Ini tentang hidup dalam mengindra alam, untuk memahami kenapa kita tak
diturunkan oleh Tuhan di planet Namec yang hanya dihuni satu gender,
satu ras, satu sorban, dan satu sekte. Menjumpai lepas pantai, memandang jauh ke depan menembus dimensi batas
penglihatan, memandang orang di belahan ujung lain yang juga berdiri
tersenyum menatap kita. Saling memahami bahwa kita tak hidup sendiri di
bumi, saling memahami bahwa kita hidup untuk saling melindungi, saling
memahami bahwa kita hidup untuk saling mengasihi. Di belahan bumi manapun, kuakui
semua manusia memang memiliki bakat untuk berkepala bebal karena kurangnya
pendidikan dan pemahaman. Berkecambahnya bibit ekstrimis dari sawah bebal ini
hanya tinggal menunggu kondisi saja, apakah mereka berada pada situasi mayoritas
atau situasi minoritas.
Di Kanada, orang-orang
non-muslim berkepala terbuka justru dengan mudahnya menggalang dana untuk
membangun kembali masjid yang dirusak oknum bebal ekstrimis disana, bahkan
hingga menawarkan gereja untuk dipakai sholat menghadap kehadirat-Nya,
rumangsamu malaikat Jibril ora nangis terharu termehek-mehek melihat kejadian
itu? Itulah ajaran dari sang Yesus, saling kasih mengasihi kaum tertindas lagi
minoritas. Muslim-muslim disana rupanya juga mampu memaafkan, tidak berniat
menyerang balik. Karena mereka sadar jika bom harus dibalas dengan bom,
habislah sudah manusia, dan itu namanya bukan hukuman, tapi ajang balas dendam.
Bukan otak lagi yang dipakai, tapi sudah ke ranah nafsu. Pahami itu, renungi tiap
kau beol jika perlu.
Di negeri ini, ijin membangun
karaoke dan tempat pijet ples kelonan justru jauh lebih mudah daripada
mendirikan gereja dan menjalankan ibadah. Apa yang kalian takutkan dengan
dibangunnya gereja-gereja itu? Takut akidah kalian hancur ketika melihat gambar
salib? Ayolah tolol itu memang hak tapi juga jangan keterluan begitu, akidah
tidak sebercanda itu kali. Atau kalian memang orang ekstrimis lemah iman yang
mengklaim sebagai ahli surga? Akui saja, jujur itu nikmat dan mukjizat.
Logika simpel gitu aja belum
bisa nyampe kok sudah teriak khilafah-khilaf ahan, move on sana lho move on
dari masa lalu, kalo memang belum belajar apa-apa tentang khilafah jangan sok
tau khilafah itu bagaimana, nafsu kok dimanjalkan, kalo memanjakan pacar nah
itu rapopo. Kasihan anak-anak kecil musti teracuni virus ketololan ekstrimis.
Otokritik itu perlu, supaya kita tahu diri.
Semua manusia memiliki hak untuk
beragama dan menjalankan ibadahnya. Tugas negara bukan mengetahui isi doa
rakyatnya tapi memastikan bahwa rakyatnya bisa berdoa dengan bebas dan aman,
entah bagaimanapun caranya. Yang hobi mencatut nama Tuhan untuk minta saham eh
maksudnya menindas kaum minoritas, silahkan pikir, kamu pikir Tuhan suka
namanya dibawa-bawa untuk pendzoliman? Iya Tuhan suka jika Tuhan adalah nafsu
selangkanganmu sendiri, jadi yang perlu diingat adalah kita ini makhluk yang beragama yang punya akal dan nafsu bukan cuma makhluk yang bersenggama, maaf sante dan selow saja baca gaya tulisanku yang mbelgedes macam gini, jangan keburu emosi, kalau dikit-dikit reaksioner itu artinya lebih mendahulukan nafsu daripada akal, pasti orang-orang yang kayak gitu nafsunya gede dan gampang ereksi
Terakhir yang pengen tak
singgung, banyak jalan menuju Roma, namun hanya ada satu jalan menuju hati
mertua...
Samlekum...