https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Jumat, 17 April 2015

Bersikaplah, Bukan Bercandalah

Bersikaplah, bukan bercandalah

Bagiku kawan, bersikap tidak sebercanda itu!

Tanggal 13 yang lalu ada pertemuan yang tidak disengaja, saya bersama  Reno ketua BEM FIB dan Syemi ketua UPK KUMBANG FISIP awalnya ingin nongkrong-nongkrong biasa di sebuah kafe di daerah Sumurboto, seingat saya ada beberapa ketua BEM Fakultas dan ketua-wakil ketua BEM Undip beserta jajarannya. Kita saling bercanda banyak hal sampai kemudian membicarakan beberapa hal serius terkait nuansa pergerakan di BEM Undip sekarang.

Diskusi mulai hangat manakala Reno ketua BEM FIB membuka pembahasan terkait permasalahan pabrik semen di Rembang, dijawablah kemudian oleh ketua BEM Undip Risky bahwa dari BEM Undip sudah mencoba mengakomodir berbagai masukan dan pandangan masing-masing fakultas pada sore harinya, Menarik ketika kemudian Reno menanyakan sikap dari BEM Undip yang terkesan diam menanggapi persoalan Rembang, saya menimpali bahwa diam pun merupakan sebuah usaha manakala ada strategi dan proses berfikir di dalamnya-kecuali yang dilakukan adalah melamun, ketika seseorang itu melamun maka proses berfikir itu tidak mungkin untuk ada karena melamun adalah aktifitas pengkosongan pikiran, benar-benar kosong sama sekali, dalam kosongnya lamunan justru pelaku lamun (anggap saja pelamun) berpotensi untuk kerasukan arwah-arwah yang tidak jelas. –seperti itulah mitosnya.

Dari Risky nampak kurang senang dengan apa yang saya sampaikan- dua tahun sebelum era Risky, tepatnya di era kepemimpoinan mas Najibullah, BEM telah beberapakali melakukan kajian terkai Rembang,  sebelum forum akomodasi pandangan dari tiap-tiap fakultas terkait Rembang, BEM Undip telah melakukan advokasi dan menghadap Gubernur Ganjar Pranowo kata Risky. Apresiasi tentunya...

Kembali ditanyakan, “lalu bagaimana sikap BEM Undip? Apakah akan turun aksi kamis besok?” dari BEM UNDIP, semuanya terkesan hening, bunyi jangkrik dan gesekan ranting menyusup ke rongga kuping, tak ada suara manusia...

Sejenak kemudian kawan-kawan dari BEM UUNDIP menyampaikan bahwa akan diadakan forum kembali untuk pengambilan sikap terkait rembang di hari Rabu. Tepat H-1 sebelum, putusan PTUN dibacakan..

Ternyata memang benar kata teman saya bahwa hidup terlalu bercanda untuk diseriusin...

Apa bukan hal yang lucu ketika disampaikan bahwa sudah dari dua tahun sebelumnya kajian terkait Rembang dilakukan, bahkan sudah ada advokasi yang dilakukan dari BEM UNDIP era Risky kepada Gubernur, tapi ketika ditanya sikap kok suram yaaaa... ah...
Akhirnya benar sikap itu keluar di hari Rabu, malam hari...
Saya mencoba mengutip sikap dari BEM UNDIP yang tertulis di akun resmi BEM UNDIP yaitu @BEMUndip_ di twitter:

1. Menunggu hasil putusan hakim PTUN Semarang tentang gugatan izin lingkungan pertambangan PT. Semen Indonesia di Rembang.
2.  Mengawal hasil putusan tersebut apapun hasilnya sehingga kedepan tidak merugikan masyarakat.

Ya, pembaca silahkan menyimpulkan sendiri, apakah yang tertera dalam akun resmi @BEMUndip_ ini sebuah sikap ataukah sebuah retorik populis semata, sebuah candaan yang sepintas menyenangkan namun sangat menganga bagi masuknya kritikan. Mahasiswa dalam kadar akal sehat seminim apapun bisa bertanya, manakala BEM UNDIP memutuskan untuk menunggu, menunggu dimana BEM UNDIPku ini? Bisa saja menunggu di kampus bahkan di warung makan sekalipun, lalu menunggu yang seperti apa sih? Menunggu sambil berfikir mungkin bisa, menunggu sambil melamun juga bisa, ah tapi jangan... nanti kesurupan lelembut...

Kemudian sikap untuk mengawal, lagi-lagi ini bias, siapakah yang dikawal? Siapakah yang dibela? Apapun hasilnya akan dikawal, mungkin maksut dari kawalan adalah memastikan bahwa hasil yang akan diputuskan kedepan dapat berjalan sebahgaimana mestinya dan tidak merugikan pihak-pihak lain, agak mirip dengan montir di bengkel yang bertugas memastikan kendaraan berfungsi sebagaimana mestinya, oh iyaaa iyaaa, cukup tau lah... kedepan sikap yang dikeluarkan mungkin bisa lebih jelas kawan...

Agar tidak terkesan framming, pembaca silahkan mengunjungi sendiri akun @BEMUndip­­_ semoga sikap tersebut belum dihapus dari akun resminya.

Kawanku Risky dan Fandi selaku pemimpinku di BEM Undip, begini kawan.. Saya dan kawan-kawan yang lain bukanlah orang-orang yang mencoba mengusik kawan-kawan sekalian di BEM UNDIP, jauh di dalam tabula hati kami merindukan manifestasi sila ke 3 pancasila kawan, sebuah persatuan. Kami tak ingin BEM hanya sekedar menjadi pasukan kugutsu seperti dalam dunia naruto yang dikendalikan aktor dibalik layar. Kalaupun harus dikendalikan, saya berharap nurani dan fikiran sehat kawan-kawan sekalianlah yang mengendalikan. Apa yang kami lakukan murni untuk merawat akal sehat.

Ketika saya lahir di rumah sakit, unsur alam pertama yang menyentuh dan membasuh tubuh saya adalah air, benda pertama yang masuk ke kerongkongan saya adalah air susu ibuku, ketika pembaca mati kelak, pembaca akan butuh air untuk menyucikan tubuh pembaca sekalian, bukan adukan semen! Ringkasnya manusia butuh air dalam hidupnya, semen adalah penting, tapi bukan pokok.

Pembangunan pabrik semen di Rembang sudah sangat jelas sekali cacat secara AMDAL, Cekungan Air Tanah (CAT) yang dimasukkan dalam dokumen AMDAL adalah Cekungan Air Tanah yang tidak mengandung air, padahal selang beberapa meter dari Cekungan Air Tanah yang tertera dalam dokumen AMDAL terkandung pomor-ponor dan bebatuan karst yang didalamnya mengandung air. Penggunaan kawasan Cekuangan Air Tanah Watu Putih sebagai area penambangan batuan kapur untuk bahan baku pabrik semen melanggar aturan, aturan yang dilanggar antara lain Perda Rencana Tata Ruang Wilayag / RTRW Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 tahun 2010 pasal 63, kemudian Perda RTRW Kabupaten Rembang Nomor 14 tahun 2011 pasal 19 sebagai kawasan lindung geologi. Kawasan cekuangan air tanah watu putih memang belum ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi, akan tetapi secara faktual, menurut data Wahan Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) kawasan tersebut memenuhi syarat sebagai kawasan karst. Seperti adanya 109 titik mata air, 49 gua dan beberapa fosil yang menempel pada dinding gua, bahkan ada 4 sungai bawah tanah yangh masih mengalir. Tentunya hal itu menambah keyakinan bahwa kawasan lindung geologi watu putuh harus tetap dilestarikan.

Kawan-kawanku di BEM UNDIP. Majelis hakim yang diketuai oleh Susilowato Siahaan telah menolak gugatan yang diajukan oleh enam warga Rembang dan WALHI atas surat Keputusan Gubernur Jateng  Nomor 668.1/12 Tahun 2012 tentang izin lingkungan kegiatan penambangan oleh PT Semen gresik (Persero) Tbk di Rembang. Penolakan gugatan tersebut dilakukan karena gugatan yang dilakukan oleh penggugat telah kadaluwarsa, karenanya permohonan atas gugatan yang dilakukan tidak memiliki alasan untuk dikabulkan. Pelibatan masyarakat terjadi dalam kerangka kegiatan yang manipulatif, fakta di persidangan yang diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari UNDIP, UNNES dan UIN Semarang yang diizinkan  masuk dalam PTUN menunjukkan manipulasi itu memang ada, Keputusan gubernur yang dikeluarkan era Bibit untuk melegitimasi pendirian pabrik semen dikeluarkan 7 Juni 2012, tergugat melalui Badan Lingkungan Hidup Jawa tengah telah menginformasikan kepada Bupati Rembang melalui website per 11 Juni 2012. Hakim berpijak pada penjelasan pasal 55 Undang-Undang nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dimana gugatan semsetinya dilakukan paling lambat 90 hari sejak keputusan diberikan, 90 hari tanpa gugatan manakala izin dikeluarkan maka dianggap masyarakat menyetujui, penggugat menjelaskan bahwa izin lingkungan telah ditempel di balai desa, padahal masyarakat tidak melihatnya, penggugat menuampaikan lagi bahwa sosialisasi atas izin telah ada di website padahal masyarakat belum tentu mengaksesnya. masyarakat membantah sosialisasi atas izin lingkungan pendirian pabrik semen, bagi mereka sosialisasi itu tidaklah ada, lagi-lagi masyarakat kena jebakan. Forum-forum pengajian dan silaturahmi yang dilakukan PT SI dengan difasilitasi Camat Gunem memperlihatkan hal yang sangat mengejutkan, disana masyarakat hadir dan membubuhkan tandatangan, ada bukti tandatangan dan bukti aktifitas yang divideokan, tentu saja itu menjadi senjata bagi PT. SI untuk berdalih bahwa mereka telah melakukan sosialisasi atas Keputusan Gubernur. Jebakan betmen...

Majelis hakim memberikan waktu dua minggu untuk mengambil langkah hukum lanjutan terhdap putusan yang dibacakan kamis sore kemarin. Petani-petani, kawan-kawan aktivis, komunitas dan jaringan yang peduli terhadap eksistensi dan kelestarian pegunungan Kendeng telah mengambil sikap untuk naik banding atas putusan yang dikeluarkan PTUN Semarang, saya mengharapkan teman-teman dari BEM Undip ikut membantu dalam pengambilan langkah hukum ini apabila “sikap” sejati dari kawan-kawan sekalian telah bulat diambil.

Dari putusan pengadilan kemarin, kita bisa melihat kawan bahwa putusan hakim tidak menyentuh pokok persoalan, putusan yang dibacakan sangat normatif dan tidak progresif, pokok persoalannya adalah bagi masyarakat Kendeng, Rembang kususnya, Bumi Kendeng adalah pemberian tuhan yang perlu dijaga kelestarian alamnya, mata air yang terdapat di Kendeng adalah nafas dari ternak dan padi-padi yang ditanam para petani, pembasuh peluh dan keluh bagi warga dalam hidup sehari-hari, ketika padi terakhir telah mati, ketika sungai kemudian telah mengering, ketika ikan terakhir telah mati terkena buangan limbah toh masyarakat tak bisa makan semen.

Realita masyarakat Rembang hanya dapat dilihat di Rembang kawan, di tenda-tenda, di gubuk-gubuk, di mata ibi-ibu yang tinggal dalam tenda-tenda itu, bukan media sosial dan tulisan di atas kertas, mungkin di ruang kelas kawan-kawan akan menemukan berbagai macam teori kebijakan, teori pembangunan, teori konflik, bahkan mungkin dari teori – teori itu kawan-kawan berkesimpoulan bahwa konflik dalam pembangunan poabrik semen adalah hal yang wajar untuk terjadi, kalau sudah demikian maka ilmu pengetahuan yang kawan-kawan dapat yang sesungguhnya dibuat untuk memerdekakan nalar telah memenjarakan akal sehat kawan-kawan tanpa kawan-kawan sekalian sadari.

Standing point yang coba saya kemukakan adalah memberikan pandangan terhadap pembangunan yang berorientasi pada kapitalisme. Pembangunan yang berorientasi pada kapitalisme berkecenderungan mendiskreditkan banyak aspek kehidupan masyarakat. Ekonomi, media dan teknologi menjadi alat kontrol untuk pemiskinan budaya manusia, bahkan struktur politik sejumawa apapun akan loyo tak berdaya ketika dihadapkan pada kuasa modal. Pembangunan macam ini melacurkan hakikat dari pembangunan itu sendiri, pembangunan adalah aktifitas perbaikan dan kemajuan kebudayan. Manakala pembangunan itu memiskinkan kekayaan bumi maka pembangunan yang demikian bukanlah pembangunan tetapi suatu perobohan. Perobohan terhadap kebudayaan.
Dalam kisah Ramayana kawan, diceritakan kisah tentang bagaimana Rama membebaskan Sinta daari kuasa Rahwana, Sinta sendiri adalah anak Pertiwi, seorang Dewi Bumi. Boleh dikatakan Sinta adalah lambang dari Bumi, simbolisasi tentang keindahan ciptaan tuhan yang disebut Bumi itu sendiri. Frase Sinta artinya adalah tanah yanhg dibajak. Ia dikuasai Rahwana atau Dasamuka, seorang raja dari negeri alengka yang berwajah sepuluh, perlambang dari kejahatan, kesombongan, ketamakan dan sifat-sifat manusia lainnya. Untuk membebaskan Bumi (Sinta) Rama bersama adiknya laksmana bekerjasama dengan Hanoman, ikan Baruna, Burung Jatayu, Gunung Maenaka, Gajah Situbanda, pohon kehidupan bernama Sanjiawan atau Latamusandi dan makhluk-makhluk alam lainnya. Kisah ini memberikan pembelajaran bagi manusia modern bahwa untuk melestarikan Bumi, manusia harus bekerjasama dan bersahabat dengan seluruh kehidupan dan alam itu sendiri, kisah ini juga ingin menceritakan bahwa pembangunan yang berorientasi pada keuntungan kapital semata justru akan menjadi Dasamuka baru yang akan merampok Sinta (kekayaan Bumi)

Apa yang coba saya bahas dan utarakan adalah sebuah teriakan gugatan agar kawan-kawan bangun dari lamunan, sebuah jerit yang tidak saya khususkan untuk kawan-kawan di BEM UNDIP saja, tetapi bagi tiap pembaca yang iseng membuka blog ini. Negeri dan bumi kita tercinta ini sudah semakin memprihatinkan situasinya, kita berpacu dengan waktu. Tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, abrasi pantai hingga perubahan iklim global menuntut manusia untuk berubah secepat-cepatnya, kita harus segera melakukan tindakan-tindakan rehabilitatif dan penyelamatan terhadap lingkungan. Tindakan selanjutnya lagi-lagi adalah gugatan, suatu gugatan terhadap tatanan manusia yang masih percaya pada kekuasaan uang. Pegunungan di Rembang terbentuk atas kuasa ilahi, dengan uang sebanyak apapun keperawanan alam tidak akan bisa didapatkan kembali, tuhanlah yang menciptakan alam sepaket dengan keseimbanganmnya bukan manusia.

Untuk itu kawan, perlu kita rumuskan suatu gerak kolektif dari UNDIP untuk alam dengan membela hak petani-petani yang memasrahkan hidup dan penghidupan anak cucunya kepada bumi kendeng, gerak kolektif dalam rangka tetap memelihara kelangsungan hidup masyarakat, dan kelangsungan hidup alamnya. Kita tidak bisa menghindari marahnya alam, keterlambatan mengambil sikap dan terlalu ASIK berkegiatan di kampus sama halnya melanggengkan tatanan amoral dalam pembangunan.

Sadarlah dari lamunanmu kawan, bersikaplah jangan bercanda....


Bagiku kawan, bersikap tidak sebercanda itu!

Rabu, 15 April 2015

Menanti Sikap BEM UNDIP Terkait Permasalahan Pabrik Semen di Rembang

Surat terbuka untuk BEM UNDIP,

Menantikan sikap BEM UNDIP dalam permasalahan pabrik Semen di Rembang.

Rizky, Fandy, dan kawan-kawanku di BEM UNDIP yang tak henti-hentinya memekikkan salam hidup mahasiswa pada tiap kesempatannya. Awal saya ingin mengutarakan pandangan untuk BEM UNDIP sekarang.

Memang betul bahwa lembaga yang sama-sama kita cintai ini, BEM UNDIP dengan pemimpin yang baru dan belum  lama dilantik, masih perlu banyak menata internal dan eksternal organisasi, saya tahu kawan. Tidak menutup kemungkinan terjadi hambatan,  kemacetan bahkan kemunduran dalam setiap perjalanan organisasi. Terlebih pada periode yang baru pastinya akan dihadapkan pada setumpuk PE-ER besar yang menjadi “titipan” kepengurusan sebelumnya, padahal konflik-konflik baru pastinya menanti kawan-kawan sekalian, tapi saya meyakini kawan, kawan-kawan di BEM UNDIP sekarang pastilah “menceburkan” diri ke lembaga yang kita cintai ini dengan segudang bekal dan persiapan menghadapi petualangan setahun kedepan. Pastilah kawan-kawan sekalian hadir dengan sebuah perencanaan bahkan lebih.

Tidak ada yang pernah tahu akan seperti apa masa depan kawan, masa depan masihlah suci dan kosong. Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya! Itulah yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa masalalu yang tak pernah basi untuk kita pelajari. Kita tahu (saya berharap kita sama-sama tahu) terjadi pasang-surut pergerakan di tubuh mahasiswa dewasa ini. Pasang surtut tersebut memanglah bukan suatu kejadian yang luar biasa, suatu hal yang sangat lumrah mengingat gerak dialektis fenomena sosial yang terus berjalan. Masa romantis berubah menjadi masa sulit, nantinya masa sulit akan menimbulkan kegundahan dan spirit perubahan, spirit itu nantinya akan menimbulkan romantisme kembali, begitulah kiranya kawan, segalanya pastii berubah dan tidak ada sesuatu yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.

Banyak kejadian yang melingkupi hidup manusia, besar kecilnya kejadian itu merubah manusia, di satu waktu manusia terlibat penuh atas kejadian itu, di waktu lain mungkin hanya menjadi penonton, sekedar mengamati, bahkan mungkin hanya melamun di pinggir kejadian. Banyak narasi sejarah pergerakan mahasiswa yang bisa diambil hikmah kawan, saya ingin menyampaikan beberapanya.

Berbicara mengenai pergerakan mahasiswa ibarat meneropong jauh melalui mesin waktu, ada romantisme tersendiri ketika membicarakan peristiwa-peristiwa besar yang melibatkan mahasiswa. Dalam struktur politik di Indonesia, gerakan mahasiswa memiliki peranan politik dan mulai populer sejak perubahan kekuasaan tahun 1966-1967. Sebelum era itu, peran mahasiswa sebagai pressure group lebih lebih dikenal sebagai kelompok pemuda. Pergeseran peran tersebut  dilatarbelakangi dimensi politik yang erat kaitannya dengan struktur kekuasaaan, di era pra kemerdekaan unsur masyarakat terdidik relatif kecil, namun dari jumlah yang kecil tersbut berhasil dirumuskan gagasan-gagasan besar, boleh dibilang unsur kecil itu berada di lapisan elit kekuasaan era itu. Kenapa mahasiswa era itu lebih senang disebut sebagai kelompok muda kawan? Karena ada kesadaran dalam diri mereka bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan oleh mahasiswa sendirian dimana kita sama-sama menyadari bahwa predikat mahasiswa diberikan bagi mereka yang menempuh pendidikan tinggi, dengan label pemuda, harapannya kelompok muda lain yang bukan mahasiswa dapat lebih mudah dihimpun dan “diisi” untuk kemudian digerakkan, kata pemuda lebih luas dan egaliter untuk dijadikan alat perlawanan rezim. Satu hal yang kita peroleh adalah bahwa mahasiswa tempo dulu yang lebih senang disebut pemuda membutuhkan dukungan rakyat untuk bangkit melawan penjajah, mereka bergerak untuk dan bersama rakyat. Mereka sadar gagasan-gagasan untuk perubahan tidak akan berjalan tanpa dukungan rakyat, begitulah kiranya kejayaan pemuda masa lalu bersiasat dan bergerak kawan.

Di era kemerdekaan, muncul gerakan besar oleh mahasiswa tahun 1966, aktor-aktornya sering disebut angkatan 66, gerakan 66 seringkali diidentikkan sebagai angkatan anti soekarno yang saat itu mengakomodir PKI, ada anggapan mahasiswa angkatan itu adalah angkatan yang sukses dalam memainkan peranannya mengawal rezim namun ada juga yang menganggap sebagai angkatan gagal karena ditunggangi kepentingan soeharto, terlepas dari itu, gerakan 66 adalah gerakan yang menggoreskan sejarah bangsa. Masihbanyak lagi peristiwa yang melibatkan mahasiswa yang kemudian berpuncak di pergerakan tahun 1988. Dalam era reformasi, pendidikan tinggi lebih terbuka untuk masyarakat luas, masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi jumlahnya semakin besar. Meskipun demikian mahasiswa tetap menjadi lapisan elit dalam struktur masyarakat. Bedanya di era pra kemerdekaan, mahasiswa (pemuda) mengintegrasikan gerakan elit bersama rakyat, kini gerak mahasiswa justru cenderung berada di pusaran elit, gerak mahasiswa direkayasa sedemikian rupa untuk bungkam atau bahkan dipersuarakan manakala dianggap menguntungkan untuk kepentingan kelompok-kelompok anonim. Penguasa lebih senang rakyat berjarak dengan mahasiswa, karena dengan demikian kekuiatan oposan akan melemah dan mudah bagi rezim untuk memperlakukan rakyat sesuka hati.

Mahasiswa terjebak dengan rutinitas kampus dan budaya pop, kejadian itu berkorelasi pada konstruksi retorika populisme dan kritisismenya, mahasiswa telah berjarak dengan rakyat atau sengaja dibuat jarak? Yang jelas gerak mulia itu telah berada diujung tanduk. Ada dualisme dalam tubuh mahasiswa, yang pertama mahasiswa menganggap bahwa pendidikan tinggi adalah alat mobilisasi ke hidup dan penghidupan yang vertikal ke atas, disisi lain mahasiswa tidak sungguh-sungguh berusaha mengubah tatanan masyarakat namun juga tidak ingin meninggalkannya.
Ada kebingungan kolektif melihat gerak mahasiswa sekarang kawan, kita bingung apakah harus meminggirkan sejenak urusan pendidikan ataukah masuk kedalam ranah pergerakan baik evolusioner ataupun revolusioner yaitu bersama dengan rakyat itu sendiri, atau cuek begitusaja dan membiarakan rakyat menyelesaikan sendiri berbagai poroblematikanya sambil kita (mahasiswa) menyelesaikan pendidikannya? Yang artinya melanggengkan tatanan sistem ini. Terserah kawan...

Kawanku Rizky dan Fandi selaku pemimpinku, saya melihat usaha yang belum maksimal dari kawan-kawan sekalian dalam mengintegrasikan gerakan, padahal rakyat menanti sikap BEM UNDIP.  Rakyat, masyarakat Rembang terpecah menjadi dua, ada pihak yang sepakat dengan pembnagunan pabrik semen ada yang tidak. Apa kiranya yang menjadi sikap BEM UNDIP sekarang wahai kawan? Mungkin kawan-kawan diam sejenak untuk melakukan kajian-kajian yang mendalam, mungkin diamnya kawan-kawan adalah untuk menyiapkan sikap, kuharap demikian, bukan diam melamun, karena lamunan tidak akan menghasilkan apa-apa kawan, melamun benar-benar aktivitas kosong, kosong sama sekali.

Kita sama-sama tahu, (kuharap kamu Rizky, Fandy selaku pemimpinku juga tahu) bahwa BEM adalah organisasi yang memiliki peranan sangat penting,  BEM-lah yang dewasa ini menjadi katalis kerja kolektif mahasiswa dalam upaya penyampaian aspirasi mahasiswa dan rakyat, singkat kata BEM menjadi instrumen pergerakan mahasiswa!

Harapanku kawan, BEM UNDIP tidak hanya melamun namun berani mengeluarkan sikap, apapun itu baik pro ataupun kontra terhadap pembangunan pabrik semen. 

Apakah kawan-kawan sekalian takut untuk mendapat perlawanan ketika bersikap, apa bedanya dengan cari aman? Sejak kapan mahasiswa mencari aman, tidak ada dalam sejarah pergerakan mahasiswa dimana insan-insan terdidik yang melibatkan dirinya dalam instrumen pergerakan takut untuk menjumpai berbagai resiko. Jangan takut kawan, memang betul bahwa gerakan mahasiswa saat ini harus berhadap-hadapan dengan relasi kekuasaan yang sangat kompleks diluar tubuhnya, relasi itu telah “melembaga” kedalam institusi-institusi anonim yang punya potensi mengkooptasi kalian, namun jika kealpaan sikap muncul hanya karena kawatir ada anggapan bahwa bersikap berarti menyerah pada kuasa-kuasa anonim-itu salah kawan, sangat sangat salah.

Sejarah pergerakan mahasiswa adalah sejarah perlawanan terhadap keangkuhan dan ketamakan penguasa, perlu kiranya kita menengok ke belakang dengan hati yang sejuk,  akan selalu ada stereotipe dominan yang menyampaikan bahwa pergerakanmahasiswa sesalu terhubung dengan peristiwa besar tertentu. kita perlu berterimakasih pada mahasiswa-mahasiswa masa lalu yang dengan gigih “melawan”. Pada saat realita sosial masyarakat menuntut mahasiswa terlibat, golongan yang di era-era  sebelumnya tidak diperhitungkan itu kemudian turun ke jalan, tangan terkepal, suara lantang siap panas, bahkan tewas- dengan almamater kebanggan masing.


Perlu diketahui kawan-kawanku di BEM UNDIP, satu yang tidak bisa dilepaskan dari mahasiswa adalah label mahasiswa sebagai aktor pergerakan, akankah BEM UNDIP menjadi oposan ataukah kolaborator rezim? Saya nantikan sikap kawan-kawan.