Aku pernah ke ambarawa bareng teman2 KKN pada
September 2015 lalu, perjalanan aku tempuh dengan armada bumblebike alias motor
kunimg kesayanganku, singkat cerita di Ambarawa, aku dipandu oleh 2 teman
pribumi asli sana, Agnez dan Dian namanya. Salah satu tempat yang kami
lihat-lihat adalah gereja Goa Maria Ambarawa.
Berdiri di halaman pelatarannya saja sudah
membuat aku takjub. Arsitektur bangunannya unik, tumpukan-tumpukan batu alam,
jauh dari aroma sentuhan bergaya eropa abad pertengahan. Untuk para pegiat
selfier, sangat cocok sebagai obyek berselfie. Tapi khusus untuk mas Felix
Siauw, aku sarankan jangan, karena selain selfie sendirian itu nggak baik
(kecuali avatar twitter mas Felix), selfienya pun di gereja. MasyaAllah, apa
nanti kata pengikutmu mas. Bisa-bisa mas Felix dikafir-kafirkan karena
bersilaturrahmi dengan sang mantan. Oiya, selamat hari natal ya mas Felix,
sudah akur dan baikan sama mantan belum? Jangan berantem mulu ya, udah gedhe gitu
kok, jangan kayak remaja ababil.
Tidak banyak yang bisa aku serap saat ke
tempat ini, selain sebagai tempat ibadah, disini juga menjadi salah satu lokasi
wisata favorit para hijaber-hijaber nusantara dari dalam maupun luar kota.
Suasana disana sejuk dan asri karena banyak taman dan pepohonan, bersinergi
baik dengan lingkungan. Sungguh sebenarnya aku sedih jika melihat tempat ibadah
yang suci namun halamannya malah di aspal rata, betapa durhakanya pada alam,
betapa durhakanya pada tanah, betapa durhakanya pada kehidupan bawah tanah,
karena akar dan bangsa cacing tak memperoleh resapan air hujan dari Tuhan. Jika
pengelolanya adalah seorang yang arif dan berwawasan luas, aku yakin bukan
aspal yang dipilihnya, namun paving. Kemudian dihiasi pula banyak tanaman untuk
turut berdzikir di tengah lantunan ibadah para manusia. Itulah yang aku namakan
sebagai salah satu harmoni perpaduan keromantisan semesta.
*Aku kan cowok romantis
Pasca dari ambarawa, pulangnya aku jadi
inget Gereja Pohsarang di Kediri, di Pohsarang, kau bakal menemui 3 destinasi
utama lain yang tidak kalah menawan. Yaitu Goa Maria, beberapa Auditorium
terbuka dengan cerita-cerita di dindingnya, dan perjalanan waktu bernama Jalan
Salib. Untuk natal hari ini, aku ingin bercerita banyak tentang Jalan Salib,
yang paling membuat aku tertarik.
Goa Maria berpenampakan seperti sebuah
tebing besar, di bawahnya terdapat banyak nyala lilin, dengan tikar-tikar para
jemaat yang berdoa mengharap selamat. Aku tidak tahu itu benar goa atau tidak,
karena mulutnya ditutup pagar. Namun yang pasti panorama yang tersaji membuat aku
jatuh hati.
Kemudian Auditorium terbuka, yang entah nama
tepatnya apa. Ada banyak auditorium disana, masing-masing auditorium terdapat
lukisan-lukisan cerita masing-masing bab. Jika disatukan akan menjadi seperti
cerita sebelum Yesus tiada sampai Yesus telah dipanggil yang maha kuasa.
Kemudian ada rute perjalanan masa, Jalan Salib
namanya. Ini mirip Auditorium tadi, namun di sepanjang perjalanan ada
patung-patung bisu yang mendongengkan masing-masing peristiwa. Cerita mulai
dari pra-Yesus lahir, hingga pasca yesus disalib dan berakhir. Aku nggak akan
cerita bagaimana kisah-kisahnya, aku yakin pasti sedikit banyak kalian sudah
pada paham ceritanya, aku sendiri gak paham-paham betul kok haha. Namun yang
ingin aku tulis disini, adalah perenungan-perenungan apa saja yang masih aku
ingat hingga kini, saat berfantasi ke Jalan Salib.
Yesus, menjadi pemuda dengan otak yang 10 langkah
lebih maju dari jamannya, memang seringnya akan menemui banyak musuh dan
rintangan nyawa. Sebagai seorang manusia yang sudah adil sejak dalam pikiran
(seperti kata pramoedya: orang terdidik harus sudah adil sejak dalam
pikirannya), tak mudah baginya untuk menyeberkan ideologi kasih sayang dan
pembebasan para budak waktu itu, Yesus yang bukan siapa-siapa harus menghadapi
mayoritas budaya di bawah feudalisme kekaisaran imperium romawi.
Tak cuma yesus, nabi Muhammad pun belum sukses
dalam agenda penghapusan total yang bernama perbudakan di dunia. Namun yang
namanya ideologi, tak akan pernah bisa dimatikan, sekalipun orang-orangnya
diculik, diasingkan, kemudian dibunuh tanpa kabar. Ideologi dua manusia suci
tersebut terus menyebar ke seluruh pelosok-pelosok dunia, hingga mempengaruhi
sejarah panjang peradaban umat manusia. Salah satunya, mulai dari revolusi
Perancis, kesetaraan gender, dan penghapusan perbudakan sebab setiap manusia
yang lahir memiliki hak untuk hidup merdeka. Seandainya yesus dan nabi Muhammad
kala itu berani dengan lantang menyerukan "Perbudakan adalah
Bid'ah!", mungkin birahi-birahi revolusi yang terjadi di setiap belahan
bumi, akan memuncak lebih dini hahaha maybee.
Tentu bukan perkara gampang untuk berteriak lantang,
jaman dulu jika sembarangan berani berkata seperti demikian, bagaikan menantang
hunusan pedang satu pleton kerajaan. Kaisar romawi bisa ciut nyali, tidurpun
selalu gelisah hati bilamana dari sudut desa sana, Yesus mengajari murid dan
pengikutnya tentang penentangan perbudakan.
Memangnya kaisar mana yang zona nyaman
kedigdayaannya mau diusik oleh sekumpulan proletar-proletar dan budak yang
terbuka pikirannya dan menjadi tercerdaskan? Penggulingan kekuasaan adalah hal
yang tak bisa terhindarkan. Kaisar paham akan hal itu, maka sebelum itu
terjadi, kerahkan seluruh army-army militer angkatan daratnya untuk memburu
Yesus, menyalibnya di depan umum, untuk memberi shock-pressure kepada semua
warganya. Namun sekali lagi, kaisar hanya mampu membunuh sang utusan, tapi
tidak bisa untuk membunuh kebenaran ajaran kesadaran pemikiran.
Galileo pun juga menemui Jalan Salib. Ekstrim dan
kontroversial memang jika berani berkata
lantang untuk penghapusan perbudakan di jaman romawi dan jaman jahiliah arab.
Galileo saja yang iseng-isengan kurang kerjaan mengutak atik kebenaran dogmatis teori
geosentris dan menyangkalnya dengan teori heliosentris adalah doktrin gereja
yang menjadi lawannya! Dan tentu bisa nyawa taruhannya! Tak cuma Galileo, Ibnu
Sina pun juga mengahadapi Jalan Salib. Ya, cendekiawan muslim ber-IQ di atas
rata-rata itu, yang di jaman sekarang menjadi bahan-bahan klaim sebagai ilmuan
muslim, oleh kaumku para sunni. Sebenarnya ia dulu di masa hidupnya juga dikafir-kafirkan
oleh kaumnya sendiri para muslim ber-IQ 69. Barangkali di jaman ini, tukang
klaimer yang hobi mengkafir-kafirkan syiah dan filsafat tak tahu bahwa Ibnu
Sina adalah seorang muslim Syiah yang juga ilmuwan beraliran Aristotelian.
Banyak yang seperti Ibnu Sina, namun tak tulis kapan-kapan aja deh (kalo
pengen), soalnya ini kan temanya hari natal hehehe.
Dan Jalan Salib Yesus, juga dialami oleh jaman
Renaisans yang melepaskan diri dari abad kegelapan. Kelas menengah Renaisans
memberontak dari para tuan tanah feudal dan kekuasaan gereja. Seperti filsafat
Yunani yang melepaskan diri dari gambaran dunia mitologi yang terkait dengan
kebudayaan petani dan nelayan. Renaisans menimbulkan pandangan baru tentang
manusia, humanisme renaisans membawa kepercayaan baru pada manusia dan
nilainya, yang sangat bertentangan dengan tekanan dari Abad Pertengahan yang
penuh prasangka pada hakikat manusia yang penuh dosa. Misalnya seperti tokohnya
yaitu Marsilio Picino yang berseru, "Kenalilah dirimu sendiri, wahai
keturunan Ilahi dalam samaran sebagai manusia!", kalo disini ya seperti
falsafah Manunggaling Kawulo Gusti nya Syeh Siti Jenar, hal yang akan
dikafirkan-kafirkan oleh kecebong-kecebong syariah, karena kemampuan level
perkutatannya menthok pada syariat, belum sanggup meraba tarikat hakikat dan
makrifat, aku sendiri g pinter-pinter banget agama, tapi aku juga g gampang
digoblok-gobloki ustads-ustads level sosmed yang patokan tafsir qurannya dari
bonus quota internet, di Indonesia ini memang gampang jadi ustadz/ustadzah,
tinggal repost akun2 islamiah macam dakwah islam di line atau felix siauw dan
jonru di twitter tiap hari sudah nambah pangkatmu jadi ustadz sosmed, hehe maaf
ya, mungkin aku bakal lebih takdzim kalo yang menyampaikan tafsirnya adalah
ustadz yang memang sekolah dan ngajinya nggenah. Demikianlah
perenungan-perenungan yang pernah bergentayangan di pikiran aku saat berkelana
di alam semedi kamar mandiku. Dan untuk umat-umat nasrani yang bisa merayakan
natal di gereja, aku ucapkan selamat dan puji syukur, bersukacitalah kawan,
Mmmuuahhh :*
Tapi
jangan lupakan Yesus, pahami dengan mendalam tentang beliau. Karena di
millenium dimana kebebalan masih menjadi mayoritas, maafkanlah beberapa kaum
seagamaku, yang membuat kondisi dimana pembangunan gereja tidaklah semudah
mendirikan karaoke dan bank lintah darat. Tidak ada yang mudah memang, dalam
melalui Jalan Salib. Andai jika aku diadzab menjadi ketua masjid, dan kalian
tak punya gereja untuk beribadah natal, akan aku tawarkan untuk menggunakan
masjid tersebut sebagai tempat beribadah kalian. Selamat hari natal, titip
salam buat Yesus ya, dari aku pemuda akhir zaman yang insyaallah disayangi pacar
dan mertua, namun baru ingat kalo aku belum punya keduanya
#KODEKERAS!!!
HAGSHAGSHAGS ;) )