Negeri
yang carut-marut penuh dengan permasalahan yang seakan-akan direkayasi untuk
tidak bisa menemui titik terang membuat banyak akibat, bencana, dan stres yang
berkepanjangan yang menular ke berbagai kalangan. Di tengah-tengah kefrustasian
kalangan muda Indonesia. Obat bius menjadi jln utk mentransendensikan kemuakan
terhadap rutinitas hidup. Perdamaian, kebebasan, dan antikemapanan adalah state
of mind mereka. Ketika dunia tak mampu memberi ruang bagi impian tsb,
mereka pun menciptakan dunia mereka sendiri melalui ilusi psychedelic.
Para Junkies datang dr kalangan pelajar dan mahasiswa, lantas merambah hingga atlet, artis, pelawak, konglomerat, pegawai kantoran dan ibu rumah tangga. Masing2 kalangan memang mengkonsumsi jenis narkoba yg berbeda. Ekstasi beredar di keremengan diskotek. Putau masku ke sekolah dan kampus utk meraih pelajar dan mahasiswa. Shabu mengambil jalur eksekutif dan selebritis. Namun kesemuanya memiliki kesamaan. Mereka sama2 menggemari TOILET, sbg tempat praktis utk sejenak melepas ketegangan, mengkonsumsi narkoba.
Hampir seluruh toilet umum mnjd ruang ritual mereka. Dr toilet sekolah, kampus, terminal, kantor atau diskotek, selalu saja ada wajah2 yg keluar dgn tatapan nanar. Mereka inilah metamorfosis GENERASI TOILET. Utk membuat mereka tobat, bukan urusan yg mudah bagi negara. Semisal jumlah mereka adalah 2,2 jt orang maka katakanlah seorang pecandu berobat dan dirawat selama enam bulan, dgn biaya 5 jt/bln, maka dana negara yg disedot mencapai 11 triliun/bln. Hal ini sangat kontras dgn keuntungan yg diberikan generasi toilet ini kpd para bandar. Bila utk mendapatkan racikan setan itu mereka harus mengeluarkan 100rb/hari, maka dana segar yg dihasilkan para bandar adlh 220 miliar. Bisa dibayangkan brp yg mereka hasilkan dlm setahun.
Bandingkan saja dgn anggaran belanja republik ini. Dgn perputaran uang sederas itu, tak mengherankan bila bnyak pihak yg tergiur utk berganti seragam mnjd saudagar serbuk putih. Jd, kita pun tak perlu terkejut bila sidang kasus narkoba terpaksa ditunda, justru krn jaksa penuntutnya tertangkap kasus narkoba. Mungkin kasus menggelikan ini hanya satu2nya di dunia. Celakanya itu trjd di negeri kita sendiri.
Cara lama memang terasa kurang ampuh dan diperlukan metode alternatif utk membasmi generasi toilet ini. Mungkin pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan baru utk menghapus toilet dr negri ini. sehingga warga akan pipis dan PUP di celana, akibatnya akan terbentuk norma adat di dalam masyarakat untuk memvonis generasi toilet dgn seberat-beratnya sehingga akan menimbulkan kekerdilan nyali dari berbagai kalangan termasuk pelajar untuk mencicipi barang setan tersebut.
Para Junkies datang dr kalangan pelajar dan mahasiswa, lantas merambah hingga atlet, artis, pelawak, konglomerat, pegawai kantoran dan ibu rumah tangga. Masing2 kalangan memang mengkonsumsi jenis narkoba yg berbeda. Ekstasi beredar di keremengan diskotek. Putau masku ke sekolah dan kampus utk meraih pelajar dan mahasiswa. Shabu mengambil jalur eksekutif dan selebritis. Namun kesemuanya memiliki kesamaan. Mereka sama2 menggemari TOILET, sbg tempat praktis utk sejenak melepas ketegangan, mengkonsumsi narkoba.
Hampir seluruh toilet umum mnjd ruang ritual mereka. Dr toilet sekolah, kampus, terminal, kantor atau diskotek, selalu saja ada wajah2 yg keluar dgn tatapan nanar. Mereka inilah metamorfosis GENERASI TOILET. Utk membuat mereka tobat, bukan urusan yg mudah bagi negara. Semisal jumlah mereka adalah 2,2 jt orang maka katakanlah seorang pecandu berobat dan dirawat selama enam bulan, dgn biaya 5 jt/bln, maka dana negara yg disedot mencapai 11 triliun/bln. Hal ini sangat kontras dgn keuntungan yg diberikan generasi toilet ini kpd para bandar. Bila utk mendapatkan racikan setan itu mereka harus mengeluarkan 100rb/hari, maka dana segar yg dihasilkan para bandar adlh 220 miliar. Bisa dibayangkan brp yg mereka hasilkan dlm setahun.
Bandingkan saja dgn anggaran belanja republik ini. Dgn perputaran uang sederas itu, tak mengherankan bila bnyak pihak yg tergiur utk berganti seragam mnjd saudagar serbuk putih. Jd, kita pun tak perlu terkejut bila sidang kasus narkoba terpaksa ditunda, justru krn jaksa penuntutnya tertangkap kasus narkoba. Mungkin kasus menggelikan ini hanya satu2nya di dunia. Celakanya itu trjd di negeri kita sendiri.
Cara lama memang terasa kurang ampuh dan diperlukan metode alternatif utk membasmi generasi toilet ini. Mungkin pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan baru utk menghapus toilet dr negri ini. sehingga warga akan pipis dan PUP di celana, akibatnya akan terbentuk norma adat di dalam masyarakat untuk memvonis generasi toilet dgn seberat-beratnya sehingga akan menimbulkan kekerdilan nyali dari berbagai kalangan termasuk pelajar untuk mencicipi barang setan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar