Surat terbuka untuk BEM UNDIP,
Menantikan sikap BEM UNDIP dalam permasalahan pabrik Semen di
Rembang.
Rizky, Fandy, dan kawan-kawanku di BEM UNDIP yang tak
henti-hentinya memekikkan salam hidup mahasiswa pada tiap kesempatannya. Awal
saya ingin mengutarakan pandangan untuk BEM UNDIP sekarang.
Memang betul bahwa lembaga yang sama-sama kita cintai ini, BEM
UNDIP dengan pemimpin yang baru dan belum
lama dilantik, masih perlu banyak menata internal dan eksternal
organisasi, saya tahu kawan. Tidak menutup kemungkinan terjadi hambatan, kemacetan bahkan kemunduran dalam setiap perjalanan
organisasi. Terlebih pada periode yang baru pastinya akan dihadapkan pada
setumpuk PE-ER besar yang menjadi “titipan” kepengurusan sebelumnya, padahal
konflik-konflik baru pastinya menanti kawan-kawan sekalian, tapi saya meyakini
kawan, kawan-kawan di BEM UNDIP sekarang pastilah “menceburkan” diri ke lembaga
yang kita cintai ini dengan segudang bekal dan persiapan menghadapi petualangan
setahun kedepan. Pastilah kawan-kawan sekalian hadir dengan sebuah perencanaan
bahkan lebih.
Tidak ada yang pernah tahu akan seperti apa masa depan kawan,
masa depan masihlah suci dan kosong. Cara terbaik untuk memprediksi masa depan
adalah dengan menciptakannya! Itulah yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa
masalalu yang tak pernah basi untuk kita pelajari. Kita tahu (saya berharap
kita sama-sama tahu) terjadi pasang-surut pergerakan di tubuh mahasiswa dewasa
ini. Pasang surtut tersebut memanglah bukan suatu kejadian yang luar biasa,
suatu hal yang sangat lumrah mengingat gerak dialektis fenomena sosial yang
terus berjalan. Masa romantis berubah menjadi masa sulit, nantinya masa sulit
akan menimbulkan kegundahan dan spirit perubahan, spirit itu nantinya akan
menimbulkan romantisme kembali, begitulah kiranya kawan, segalanya pastii
berubah dan tidak ada sesuatu yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.
Banyak kejadian yang melingkupi hidup manusia, besar kecilnya
kejadian itu merubah manusia, di satu waktu manusia terlibat penuh atas
kejadian itu, di waktu lain mungkin hanya menjadi penonton, sekedar mengamati,
bahkan mungkin hanya melamun di pinggir kejadian. Banyak narasi sejarah
pergerakan mahasiswa yang bisa diambil hikmah kawan, saya ingin menyampaikan
beberapanya.
Berbicara mengenai pergerakan mahasiswa ibarat meneropong
jauh melalui mesin waktu, ada romantisme tersendiri ketika membicarakan
peristiwa-peristiwa besar yang melibatkan mahasiswa. Dalam struktur politik di
Indonesia, gerakan mahasiswa memiliki peranan politik dan mulai populer sejak perubahan
kekuasaan tahun 1966-1967. Sebelum era itu, peran mahasiswa sebagai pressure group lebih lebih dikenal
sebagai kelompok pemuda. Pergeseran peran tersebut dilatarbelakangi dimensi politik yang erat
kaitannya dengan struktur kekuasaaan, di era pra kemerdekaan unsur masyarakat
terdidik relatif kecil, namun dari jumlah yang kecil tersbut berhasil dirumuskan
gagasan-gagasan besar, boleh dibilang unsur kecil itu berada di lapisan elit
kekuasaan era itu. Kenapa mahasiswa era itu lebih senang disebut sebagai
kelompok muda kawan? Karena ada kesadaran dalam diri mereka bahwa perjuangan
tidak bisa dilakukan oleh mahasiswa sendirian dimana kita sama-sama menyadari
bahwa predikat mahasiswa diberikan bagi mereka yang menempuh pendidikan tinggi,
dengan label pemuda, harapannya kelompok muda lain yang bukan mahasiswa dapat
lebih mudah dihimpun dan “diisi” untuk kemudian digerakkan, kata pemuda lebih
luas dan egaliter untuk dijadikan alat perlawanan rezim. Satu hal yang kita
peroleh adalah bahwa mahasiswa tempo dulu yang lebih senang disebut pemuda
membutuhkan dukungan rakyat untuk bangkit melawan penjajah, mereka bergerak
untuk dan bersama rakyat. Mereka sadar gagasan-gagasan untuk perubahan tidak
akan berjalan tanpa dukungan rakyat, begitulah kiranya kejayaan pemuda masa
lalu bersiasat dan bergerak kawan.
Di era kemerdekaan, muncul gerakan besar oleh mahasiswa tahun
1966, aktor-aktornya sering disebut angkatan 66, gerakan 66 seringkali
diidentikkan sebagai angkatan anti soekarno yang saat itu mengakomodir PKI, ada
anggapan mahasiswa angkatan itu adalah angkatan yang sukses dalam memainkan
peranannya mengawal rezim namun ada juga yang menganggap sebagai angkatan gagal
karena ditunggangi kepentingan soeharto, terlepas dari itu, gerakan 66 adalah
gerakan yang menggoreskan sejarah bangsa. Masihbanyak lagi peristiwa yang
melibatkan mahasiswa yang kemudian berpuncak di pergerakan tahun 1988. Dalam
era reformasi, pendidikan tinggi lebih terbuka untuk masyarakat luas,
masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi jumlahnya semakin besar. Meskipun demikian
mahasiswa tetap menjadi lapisan elit dalam struktur masyarakat. Bedanya di era
pra kemerdekaan, mahasiswa (pemuda) mengintegrasikan gerakan elit bersama
rakyat, kini gerak mahasiswa justru cenderung berada di pusaran elit, gerak
mahasiswa direkayasa sedemikian rupa untuk bungkam atau bahkan dipersuarakan
manakala dianggap menguntungkan untuk kepentingan kelompok-kelompok anonim.
Penguasa lebih senang rakyat berjarak dengan mahasiswa, karena dengan demikian
kekuiatan oposan akan melemah dan mudah bagi rezim untuk memperlakukan rakyat
sesuka hati.
Mahasiswa terjebak dengan rutinitas kampus dan budaya pop,
kejadian itu berkorelasi pada konstruksi retorika populisme dan kritisismenya,
mahasiswa telah berjarak dengan rakyat atau sengaja dibuat jarak? Yang jelas
gerak mulia itu telah berada diujung tanduk. Ada dualisme dalam tubuh
mahasiswa, yang pertama mahasiswa menganggap bahwa pendidikan tinggi adalah
alat mobilisasi ke hidup dan penghidupan yang vertikal ke atas, disisi lain
mahasiswa tidak sungguh-sungguh berusaha mengubah tatanan masyarakat namun juga
tidak ingin meninggalkannya.
Ada kebingungan kolektif melihat gerak mahasiswa sekarang
kawan, kita bingung apakah harus meminggirkan sejenak urusan pendidikan ataukah
masuk kedalam ranah pergerakan baik evolusioner ataupun revolusioner yaitu
bersama dengan rakyat itu sendiri, atau cuek begitusaja dan membiarakan rakyat
menyelesaikan sendiri berbagai poroblematikanya sambil kita (mahasiswa)
menyelesaikan pendidikannya? Yang artinya melanggengkan tatanan sistem ini.
Terserah kawan...
Kawanku Rizky dan Fandi selaku pemimpinku, saya melihat
usaha yang belum maksimal dari kawan-kawan sekalian dalam mengintegrasikan
gerakan, padahal rakyat menanti sikap BEM UNDIP. Rakyat, masyarakat Rembang terpecah menjadi
dua, ada pihak yang sepakat dengan pembnagunan pabrik semen ada yang tidak. Apa
kiranya yang menjadi sikap BEM UNDIP sekarang wahai kawan? Mungkin kawan-kawan
diam sejenak untuk melakukan kajian-kajian yang mendalam, mungkin diamnya
kawan-kawan adalah untuk menyiapkan sikap, kuharap demikian, bukan diam
melamun, karena lamunan tidak akan menghasilkan apa-apa kawan, melamun benar-benar
aktivitas kosong, kosong sama sekali.
Kita sama-sama tahu, (kuharap kamu Rizky, Fandy selaku
pemimpinku juga tahu) bahwa BEM adalah organisasi yang memiliki peranan sangat
penting, BEM-lah yang dewasa ini menjadi
katalis kerja kolektif mahasiswa dalam upaya penyampaian aspirasi mahasiswa dan
rakyat, singkat kata BEM menjadi instrumen pergerakan mahasiswa!
Harapanku kawan, BEM UNDIP tidak hanya melamun namun berani
mengeluarkan sikap, apapun itu baik pro ataupun kontra terhadap pembangunan
pabrik semen.
Apakah kawan-kawan sekalian takut untuk mendapat perlawanan
ketika bersikap, apa bedanya dengan cari aman? Sejak kapan mahasiswa mencari
aman, tidak ada dalam sejarah pergerakan mahasiswa dimana insan-insan terdidik
yang melibatkan dirinya dalam instrumen pergerakan takut untuk menjumpai
berbagai resiko. Jangan takut kawan, memang betul bahwa gerakan mahasiswa saat
ini harus berhadap-hadapan dengan relasi kekuasaan yang sangat kompleks diluar
tubuhnya, relasi itu telah “melembaga” kedalam institusi-institusi anonim yang
punya potensi mengkooptasi kalian, namun jika kealpaan sikap muncul hanya
karena kawatir ada anggapan bahwa bersikap berarti menyerah pada kuasa-kuasa
anonim-itu salah kawan, sangat sangat salah.
Sejarah pergerakan mahasiswa adalah sejarah perlawanan
terhadap keangkuhan dan ketamakan penguasa, perlu kiranya kita menengok ke
belakang dengan hati yang sejuk, akan
selalu ada stereotipe dominan yang menyampaikan bahwa pergerakanmahasiswa
sesalu terhubung dengan peristiwa besar tertentu. kita perlu berterimakasih pada
mahasiswa-mahasiswa masa lalu yang dengan gigih “melawan”. Pada saat realita
sosial masyarakat menuntut mahasiswa terlibat, golongan yang di era-era sebelumnya tidak diperhitungkan itu kemudian
turun ke jalan, tangan terkepal, suara lantang siap panas, bahkan tewas- dengan
almamater kebanggan masing.
Perlu diketahui kawan-kawanku di BEM UNDIP, satu yang tidak
bisa dilepaskan dari mahasiswa adalah label mahasiswa sebagai aktor pergerakan,
akankah BEM UNDIP menjadi oposan ataukah kolaborator rezim? Saya nantikan sikap
kawan-kawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar