka.

Oleh sebab itu, perlu adanya pembagian tugas dan kewenangan yg jelas antara masing2 task force agar tak saling tumpang-tindih.  Mengepung mangsa yg sama dr berbagai penjuru bisa jd justru akan menghambat proses perburuann dan tentunya pokemon-pokemon widya puraya makin tertawa melihat mahasiswanya yang tak kunjung dewasa dan tidak paham betul SIAPA MUSUHNYA.


Terlepas dr semua itu, sang ketua lembaga mahasiswa memang telah melejit dan bersinar di balik krisis. Namun apakah drama ini akan berakhir tragis seperti akhir drama dari Martin Luther King yg ditembak mati? Tak ada jawaban yg final. Namun kita tahu lembaga sekelas KPKpun juga lahir dr pendahulunya yg ditembak mati oleh judical review.
Memang semua ini hanyalah catatan sejarah. Namun, seperti ungkapan Jackie Kennedy di antara cipratan darah suaminya yg tertembak, apakah garis batas antara sejarah dan drama? Sejarah  bisa dipentaskan dlm drama yg berkilau. Namun drama hanya dapat mnjd catatan sejarah yg kusam dan terkadang miris untuk dikenang. Kita tentu ingin BEM dan mahasiswa pada umumnyanya menuntaskan perburuan pokemon widya puraya dan mengenangnya dengan kepala tegak sebagai sebuah perjuangan yang tidak setengah-setengah, semua tahu mahasiswa adalah aktor pergerakan, akankah BEM kususnya dan kita pada umumnya menjadi oposan ataukah kolaborator rezim?
Aku jadi ingat kata pepatah, beri aku sepuluh mamah muda maka akan kuguncang dunia!



Selasa, 12 April 2016

Goodbye School, You Are Drunk



Barisan antri itu memanjang sampai ratusan meter. Ratusan anak muda, gadis-perjaka, tak gadis pun tak perjaka, berdiri berjam-jam dengan tertib di sana, tak menghiraukan sengatan terik matahari dan udara lembab yang menggerahkan (pemandangan yang berkontradiksi dengan ritual saban senin anak-anak ingusan jam 7 pagi). Beberapa orang sampai terjatuh pingsan. Petugas khusus segera menandunya ke tempat teduh, mengeluarkannya dari barisan. Dan, barisan panjang itu kembali seperti semula, tak buyar….

Inilah pemandangan yang makin sering dijumpai. Selama beberapa tahun belakangan di banyak kota besar di Indonesia, mulai dari Medan di barat sampai Ambon dan Jayapura di timur. Konon, ada yang sengaja datang dari pelosok nan jauh sana di sudut-sudut azimuth khatulistiwa, khusus memang untuk ikut mengantri. Di Jakarta, malah ada yang benar-benar nekad meninggalkan kuliahnya di satu perguruan tinggi swasta dan lebih memilih masuk menjadi bagian dari barisan antrian panjang itu.

Apakah gerangan yang membuat ratusan anak muda itu sedemikian bersemangat, bahkan seperti kerasukan?

Stasiun-stasiun televisi nasional yang hampir semua acaranya selama ini sebenarnya hanyalah “jiplakan picisan” atau “tiruan murahan” dari banyak acara laris-manis di televisi-televisi luar negeri, terutama di negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat, yang memulai “wabah” ini. Satu stasiun memulainya dan berhasil, stasiun-stasiun lain pun meniru-nirunya pula, tentu saja, dengan nama lain dan satu-dua hal yang menampilkan ciri khas masing-masing, namun sebenarnya sama saja pada hakikatnya.

Demikianlah, hampir semua stasiun televisi nasional kini menjadi acara khusus yang menjanjikan kepada anak-anak muda itu untuk menjadi “bintang layar kaca” dengan cara yang nisbi jauh lebih mudah, tidak lagi memerlukan berbagai persyaratan sulit seperti sebelumnya. Siapa pun boleh mendaftar (asal mau, punya sedikit nyali dan cukup ‘nekad’), hanya diwawancarai ala kadarnya, diuji dan dilatih sedikit kemampuan olah suaranya, diajari sedikit pula tata-cara tampil dan bergaya di depan kamera, maka.. sim-salabim.. jadilah,maka jadilah!

Pokoknya, itulah “jalan pintas” untuk menjadi pesohor (celebrity), menjadi “bintang pujaan” (idol, yang dalam bahasa aslinya sebenarnya juga berarti ‘berhala’) dari jutaan orang di seluruh negeri, bergelimang kemasyhuran dan, tentu saja, bayaran yang menggiurkan. Ini benar-benar peluang bagi anak-anak muda itu untuk mewujudkan pemeo popular di kalangan mereka (“muda terkenal, tua kaya raya, mati masuk surga!”). Tak jauh berbeda sebenarnya, menjadi bintang layar kaca dengan menjadi bintang topeng monyet.. Hanya bedanya monyet itu dipaksa dan diberi makan, sedangkan makhluk yang ‘katanya’ mbah Darwin adalah evolusi dari monyet itu melakukannya untuk mencari jalan pintas menjadi berhala-berhala bagi generasi sesama mudanya untuk disembah dan diagung-agungkan yang seolah-olah adalah mesias utusan yang memberi syafaat kepada pengidolnya untuk diangkat ke surga dan berpesta bersama memalingkan mata anak muda dari rentetan realita memilukan yang tak disorot oleh media karena tak ada peluang untuk mencapai rating tinggi.

Bukan hanya anak-anak muda itu yang bersemangat. Para kerabat, kawan terdekat, dan handai-tolan, semuanya mengerahkan diri sebagai relawan pendukung dengan memberi suara melalui layanan pesan singkat (SMS) dari telepon genggam mereka masing-masing. Konon, ada yang orang tuanya sampai menjual sawah dan kerbau mereka segala untuk membiayai anaknya ikut dalam “lomba menjadi bintang” ini.

Bahkan, Koran-koran memberitakan ada bupati di Kalimantan dan walikota di Jawa Tengah yang sampai memerintahkan sebanyak mungkin warganya mengirim SMS mendukung “calon bintang” yang berasal dari daerah mereka. Meski belum terlalu jelas benar, namun kabar-kabar angin menyebutkan bahwa walikota di Jawa Tengah itu malah mendanai pembelian pulsa telepon genggam warganya agar mereka dapat mengirimkan SMS sebanyak mungkin.

Benar-benar luar biasa! Justru, pada saat statistik nasional menunjukkan semua kabupaten dan kota di seluruh Indonesia menyediakan anggaran belanja untuk sektor pendidikan masih di bawah proporsi yang dianggap selayaknya (25%) atau sekurang-kurangnya (15%) menurut ukuran umum konvensi internasional.

Ini benar-benar “negeri fantasi”. Ada politisi, pensiunan jenderal dan mantan panglima, pejabat tinggi, menteri, bahkan Presiden, pernah ikut bernyanyi meramaikan gemerlapnya pentas acara anak-anak muda yang berlomba menjadi bintang televisi itu. Sponsor iklan pun mengalir, juga berbagai paket hadiah yang menggiurkan. Porsi berita-berita hiburan yang meliput mereka semakin banyak dan semakin menempati jam-jam siaran terbaik (prime time) hampir semua stasiun televisi. Di luar studio, acara-acara promosi berlangsung gebyar-gebyar di hampir semua kota besar. Gadis-gadis cantik pun menari-nari, para perjaka tampan berjingkrak-jingkrak, dan…. Seluruh negeri berpesta!

Sementara itu, beberapa anak muda lain nyaris luput dari pemberitaan. Media massa hanya memberinya beberapa menit singkat saja untuk diberitakan, itupun bukan pada jam-jam siaran terbaik. Tak ada pesta gebyar-gebyar, panggung gemerlap, apalagi banjir hadiah-hadiah menggiurkan. Anak-anakmuda itu datang dari beberapa sekolah dari berbagai daerah. Mereka baru saja berhasil meraih beberapa gelar juara dalam olimpiade matematika dan fisika tingkat dunia bahkan baru-baru ini ada yang menjadi juara umum kontes robot di Amerkia. Mereka yang berjas almamater yang lainpun baru saja menyelesaikan karya tulis ilmiah mengesankan di kancah internasional, memberikan sumbangan untuk kemajuan negara dan dunia. Tak ada berita bupati, walikota, atau bahkan gubernur dan menteri yang ikut menyambut kepulangan mereka yang sepi-sepi saja di bandar udara.

Inikah yang bisa menjelaskan mengapa keadaan dan pamor sistem pendidikan nasional kita semakin lama semakin terpuruk saja? Pada dasawarsa 1960an dan 1970an, sistem dan mutu pendidikan di negeri ini masih sempat menjadi rujukan oleh banyak negara jiran. Kini, keadaan dan pamor sistem pendidikan di negara-negara tetangga itu melejit maju melampaui Indonesia! kini Indonesia malah sudah terlampaui Vietnam, negara sosialis yang baru beberapa tahun saja membuka diri pada dunia luar, yang pernah lebih lama mengalami masa kekacauan dan menderita akibat perang dan, last but not least, secara numerik, pendapatan perkapitanya pada tahun 2003-2005 (AS$ 480) masih lebih rendah dibanding Indonesia (AS$ 970).

Ada yang berpendapat bahwa tidak terlalu tepat membandingkan Indonesia dengan beberapa negara jiran tersebut. Jumlah penduduk dan luas wilayah negeri ini terlalu jauh lebih besar dibandingkan semua negara tetangga tersebut, sehingga beban pembiayaan dan pembagian peruntukan belanja negara perkapita untuk semua bidang atau sektor kesejahteraan sosial, jelas akan menjadi jauh lebih kecil dibandingkan mereka. Dengan pendapatan negara sebesar apapun, selalu akan menjadi lebih kecil jumlahnya jika kemudian harus dibagi rata dengan jumlah besar penduduk negeri ini.

Tetapi, apakah memang benar demikian?

Negeri ini sebenarnya sanggah pendapat yang lain, tak perlu kekurangan biaya untuk belanja kesejahteraan sosial warganya. Masalahnya adalah bahwa terlalu banyak pendapatan negara selama ini memang tidak diperuntukkan untuk itu dan… ini dia: korupsi yang sudah merasuk ke semua tingkatan dan bidang kehidupan bermasyarakat. Sampai tahun 2006, Indonesia terus tercatat sebagai salah satu negara berprestasi paling korup di dunia. Kalau semua uang negara yang dikorup selama 30-40 tahun terakhir itu digunakan untuk belanja pendidikan nasional, mungkin sudah lama anak-anak negeri ini bisa menikmati fasilitas sekolah gratis yang merupakan salah satu cerminan dari tujuan dibentuknya negara Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Ambil contoh satu kasus korupsi saja, yakni skandal terbesar dan paling memalukan: penyelewengan dana Bantuan Likuditas Bank Indonesia (BLBI) yang mencapai jumlah Rp 668 trilyun. Kalau dibagi dengan jumlah total anak usia pendidikan dasar wajib 9 tahun (semisal sekitar 48,2 juta jiwa menurut statistik 2005), maka tiap anak bisa memperoleh beasiswa rerata Rp 13,8 juta per anak! Ini baru dari satu kasus rasuah saja.

Jadi, masalahnya memang bukanlah terutama pada soal ketersediaan biaya, tetapi lebih pada pengelolaan dan kebijakan peruntukan biaya yang sebenarnya mungkin dan dapat tersedia. Perilaku korupsi di kalangan politisi dan birokrat kita selama ini memang sungguh memalukan. Mereka tidak lagi dikendalikan oleh etik dan harga diri, tetapi lebih oleh nafsu kesenangan berlebihan (hedonisme), jika perlu melalui jalan pintas yang tak perlu sembunyi-sembunyi lagi.

Maka, kalau anak-anak mudanya pun kemudian cenderung lebih suka memilih jalan pintas untuk mencapai ketenaran dan kejayaan, janganlah terlalu diherankan. Para orang tua dan pemimpin mereka, bahkan guru-guru mereka, telah memberi suri tauladannya. Ada banyak orang yang sekolahnya gagal dan tidak punya gelar apapun, malah jadi kaya raya, menjadi tokoh, pesohor yang selalu diliput media massa. Untuk apa pula ikut-ikutan anak-anak “berkacamata pantat botol” itu, yang meski piawai memetakan bintang-bintang di langit, namun diri mereka sendiri tak pernah bisa jadi “bintang gemerlap” dalam kehidupan nyata?

Selamat tinggal bangku sekolah, engkau tak lagi bermutu karena kau hanyalah candu!

Kamis, 07 April 2016

Generasi Toilet



Negeri yang carut-marut penuh dengan permasalahan yang seakan-akan direkayasi untuk tidak bisa menemui titik terang membuat banyak akibat, bencana, dan stres yang berkepanjangan yang menular ke berbagai kalangan. Di tengah-tengah kefrustasian kalangan muda Indonesia. Obat bius menjadi jln utk mentransendensikan kemuakan terhadap rutinitas hidup. Perdamaian, kebebasan, dan antikemapanan adalah state of mind mereka. Ketika dunia tak mampu memberi ruang bagi impian tsb, mereka pun menciptakan dunia mereka sendiri melalui ilusi psychedelic.

Para Junkies datang dr kalangan pelajar dan mahasiswa, lantas merambah hingga atlet, artis, pelawak, konglomerat, pegawai kantoran dan ibu rumah tangga. Masing2 kalangan memang mengkonsumsi jenis narkoba yg berbeda. Ekstasi beredar di keremengan diskotek. Putau masku ke sekolah dan kampus utk meraih pelajar dan mahasiswa. Shabu mengambil jalur eksekutif dan selebritis. Namun kesemuanya memiliki kesamaan. Mereka sama2 menggemari TOILET, sbg tempat praktis utk sejenak melepas ketegangan, mengkonsumsi narkoba.

Hampir seluruh toilet umum mnjd ruang ritual mereka. Dr toilet sekolah, kampus, terminal, kantor atau diskotek, selalu saja ada wajah2 yg keluar dgn tatapan nanar. Mereka inilah metamorfosis GENERASI TOILET. Utk membuat mereka tobat, bukan urusan yg mudah bagi negara. Semisal jumlah mereka adalah 2,2 jt orang maka katakanlah seorang pecandu berobat dan dirawat selama enam bulan, dgn biaya 5 jt/bln, maka dana negara yg disedot mencapai 11 triliun/bln. Hal ini sangat kontras dgn keuntungan yg diberikan generasi toilet ini kpd para bandar. Bila utk mendapatkan racikan setan itu mereka harus mengeluarkan 100rb/hari, maka dana segar yg dihasilkan para bandar adlh 220 miliar. Bisa dibayangkan brp yg mereka hasilkan dlm setahun.

Bandingkan saja dgn anggaran belanja republik ini. Dgn perputaran uang sederas itu, tak mengherankan bila bnyak pihak yg tergiur utk berganti seragam mnjd saudagar serbuk putih. Jd, kita pun tak perlu terkejut bila sidang kasus narkoba terpaksa ditunda, justru krn jaksa penuntutnya tertangkap kasus narkoba. Mungkin kasus menggelikan ini hanya satu2nya di dunia. Celakanya itu trjd di negeri kita sendiri.

Cara lama memang terasa kurang ampuh dan diperlukan metode alternatif utk membasmi generasi toilet ini. Mungkin pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan baru utk menghapus toilet dr negri ini. sehingga warga akan pipis dan PUP di celana, akibatnya akan terbentuk norma adat di dalam masyarakat untuk memvonis generasi toilet dgn seberat-beratnya sehingga akan menimbulkan kekerdilan nyali dari berbagai kalangan termasuk pelajar untuk mencicipi barang setan tersebut.

Rabu, 06 April 2016

Drama dari Korupsi di Indonesia

"Dalam krisis, kita harus punya sentuhan dramatikal"
Petuah tsb mengalir dr Martin Luther King, kpd para kompradornya yg mulai gentar oleh tekanan kaum kulit putih. Ia memang membutuhkan sentuhan teatrikal untuk membangkitkan nyali yg ciut oleh krisis diskriminasi. Lautan manusia ditumpahkan ke jalan-jalan, menghitamkan wajah kota Birmingham yg biasanya terasa gurih dgn warna eropa.

Krisis memang membutuhkan sebuah drama. Tdk hanya untuk menghibur dan melupakan sejenak keputusasaan, namun jg untuk membersitkan setetes harapan. Dan King sadar, ia jg membutuhkan drama bagi panggung yg telah digelarnya. Terbukti, dgn sense of drama, King mnjd magnet dan melejit bak meteor.

Namun, apakah krisis hanya membutuhkan drama untuk membiusnya? Jawabnya tak pasti. Yang kita tahu bahwa krisis itu sendiri adlh sebuah drama. Ia menyita konsentrasi serta melahirkan kasak-kusuk. Dan menyeret kita dlm tanda tanya, akan ending dr sirkuit kemelut tsb.

Fenomena sejenis jg tengah melanda masyarakat kita. Belakangan ini, isu yg merebak dan mnjd magnet pemberitaan adalah seputar kasus korupsi. Telah sekian lama negara kita berpusar dlm persoalan tsb dan menjadikannya sbg krisis yg berkepanjangan. Berbagai upaya formal telah dilakukan untuk melepaskan negeri ini dr belitan para pencoleng. Tengok saja, dalam sepenggal perjalanan sejarah reformasi ini telah beragam produk hukum serta kebijakan yg diterbitkan. Berbagai Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat, UU, peraturan pemerintah, hingga keputusan presiden dan instruksi presiden yang telah ditandatangani. Namun, korupsi bagaikan kisah sinetron tak bermutu yang menjamur di program televisi, kita dapat menebak jalan ceritanya dan tahu apa penutupnya.

Ketika peraturan saja dianggap tak cukup mampu menggertak, pemerintah pun bergegas mencetak task force khusus. Semacam tekab, alias tim khusus antibandit, namun lebih fokus pada bandot koruptor. Dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yg ramping hingga Tim Koordinasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtastipikor) yg tambun dgn 51 anggota. Timtastipikor memang belum dpt menyematkan harapan. Namun KPK telah meroket. Tidak hanya memebersitkan segurat harapan, tetapi jg semacam kecemasan. Misalnya jaman dulu ketika berhasil menjerat Abdullah Puteh dan meringkus Harun Let Let serta Tarsisius Walla, hingga mengendus Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU menyingkapkannya melalui prolog yg menggetarkan dgn membekap Mulyana Kusumah. Hanya saja jalan ceritanya kemudian bergerak lamban dan menjemukan. Kamera memang masih fokus pd panggung KPK, namun masyarakat mulai letih hanya menyaksikan para kurcaci yg digelandang. Mereka mengharapkan adanya suspense agar tak datar2 saja.

Kelambanan ini akhirnya hanya memicu kasak-kusuk. KPK ditengarai tengah mementaskan sebuah drama yg menghibur kepenatan kita akan krisis. Insinuasi masyarakat ini tidaklah berlebih. Sebab, berbagai pernyataan telah begitu transparan terurai. Hanya saja alirannya tdk tertaut melulu pd KPU, namun menjalar hingga kaki kaki kekuasaan. Rambatan inilah yg dicurigai membelenggu langkah KPK. Isu lain pun mulai beredar. Jika nyali KPK ciut, maka tim lain yg akan mengambil alih. Bukan hanya Timtastipikor  yg dibentuk oleh presiden saja yg berpeluang, namun jg Tim Pemburu Koruptor. Semua tim memang perlu berlomba membuktikan diri, namun jg dpt menimbulkan ancaman yg kontraproduktif.

Oleh sebab itu, perlu adanya pembagian tugas dan kewenangan yg jelas antara masing2 task force agar tak saling tumpang-tindih.  Mengepung mangsa yg sama dr berbagai penjuru, bisa jd justru akan menghambat proses perburuan.

Selain persoalan pembekukkan, yg harus mnjd perhatian utama adalah masalah kewenangan task force ini dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan. Sebab, KUHP hanya memberikan kewenangan tsb kpd kepolisian dan kejaksaan saja. Peluang ini dpt dimanfaatkan untuk mementahkan upaya menjerat para koruptor ini. Masyarakat yg pesimis dan jg sinis, melihat semua ini hanyalah bagian dr skenario sebuah drama.

Terlepas dr semua itu, KPK memang telah melejit dan bersinar di balik krisis. Namun apakah drama ini akan berakhir tragis seperti akhir drama dr Martin Luther King yg ditembak mati? Tak ada jawaban yg final. Namun kita tahu KPK jg lahir dr pendahulunya yg ditembak mati oleh judical review.

Memang semua ini hanyalah catatan sejarah. Namun, seperti ungkapan Jackie Kennedy di antara cipratan darah suaminya yg tertembak, apakah garis batas antara sejarah dan drama? Sejarah  bisa dipentaskan dlm drama yg berkilau. Namun drama hanya dapat mnjd catatan sejarah yg kusam dan terkadang miris untuk dikenang. Kita tentu ingin KPK menuntaskan perburuannya dan mengenangnya dengan kepala tegak.

Jumat, 25 Desember 2015

Yesus Sang Revolusioner

Aku pernah ke ambarawa bareng teman2  KKN  pada September 2015 lalu, perjalanan aku tempuh dengan armada bumblebike alias motor kunimg kesayanganku, singkat cerita di Ambarawa, aku dipandu oleh 2 teman pribumi asli sana, Agnez dan Dian namanya. Salah satu tempat yang kami lihat-lihat adalah gereja Goa Maria Ambarawa.

Berdiri di halaman pelatarannya saja sudah membuat aku takjub. Arsitektur bangunannya unik, tumpukan-tumpukan batu alam, jauh dari aroma sentuhan bergaya eropa abad pertengahan. Untuk para pegiat selfier, sangat cocok sebagai obyek berselfie. Tapi khusus untuk mas Felix Siauw, aku sarankan jangan, karena selain selfie sendirian itu nggak baik (kecuali avatar twitter mas Felix), selfienya pun di gereja. MasyaAllah, apa nanti kata pengikutmu mas. Bisa-bisa mas Felix dikafir-kafirkan karena bersilaturrahmi dengan sang mantan. Oiya, selamat hari natal ya mas Felix, sudah akur dan baikan sama mantan belum? Jangan berantem mulu ya, udah gedhe gitu kok, jangan kayak remaja ababil.

Tidak banyak yang bisa aku serap saat ke tempat ini, selain sebagai tempat ibadah, disini juga menjadi salah satu lokasi wisata favorit para hijaber-hijaber nusantara dari dalam maupun luar kota. Suasana disana sejuk dan asri karena banyak taman dan pepohonan, bersinergi baik dengan lingkungan. Sungguh sebenarnya aku sedih jika melihat tempat ibadah yang suci namun halamannya malah di aspal rata, betapa durhakanya pada alam, betapa durhakanya pada tanah, betapa durhakanya pada kehidupan bawah tanah, karena akar dan bangsa cacing tak memperoleh resapan air hujan dari Tuhan. Jika pengelolanya adalah seorang yang arif dan berwawasan luas, aku yakin bukan aspal yang dipilihnya, namun paving. Kemudian dihiasi pula banyak tanaman untuk turut berdzikir di tengah lantunan ibadah para manusia. Itulah yang aku namakan sebagai salah satu harmoni perpaduan keromantisan semesta.
 *Aku kan cowok romantis

Pasca dari ambarawa, pulangnya aku jadi inget Gereja Pohsarang di Kediri, di Pohsarang, kau bakal menemui 3 destinasi utama lain yang tidak kalah menawan. Yaitu Goa Maria, beberapa Auditorium terbuka dengan cerita-cerita di dindingnya, dan perjalanan waktu bernama Jalan Salib. Untuk natal hari ini, aku ingin bercerita banyak tentang Jalan Salib, yang paling membuat aku tertarik.

Goa Maria berpenampakan seperti sebuah tebing besar, di bawahnya terdapat banyak nyala lilin, dengan tikar-tikar para jemaat yang berdoa mengharap selamat. Aku tidak tahu itu benar goa atau tidak, karena mulutnya ditutup pagar. Namun yang pasti panorama yang tersaji membuat aku jatuh hati.
Kemudian Auditorium terbuka, yang entah nama tepatnya apa. Ada banyak auditorium disana, masing-masing auditorium terdapat lukisan-lukisan cerita masing-masing bab. Jika disatukan akan menjadi seperti cerita sebelum Yesus tiada sampai Yesus telah dipanggil yang maha kuasa.
Kemudian ada rute perjalanan masa, Jalan Salib namanya. Ini mirip Auditorium tadi, namun di sepanjang perjalanan ada patung-patung bisu yang mendongengkan masing-masing peristiwa. Cerita mulai dari pra-Yesus lahir, hingga pasca yesus disalib dan berakhir. Aku nggak akan cerita bagaimana kisah-kisahnya, aku yakin pasti sedikit banyak kalian sudah pada paham ceritanya, aku sendiri gak paham-paham betul kok haha. Namun yang ingin aku tulis disini, adalah perenungan-perenungan apa saja yang masih aku ingat hingga kini, saat berfantasi ke Jalan Salib.

Yesus, menjadi pemuda dengan otak yang 10 langkah lebih maju dari jamannya, memang seringnya akan menemui banyak musuh dan rintangan nyawa. Sebagai seorang manusia yang sudah adil sejak dalam pikiran (seperti kata pramoedya: orang terdidik harus sudah adil sejak dalam pikirannya), tak mudah baginya untuk menyeberkan ideologi kasih sayang dan pembebasan para budak waktu itu, Yesus yang bukan siapa-siapa harus menghadapi mayoritas budaya di bawah feudalisme kekaisaran imperium romawi.
Tak cuma yesus, nabi Muhammad pun belum sukses dalam agenda penghapusan total yang bernama perbudakan di dunia. Namun yang namanya ideologi, tak akan pernah bisa dimatikan, sekalipun orang-orangnya diculik, diasingkan, kemudian dibunuh tanpa kabar. Ideologi dua manusia suci tersebut terus menyebar ke seluruh pelosok-pelosok dunia, hingga mempengaruhi sejarah panjang peradaban umat manusia. Salah satunya, mulai dari revolusi Perancis, kesetaraan gender, dan penghapusan perbudakan sebab setiap manusia yang lahir memiliki hak untuk hidup merdeka. Seandainya yesus dan nabi Muhammad kala itu berani dengan lantang menyerukan "Perbudakan adalah Bid'ah!", mungkin birahi-birahi revolusi yang terjadi di setiap belahan bumi, akan memuncak lebih dini hahaha maybee.

Tentu bukan perkara gampang untuk berteriak lantang, jaman dulu jika sembarangan berani berkata seperti demikian, bagaikan menantang hunusan pedang satu pleton kerajaan. Kaisar romawi bisa ciut nyali, tidurpun selalu gelisah hati bilamana dari sudut desa sana, Yesus mengajari murid dan pengikutnya tentang penentangan perbudakan.

Memangnya kaisar mana yang zona nyaman kedigdayaannya mau diusik oleh sekumpulan proletar-proletar dan budak yang terbuka pikirannya dan menjadi tercerdaskan? Penggulingan kekuasaan adalah hal yang tak bisa terhindarkan. Kaisar paham akan hal itu, maka sebelum itu terjadi, kerahkan seluruh army-army militer angkatan daratnya untuk memburu Yesus, menyalibnya di depan umum, untuk memberi shock-pressure kepada semua warganya. Namun sekali lagi, kaisar hanya mampu membunuh sang utusan, tapi tidak bisa untuk membunuh kebenaran ajaran kesadaran pemikiran.

Galileo pun juga menemui Jalan Salib. Ekstrim dan kontroversial memang  jika berani berkata lantang untuk penghapusan perbudakan di jaman romawi dan jaman jahiliah arab. Galileo saja yang iseng-isengan kurang kerjaan  mengutak atik kebenaran dogmatis teori geosentris dan menyangkalnya dengan teori heliosentris adalah doktrin gereja yang menjadi lawannya! Dan tentu bisa nyawa taruhannya! Tak cuma Galileo, Ibnu Sina pun juga mengahadapi Jalan Salib. Ya, cendekiawan muslim ber-IQ di atas rata-rata itu, yang di jaman sekarang menjadi bahan-bahan klaim sebagai ilmuan muslim, oleh kaumku para sunni. Sebenarnya ia dulu di masa hidupnya juga dikafir-kafirkan oleh kaumnya sendiri para muslim ber-IQ 69. Barangkali di jaman ini, tukang klaimer yang hobi mengkafir-kafirkan syiah dan filsafat tak tahu bahwa Ibnu Sina adalah seorang muslim Syiah yang juga ilmuwan beraliran Aristotelian. Banyak yang seperti Ibnu Sina, namun tak tulis kapan-kapan aja deh (kalo pengen), soalnya ini kan temanya hari natal hehehe.

Dan Jalan Salib Yesus, juga dialami oleh jaman Renaisans yang melepaskan diri dari abad kegelapan. Kelas menengah Renaisans memberontak dari para tuan tanah feudal dan kekuasaan gereja. Seperti filsafat Yunani yang melepaskan diri dari gambaran dunia mitologi yang terkait dengan kebudayaan petani dan nelayan. Renaisans menimbulkan pandangan baru tentang manusia, humanisme renaisans membawa kepercayaan baru pada manusia dan nilainya, yang sangat bertentangan dengan tekanan dari Abad Pertengahan yang penuh prasangka pada hakikat manusia yang penuh dosa. Misalnya seperti tokohnya yaitu Marsilio Picino yang berseru, "Kenalilah dirimu sendiri, wahai keturunan Ilahi dalam samaran sebagai manusia!", kalo disini ya seperti falsafah Manunggaling Kawulo Gusti nya Syeh Siti Jenar, hal yang akan dikafirkan-kafirkan oleh kecebong-kecebong syariah, karena kemampuan level perkutatannya menthok pada syariat, belum sanggup meraba tarikat hakikat dan makrifat, aku sendiri g pinter-pinter banget agama, tapi aku juga g gampang digoblok-gobloki ustads-ustads level sosmed yang patokan tafsir qurannya dari bonus quota internet, di Indonesia ini memang gampang jadi ustadz/ustadzah, tinggal repost akun2 islamiah macam dakwah islam di line atau felix siauw dan jonru di twitter tiap hari sudah nambah pangkatmu jadi ustadz sosmed, hehe maaf ya, mungkin aku bakal lebih takdzim kalo yang menyampaikan tafsirnya adalah ustadz yang memang sekolah dan ngajinya nggenah. Demikianlah perenungan-perenungan yang pernah bergentayangan di pikiran aku saat berkelana di alam semedi kamar mandiku. Dan untuk umat-umat nasrani yang bisa merayakan natal di gereja, aku ucapkan selamat dan puji syukur, bersukacitalah kawan, Mmmuuahhh :*

Tapi jangan lupakan Yesus, pahami dengan mendalam tentang beliau. Karena di millenium dimana kebebalan masih menjadi mayoritas, maafkanlah beberapa kaum seagamaku, yang membuat kondisi dimana pembangunan gereja tidaklah semudah mendirikan karaoke dan bank lintah darat. Tidak ada yang mudah memang, dalam melalui Jalan Salib. Andai jika aku diadzab menjadi ketua masjid, dan kalian tak punya gereja untuk beribadah natal, akan aku tawarkan untuk menggunakan masjid tersebut sebagai tempat beribadah kalian. Selamat hari natal, titip salam buat Yesus ya, dari aku pemuda akhir zaman yang insyaallah disayangi pacar dan mertua, namun baru ingat kalo aku belum punya keduanya
#KODEKERAS!!! HAGSHAGSHAGS ;)  )