https://soundcloud.com/ikhwanfahmi-1/chrisye-lilin-lilin-kecil

Jumat, 06 Mei 2016

Untuk Pokemon-Pokemon Widya Puraya

Dalam krisis, kita harus punya sentuhan dramatikal"
Petuah tsb mengalir dr Martin Luther King, kpd para kompradornya yg mulai gentar oleh tekanan kaum kulit putih. Ia memang membutuhkan sentuhan teatrikal untuk membangkitkan nyali yg ciut oleh krisis diskriminasi. Lautan manusia ditumpahkan ke jalan-jalan, menghitamkan wajah kota Birmingham yg biasanya terasa gurih dgn warna eropa.

Krisis memang membutuhkan sebuah drama. Tdk hanya untuk menghibur dan melupakan sejenak keputusasaan, namun jg untuk membersitkan setetes harapan. Dan King sadar, ia jg membutuhkan drama bagi panggung yg telah digelarnya. Terbukti, dgn sense of drama, King mnjd magnet dan melejit bak meteor.

Namun, apakah krisis hanya membutuhkan drama untuk membiusnya? Jawabnya tak pasti. Yang kita tahu bahwa krisis itu sendiri adlh sebuah drama. Ia menyita konsentrasi serta melahirkan kasak-kusuk. Dan menyeret kita dlm suatu tanda tanya akan ending dr sirkuit kemelut yang belum paripurna.
Fenomena sejenis jg tengah melanda dunia pendidikan tinggi kita. Belakangan ini, isu yg merebak dan mnjd magnet pemberitaan adalah seputar wajah dunia pendidikan yang semakin menjerat dan tak lagi bersahabat. Telah sekian lama negara kita berpusar dlm persoalan tsb dan menjadikannya sbg krisis yg berkepanjangan. Berbagai upaya formal telah dilakukan untuk melepaskan negeri ini dari belitan para pencoleng dunia pendidikan. Tengok saja, dalam sepenggal perjalanan sejarah reformasi ini telah beragam produk hukum serta kebijakan yg diterbitkan. Berbagai UU, peraturan pemerintah, peraturan menteri yang telah ditandatangani. Namun, wajah pendidikan nyatanya masih jauh dari yang diharapkan. Pendidikan semakin mahal dan binal tak kenal filsafat asal.
Kita mengenal salah satu filsuf terbesar pendidikan Paulo Freire namanya, Freire dalam bukunya The pedagogy of Oppresed (pendidikan kaum tertindas) selalu mengkritik tentang pendidikan yang tidak mendidik, pendidikan yang hanya teory belaka. Ia sangat tegas menyikapi realitas sosial yang tidak berperikemanusiaan. Ia melakukannya tidak hanya dengan teory-teory yang sophisticated. Tapi dengan bahasa dan aplikasi sehari-hari yang sederhana. Freire kala itu mengkritik tata kelola pendidikan negara-negara dunia ketiga seperti Brazil dan Chile yang hanya menjadi panggung bagi pentas drama ideologi penguasa yang menghegemoni struktural kekuasaannya. Mereka ditundukkan, dibikin patuh oleh pembodohan-pembodohan yang sengaja dilakukan secara sentralistis. Tidak adanya penghargaan pada anak didik sebagai manusia yang memiliki potensi dan eksistensi diri semakin meberi lampu hijau bagi penguasa untuk melanggengkan hegemoni dan dominasi. Dan ini adalah kata-kata pedas dari Freire “Pendidikan adalah proses dehumanisasi oleh penguasa demi kekuasaannya!

Ketika peraturan saja dianggap tak cukup mampu menggertak, mahasiswapun keluar dari ruangan ber-Acnya, ruang AC telah membuat otak mengkerut bagai anu yang kurang urut, mereka sadar bahwa sudah saatnya merebut apa yang telah pimpinan kampus renggut. Mahasiswa  bergegas mencetak task force khusus. Semacam tekab, alias tim khusus antibandit, namun lebih fokus pada bandit anggaran dengan membentuk satgas dalam kelola BEM Universitas demi transparansi yang tak pernah tuntas. Memang belum dpt menyematkan harapan. Namun satu dua orang telah meroket. Tidak hanya memebersitkan segurat harapan, tetapi juga semacam kecemasan. Kata-kata mutiara sang ketua lembaga yang sering disampaikan dalam akun-akun sosmednya bisa menjadi sebuah jeratan jika tidak sesuai kajian yeng telah diamanatan. Hanya saja jalan ceritanya kemudian bergerak lamban dan menjemukan. Kamera memang masih fokus pd panggung yang diatur sang ketua lembaga, namun mahasiswa dan calon-calon mahasiswa mulai jengah menyaksikan para pokemon universitas yg tertawa di widya puraya sana. Mereka mengharapkan adanya suspense gerakan yang makin matang agar para pokemon berani turun dari gelanggang!
Kelambanan ini akhirnya hanya memicu kasak-kusuk. BEM ditengarai tengah mementaskan sebuah drama yg menghibur kepenatan kita akan krisis, BEM ditengarai hanya bermain di zona nyaman oleh para demonstran. Insinuasi mahasiswa umum ini tidaklah berlebihan melihat janji langkah lanjutan yang tak kunjung dilaksanakan. Padahal, berbagai pernyataan telah begitu transparan terurai dan menjalar hingga kaki kaki kekuasaan. Apakah justru rambatan inilah yg dicurigai membelenggu langkah? Apakah konsolidasi ke kaki-kaki kekuasaan justru menjadi langkah yang salah? Apakah ada batas-batas yang tak kunjung mengalah? Semua tahu bahwa BEM telah terlalu lama dipegang oleh satu rezim yang sama dan dari dulu memang sangat sulit untuk diajak bersama mengupas isu secara dewasa, entahlah mungkin BEM tidak salah tapi memang mahasiswa pada umumnya yang keras kepala. jika memang benar itu alasannya maka sudah saatnya mereka sadar diri dan kemudian turun tahta. Isu lain pun mulai beredar. Jika nyali BEM ciut, maka tim lain yg akan mengambil alih. Tapi ingat semua tim memang perlu berlomba membuktikan diri, namun hal itu juga dpt menimbulkan ancaman yg kontraproduktif. Aku justru kawatir jika ego yang dipelihara, para pokemon widya puraya sana justru akan semakin seenaknya memecah belah kita.
Tuhan menciptakan berbagai etnis manusia melalui satu ovum dan satu sperma, meskipun lubang keluar dan lubang penerima bukan berasal dari pasangan yang sama yang jelas rupa-rupa bayi yang lahir pun tak menafikkannya menjadi bukan manusia, apa yang hebat dari aku? dari kamu? dari kita? toh kita sama-sama produk penis dan vagina, lantas kenapa kita mesti membeda-bedakan seseorang berdasar warna kulit, sipit tidaknya mata, ngatung tidaknya celana, botol apa yang tersimpan di kosnya, panjang tidaknya jilbab, tebal tidaknya jenggot, untuk apa? manusia toh sejarahnya sama, kita berburu, bercocok tanam, melalang buana, merantau, menaklukkan alam, beranak-pinak. aku merah, kamu putih, dia hijau dan orang sebelah sana kuning, dan sebelah sananya lagi tak berkostum, Adanya perbedaan bukanlah untuk ditakuti namun untuk disyukuri, perbedaan diciptakan bukan untuk pertengkaran, tapi untuk persaudaraan, lantas kenapa kau jauhiku hanya karena aku berbeda, tak bisakah kita berdiskusi di meja yang sama?

Lalu aku teringat pada garis tetenger,  bagaikan degup cinta dan asmara hubungan kalian yang tiba-tiba saja jadian dan membuatku menelan kekecewaan, garis tetenger ini adalah garis batas yang tidak terlihat, namun setiap pijakan langkah dan hembusan desah kita dipengaruhi olehnya. Pola pikir kita, kemampuan dan cash flow dana, berkibarnya kain sang saka, kebanggaan yang membutakan hati dan jiwa, sejarah yang tersenyum dan berlinang air mata, saudara-saudari yang kita sebut sebagai sebangsa meski tak se-sperma, KTP, almamater, kelas, ideologi, nasionalisme, kesepakatan, perang, keruntuhan, pembantaian suku dan etnis, separatis, diskriminasi ras, semuanya adalah produk dari garis tetenger, produk dari garis batas suatu negara.

Ada garis batas fisik, ada garis batas mental. Ada yang sementara, ada yang abadi. Ada kamu, ada Aku, ada Dia, aisshh. Garis batas geografis, sosial, biologis, status, gender, privasi, mental, spiritual, agama, kejombloan… Semua memisahkan manusia dalam kotak masing-masing. Garis batas mengurung, memasung, melindungi, mentakfiri dan mengukuhkan sebuah zona aman tempat para spesies human merasakan kelegaan dan kenyamanan.

Bangsa-bangsa punya zona aman masing-masing, dilindungi oleh garis batas negeri, itulah fungsi negara, hanya sebagai alat untuk melindungi semua yang ada di dalamnya. Sangat tidak jarang, ceceram derai darah tak bisa dihindarkan hanya demi guratan garis-garis di atas suhuf-suhuf atlas. Benarkah bahwa seringnya, hidup memang sebercanda menggosok batu akik? Inilah perjalanan kisah-kasih hidup manusia. Sejak melewati dua paha ibunya, mereka tumbuh, berjuang, bekerja dan memuja kemapanan, berselisih dan berebut, hingga datangnya malaikat maut. Awal mereka berburu dan meramu, bercocok tanam lalu beroper ke jaman delivery order. Dalam perkembangan peradaban manusia dulu, mulai dari kehidupan primitif di goa, para penakluk alam dan hewan di hutan, suku-suku nomaden di relung-relung daratan, tahta ngingrat-ningrat berdarah biru, kastil yang dikungkung benteng dan tembok raksasa, hingga peradaban manusia gadget minded, zona aman semakin kokoh dan berstruktur. Bangsa-bangsa mengayunkan pedang, bernegosiasi, berdiplomasi, bersatu, bersekutu, saling berburu, berseteru, berperang lagi, hingga akhirnya hancur lebur, semua terkait urusan zona aman, melindungi batas-batas dan kebanggaan mereka.

Oleh sebab itu, perlu adanya pembagian tugas dan kewenangan yg jelas antara masing2 task force agar tak saling tumpang-tindih.  Mengepung mangsa yg sama dr berbagai penjuru bisa jd justru akan menghambat proses perburuann dan tentunya pokemon-pokemon widya puraya makin tertawa melihat mahasiswanya yang tak kunjung dewasa dan tidak paham betul SIAPA MUSUHNYA.


Terlepas dr semua itu, sang ketua lembaga mahasiswa memang telah melejit dan bersinar di balik krisis. Namun apakah drama ini akan berakhir tragis seperti akhir drama dari Martin Luther King yg ditembak mati? Tak ada jawaban yg final. Namun kita tahu lembaga sekelas KPKpun juga lahir dr pendahulunya yg ditembak mati oleh judical review.
Memang semua ini hanyalah catatan sejarah. Namun, seperti ungkapan Jackie Kennedy di antara cipratan darah suaminya yg tertembak, apakah garis batas antara sejarah dan drama? Sejarah  bisa dipentaskan dlm drama yg berkilau. Namun drama hanya dapat mnjd catatan sejarah yg kusam dan terkadang miris untuk dikenang. Kita tentu ingin BEM dan mahasiswa pada umumnyanya menuntaskan perburuan pokemon widya puraya dan mengenangnya dengan kepala tegak sebagai sebuah perjuangan yang tidak setengah-setengah, semua tahu mahasiswa adalah aktor pergerakan, akankah BEM kususnya dan kita pada umumnya menjadi oposan ataukah kolaborator rezim?
Aku jadi ingat kata pepatah, beri aku sepuluh mamah muda maka akan kuguncang dunia!