https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Rabu, 15 April 2015

Menanti Sikap BEM UNDIP Terkait Permasalahan Pabrik Semen di Rembang

Surat terbuka untuk BEM UNDIP,

Menantikan sikap BEM UNDIP dalam permasalahan pabrik Semen di Rembang.

Rizky, Fandy, dan kawan-kawanku di BEM UNDIP yang tak henti-hentinya memekikkan salam hidup mahasiswa pada tiap kesempatannya. Awal saya ingin mengutarakan pandangan untuk BEM UNDIP sekarang.

Memang betul bahwa lembaga yang sama-sama kita cintai ini, BEM UNDIP dengan pemimpin yang baru dan belum  lama dilantik, masih perlu banyak menata internal dan eksternal organisasi, saya tahu kawan. Tidak menutup kemungkinan terjadi hambatan,  kemacetan bahkan kemunduran dalam setiap perjalanan organisasi. Terlebih pada periode yang baru pastinya akan dihadapkan pada setumpuk PE-ER besar yang menjadi “titipan” kepengurusan sebelumnya, padahal konflik-konflik baru pastinya menanti kawan-kawan sekalian, tapi saya meyakini kawan, kawan-kawan di BEM UNDIP sekarang pastilah “menceburkan” diri ke lembaga yang kita cintai ini dengan segudang bekal dan persiapan menghadapi petualangan setahun kedepan. Pastilah kawan-kawan sekalian hadir dengan sebuah perencanaan bahkan lebih.

Tidak ada yang pernah tahu akan seperti apa masa depan kawan, masa depan masihlah suci dan kosong. Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya! Itulah yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa masalalu yang tak pernah basi untuk kita pelajari. Kita tahu (saya berharap kita sama-sama tahu) terjadi pasang-surut pergerakan di tubuh mahasiswa dewasa ini. Pasang surtut tersebut memanglah bukan suatu kejadian yang luar biasa, suatu hal yang sangat lumrah mengingat gerak dialektis fenomena sosial yang terus berjalan. Masa romantis berubah menjadi masa sulit, nantinya masa sulit akan menimbulkan kegundahan dan spirit perubahan, spirit itu nantinya akan menimbulkan romantisme kembali, begitulah kiranya kawan, segalanya pastii berubah dan tidak ada sesuatu yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.

Banyak kejadian yang melingkupi hidup manusia, besar kecilnya kejadian itu merubah manusia, di satu waktu manusia terlibat penuh atas kejadian itu, di waktu lain mungkin hanya menjadi penonton, sekedar mengamati, bahkan mungkin hanya melamun di pinggir kejadian. Banyak narasi sejarah pergerakan mahasiswa yang bisa diambil hikmah kawan, saya ingin menyampaikan beberapanya.

Berbicara mengenai pergerakan mahasiswa ibarat meneropong jauh melalui mesin waktu, ada romantisme tersendiri ketika membicarakan peristiwa-peristiwa besar yang melibatkan mahasiswa. Dalam struktur politik di Indonesia, gerakan mahasiswa memiliki peranan politik dan mulai populer sejak perubahan kekuasaan tahun 1966-1967. Sebelum era itu, peran mahasiswa sebagai pressure group lebih lebih dikenal sebagai kelompok pemuda. Pergeseran peran tersebut  dilatarbelakangi dimensi politik yang erat kaitannya dengan struktur kekuasaaan, di era pra kemerdekaan unsur masyarakat terdidik relatif kecil, namun dari jumlah yang kecil tersbut berhasil dirumuskan gagasan-gagasan besar, boleh dibilang unsur kecil itu berada di lapisan elit kekuasaan era itu. Kenapa mahasiswa era itu lebih senang disebut sebagai kelompok muda kawan? Karena ada kesadaran dalam diri mereka bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan oleh mahasiswa sendirian dimana kita sama-sama menyadari bahwa predikat mahasiswa diberikan bagi mereka yang menempuh pendidikan tinggi, dengan label pemuda, harapannya kelompok muda lain yang bukan mahasiswa dapat lebih mudah dihimpun dan “diisi” untuk kemudian digerakkan, kata pemuda lebih luas dan egaliter untuk dijadikan alat perlawanan rezim. Satu hal yang kita peroleh adalah bahwa mahasiswa tempo dulu yang lebih senang disebut pemuda membutuhkan dukungan rakyat untuk bangkit melawan penjajah, mereka bergerak untuk dan bersama rakyat. Mereka sadar gagasan-gagasan untuk perubahan tidak akan berjalan tanpa dukungan rakyat, begitulah kiranya kejayaan pemuda masa lalu bersiasat dan bergerak kawan.

Di era kemerdekaan, muncul gerakan besar oleh mahasiswa tahun 1966, aktor-aktornya sering disebut angkatan 66, gerakan 66 seringkali diidentikkan sebagai angkatan anti soekarno yang saat itu mengakomodir PKI, ada anggapan mahasiswa angkatan itu adalah angkatan yang sukses dalam memainkan peranannya mengawal rezim namun ada juga yang menganggap sebagai angkatan gagal karena ditunggangi kepentingan soeharto, terlepas dari itu, gerakan 66 adalah gerakan yang menggoreskan sejarah bangsa. Masihbanyak lagi peristiwa yang melibatkan mahasiswa yang kemudian berpuncak di pergerakan tahun 1988. Dalam era reformasi, pendidikan tinggi lebih terbuka untuk masyarakat luas, masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi jumlahnya semakin besar. Meskipun demikian mahasiswa tetap menjadi lapisan elit dalam struktur masyarakat. Bedanya di era pra kemerdekaan, mahasiswa (pemuda) mengintegrasikan gerakan elit bersama rakyat, kini gerak mahasiswa justru cenderung berada di pusaran elit, gerak mahasiswa direkayasa sedemikian rupa untuk bungkam atau bahkan dipersuarakan manakala dianggap menguntungkan untuk kepentingan kelompok-kelompok anonim. Penguasa lebih senang rakyat berjarak dengan mahasiswa, karena dengan demikian kekuiatan oposan akan melemah dan mudah bagi rezim untuk memperlakukan rakyat sesuka hati.

Mahasiswa terjebak dengan rutinitas kampus dan budaya pop, kejadian itu berkorelasi pada konstruksi retorika populisme dan kritisismenya, mahasiswa telah berjarak dengan rakyat atau sengaja dibuat jarak? Yang jelas gerak mulia itu telah berada diujung tanduk. Ada dualisme dalam tubuh mahasiswa, yang pertama mahasiswa menganggap bahwa pendidikan tinggi adalah alat mobilisasi ke hidup dan penghidupan yang vertikal ke atas, disisi lain mahasiswa tidak sungguh-sungguh berusaha mengubah tatanan masyarakat namun juga tidak ingin meninggalkannya.
Ada kebingungan kolektif melihat gerak mahasiswa sekarang kawan, kita bingung apakah harus meminggirkan sejenak urusan pendidikan ataukah masuk kedalam ranah pergerakan baik evolusioner ataupun revolusioner yaitu bersama dengan rakyat itu sendiri, atau cuek begitusaja dan membiarakan rakyat menyelesaikan sendiri berbagai poroblematikanya sambil kita (mahasiswa) menyelesaikan pendidikannya? Yang artinya melanggengkan tatanan sistem ini. Terserah kawan...

Kawanku Rizky dan Fandi selaku pemimpinku, saya melihat usaha yang belum maksimal dari kawan-kawan sekalian dalam mengintegrasikan gerakan, padahal rakyat menanti sikap BEM UNDIP.  Rakyat, masyarakat Rembang terpecah menjadi dua, ada pihak yang sepakat dengan pembnagunan pabrik semen ada yang tidak. Apa kiranya yang menjadi sikap BEM UNDIP sekarang wahai kawan? Mungkin kawan-kawan diam sejenak untuk melakukan kajian-kajian yang mendalam, mungkin diamnya kawan-kawan adalah untuk menyiapkan sikap, kuharap demikian, bukan diam melamun, karena lamunan tidak akan menghasilkan apa-apa kawan, melamun benar-benar aktivitas kosong, kosong sama sekali.

Kita sama-sama tahu, (kuharap kamu Rizky, Fandy selaku pemimpinku juga tahu) bahwa BEM adalah organisasi yang memiliki peranan sangat penting,  BEM-lah yang dewasa ini menjadi katalis kerja kolektif mahasiswa dalam upaya penyampaian aspirasi mahasiswa dan rakyat, singkat kata BEM menjadi instrumen pergerakan mahasiswa!

Harapanku kawan, BEM UNDIP tidak hanya melamun namun berani mengeluarkan sikap, apapun itu baik pro ataupun kontra terhadap pembangunan pabrik semen. 

Apakah kawan-kawan sekalian takut untuk mendapat perlawanan ketika bersikap, apa bedanya dengan cari aman? Sejak kapan mahasiswa mencari aman, tidak ada dalam sejarah pergerakan mahasiswa dimana insan-insan terdidik yang melibatkan dirinya dalam instrumen pergerakan takut untuk menjumpai berbagai resiko. Jangan takut kawan, memang betul bahwa gerakan mahasiswa saat ini harus berhadap-hadapan dengan relasi kekuasaan yang sangat kompleks diluar tubuhnya, relasi itu telah “melembaga” kedalam institusi-institusi anonim yang punya potensi mengkooptasi kalian, namun jika kealpaan sikap muncul hanya karena kawatir ada anggapan bahwa bersikap berarti menyerah pada kuasa-kuasa anonim-itu salah kawan, sangat sangat salah.

Sejarah pergerakan mahasiswa adalah sejarah perlawanan terhadap keangkuhan dan ketamakan penguasa, perlu kiranya kita menengok ke belakang dengan hati yang sejuk,  akan selalu ada stereotipe dominan yang menyampaikan bahwa pergerakanmahasiswa sesalu terhubung dengan peristiwa besar tertentu. kita perlu berterimakasih pada mahasiswa-mahasiswa masa lalu yang dengan gigih “melawan”. Pada saat realita sosial masyarakat menuntut mahasiswa terlibat, golongan yang di era-era  sebelumnya tidak diperhitungkan itu kemudian turun ke jalan, tangan terkepal, suara lantang siap panas, bahkan tewas- dengan almamater kebanggan masing.


Perlu diketahui kawan-kawanku di BEM UNDIP, satu yang tidak bisa dilepaskan dari mahasiswa adalah label mahasiswa sebagai aktor pergerakan, akankah BEM UNDIP menjadi oposan ataukah kolaborator rezim? Saya nantikan sikap kawan-kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar