Dalam krisis, kita harus punya sentuhan dramatikal"
Petuah tsb mengalir dr Martin Luther King, kpd para kompradornya yg mulai gentar oleh tekanan kaum kulit putih. Ia memang membutuhkan sentuhan teatrikal untuk membangkitkan nyali yg ciut oleh krisis diskriminasi. Lautan manusia ditumpahkan ke jalan-jalan, menghitamkan wajah kota Birmingham yg biasanya terasa gurih dgn warna eropa.
Krisis memang membutuhkan sebuah drama. Tdk hanya untuk menghibur dan melupakan sejenak keputusasaan, namun jg untuk membersitkan setetes harapan. Dan King sadar, ia jg membutuhkan drama bagi panggung yg telah digelarnya. Terbukti, dgn sense of drama, King mnjd magnet dan melejit bak meteor.
Namun, apakah krisis hanya membutuhkan drama untuk membiusnya? Jawabnya tak pasti. Yang kita tahu bahwa krisis itu sendiri adlh sebuah drama. Ia menyita konsentrasi serta melahirkan kasak-kusuk. Dan menyeret kita dlm suatu tanda tanya akan ending dr sirkuit kemelut yang belum paripurna.
Petuah tsb mengalir dr Martin Luther King, kpd para kompradornya yg mulai gentar oleh tekanan kaum kulit putih. Ia memang membutuhkan sentuhan teatrikal untuk membangkitkan nyali yg ciut oleh krisis diskriminasi. Lautan manusia ditumpahkan ke jalan-jalan, menghitamkan wajah kota Birmingham yg biasanya terasa gurih dgn warna eropa.
Krisis memang membutuhkan sebuah drama. Tdk hanya untuk menghibur dan melupakan sejenak keputusasaan, namun jg untuk membersitkan setetes harapan. Dan King sadar, ia jg membutuhkan drama bagi panggung yg telah digelarnya. Terbukti, dgn sense of drama, King mnjd magnet dan melejit bak meteor.
Namun, apakah krisis hanya membutuhkan drama untuk membiusnya? Jawabnya tak pasti. Yang kita tahu bahwa krisis itu sendiri adlh sebuah drama. Ia menyita konsentrasi serta melahirkan kasak-kusuk. Dan menyeret kita dlm suatu tanda tanya akan ending dr sirkuit kemelut yang belum paripurna.
Fenomena sejenis jg tengah melanda dunia pendidikan tinggi kita.
Belakangan ini, isu yg merebak dan mnjd magnet pemberitaan adalah seputar wajah
dunia pendidikan yang semakin menjerat dan tak lagi bersahabat. Telah sekian
lama negara kita berpusar dlm persoalan tsb dan menjadikannya sbg krisis yg
berkepanjangan. Berbagai upaya formal telah dilakukan untuk melepaskan negeri
ini dari belitan para pencoleng dunia pendidikan. Tengok saja, dalam sepenggal
perjalanan sejarah reformasi ini telah beragam produk hukum serta kebijakan yg
diterbitkan. Berbagai UU, peraturan pemerintah, peraturan menteri yang telah
ditandatangani. Namun, wajah pendidikan nyatanya masih jauh dari yang diharapkan.
Pendidikan semakin mahal dan binal tak kenal filsafat asal.
Kita mengenal salah satu filsuf terbesar
pendidikan Paulo Freire namanya, Freire dalam bukunya The pedagogy of Oppresed (pendidikan kaum tertindas) selalu
mengkritik tentang pendidikan yang tidak mendidik, pendidikan yang hanya teory
belaka. Ia sangat tegas menyikapi realitas sosial yang tidak
berperikemanusiaan. Ia melakukannya tidak hanya dengan teory-teory yang sophisticated. Tapi dengan bahasa dan
aplikasi sehari-hari yang sederhana. Freire kala itu mengkritik tata kelola
pendidikan negara-negara dunia ketiga seperti Brazil dan Chile yang hanya
menjadi panggung bagi pentas drama ideologi penguasa yang menghegemoni
struktural kekuasaannya. Mereka ditundukkan, dibikin patuh oleh
pembodohan-pembodohan yang sengaja dilakukan secara sentralistis. Tidak adanya
penghargaan pada anak didik sebagai manusia yang memiliki potensi dan
eksistensi diri semakin meberi lampu hijau bagi penguasa untuk melanggengkan
hegemoni dan dominasi. Dan ini adalah kata-kata pedas dari Freire “Pendidikan
adalah proses dehumanisasi oleh penguasa demi kekuasaannya!
Ketika peraturan saja dianggap tak cukup mampu menggertak, mahasiswapun
keluar dari ruangan ber-Acnya, ruang AC telah membuat otak mengkerut bagai anu
yang kurang urut, mereka sadar bahwa sudah saatnya merebut apa yang telah pimpinan
kampus renggut. Mahasiswa bergegas
mencetak task force khusus. Semacam tekab, alias tim khusus antibandit, namun
lebih fokus pada bandit anggaran dengan membentuk satgas dalam kelola BEM
Universitas demi transparansi yang tak pernah tuntas. Memang belum dpt
menyematkan harapan. Namun satu dua orang telah meroket. Tidak hanya
memebersitkan segurat harapan, tetapi juga semacam kecemasan. Kata-kata mutiara
sang ketua lembaga yang sering disampaikan dalam akun-akun sosmednya bisa
menjadi sebuah jeratan jika tidak sesuai kajian yeng telah diamanatan. Hanya
saja jalan ceritanya kemudian bergerak lamban dan menjemukan. Kamera memang
masih fokus pd panggung yang diatur sang ketua lembaga, namun mahasiswa dan
calon-calon mahasiswa mulai jengah menyaksikan para pokemon universitas yg tertawa
di widya puraya sana. Mereka mengharapkan adanya suspense gerakan yang makin
matang agar para pokemon berani turun dari gelanggang!
Kelambanan ini akhirnya hanya memicu kasak-kusuk. BEM ditengarai
tengah mementaskan sebuah drama yg menghibur kepenatan kita akan krisis, BEM
ditengarai hanya bermain di zona nyaman oleh para demonstran. Insinuasi mahasiswa
umum ini tidaklah berlebihan melihat janji langkah lanjutan yang tak kunjung
dilaksanakan. Padahal, berbagai pernyataan telah begitu transparan terurai dan
menjalar hingga kaki kaki kekuasaan. Apakah justru rambatan inilah yg dicurigai
membelenggu langkah? Apakah konsolidasi ke kaki-kaki kekuasaan justru menjadi langkah
yang salah? Apakah ada batas-batas yang tak kunjung mengalah? Semua tahu bahwa
BEM telah terlalu lama dipegang oleh satu rezim yang sama dan dari dulu memang
sangat sulit untuk diajak bersama mengupas isu secara dewasa, entahlah mungkin
BEM tidak salah tapi memang mahasiswa pada umumnya yang keras kepala. jika
memang benar itu alasannya maka sudah saatnya mereka sadar diri dan kemudian
turun tahta. Isu lain pun mulai beredar. Jika nyali BEM ciut, maka tim lain yg
akan mengambil alih. Tapi ingat semua tim memang perlu berlomba membuktikan
diri, namun hal itu juga dpt menimbulkan ancaman yg kontraproduktif. Aku
justru kawatir jika ego yang dipelihara, para pokemon widya puraya sana justru
akan semakin seenaknya memecah belah kita.
Tuhan
menciptakan berbagai etnis manusia melalui satu ovum dan satu sperma, meskipun
lubang keluar dan lubang penerima bukan berasal dari pasangan yang sama yang
jelas rupa-rupa bayi yang lahir pun tak menafikkannya menjadi bukan manusia,
apa yang hebat dari aku? dari kamu? dari kita? toh kita sama-sama produk penis
dan vagina, lantas kenapa kita mesti membeda-bedakan seseorang berdasar warna kulit,
sipit tidaknya mata, ngatung tidaknya celana, botol apa yang tersimpan di kosnya, panjang
tidaknya jilbab, tebal tidaknya
jenggot, untuk apa? manusia toh sejarahnya sama, kita berburu, bercocok tanam,
melalang buana, merantau, menaklukkan alam, beranak-pinak. aku merah, kamu
putih, dia hijau dan orang sebelah sana kuning, dan sebelah sananya lagi tak
berkostum, Adanya perbedaan bukanlah untuk ditakuti namun untuk disyukuri,
perbedaan diciptakan bukan untuk pertengkaran, tapi untuk persaudaraan, lantas
kenapa kau jauhiku hanya karena aku berbeda, tak bisakah kita berdiskusi di
meja yang sama?
Lalu aku teringat pada garis tetenger, bagaikan
degup cinta dan asmara hubungan kalian yang tiba-tiba saja jadian dan membuatku
menelan kekecewaan, garis tetenger ini adalah garis batas yang tidak terlihat,
namun setiap pijakan langkah dan hembusan desah kita dipengaruhi olehnya. Pola
pikir kita, kemampuan dan cash flow dana, berkibarnya kain sang saka,
kebanggaan yang membutakan hati dan jiwa, sejarah yang tersenyum dan berlinang
air mata, saudara-saudari yang kita sebut sebagai sebangsa meski tak
se-sperma, KTP, almamater, kelas, ideologi, nasionalisme, kesepakatan, perang,
keruntuhan, pembantaian suku dan etnis, separatis, diskriminasi ras, semuanya
adalah produk dari garis tetenger, produk dari garis batas suatu negara.
Ada garis batas fisik, ada garis batas
mental. Ada yang sementara, ada yang abadi. Ada kamu, ada Aku, ada Dia, aisshh.
Garis batas geografis, sosial, biologis, status, gender, privasi, mental,
spiritual, agama, kejombloan… Semua memisahkan manusia dalam kotak
masing-masing. Garis batas mengurung, memasung, melindungi, mentakfiri dan mengukuhkan
sebuah zona aman tempat para spesies human merasakan kelegaan dan kenyamanan.
Bangsa-bangsa punya zona aman
masing-masing, dilindungi oleh garis batas negeri, itulah fungsi negara, hanya
sebagai alat untuk melindungi semua yang ada di dalamnya. Sangat tidak jarang,
ceceram derai darah tak bisa dihindarkan hanya demi guratan garis-garis di atas
suhuf-suhuf atlas. Benarkah bahwa seringnya, hidup memang sebercanda menggosok
batu akik? Inilah perjalanan kisah-kasih hidup manusia. Sejak melewati dua paha
ibunya, mereka tumbuh, berjuang, bekerja dan memuja kemapanan, berselisih dan
berebut, hingga datangnya malaikat maut. Awal mereka berburu dan meramu,
bercocok tanam lalu beroper ke jaman delivery order. Dalam perkembangan
peradaban manusia dulu, mulai dari kehidupan primitif di goa, para penakluk
alam dan hewan di hutan, suku-suku nomaden di relung-relung daratan, tahta
ngingrat-ningrat berdarah biru, kastil yang dikungkung benteng dan tembok
raksasa, hingga peradaban manusia gadget minded, zona aman semakin kokoh dan
berstruktur. Bangsa-bangsa mengayunkan pedang, bernegosiasi, berdiplomasi, bersatu,
bersekutu, saling berburu, berseteru, berperang lagi, hingga akhirnya hancur
lebur, semua terkait urusan zona aman, melindungi batas-batas dan kebanggaan
mereka.
Oleh sebab itu, perlu adanya pembagian tugas dan kewenangan
yg jelas antara masing2 task force agar tak saling tumpang-tindih. Mengepung mangsa yg sama dr berbagai penjuru bisa jd justru
akan menghambat proses perburuann dan tentunya pokemon-pokemon widya puraya makin
tertawa melihat mahasiswanya yang tak kunjung dewasa dan tidak paham betul
SIAPA MUSUHNYA.
Terlepas dr semua itu, sang ketua lembaga mahasiswa memang
telah melejit dan bersinar di balik krisis. Namun apakah drama ini akan
berakhir tragis seperti akhir drama dari Martin Luther King yg ditembak mati?
Tak ada jawaban yg final. Namun kita tahu lembaga sekelas KPKpun juga lahir dr
pendahulunya yg ditembak mati oleh judical review.
Memang semua ini hanyalah catatan sejarah. Namun, seperti
ungkapan Jackie Kennedy di antara cipratan darah suaminya yg tertembak, apakah
garis batas antara sejarah dan drama? Sejarah bisa dipentaskan dlm drama
yg berkilau. Namun drama hanya dapat mnjd catatan sejarah yg kusam dan
terkadang miris untuk dikenang. Kita tentu ingin BEM dan mahasiswa pada umumnyanya
menuntaskan perburuan pokemon widya puraya dan mengenangnya dengan kepala tegak
sebagai sebuah perjuangan yang tidak setengah-setengah, semua tahu mahasiswa
adalah aktor pergerakan, akankah BEM kususnya dan kita pada umumnya menjadi
oposan ataukah kolaborator rezim?
Aku jadi ingat kata pepatah, beri aku sepuluh mamah muda maka
akan kuguncang dunia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar